
Ke esokan harinya, Nicholas bangun saat mendengar suara pintu apartemen terbuka, ia menutup matanya yang silau karena cahaya matahari.
" Oh ****! Aku terlambat. " Ujarnya dan langsung berlari ke kamarnya.
Asisten yang selalu datang untuk membersihkan apartemen itu sampai bungung melihat apartmen yang rapi. Biasanya jika ia datang, apartemen itu sangat kacau berantakan.
Tak lama, Nicholas keluar dari kamarnya dan langsung mengambil susu di kulkas. Padahal saat di sekolah ia tidak pernah mencerna sedikitpun pelajaran, ia hanya akan tidur dan tidur di kelas, tapi entah mengapa dia tidak pernah tidak masuk kelas.
" Terimakasih sudah mengurusku semalam, Ruth. " Ujar Nicholas pada asisten rumah tangganya.
" Tuan muda, saya tidak ada di sini semalam." Ujar Ruth.
Ruth adalah asisten ibunya dulu, dia sudah bekerja sangat lama sejak Nicholas kecil hingga sekarang. Nicholas sudah menganggapnya kerabat satu satunya.
" Ha! Lalu siapa yang mengurusku?" Ujar Nicholas, ia tidak ingat apapun semalam.
" Saya tidak tahu, tuan muda." Ujar Ruth.
Tiba tiba sepintas bayangan wajah Vaye yang berjongkok di hadapannya semalam muncul dalam ingatannya. Ia sampai menelan susu yang ia minum dengan susah payah.
' Astaga, apakah Vaye?' Batin Nicholas.
" Kalau begitu aku berangkat dulu." Ujar Nicholas, dan langsung berlari keluar.
Di dalam lift, Nicholas mencoba mengingat ingat apa yang dia katakan. Saat mabuk, ia tidak akan sadar telah melakukan apa atau bicara apa. Karena tak kunjung mengingat, ia hanya bisa memukul kepalanya sendiri.
" Bodoh, kenapa harus bertemu Vaye semalam. Aduh, apa yang sudah aku lakukan padanya, apa aku memukulinya?" Gumamnya panik sendiri.
Di tempat lain, Vaye telah sampai di sekolah. Ia berjalan di lorong sekolah sambil mendapat berbagai tatapan dari siswa dan siswi disana. Setelah duel tembak kemarin, Vaye menjadi ramai di perbincangkan karena keahlian menembaknya.
" Vaye, kamu menjadi trending topik sekolah." Ujar Timothy.
" Haih.. apakah sekolah kekurangan berita, hingga menjadikan aku trending topik?" Ujar Vaye.
" Itu karena video saat kamu menembak target dengan sangat cepat dan tepat sasaran itu beredar luas. Kemampuanmu melebihi aku, kamu mungkin akan menjadi penggantiku saat turnamen nanti." Ucap Timothy.
" Tapi aku tidak tertarik, aku hanya ingin bersekolah dengan tenang dan nyaman. Ngomong ngomong, kenapa dengan bibirmu? Wajahmu juga lebam." Ujar Vaye.
" Tidak hati hati saat menuruni tangga, dan jatuh. Jadilah Timothy yang bonyok." Ujar Timothy, dan vaye terkekeh mendengarnya.
Timothy tidak mengatakan bahwa penyebab wajahnya bonyok adalah karena bogeman dari Nicholas kemarin, ia tidak memberi tahu Vaye.
" Lain kali hati hati." Ujar Vaye, dan Timothy tersenyum sambil mengangguk
Mereka sampai di kelas, dan di kelas juga Vaye mendapat tatapan penuh kagum. Tiba tiba beberapa murid perempuan mendekatinya dan mencoba mengobrol dengan Vaye.
" Vaye, apakah aku boleh meminta foto denganmu, kamu sangat cantik dan berbakat. Aku mengidolakanmu." Ujar seorang murid.
" Aku juga.."
" Aku juga.."
Siapapun yang melihat penampilan Vaye saat ini, mereka pasti akan berkata bahwa Vaye jelek dan cupu. Yang mengatakan Vaye cantik, sudah pasti hanya menjilat. Jadi Vaye hanya tersenyum kaku sendiri mendengarnya.
__ADS_1
' Hanya orang buta yang mengatakan aku cantik dengan penampilanku ini. Oh Tuhan, aku benci keramaian.' Batin Vaye yang merasa sangat tidak nyaman dengan teman kelas yang terus mengerumuninya.
" Sedang apa kalian? Bubar!! " Ucap sebuah suara yang di takuti semua orang, suara Nicholas.
Semua orang pun bubar karena takut kena hajar Oleh Nicholas. Nicholas pun duduk di tempat duduknya dan menatap lurus kedepan. Namun tiba tiba ia melihat kearah Vaye.
' Tapi Vaye baik baik saja, tidak ada luka di wajahnya.' Batin Nicholas.
Vaye yang di tatap sebegitu tajamnya pun menjadi bingung sendiri. Kemudian Nicholas menggaruk kasar kepalanya , lalu merebahkannya di meja.
' Kenapa dengannya, seperti orang kecacingan.' Batin Vaye.
Pelajaran pun dimulai, seperti biasanya sepanjang pelajaran berlangsung, Nicholas hanya akan tidur di kelas padahal belum lama dirinya baru bangun. Hingga pelajaran berakhir dan berganti jam istirahat.
Nicholas membuka matanya, kemudian ia bangun dan menarik tangan Vaye keluar dari kelas.
" Ada apa denganmu?" Tanya Vaye. Saat ini mereka sedang berada di atap sekolah.
" Apa kamu yang membantuku, semalam?" Ujar Nicholas.
' Dia tidak ingat?' Batin Vaye.
" Hm.." Sahut Vaye.
Nicholas memejamkan matanya, ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Bagaimana jika ia berkata kasar pada Vaye semalam, atau tidak sengaja memukul Vaye semalam.
" Vay, aku minta maaf.." Ujar Nicholas.
" Minta maaf? Untuk apa?" Ujar Vaye bingung.
Vaye menahan tawanya, jika saja Nicholas tahu semalam dirinya menangis dan tertawa disaat bersamaan, mungkin Nicholas akan menenggelamkan kepalanya di dalam tanah seperti burung unta.
" Kamu tidak melakukan hal hal yang kamu sebutkan tadi, jadi tidak perlu minta maaf." Ujar Vaye.
" Benarkah??" Ujar Nicholas tidak percaya. Pasalnya, dia selalu mengamuk setiap harinya.
" Hmm.. ayo ke kantin." Ujar Vaye.
Vaye berjalan lebih dulu, dan Nicholas berjalan di belakang Vaye. Nicholas tersenyim lega, ia pikir dirinya memukuli Vaye tanpa sengaja. Akhirnya ia berjalan sejajar dengan Vaye dan keduanya menuju kantin.
" Jangan lupa, pulang sekolah kita tanding renang." Ujar Nicholas.
" Hm.. aku ingat. Dimana?" Ujar Vaye.
" Kolam renang sekolah saja." Ucap Nicholas.
Tidak ada yang berani bergabung bersama dua orang itu, mereka hanya berdua dan tidak ada yang berani mengganggu mereka.
Dan setelah pelajaran berakhir, kini keduanya berada di kolam renang sekolah. Kolam renang itu berada di luar ruangan, semua penonton sudah bersiap melihat pertandingan sengit keduanya.
" Aku akan menjadi wasit kalian." Ujar Lini.
" Baiklah." Ucap Vaye.
__ADS_1
Vaye dan Nicholas sudah memposisikan dirinya untuk melompat. Dan setelah hitungan ketiga dan peluit di bunyikan, keduanya pun lompat dan melesat di dalam air.
Vaye sampai lebih dulu, dan lebih dulu berbalik juga, perbedaan keduanya hanya dua detik, tapi tiba tiba Vaye terngiang dengan ucapan Nicholas semalam. Akhirnya ia memperlambat gerakannya, hingga akhirnya Nicholas menang.
" Aku menang!! " Teriak Nicholas senang.
" Selemat, kita seri." Ujar Vaye sambil tersenyum.
Tapi Timothy tahu, bahwa Vaye sengaja memperlambat gerakannya dan mengalah, Timothy pun pergi dari sana.
Pertandingan renang itu pun berakhir, kini semua orang membubarkan diri sana.
" Hai, Vay.." Ucap Timothy, ketika melihat Vaye yang keluar dari kamar mandi.
" Oh, hai." Ucap Vaye.
" Apakah kamu ada waktu? aku dapat dua tiket masuk sebuah wahana bermain. Apakah kamu mau ikut?" Ucap Timothy.
Vaye menimbang nimbang, memang dirinya juga tidak pernah keluar kemana pun sejak datang ke Jakarta.
" Kapan?" Tanya Vaye.
" Hari sabtu, nanti." Ujar Timothy.
" Baiklah.." Ucap Vaye sambil mengangguk.
Timothy pun terlihat senang ajakannya di terima oleh Vaye. Timothy pun mengeluarkan tiketnya, dan memberikannya pada Vaye.
" Ini, tiketnya.. " Ujar Timothy.
" Terimakasih." Ucap Vaye, dan Timothy mengangguk.
" Apa kamu mau langsung pulang?" Tanya Timothy.
" Ya.. Aku duluan." Ucap Vaye, dan Timothy mengangguk.
Dari jauh, Nicholas melihat itu. Ia melihat Timothy memberikan sebuah tiket masuk wahana. Wajah Nicholas menjadi sangat dingin saat ini, tangan nya juga perlahan mengepal kuat. Tapi kemudian ia pergi berlari menyusul Vaye.
" Vay.." Ucap Nicholas.
" Hm, ada apa?" Tanya Vaye.
" Boleh aku ikut pulang denganmu? Aku merasa pusing." Ujar Nicholas.
" Kamu minum berapa banyak sebenarnya? sampai masih merasakan efeknya sekarang." Ujar Vaye.
" Tidak banyak, paling hanya sekitar lima botol wiskey." Ucap Nicholas.
" Astaga! Lima botol wiskey kamu bilang paling? Cepat masuk mobil!" Ujar Vaye menjadi mode galak.
Nicholas menahan senyumnya kali ini, dia tidak menyangka Vaye akan sebegitu pedulinya pada dirinya. Nicholas pun masuk kedalam mobil Vaye, Vaye pun langsung menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
" Tidur saja jika pusing, saat sampai nanti aku akan membangunkanmu." Ucap Vaye.
__ADS_1
" Hm.. terimakasih." Ujar Nicholas sambil tersenyum menatap Vaye. Perlahan matanya pun mulai terpejam dan Nicholas pergi kealam mimpi.
TO BE CONTINUED...