
Nicholas sedang rebahan di kasurnya sambil tangan nya menyekrol layar ponselnya, ia melihat hasil jpretan fotonya yang memoto Vaye selama mereka berada di pantai siang tadi.
" Astaga.. cantiknya pacarku. " Gumam Nicholas.
Nicholas ingat dirinya memiliki akun media sosial yang sudah lama tidak pernah ia buka lagi, dan malam ini dia membukanya. Yang muncul pertama kali adalah banyaknya pesan masuk dari orang orang yang tidak dia kenal, dia hanya melewati nya saja lalu berpindah ke bagian profilnya
Nicholas menghapuas foto profilnya dan menggantinya dengan foto dirinya yang sedang berdua dengan Vaye tadi di pantai. Di foto itu mereka berdua tampak bahagia bersama, dan Terlihat sangat manis.
" Ahh... begini lebih bagus. " Ujar Nicholas
Rasanya Nicholas enggan mengalihkan pandangan nya dari foto foto Vaye, terlalu bagus untuk di lewatkan atau di lupakan. Sampai akhirnya Nicholas tidur sabil memegangi ponselnya yang sedang muncul foto Vaye di layarnya.
Ke esokan harinya..
Akhir pekan telah berakhir, kini semua murid sekolah tentu saja sudah mulai kembali untuk belajar. Nicholas dan Vaye sampai di sekolah dan tentu saja sudah ada Mark dan Bagas disana.
" Yo... yang foto prifilnya jadi berdua." Ujar Bagas.
" Ha, foto profil siapa yang berdua?" Tanya Mark.
" Mereka, sepertinya kemarin habis berlibur bersama." Ujar Bagas sambil meliruk kearah Vaye dan Nicholas.
" Sirik tanda tak mampu." Ujar Nicholas dan Vaye tertawa kecil.
" Ye... Itu bukan sirik." Ujar Bagas.
" Tapi??" Sahut Nicholas.
" Iri hehehe.. Kapan aku bisa punya pacar yang seperti Vaye. Cantik, baik, kuat, pintar dan pemberani. " Ujar Bagas.
" Kau mau cari pacar atau bodyguard?" Ujar Mark, dan semuanya terkekeh.
" Ish, kalau pacarku seperti Vaye, aku tidak perlu takut dia di ganggu orang lain, kan bisa bela diri." Ujar Bagas lagi.
" Itu si maunya kamu." Ujar Nicholas.
" Kenapa harus yang seperti aku? Di sekolah ini siapa yang tidak mau denganmu? Murid paling cerdas satu sekolah." Ujar Vaye.
" Tapi itu dulu, sekarang aku yakin sudah di geser oleh mu. Kamu kan jenius yang terkenal, aku tidak ada apa apanya." Ujar Bagas.
" Aku turut berduka cita, bro." Ujar Mark, sambil menepuk pundak Bagas.
" Ye.. Kok jadi meng sedih." Ujar Nicholas.
" Sudahlah, ayo masuk kelas." Ujar Vaye.
" Vay, punya kembaran perempuan tidak?" Tanya Bagas.
__ADS_1
" Sayangnya kembaranku dua dua nya laki laki." Ujar Vaye sambil terkekeh.
Dan akhirnya mereka semua pun masuk ke kelas mereka. Dan semua orang berbisik bisik tentang foto profil media sosial milik Nicholas, pasalnya mereka memang terlihat begitu manis.
Di tempat lain...
Pras tengah berdiri di sebuah bangunan yang megah. Kita tentu tahu bangunan milik siapa itu. Pras sendiri merasa sangat bernostalgia walau hanya berdiri di luarnya saja. Bangunan itu adalah kediaman Nicholas.
" Jadi dia sudah membangun rumah nya sendiri, ini rumah masa kecilnya yang sudah aku hancurkan. Dan dia membuat rumah ini kembali." Gumam Pras, sambil menatap bangunan itu.
Ya, orang yang Pras suruh, berhasil mendapatkan alamat tempat tinggal Nicholas, dan Pras terkejut ketika melihat alamatnya berada di perumahan elit. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat bangunan itu.
Rumah itu sama persis dengan rumahnya dulu, sebelum dia menghancurkan keluarganya sendiri demi cintanya pada Tamara.
" Maaf tuan, tolong jangan begini. Saya akan di pecat tuan muda jika saya membiarkan anda masuk." Ujar penjaga rumah Nicholas.
" Aku yang akan mengatakan nya pada Nicholas." Ujar Pras.
Penjaga itu menepuk kening nya sendiri, ia merutuki kebodohan nya yang membiarkan mobil Pras masuk gerbang tanpa melihat siapa pemiliknya. Pasalnya mobil Pras sama dengan mobil Jilian, dan penjaga itu mengira bahwa itu Jilian tanpa melihat nomor plat nya.
Tiba tiba muncul Nely dari balkoni atas dengan gembor di tangannya. Gembor atau kita lebih sering menyebutnya sebagai penyiram tanaman berbentuk seperti cerek.
' Dia bahkan masih saja seperti dulu, merawat rumah dengan bunga bunga yang indah.' Batin Pras.
Dari atas, Nely melihat Pras yang berdiri menatapnya. Ia pun menjatuhkan Gembornya karena terkejut.
Setelah beberapa saat saking tatap, kini akhirnya keduanya duduk di halaman samping rumah yang terdapat air mancur buatan dengan ikan ikan koi yang menghiasi kolamnya. Nely tidak membiarkan Pras masuk kedalam rumah nya.
Nely menaruh secangkir kopi untuk Pras, dan segelas jus wortel untuk dirinya sendiri.
" Kamu masih seperti dulu, suka jus wortel." Ujar Pras.
" Ya, karena wortel itu baik dan sehat untuk tubuh." Ujar Nely.
" Jadi kalian berdua tinggal disini setelah Nicholas membawamu dari rumah sakit?" Tanya Pras.
" Ya." Sahut Nely singkat.
" Apakah kamu membenciku Nely?" Tanya Pras.
" Bohong jika aku bilang tidak membancimu. Bukan benci tapi lebih tepatnya kecewa.." Ujar Nely.
" Jika saja aku seperti jus wortel itu, yang tidak berubah masa demi masa dan tetap menemanimu setiap hari, tapi sayangnya aku berubah." Ujar Pras.
" Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari? Kau bukan datang untuk mengenang masalalu bukan?" Tanya Nely.
" Mengenang... Ya, mungkin aku hanya bisa mengenangnya sekarang. Semua kenangan indah saat keluarga kita berkumpul dulu. Sebelum semuanya berakhir menjadi seperti ini." Ujar Pras.
__ADS_1
" Bukankah kau yang membuatnya? Semuanya berubah karenamu. Sekarang jika aku pikir pikir, Nicholas mengambik jalan yang benar. Dengan dia melepaskan diri darimu ketika kau bersama Tamara, Nicholas jadi tidak mengalami hal yang sama seperti Timothy. " Ujar Nely.
" Kamu benar." Ujar Pras.
" Nely.. Apakah kita tidak bisa kembali seperti dulu?" Tanya Pras, dan Nely tersenyum mendengarnya.
" Apa yang kau harapkan?? Kau sudah mengakhiri semuanya. Kau yang bilang bahwa kau tidak akan pernah menyesali keputusanmu." Ujar Nely.
" Sekarang aku sungguh menyesal, aku ingin menebusnya.. Aku ingin membuat keluarga kita kembali bahagia seperti dulu." Ujar Pras.
Nely kembali tersenyum mendengar apa yang Pras ucapkan. Bagai membalik telapak tangan, semudah itu Pras mengatakan ingin kembali. Padahal luka yang Nely dan Nicholas rasakan lebih dari kata sakit dan hancur.
" Tapi maaf.. Sayang nya itu tidak mungkin terjadi." Ujar dokter Abraham.
Baik Nely dan Pras melirik kearah Abraham yang berjalan dengan gagahnya menggunakan jubah putih.
" Anda sudah terlambat, tuan Pras. Nely sudah bersama saya, dan tidak akan pernah kembali pada biang luka seperti anda." Ujar Abraham lagi.
Nely tentu terkejut, dia dan Abraham tidak memiliki hubungan apapun. Abraham hanya sering berkunjung namun tidak pernah ada hubungan yang special diantara mereka berdua.
Pras menatap Nely dan Abraham, dia pun menunduk.
" Aku mengerti, sepertinya memang tidak ada celah lagi untukku kembali. Dan anda benar dokter, Nely tidak pantas dengan saya yang adalah biang luka. " Ujar Pras.
' Ck, dia mundur begitu saja. Dasar pria bren*sek.' Batin Abraham.
" Pergilah, Nicholas akan marah jika melihatmu disini. Jika selama ini kau mencari kami karena peduli dengan kondisi kami, terimakasih. Kami baik baik saja, dan hidup bahagia dengan jalan yang kami pilih." Ujar Nely. Pras diam, lalu mengangguk.
" Aku pergi, semoga kamu selalu bahagia, Nely." Ujar Pras lalu melangkah pergi dari sana.
Sepeninggal Pras, Nely kini menatap Abraham. Dan Abraham yang di tatap pun kian menjadi gugup dan berdehem tidak jelas.
" Apa maksud anda saya sudah bersama anda, dokter Abraham? " Tanya Nely.
" Ekhem!! Apakah kamu tidak mau?" Ucap Abraham.
" Mau ?? Mau apa?" Tanya Nely.
Abraham menyingsing kan lengan bajunya dan menghadap Nely.
" Nely, saya terlalu tua untuk berkata kata romantis. Lebih dari itu, saya bukan orang yang romantis. Tapi saya menyukai kamu, setelah seiring waktu kita selalu bersama. " Ucap Abraham.
" Saya tidak oernah merasakan ini dengan pasien pasien saya yang lain, tapi denganmu.. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku mencintaimu, apakah kamu mau menikah denganku?" Ucap Abraham, lagi.
Nely tentu terkejut, saking terkejutnya dka sampai hanya diam menatap Abraham di hadapan nya itu.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1