Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 178. SEASON 2. KEMBALI KE NEGARANYA.


__ADS_3

Vaye dan Nicholas menghabiskan waktu mereka berdua seharian itu. Nicholas bilang, ia ingin memuaskan dirinya dengan bermain sepanjang hari bersama Vaye sebelum Vaye pergi besok.


Vaye pun tidak mempermasalahkannya, mereka mangunjungi wahana bermain dan menghabiskan hari mereka disana. Keduanya begitu terlihat bahagia.


Nicholas menatap dua orang yang baru saja keluar dari ruangan foto, dan ia pun tersenyum misterius.


" Vaye, ayo ikut aku." Ujar Nicholas.


" Kemana?" Ujar Vaye, namun Nicholas hanya menarik tangan Vaye dan memasuki ruangan untuk foto.


" Ha? Dimana photographernya?" Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.


Ruangan itu ternyata sangat kecil, mungkin hanya muat untuk 4 orang. Vaye pun tertawa mendengar ucapan Nicholas. Itu hanya sebuah ruangan mesin foto, bukan studio foto dan Nicholas mencari photographer.


Vaye memasukan koin di mesin foto lalu menarik Nicholas untuk berfoto bersamanya.


" Lihat kamera, cheese.." Ucap Vaye, dan mereka mengambil foto bersama.


" Kenapa semua hasil fotoku jelek begini?" Ujar Nicholas, protes. Karena dari emoat foto tang di ambil, tidak ada satupun yang menunjukan hasil bagus menurutnya.


" Salahmu datar seperti tembok." Ujar Vaye terkekeh.


" Tidak bisa! Ayo kita ulang." Ujar Nicholas.


" Koinku habis." Ujar Vaye terkekeh.


" Ayo beli lagi." Ujar Nicholas.


" Tidak bisa, ini sudah malam. Ayo kita pulang." Ujar Vaye.


Mendengar kata pulang, Nicholas jadi teringat bahwa Vaye akan pergi besok. Dia tidak rela di tinggal satu satunya temannya itu.


" Kamu berangkat jam berapa dari apartemen?" Tanya Nicholas.


" Pagi, jam tiga dini hari." Ujar Vaye.


" Kenapa kamu terlihat begitu sedih?? Aku hanya pulang menemui orang tuaku, aku akan kembali nanti untuk sekolah." Ujar Vaye.


" Baiklah, ayo kita pulang. Kamu harus istirahat." Ujar Nicholas akhirnya.


Mereka berdua pun akhirnya pulang, sesampainya mereka di apartemen, Nicholas mengulurkan tangannya.


" Selamat berlibur, semoga selamat sampai tujuan, dan sampai berjumpa lagi." Ucap Nicholas dengan wajah ceria.


"Oho... sepertinya tadi ada yang sedih." Ujar Vaye.


" Ck, cepat masuk sana." Ujar Nicholas.


" Kau tidak mau satu lift denganku??" Tanya Vaye.


Akhirnya Nicholas mendorong Vaye masuk kedalam lift, kemudian dirinya kembali keluar.


" Sampai jumpa lagi." Ujar Nicholas.

__ADS_1


" Hm.. Bye." Ujar Vaye, dsn kemudian pintu lift tertutup.


Setelah pintu lift tertutup, wajah ceria Nicholas memudar. Tapi kemudian dia menghela nafas dan berucap..


" Sepi.. Aku benci sepi." Gumam Nicholas, ia menekan tombol lift dan naik dengan lift lain.


Ke esokan harinya, pukul 3 dini hari Vaye keluar dari apartemen dan menaiki taksi menuju bandara. Ia tidak membawa apapun, hanya membawa tas punggung kecil berisi data data dirinya.


Setelah beberapa menit ia pun sampai di Bandara International. Ia melakukan chek in dan tak lama pesawat itu lepas landas.


" Sampai jumpa nanti Jakarta." Gumam Vaye.


Pagi hari, Nicholas terbangun dari tidurnya. Ia bergegas membuka pintu tapi kemudian ia melihat kearah jendela yang terlihat sudah terang.


" Astaga.. aku malah ketiduran, bodoh!" Gumamnya.


Niat hati, Nicholas ingin mengantar Vaye ke bandara. Ia bahkan sudah mondar mandir semalaman di dalam apartemen nya, namun waktu masih terlaku cepat karena baru pukul 1 dini hari.


Nicholas pun duduk di sofa menunggu waktu yang terasa sangat lama berjalan, hingga akhirnya matanya justru terpejam. Padahal Nicholas sudah siap dengan pakaian yang rapi.


" Bodoh kau Nicholas! Bodoh.." Gumamnya ketika melihat jam yang menunjukan pukul 8 pagi.


Tit! Tit! Tit! CKLEK!


Pintu utama terbuka, dan masuklah pelayan yang biasa membersihkan apartemen, Ruth.


Ruth sampai bingung melihat Nicholas dengan pakaian rapi, namun rambutnya berantakan. Tapi tidak tercium bau alkohol sama sekali di ruangan itu, bahkan apartemen juga rapih.


" Aku kesiangan." Ujar Nicholas dengan wajah frustasi, lalu masuk kedalam kamar.


Ruth yang melihat itu pun menggeleng gelengkan kepalanya. Ia ikut senang karena akhirnya Nicholas bisa memiliki perubahan yang bagus, hidupnya kini lebih berwarna. Apartemen itu kini tidak pernah lagi berantakan seperti biasanya dulu.


Waktu berlalu, Vaye telah sampai di negara AS, ia berjalan keluar dari bandara dan di depan pintu keluar saat ini terlihat dua orang yang terlihat mirip dengan nya.


" Kakak..." Teriak Vaye. Vaye bahkan sudah tidak menggunakan kaca mata tebalnya.


" Wow.. wow.. wow.. Siapa ini??" Ujar Nathan saat melihat Vaye yang berlari kearahnya.


" Ish!! Jahatnya." Ujar Vaye.


" Hahahaha.. Maaf adik, kakak hanya tidak terbiasa melihatmu dengan rambut hitam." Ujar Nathan.


Mereka bertiga pun berpelukan. Jika Edmund berbadan besar dan kekar, maka Nathan lebih seperti model. Tubuhnya berotot namun masih terbilang wajar, ia juga lebih tinggi beberapa senti dari Edmund.


" Aku merindukan kalian." Ujar Vaye.


" Kakak lebih merindukanmu, kak Edmund curang bisa datang ke Jakarta mengunjungimu." Ujar Nathan.


" Salahmu sendiri sibuk dengan penelitian." Ujar Edmund meledek.


" Sudah sudah, ayo pulang." Ujar Vaye.


Mereka bertiga akhirnya menyusuri jalanan kota menuju ke kediaman Maxwell. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah, dan di sambut oleh semua orang terkasihnya.

__ADS_1


" Mommy, daddy." Teriak Vaye dan langsung berhambur kepelukan Ethan dan Yara.


" Sayangnya mommy, mommy sangat merindukan Vaye." Ujar Yara.


" Vaye lebih rindu mommy. " Ucap Vaye sambil memeluk Yara erat.


" Kamu tidak merindukan kami?" Ucap Aiko dengan nada sendu.


" Opa.. Oma.. Paman.." Ucap Vaye.


" Kesayangan paman." Teriak Ryuchie.


Vaye langsung langsung melompat kepelukan Ryu.


" Astaga, kamu bertambah berat rupanya, sepertinya makanan Indonesia cocok dengan lidahmu." Ujar Ryu, dan semua orang terkekeh.


" Ish, paman.. Mana ada Vaye berat." Ujar Vaye, dan Ryu terkekeh.


Ryuchie sudah menjelma menjadi laki laki dewasa yang matang, seolah memeiliki wajah yang tidak pernah tua bak Vampir, Ryu masih terlihat sama seperti dulu hanya saja kini tubuhnya semakin kekar dan hampir sama seperti Edmund.


" Bagaimana sekolahmu?? apakah kamu mencetak rekor seperti biasanya?" Tanya Ryu.


" Tentu saja iya. Vaye ranking satu di kelas." Ujar Vaye bangga.


" Uluh uluh.. Keponakan paman memang jenius." Ujar Ryu.


Vaye paling suka bermanja manja pada orang orang terkasihnya, berkumpul di tengah keluarga yang hangat seperti itu adalah kebahagiaan nya.


Keluarga besar itu berkumpul khusus untuk menyambut kedatangan Vaye. Ditambah lagi, libur sekolah membuat si dua jenius Edmund dan Nathan juga pulang dari asrama sekolah.


Di tengah hangatnya keluarga, Tiba tiba Vaye justru teringat dengan Nicholas. Sejak melakukan penerbangan, dia belum menghubungi Nicholas sekalipun. Tapi ketika melihat ponselnya, ia ingat bahwa perbedaan waktu mereka tidak mungkin untuk melakukan panggilang.


Akhirnya Vaye mengetik pesan singkat menggunakan ponsel lamanya yang ia gunakan di AS, ia memberitahukan pada Nicholas bahwa dirinya telah sampai dan baik baik saja.


" Vaye, kamu cantik dengan rambut hitam, sayang." Ujar Aiko.


" Benarkah oma??" Ujar Vaye, dan Aiko mengangguk.


" Oma suka.." Ujar Aiko.


" Tapi menurut Nathan, Vaye lebih cantik dengan rambut peraknya." Ujar Nathan.


" Selama Vaye di Indonesia, Vaye akan mewarnai rambut Vaye dengan warna hitam, tapi jika sudah kembali kemari maka.. Vaye akan kembali menjadi gadis perak." Ujar Vaye, dan semua orang terkekeh.


Jakarta, Indonesia.


Pukul 04. 30


Nicholas tersenyum mendapat pesan singkat dari Vaye. Awalnya ia tidak tahu nomor siapa itu, tetapi ketika membaca isi pesan nya, ia tahu bahwa itu adalah Vaye. Ia tidak tidur dan terus menunggu kabar dari Vaye.


" Sukurlah.. dia baik baik saja." Gumam Nicholas, kemudian tumbang diatas ranjangnya dan tertidur.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2