Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 158. SEASON 2. Ter enyuh..


__ADS_3

Vaye sudah sampai di apartmennya, dan rupanya Edmund sudah siap dengan kopernya.


" Kakak mau kemana?" Tanya Vaye.


" Kakak harus kembali hari ini juga, sayang. " Ucap Edmund sambil membereskan buku bukunya.


" Hah!! Cepat sekali, ini bahkan belum empat hari." Ujar Vaye sedih.


" Kakak tahu, tapi kakak harus melakukan penelitian lagi." Ujar Edmund.


Edmund sudsh siap dengan semua barang barangnya, kemudian memeluk Vaye. Edmund juga sebenarnya masih merindukan sang adik, sejak mereka masuk sekolah dan sibuk dengan semua urusan mereka masing masing, mereka jarang bertemu bahkan jarang berkumpul dirumah.


" Tidak apa apa, kakak janji nanti saat libur lagi, kakak akan mengunjungimu lagi." Ujar Edmund.


" Janji?" Ujar Vaye.


" Janji, sayang. Kakak harus pergi sekarang, taksi kakak sudah menunggu di bawah." Ujar Edmund.


Dengan berat hati Vaye akhirnya melepas pelukannya dari sang kakak.


" Kamu jangan mengantar kakak, kakak bisa tidak mau pergi nanti." Ujar Edmund terkekeh.


" Kakak hati hati di jalan." Ujar Vaye.


" Hmm.. Kamu hati hati disini, oke?" Ucap Edmund, dan Vaye mengangguk.


Edmund pun pergi dari unit apartemen itu. Perginya Edmund membuat apartemen itu kosong dan sunyi. Padahal Edmun saja baru beberapa hari menginap disana.


" Huffft.. sendirian lagi." Ujar Vaye.


Edmund berdiri di dalam lift, dan saat di lantai 32 lift berhenti dan masuk seorang pria yang tidak asing, Nicholas.


' Untung aku meminta Vaye tidak ikut mengantar, jika tidak anak ini akan melihat Vaye denganku.' Batin Edmund.


" Kau, bukankah kau Edmund si jenius yang kemarin datang ke sekolahku? " Tanya Nicholas.


" Aku tidak ingat sekolah yang mana, tapi ya, aku Edmund." Ujar Edmund.


" Apakah kau tinggal disini? tapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Ujar Nicholas.


" Aku hanya mengunjungi kerabatku, dan hari ini aku pulang ke negaraku." Ucap Edmund.


" Oh.. rupanya begitu.." Ujar Nicholas.


Dan akhirnya lift berhenti di lantai 15, tujuan Nicholas.


" Baiklah, hati hati di jalan.." Ujar Nicholas, lalu turun.

__ADS_1


Edmund menjadi heran sendiri, Mengapa Nicholas seperti begitu akrab padanya, padal itu kali pertama mereka bertemu dan berbicara secara langsung berdua. Begitu juga dengan Nicholas, setelah lift tertutup Nicholas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Kenapa tadi aku akrab sekali padanya??" Gumamnya merasa bingung sendiri.


" Tapi kenapa aku juga merasa wajahnya tidak asing, apa aku pernah bertemu dengannya? Tapi dimana?" Gumamnya lagi. Akhirnya Nicho berjalan menuju gym.


Malam pun tiba, Vaye bangun dari tidurnya. Ya, begitu kebiasaan Vaye pulang sekolah.. tidur. Vaye bangun dan merasa lapar, ia memutuskan untuk turun ke mall dan mencari makan.


" Oh, besok seharusnya tanding renang dengan Nicho, kan? aku tidak mungkin memakai pakaian renang yang bisanya, aku akan membeli satu yang baru." Ujar Vaye.


Vaye masuk kedalam toko baju renang, dan ia melihat lihat yang sekiranya bermodel sangat tertutup, setelah mendapat satu ia pun pergi untuk mencari makan.


Ia ingat dengan Jilian, dan ia pun naik ke lantai 3 menuju restoran milik Jilian.


" paman.." Ucap Vaye.


" Oh, hai sayang.. kamu sendiri?" Ujar Jilian.


" Ya, kakak sudah pulang sore tadi." Ujar Vaye.


" Jangan sedih, jika kesepian datang saja kemari." Ujar Jilian.


" Terimakasih paman." Ujar Vaye.


Mereka pun akhirnya makan malam berdua dan tidak terasa jam sudah menunjukan saatnya restoran tutup.


" Paman, Vaye pulang dulu." Ujar Vaye.


Vaye pun turun dari lantai tiga itu dan berjalan ke lift yang menuju ke atas unit apartemen nya. Lift terbuka, dan terlihat Nicholas yang seperti setengah sadar.


' Apa dia mabuk? Kenapa dia berdiri seperti zombi.' Batin Vaye. Saat melihat Nicholas yang berdiri sambil sempoyongan.


Nicholas benar benar tidak bisa berdiri tegak, bahkan ia hampir kehilangan keseimbangan. Dan tiba tiba Nicholas melemas dan hampir ambruk kelantai jika Vaye tidak menangkapnya.


" Hei, kau mabuk?" Tanya Vaye.


Namun Nicholas hanya mengerang tidak jelas. Vaye semakin kesal saja pada Nicholas, tidak di sekolah tidak di apartemen, dia menyusahkan.


"Di unit berapa kau tinggal?" Tanya Vaye, namun Nicholas bensr benar tidak menjawab.


Vaye tidak punya pilihan lain, ia merogoh kantong saku Nicholas guna mencari kunci unitnya. Dan ia pun menemukan kuncinya di saku jaket, ia memapah Nicholas yang tidak sadaekan diri itu.


Dan masalahnya sekarang adalah, unit yang mana yang merupakan apartemen Nicholas? Satu lorong itu berisi 8 unit, yang masing masing sudah berpenghuni.


" Nic, yang mana unitmu?" Tanya Vaye


" 32 D " Gumam Nicholas.

__ADS_1


Vaye lega, akhirnya ia memapah Nicholas dengan susah payah menuju unit D. Ia membuka pintu unit itu dan pemandangan yang pertama kali terlihat adalah.. berantakan.


" Astaga, kacau sekali." Gumam Vaye.


Vaye menyeret Nicholas dan menutup pintu unit itu, dengan susah payah akhirnya Nicholas terlempar ke sofa.


" Hufft.. Perasaan saat membantingnya dia tidak begitu berat, kenapa memapahnya terasa sangat berat? Dasar pemabuk." Ucap Vaye.


Vaye melihat ke sekeliling unit milik Nicholas, benar benar mencerminkan apartemen milik seorang anak laki laki, warnanya, penataan, semuanya berbau maskulin. Vaye hanya tidak menyangka barang barangnya berantakan sekali.


" Apa dia baru mengamuk? " Gumam Vaye.


Vaye melihat pecahan beling di lantai, ia melihat Nicholas yang tidak sadarkan diri itu. Ia khawatir jika Nicho bangun dan berjalan sembarangan akan menginjak beling itu, jadi Vaye berinisiatif membersihkan beling itu.


Awalnya hanya ingin membersihkan beling, tapi malah lanjut menjadi beberes. Vaye sangat tidak suka hal yang berantakan, tangannya akan gatal jika melihat sesuatu yang tidak rapi.


" Nicholas, aku pulang." Ujar Vaye.


Vaye membenarkan posisi tidur Nicholas, ia takut Nicho muntah dan tersedak muntahannya sendiri jadi ia memiringkan posisi tidur Nicholas agar saat Nicholas muntah tidak menyedak dirinya sendiri.


" Mama.. " Gumam Nicholas, lalu meleleh air matanya.


Vaye tertegun melihat itu, Nicholas menangis. Nicholas terlihat begitu menderita dalam tangisnya. Ia sampai terisak pilu, lalu tubuhnya meringkuk seperti orang yang tengah kedinginan.


" Hiks.. hiks.. hiks.. " Tangis Nicholas pecah.


Vaye mengulurkan tangannya, lalu menyentuh kepala Nicholas. Ia mengusap usap kepala Nicholas dan tangis Nicholas mulai reda perlahan.


" Kenapa mama tidak menyayangiku lagi, apakah karena kematian kakak? Tapi aku tidak membunuh kakak.. " Gumam Nicholas dalam tangisnya.


' Apakah kakaknya meninggal? ' Batin Vaye.


Vaye lalu mengingat postingan yang memperlihatkan seorang wanita gila yang merupakan ibu kandung Nicholas.


" Kalian.. tega meninggalkan aku sendirian. Tidak ada yang menginginkan aku di dunia ini.. hiks.. Hiks.. Hahaha." Celoteh Nicholas.


Nicholas benar benar kacau, ia menangis tapi kemudian tertawa dan kemudian kembali menangis. Mabuk membuatnya tidak sadar.


" Nicholas.." Panggil Vaye.


Nicholas diam, lalu perlahan matanya terbuka, ia melihat wajah Vaye yang saat ini berada di hadapannya. Air matanya kembali meleleh.


" Bahkan ketika aku ingin memiliki satu teman, teman itu tidak mau berteman denganku.. Vaye, bahkan bayanganmu ada di hadapanku sekarang.." Gumam Nicholas, lalu kembali hilang kesadaran.


Vaye merasa terenyuh dengan ucapan Nicholas, memang kenyataannya seluruh sekolah tidak ada yang mau berteman dengan Nicholas, karena Nicholas begitu kasar. Tapi Vaye sudah beberapa kali melihat sisi lain Nicholas, sisi lemahnya.


" Istirahatlah, aku pulang dulu." Ujar Vaye, dan bangun dari jongkoknya.

__ADS_1


Vaye memastikan Nicholas tidur dengan posisi miring, sampai ia menaruh bantal di bagian punggung Nicholas, lalu ia pun keluar dari unit aparten Nicholas dan naik ke unit apartemen nya sendiri.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2