
Melihat wajah Yara yang memucat , Dawn pun menepuk bahu Yara.
" Y, kau tidak apa apa kan.? " Ucap Dawn.
" Eh, aku tidak apa apa, kalau begitu aku akan mengemasi barang barangku." Ucap Yara yang langsung berlalu pergi meninggalkan Dawn.
" Aku harap kau bukan orang yang seperti itu Y." Ucap Dawn.
Sebelumnya Dawn mendengar orang - orang di tim lain membicarakan Yara. mereka mengatakan bahwa Y kemungkinan adalah penghianat yang sedang mengintai di sisi tuan. Jadi masalah malam ini seharusnya tidak boleh sampai bocor. Hanya saja Dawn menaruh kepercayaan kepada Yara jadi ia ingin memastikan bahwa sahabatnya itu bukanlah orang seperti itu.
Di dalam kamar, Yara sedang kebingungan, ia berulang kali menghubungi Bima namun tidak terhubung. Ia khawatir, bagaimana kalau memang benar Bima yang di incar mereka, Ia bahkan tidak berpikir sama sekali bahwa dirinya juga sudah di cap sebagai penghianat di sana.
" Bagaimana ini, mengapa pak Bima sulit sekali di hubungi. Caleb dan Jackson juga mengapa tidak bisa di hubungi. " Ucap Yara yang frustasi.
" Semoga saja bukan pak Bima." Ucap Yara lagi.
Yara membuka tas ransel berukuran besar, lalu memasukan semua pakaian nya. Saat ia mengemasi pakaian nya di lemari ia melihat gaun yang sebelumnya ia kenakan di pesta ulang tahun John Dominique.
" Gaun yang cantik, tapi sayang kau bukan milikku. Apa yang kau pikirkan Yara, kau sudah menjadi seorang pria sekarang." Ucap Yara lagi.
Yara menyisakan gaun itu di dalam lemari sendirian. Sedangkan pakaian lain nya sudah ia masukkan kedalam lemari. Sebelum pergi, Yara mengganti pakaian nya menjadi pakaian kasual. Ia mengenakan celana Jeans yang berlubang di bagian lututnya, dengan kaos berwarna putih dan di padukan dengan kemeja berwarna putih juga. Ia pun mengambil kunci motor nya, lalu keluar dari kamar itu.
" Mengapa ada perasaan seakan aku akan kehilangan seseorang.". Ucap Yara dalam hati.
Sebelum pergi, Yara melihat kedalam kamar yang di gunakan untuk merawat Jilian. Ia pun mendekat ke pintu dan mengetuk nya.
Tok.. tok.. tok..
" Siapa.?" Ucap Perawat yang sedang memeriksa keadaan Jilian.
" Aku Y. " Ucap Yara.
Yara membuka pintu kamar itu dan melihat Jilian yang belum sadar. Padahal ia sudah di rawat dengan peralatan super canggih.
" Apa kak Jil belum memperlihatkan kemajuan.?" Ucap Yara kepada Kenzo, Dokter yang merawat Jilian.
" Belum ada, tingkat kesadaran nya benar benar tipis. Aku khawatir dia tidak akan bangun lagi." Ucap Kenzo menjelaskan.
" Dia orang yang kuat dan ceria, pasti akan bangun lagi nanti. Keluarganya, apakah mereka tau dia begini.?" Ucap Yara kepada Kenzo.
__ADS_1
" Tau.. Tapi tau pun tidak ada bedanya. Kau sendiri tau kan dia adalah anak haram. Jika dia mati, itu justru adalah kabar bagus untuk keluarganya." Ucap Kenzo lagi.
" Keluarga yang kejam.. bagaimana bisa mereka memperlakukan darah dagingnya sendiri begitu tidak berperasaan. Kak Jil, cepatlah sembuh, jangan biarkan mereka tertawa di atas penderitaan mu. Tunjukan wajah sadis mu seperti biasanya." Ucap Yara sembari menggenggam tangan Jilian.
Tidak di sangka kehadiran Yara di sana membangkitkan tingkat kesadaran Jilian. Jilian merespon dengan tetesan air mata.
"Dia merespon, akhirnya dia merespon.. Ini bagus, kesadaran nya bertambah. " Ucap Kenzo
" Kak Jil, dengan bantuan alat alat super canggih ini, kau pasti akan kembali bangun kan.. Aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, tuan menungguku. Lain waktu aku akan kembali." Ucap Yara sembari melepas genggaman tangan nya dari Jilian.
" Kau mau pergi.?" Ucap Kenzo.
" Iya, tuan menungguku, aku permisi. " Ucap Yara.
Yara pun pergi dari sana, ia menaiki motor nya dan melesat dengan kecepatan tinggi. Ia tidak menuju kearah penthouse Ethan, melainkan kearah rumah Bima. Sesampainya di rumah Bima, Yara memencet bel rumah itu dan keluarlah Caleb.
" Y, kau datang.. " Ucap Caleb.
" Dimana pak Bima.?" Ucap Yara.
" Aku tidak tahu, ia belum kembali sejak pergi tadi pagi. " Ucap Caleb.
" Oh, Entah mengapa sinyal disini sangat susah, mungkin pak Bima lupa membayar Internet. Seluruh sambungan telepon tidak bisa di gunakan. " Ucap Caleb..
" Yara berlari masuk kedalam rumah , ia melempar ransel nya di sofa lalu mengecek semua sambungan telepon di rumah itu.
" Ini bukan karena pak Bima belum membayar internet, tapi pak Bima sengaja memutus sambungan telepon dan sinyal internet. Apa yang sedang pak Bima rencanakan sebenarnya. " Ucap Yara dalam hati.
" Y, kau kenapa? mengapa terlihat begitu gusar.?" Ucap Caleb khawatir.
" Caleb, aku rasa pak Bima sekarang dalam bahaya, bisakah kau mencarinya.? Aku sudah tidak memiliki banyak waktu, malam ini aku ada tugas." Ucap Yara dengan mata me merah.
Caleb yang melihat itu pun terkejut, ini pertama kalinya ia melihat Yara yang nampak begitu khawatir hingga akan menangis.
" Aku akan mencarinya, jangan khawatir." Ucap Caleb.
" Baiklah, kabari aku jika kau sudah menemukan pak Bima, aku harus pergi." Ucap Yara.
Yara pun keluar dari rumah itu dan menggunakan helm nya lalu melesat jauh. Yara tidak menyadari pakaian nya tertinggal di sofa.
__ADS_1
" Semoga tidak terjadi apa apa." Ucap Caleb.
Di tempat lain..
Ethan sudah kembali ke Penthouse nya, kini ia sedang duduk menatap layar laptop nya, ia sedang memantau sebuah pergerakan dari GPS.
" Mengapa dia pergi ke rumah Bima Laksmana.? " Ucap Ethan.
Ethan menyuruh salah satu orang nya untuk menempelkan pelacak di motor Yara. Ia tahu Yara pasti akan menggunakan motornya. Ia melakukan itu agar ia tahu kemana ia pergi guna menyelidiki dengan siapa sebenarnya Yara berkomplot.
" Apa jangan jangan Yara juga sebenarnya anggota mahkota berduri yang menjadi mata mata.?" Ucap Ethan lagi.
Ethan melihat pergerakan Yara yang menuju pulang ke penthouse miliknya. Dan benar saja tak lama Yara sampai di atas. Melihat Yara yang sudah sampai di hadapan nya, Ethan pun mematikan laptop nya.
" Aku menyuruhmu membawa semua barang barangmu kenapa hanya mengganti pakaian saja.?" Ucap Ethan.
Yara baru tersadar , ia melupakan tas ransel nya di rumah Bima karena saking terburu buru ya.
" Eh.. Maaf tuan tadi saya mampir kerumah seorang teman, tasku tertinggal di sana. Kalau begitu saya akan kembali kerumah temanku untuk mengambil barang ku." Ucap Yara.
" Tidak bisa, kita tidak punya banyak waktu. Dalam setengah jam kita akan berangkat ke tempat pertemuan itu " Ucap Ethan melarang Yara.
" Baik, maaf kan saya tuan." Ucap Yara.
" Bersiaplah, gunakan stelan jas formal. Kita akan datang ke pertemuan orang penting.
" Tapi, saya tidak punya pakaian formal tuan." Ucap Yara.
Ethan menatap Yara dengan tatapan tajam, sementara Yara kini menciut di tatap oleh Ethan. Ethan masuk kedalam kamarnya dan tak lama keluar lagi dan melemparkan satu set stelan jas kepada Yara.
" Gunakan itu." Ucap Ethan.
Ethan kembali melangkah masuk kedalam kamarnya meninggalkan Yara.
" Terimakasih tuan.. " Ucap Yara.
" Kenapa tuan tidak memberi tahuku jika akan ada misi malam ini, bukankah sebelumnya ia mengatakan aku adalah tangan kanan nya untuk sementara.? Seharusnya dia akan memberitahuku lebih dulu jika ada hal penting." Ucap Yara dalam hati.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1