
Semua orang menatap kearah Yara dan Danica. Mendengar nama belakang keluarga Loo, semua orang menatap Yara tidak percaya. Salah satu anggota keluarga ternama Loo, melayat ke kediaman Robin Todd.
" Tidak, kau kak Yara kan? Jangan berpura pura lagi kak." Ucap Danica.
Niat Danica adalah untuk mempermalukan Yara, dia tidak tahu saja bahwa Yara yang sekarang bukan Yara yang dulu mudah ditindas.
" Singkirkan dia." Ucap Yara dingin.
Danica terkejut, tiba tiba ada dua pria yang mencekal kedua tangan nya.
" Apa yang kau lakukan Danica, dia anggota keluarga Loo, beraninya kau menyinggungnya." Ucap Darren yang tiba tiba muncul.
Danica bingung sendiri, mengapa kakaknya juga tidak mengenali Yara.
" Kak, dia Yara.. Nayara Valerie." Ucap Danica.
" Dia tuan muda kedua dari keluarga Loo, Yuka Andrea Loo adik dari tuan Sandy Andrea Loo CEO dari perusahaan SAL." Ucap Ethan yang muncul.
Danica terkejut..
' Apa aku salah mengenali orang? Tapi ini sungguh mirip Yara. Hanya saja sedikit tinggi dan sedikit kekar.' Batin Danica bermonolog.
" Oh, maaf tuan.. Saya pikir anda adalah kakak angkat saya yang menghilang." Ucap Danica.
" Tidak apa apa, kadang kala kita bisa salah mengenali orang. Saya turut berduka cita, kalau begitu saya permisi." Ucap Yara.
Darren memegangi tangan Danica. Caleb dan Jackson menatap dingin Danica dan Darren.
Saat Yara berjalan keluar, matanya melihat sosok asisten Kristin tengah berdiri menatap foto Robin.
' Tebakanku benar, dia pasti datang kemari.' Batin Yara bermonolog.
" Mereka disini." Ucap Yara.
Ethan mengikuti arah pandang Yara, dan terkejut. Pria itu adalah anak buah Kristin.
" Ayo pergi." Ucap Yara.
Mereka pun pergi dari kediaman Robin.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sebuah mobil yang mengikutinya.
" Sebenarnya dimana dia menyembunyikan ibuku. Mengapa aku tidak bisa menemukannya bahkan setelah aku mengikuti mereka." Ucap nya.
Pria itu adalah Roger, Roger mendengar sedikit percakapan antara Rayson dan Bara saat di kediaman Ethan. Rayson dan Bara membahas tentang obat yang di berikan kepada ibunya, Roger jugs mendengar bahwa Kristin lumpuh setelah meminum obat itu.
Sebagai seorang anak, Roger mengkhawatirkan ibunya. Walaupun ia sangat kecewa dan benci dengan perubahan sikap ibunya.
Roger mengikuti sepanjang jalan mobil Yara melaju. Yara sekaan peka dengan keadaan dan menyadari dirinya di ikuti pun menyuruh Caleb untuk mengambil jalan menuju hutan yang sepi.
" Caleb, ke arah kiri." Ucap Yara.
" Eh, tapi itu bukan tujuan kita." Ucap Caleb.
" Tidak apa apa, ambil jalur kiri." Ucap Yara.
Caleb pun menuruti peri tah Yara dan mengambil jalur kiri menuju kearah jalan yang sepi.
" Menepi.." Ucap Yara.
" Disini.?" Tanya Caleb bingung.
" Iya." Sahut Yara.
Caleb menghentikan mobilnya, dengan segera Yara turun dari mobilnya dan berjalan kebelakang mobil sembari mengeluarkan senjata nya lalu mengarahkan nya kepada sebuah mobil sedan hitam yang sedari tadi mengikutinya.
" Turun, siapa kau.?" Ucap Yara.
Caleb, Jackson, dan Ethan langsung turun dan menghampiri Yara. Caleb dan Jack langsung ikut mengeluarkan senjatanya dan melakukan hal yang sama seperti yang Yara lakukan.
Tiba tiba pintu mobil sedan hitam itu terbuka, dan muncul seorang pria yang mereka semua kenal.
" Kakak.. " Ucap Ethan.
" Ini aku Valerie, turunkan senjatamu." Ucap Roger.
Yara menurunkan senjatanya, begitu juga dengan Jack dan Caleb.
" Kenapa kak Roger mengikuti kami?" Tanya Yara.
" A..aku hanya ingin bertemu ibuku." Akhirnya Roger mengucapkan niatnya.
" Kakak sudah tahu Kristin ada ditanganku? Apakah kakak sebenarnya sudah tahu dari awal?" Tanya Yara.
__ADS_1
" Iya, hanya saja aku berpura pura tidak tahu. Tapi Valerie.. Terkadang hati tidak sependapat dengan mulut." Ucap Roger.
" Jika kakak ingin tahu kabarnya, maka jawaban nya baik baik saja. Aku belum memulai pembalasanku." Ucap Yara.
" Kak, kenapa kau masih saja peduli dengan wanita yang hampir membunuhmu. Apakah tidak cukup dia membuatmu menderita selama ini?" Ucap Ethan.
Roger menundukan kepalanya, ia bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa sangat sulit untuk berpura pura tidak peduli dengan ibunya.
" Maaf kak, seperti yang aku bilang pada hari itu.. Kita memang berteman, tapi dendamku pada ibumu itu adalah hal yang tidak bisa kau ikut campuri." Ucap Yara.
" Bolehkah aku menemuinya Valerie.. Sekali saja. Aku ingin memastikan sekali lagi bahwa ia benar benar tidak peduli padaku." Ucap Roger dengan pendirian nya.
Yara menghembuskan nafasnya pelan. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi salah satu pelayan di rumah nya.
" Halo, tunjukan apa yang sedang dilakukan Kristin." Ucap Yara pada pelayan nya.
Yara melihat Kristin yang tengah mengamuk, lalu memberikan nya kepada Roger.
" I.. Ibu, mengapa dia dirantai, kau merantainya Valerie.?" Tanya Roger.
" Ya, jika tidak begitu maka dia akan melakukan hal yang fatal lainnya." Ucap Yara.
Roget lalu mengembalikan ponsel Yara, wajah nya kembali sendu.
" Terimakasih.. Setidaknya dia baik baik saja." Ucap Roger.
Yara mengangguk kan kepalanya, setelah itu Roger pergi dari sana.
" Aku berharap kelak dia tidak menjadi musuhku." Ucap Yara.
Ethan terkejut, rupanya Yara memikirkan hal yang sama dengannya. Ethan sendiri takut jika kelak Roger tidak bisa mengendalikan hatinya dan justru berbuat nekat lalu menjadi musuhnya.
" Kita harus bicara." Ucap Yara kepada Ethan.
" Ada apa.?" Tanya Ethan.
" Jack, Caleb , aku minta maaf apakah kalian bisa pulang sendiri.? Aku ada hal yang harus dibicarakan dengan nya." Ucap Yara.
Jack dan Caleb saling pandang, sebenarnya mereka khawatir jika nanti terjadi sesuatu kepada Yara.
" Aku akan baik baik saja." Ucap Yara, seakan mengerti ke khawatiran dua temannya.
" Baiklah." Akhirnya Caleb menyerahkan kunci mobilnya pada Yara.
" Kenapa kau selalu keras kepala, apa susahnya memberikan kunci mobil itu padaku." Ucap Ethan kesal.
" Aku pemiliknya, jadi aku yang menyetir." Ucap Yara.
" Cih, tapi aku seorang pria.. Seharusnya aku yang menyetir." Ucap Ethan.
" Bukankah penampilanku tidak kalah tampan dari seorang pria tulen? Banyak yang bilang aku sangat tampan." Ucap Yara dengan senyum tipisnya.
" Astaga Nayara Valerie.. " Ucap Ethan gemas sendiri, Yara selalu memiliki jawaban untuk membantah tiap kata katanya.
" Oke.. Oke.. Mari kita fokus pada inti permasalahan. Aku akan memberi tahumu sesuatu, tapi bisakah kau menjawab dengan jujur pertanyaanku.? Sebelumnya aku minta maaf terlebih dahulu, karena pertanyaan yang akan Ku sampaikan mungkin akan membuatmu sakit hati." Ucap Yara menjelaskan terlebih dahulu.
" Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan.?" Ucap Ethan.
" Apakah dulu Kristin pernah berencana membawa Roger pergi namun Roger kukuh ingin tetap tinggal denganmu.?" Tanya Yara.
" Jadi pertanyaan yang ingin kamu tanyakan adalah kisah masalalu? Baik, aku akan menjawabnya jika memang kamu ingin tahu." Ucap Ethan dengan senyum nya.
Namun tentu saja Yara tahu, itu adalah senyum pahit. Yara sadar kemungkinan besar dirinya akan membuka luka lama yang telah Ethan coba sembuhkan.
" Maaf.. " Ucap Yara.
" Tidak apa apa, jika jawabanku bisa membantu untuk penyelidikanmu tentang Kristin, aku akan melakukan nya, untukmu." Ucap Ethan dengan yakin.
Yara tersentuh dengan ucapan Ethan. Bagaimana bisa ada orang yang rela membuka luka lama yang telah ia coba sembuhkan bertahun tahun demi sebuah informasi yang belum tentu akan berhasil.
" Terimakasih.. Dan maaf." Ucap Yara lagi.
" Hmm.. Aku akan jawab. Sebenarnya Roger juga ingin ikut dengan ibunya, namun ia terlalu takut untuk melangkah, juga.. Saat itu aku dan Roger seperti saudara kandung yang saling menyayangi. Roger berat meninggalkan aku, jadi dia hanya melihat ibunya pergi. Namun saat tiba tiba berita kecelakaan pesawat yang di tumpangi Kristin sampai di telinganya, yang anehnya banyak jasad yang tidak di temukan termasuk jasad Kristin. Setelah kejadian itu, Roger menyalahkan aku dan ibuku sebagai penyebab meninggalnya Kristin." Ucap Ethan menjelaskan.
Yara menghentikan mobilnya di pinggir jalan, mereka saar ini berada di sebuah taman, namun mereka tetap duduk di mobil.
" Oke.. Jadi memang kemauan Roger sendiri untuk tidak ikut denganmu.?" Tanya Yara.
" Benar.. Bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu?" Tanya Ethan.
" Aku sebenarnya menggali informasi dari Kristin, dan tidak sengaja dia memberitahuku tentang itu." Ucap Yara.
Ethan mengernyit bingung, bagaimana bisa Kristin begitu mudah diajak bicara pikirnya.
__ADS_1
" Jangan binung, tentu saja aku berbicara dengan nya dari alam bawah sadarnya. Ia begitu benci dengan keluarga Dominique terutama ayahmu." Ucap Yara.
" Bagaimana caranya kamu melakukan itu?" Tanya Ethan.
" Obat yang aku suntikan, itu adalah obat untuk membangunkan alam bawah sadarnya. Dia akan menunjukan sisi lain dirinya. Seperti hal nya Kristin. Satu hal yang tidak kalian ketahui, Kristin sangat menyayangi Roger. Aku takut jika ikatan batin antara ibu dan anak itu menjadi kuat, dan akhirnya kita menjadi musuh sesungguhnya." Ucap Yara.
" Lalu bagaimana.?" Tanya Ethan.
" Aku butuh bantuanmu untuk menahan Roger. Aku yakin dengan kejadian hari ini, Roger bisa saja nekat kembali mencari Kristin lalu membawanya pergi." Ucap Yara.
" Menahannya.? Tapi..." Ucap Ethan menggantung.
" Aku sangat butuh sedikit lagi waktu untuk mendapatkan jawaban dari Kristin, dari alam bawah sadarnya. Jika sampai Roger membawa ibunya itu pergi, maka akan buntu semuanya. Dan perang ini tidak akan bisa diakhiri. Karena ini adalah dendam pribadi Kristin atas kematian ayahnya, juga penghianatan ayahmu." Ucap Yara.
Yara tidak memberi tahu Ethan tentang kakek kandungnya, Baginya Ethan tidak perlu tahu.
" Dalam 3 Hari, bantu aku menahan Roger selama 3 hari. Kau lihat dibelakang kita, diujung jalan itu.. Roger disana, masih mengikuti kita." Ucap Yara.
Ethan terkejut, lalu ia melihat daei spion , dan benar saja, mobil yang sebelumnya di kenalan oleh Roger, berada di ujung jalan di belakang mobil yang Yara kemudikan.
" Baiklah.. Aku akan bantu menahan Roger selama tiga hari." Ucap Ethan.
Yara tersenyum, ia lega Ethan mau mendengarkan nya. Yara kira akan sulit meminta Ethan untuk berperan dalam misinya. Kemudian Yara mengingat ucapan Kristin yang mengatakan bahwa ibu kandung Ethan telah diracuni. Yara menatap mata Ethan lalu mengatakan..
" Ethan, kunjungilah ibumu. Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian.. Tapi kalian tidak bersalah. Kamu dan ibumu tidak bersalah, kalian hanya kebetulan berada di tempat dan situasi yang salah. Kristin memberi tahuku, bahwa ia telah meracuni ibumu secara perlahan. Kristin ingin membuat ibumu menderita, apakah kamu tega membuat ibumu menderita dua kali lipat atas kesalahan yang tidak ia perbuat.?" Ucap Yara.
Ethan menatap Yara dalam dalam, tidak menyangka gadis yang berusia jauh lebih muda darinya memiliki pikiran yang bijak dan dewasa.
Benar, sejak awal baik Ethan maupun ibunya.. mereka tidak bersalah. Yang bersalah adalah ayahnya, Ronald Dominique. Jika saja Ronald tidak menjadikan ibunya sebagai selingkuhan, maka tidak akan ada hari ini. Juga tidak akan ada Kristin yang akhirnya mendendam.
Tapi kemudian Ethan tersenyum, setidaknya 1 yang Ethan syukuri yaitu ia dilahirkan dan bertemu dengan Yara nya itu. Obat yang secara tidak sengaja ia temukan di dalam hidupnya yang penuh luka.
' Tidak salah aku memilihnya, dia gadis terbaik.. Dia Yara ku. ' Batin Ethan bermonolog.
" Maukah kamu ikut bersamaku nanti saat aku mengunjunginya." Tanya Ethan.
" Baik.. " Sahut Yara.
" Yara.. Apakah kamu tidak mengingatku?" Tanya Ethan tiba tiba.
" Tentu saja aku mengingatmu, kamu Ethan Dominique." Ucap Yara dengan kekehan kecilnya.
" Bukan.. Apakah kamu tidak pernah merasa pernah mengenalku dulu.?" Tanya Ethan lagi.
Mata Yara menerawang jauh, tapi ia memang tidak pernah merasa bertemu Ethan sebelumnya, tali kemudian Yara mengingat kejadian saat ia pertama bertemu dengan Ethan di hotel, saat Ethan membantunya di hari pertunangan nya.
" Em.. Aku ingat.. Kamu.. Adalah penyelamatku saat di hotel malam itu kan." Ucap Yara dengan wajah tidak enaknya.
Ethan terkekeh sendiri melihat ekspresi Yara, baginya Yara terlalu menggemaskan.
' Bagaimana bisa Tuhan menciptakan makhluk selugu dan semenggemaskan Yara. ' pikirnya.
" Bukan.. Kita pernah bertemu saat kita kecil." Ucap Ethan.
Yara melotot terkejut mendengar ucapan Ethan, Yara kemudian mengingat ingat sekilas sekilas memory nya, tapi tidak pernah merasa pernah melihat Ethan.
" Aku tidak ingat kita pernah bertemu, kapan kita pernah bertemu.?" Ucap Yara.
" Kamu benar benar kejam melupakan korban tembak pertamamu." Ucap Ethan.
Yara terkejut, ia kemudian mengingat kejadian saat diarena tembak dulu. Tempat yang selalu ia gunakan untuk berlatih menembak bersama Davis Todd. Dimana disana ia juga pernah salah menyangka bahwa Davis akan di tembak seorang remaja laki laki, dan akhirnya ia menembak remaja itu.
" K.. Kamu.. " Ucap Yara tergagap.
" Ya, aku adalah anak laki laki yang kamu tembak, karena kamu mengira aku akan menyakiti kakekmu." Ucap Ethan.
" Astaga.. Aku pikir saat itu kamu sudah mati. Kakek tidak memberitahuku tentang kondisimu. Aku minta maaf atas kejadian itu, aku selalu mencari tahu siapa dirimu saat itu dan ingin meminta maaf, tapi aku tidak melihatmu lagi." Ucap Yara dengan wajah penuh penyeslaan.
Ethan tersenyum, lagi lagi dia merasa gadis di hadapannya itu begitu lucu.
" Aku tidak akan melupakan kejadian itu.." Ucap Ethan menggantung karena tiba tiba Yara memotong ucapan Ethan.
" Tolong maafkan aku, selama ini aku hidup dengan rasa bersalah. Aku telah berjanji pada kakek saat itu untuk tidak menembak atau membunuh orang yang tidak bersalah karena mengingat kejadian yang menimpa dirimu. Tapi aku mengingkarinya juga, aku sungguh minta maaf." Ucap Yara.
Ethan jadi memiliki sedikit ide gila di kepalanya. Melihat Yara yang begitu memohon padanya, sangat jarang bahkan nyaris tidak mungkin Yara memohon maaf padanya.
" Aku akan memaafkanmu, tapi sepertinya aku membutuhkan kompensasi." Ucap Ethan.
" Kompensasi apa.? Katakan saja, aku akan berusaha memenuhinya." Ucap Yara.
" Kakekku pernah berkata padaku bahwa sebenarnya kita berdua pernah dijodohkan dulu, namun karena kakak angkatmu Darren Todd mengatakan menyukaimu dan kau pun sepertinya sangat menyukainya.. Jadi perjodohan itu dibatalkan.. Bagaimana jika kita melanjutksn keinginan kedua kakek kita.?" Ucap Ethan.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1