
Ethan tengah duduk di sofa ruang tengah sembari menunggu Yara yang pergi karena menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang. Merasa jenuh, Ethan mengecek ponselnya, guna melihat email penting yang masuk.
Sofa di ruang tengah rumah Yara bisa dikatakan tinggi dan besar, hingga tidak terlihat jika ada seseorang yang duduk disana. Bahkan Ethan yang bisa di kategorikan sangat tinggi pun tidak nampak terlihat tengah berada disana. Sampai akhirnya Ethan mendengar percakapan antara Jack dan Caleb.
" Tuan tidak mengijinkan kita kesana karena harus menjaga Yara, tapi aku jadi merasa tidak berguna sebagai anggota. Karena aku merasa tugasku disini terbilang sangat mudah." Ucap Caleb.
" Kau mau tuan menghajarmu? Justru Yara adalah segalanya bagi tuan. Lagipula sejak awal kita adalah teman Yara, jadi seharusnya kau bersukur karena kita masih diberikan kesempatan untuk selalu berada disisi Yara." Ucap Jack.
Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Ethan disana.
' Tuan.. Siapa tuan yang dimaksud oleh Jack dan Caleb? Mengapa mereka mengatakan Yara adalah segalanya bagi sosok yang di panggil tuan itu? ' Batin Ethan bermonlog.
" Kau benar, lagi pula setelah urusan disini berakhir, kita akan pergi. Dan tidak akan ada urusan lagi disini." Ucap Caleb.
' Pergi? Apakah Yara juga akan pergi dari Negara ini setelah urusan nya dengan Kristin berakhir.? ' Batin Ethan kembali bermonolog.
" Sebaiknya kita cepat selesaikan tugas yang tuan berikan, Ngomong ngomong dimana Yara.?" Tanya Jackson kepada pelayan yang lewat.
" Nona ada dikamarnya, sedang menerima panggilan telepon." Ucap Pelayan itu.
" Kau bawa jus jeruk mengapa hanya satu, kami kan berdua.?" Ucap Caleb.
" Ini bukan untuk kalian, ini untuk tuan Dominique." Ucap pelayan itu.
Jack dan Caleb terkejut dan langsung menutup mulut mereka.
" Apa dia mendengar percakapan kita?" Ucap Caleb berbisik.
" Aku tidak tahu, kita berbicara tidak terlalu keras, sepertinya dia tidak mendengar." Sahut Jack berbisik.
Mereka tidak tahu saja, sebagai ketua mafia tentu saja Ethan harus selalu siaga dengan sekelilingnya, bahkan lalat terbang saja dia bisa dengar suaranya, apalagi suara Jack dan Caleb yang begitu jelas terdengar.
" Kalian sedang apa? Kenapa berbisik.?" Tanya Yara yang muncul dari belakang Jack dan Caleb.
" Ehehehe.. Tidak ada. Kami hanya sedang bertanya pada pelayan. Jus jeruk untuk siapa ini.?" Ucap Jack mengulang pertanyaan lagi.
" Kalian tuli? Aku sudah bilang ini untuk tuan Dominique." Ucap pelayan itu lagi dengan sedikit emosi.
Pada dasar nya memang tidak ada pelayan disana. Mereka yang berada disana adalah anggota GHOST yang ditugaskan untuk menjaga Yara. Termasuk gadis yang di bilang pelayan oleh Jack dan Caleb ini.
" Berikan padaku, aku yang akan membawanya." Ucap Yara.
" Baik, terimakasih nona." Ucap gadis pelayan itu.
Setelah Yara pergi, gadis pelayan itu mendekati Jack dan Caleb.
" Kalian begitu ceroboh, jika tuan tahu kalian bermulut bocor begitu maka kalian akan tamat. Nyawa nona itu nyawa kita juga. Jika sampai terjadi sesuatu dengan nona, kita juga akan celaka." Ucap gadis pelayan itu berbisik.
" Kau mendengar pembicaraan kami?" Tanya Caleb berbisik.
" Sebagai anggota terlatih, kami harus memiliki pendengaran yang tajam. Bahkan jika bisa , kita harus bisa mendengarkan suara semut berbicara." Ucap gadis pelayan itu dengan wajah sangat serius.
Jack dan Caleb semakin pucat saja. Jika gadis itu saja bisa mendengar, bisa dipastikan Ethan juga lebih bisa mendengar.
" Aku berharap telinganya tak setajam telingamu." Ucap Cakeb pada gadis pelayan itu.
Mereka pun pergi dari sana.
" Ini jus jeruk untukmu." Ucap Yara pada Ethan.
Ethan menatap Yara dengan tatapan tidak bisa diartikan. Diotaknya masih memikirkan perkataan Jack dan Caleb.
__ADS_1
" Kau.. Kenapa menatapku seperti itu.?" Ucap Yara pada Ethan.
" Tidak ada.. Kamu cantik." Ucap Ethan mengalihkan pembicaraan sembari meminum jus jeruk yang dibawa Yara.
" Matamu buta? Aku berpenampilan 100% seperti laki laki dan kau bilang cantik.?" Ucap Yara.
" Cantik itu tidak harus berpenampilan feminin kan..? Bagiku kamu cantik." Ucap Ethan lagi.
Yara hanya bisa memutar bola matanya, menurutnya Ethan ini hanya sedang menggombal saja. Melihat itu, Ethan terkekeh sendiri.
" Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu Jilian mencariku." Ucap Ethan.
" Hmm.. " Sahut Yara.
Ethan berdiri dari duduknya, begitu juga Yara. Namun tiba tiba dengan gerakan cepat Ethan menarik tangan Yara dan memebenamkan nya kedalam pelukan. Yara hendak meronta namun Ethan tiba tiba berkata.
" Jangan dilepas, aku hanya sedang butuh pelukan penenang." Ucapnya.
Yara mengira mungkin Ethan sedang banyak masalah yang membuatnya sedih. Akhirnya ia membiarkan Ethan memeluknya, toh hanya sebuah pelukan pikir Yara.
Ethan menyukai wangi tubuh Yara, bagi Ethan Yara memiliki aroma tersendiri yang tidak di miliki orang lain. Atau karena Ethan tidak pernah dekat dengan gadis manapun, jadi ia tidak memiliki perbandingan.
" Apakah sudah selesai.?" Ucap Yara membuyarkan pikiran Ethan.
Ethan tidak menyadari, dirinya cukup lama memluk Yara. Akhirnya ia melepaskan pelukan nya dari tubuh Yara..
" Jangan pergi kemana mana oke, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku secepatnya." Ucap Ethan.
Yara tidak mengerti dengan arti dari ucapan Ethan, dirinya hanya mengiyakan saja agar Ethan segera pergi.
" Iya.. Iya.. " Ucap Yara tanpa sadar.
" Gadisku yang patuh." Ucap Ethan sembari mengacak rambut Yara.
" Jatuh cinta padanya, dia berkata seolah jatuh cinta itu bisa dihitung dengan hitungan jam.. Konyol.." Ucap Yara.
Yara pun membuka ponselnya, tadi sang ibu menghubunginya, karena tidak ingin Ethan mendengar percakapannya, jadi ia naik keatas ke kamarnya. Ibunya mengabari bahwa kondisi ayahnya semakin memburuk, jantungnya benar benar lemah saat ini.
" Aku ingin pulang dan melihat ayah, tapi aku tidak bisa.. Jika aku pulang sekarang, rahasia identitasku akan terbongkar nanti " Ucap Yara.
Ia tengah memandangi foto sang ayah, yang terlihat semakin kurus dan pucat. Tak terasa sebutir kristal bening menetes dari matanya.
" Maafkan Yara ayah.. Yara tidak bisa berada disamping ayah, Yara putri yang buruk." Ucap nya dalam tangis.
Twk ingin berlama lama larut dalam kesedihan, Yara pun bangkit dari duduknya dan pergi menuju ruangan Kristin.
" Malam ini, aku harus mendapatkan jawaban yang aku inginkan, dan mengakhiri semuanya." Ucap Yara.
Yara membuka ruangan Kristin. Kristin yang melihat Yara menatapnya dengan tajam pun merasa sedikit takut.
" Kau.. Mau apa kau datang.?" Ucap Kristin.
" Kau bilang sebelumnya, kau mau mengakhiri ini semua bukan.? " Ucap Yara .
" Aku tidak mengatakan apapun." Ucap Kristin.
" Kau memang tidak mengatakannya kepadaku, tapi kau mengayakannya kepada Ethan. Kau pikir aku tidak tahu kau membuat kesepakatan dengan nya.?" Ucap Yara.
" Sku hanya ingin kembali menjadi wanita biasa seperti dulu, apa salahnya aku berkata begitu." Ucap Kristin.
" Lalu, kau pikir semua orang bodoh dan percaya dengan apa yang kau lakukan.?? Jika kau bilang i gin mengakhiri semuanya, kalau begitu akan aku kabulkan, tapi dengan caraku." Ucap Yara.
__ADS_1
Mendengar itu, Kristin kembali ketakutan. Ia sudah merasa sedikit gila dengan banyak halusinasi di otaknya, dia tidak ingin menerima suntikan itu lagi.
" Tidak, aku tidak mau. Tolong jangan lakukan itu lagi, aku bisa gila." Teriak Kristin.
" Aku memang ingin kamu gila.Dengan begitu tidak akan ada kejahatan lagi." Ucap Yara.
Yara berjalan menuju lemari penyimpanan obat, lalu ia mengeluarkan jarum suntik. Yara sengaja menambah dosis obat itu, agar Kristin bisa lebih lama diajak bicara. Setelah itu Yara berjalan menghampiri Kristin.
" Tidak!! Tolong jangan suntik aku lagi.!! Nayara Valerie, aku mohon tolong jangan.." Ucap Kristin melemah, lalu hilang kesadaran.
" Kamu terlalu kejam menjadi manusia." Ucap Yara.
Yara sengaja menunggu hingga Kristin kembali sadar. Ia tak bergeming sedikitpun dari ruangan itu. Dan akhirnya setelah lama menunggu, Kristin pun menunjukan kesadaran, alam bawah sadarnya telah terbangun.
" Kamu sudah bangun.?" Ucap Yara .
" Tolong aku.." Ucap Kristin setelah menatap Yara.
Yara terkejut, mengapa Kristin meminta tolong padanya ..
" Ada apa.?" Tanya Yara .
" Tolong bawa Roger padaku.. Aku sangat merindukannya. Aku ibu yang buruk, telah menelantarkannya." Ucap Kristin.
Yara mengernyit binging, sebenarnya kristin ini masih di kategorikan ibu yang memikirkan anaknya. Hanya saja cara dia mengambil langkah itu salah.
" Jika aku membawanya kemari, apakah kau akan menututi perintahku" Ucap Yara
" Ya.. Aku janji, akan melakukan apa saja. Roger.. Roger.. " Ucap Kristin tiba tiba menangis.
' Sebenarnya apa yang dilalui wanita ini. Bukankah dia kejam? Mengapa alam bawah sadarnya begitu menyedihkan.' Batin Yara bermonolog.
" Berapa usia Roger.?" Tanya Yara.
" Dia... Aku lupa.. Berapa usianya.?" Ucap Krostin balik bertanya.
" Jawab aku dulu. Tentang segel Mavros drakos dan kutukan itu. Apa yang harus aku lakukan untuk mematahkan kutukan itu.?" Ucap Yara.
Setelah mendebgar Yara mengungkit tentang segel, tatapan Kristin berubah.. Ia menatap Yara dengan sangat tajam.
" MATI.. DIA TIDAK BOLEH MEMATAHKAN KUTUKAN ITU, DIA AKAN MATI.. MATI.. DIA HARUS MATI." Ucap Kristin dengan wajah menyeramkan.
" Siapa.??" Tanya Yara.
" Nayara Valerie.. Dia adalah sumber malapetaka." Ucap Kristin.
" Aku akan mempertemukanmu dengan Roger, tapi jawab dulu pertanyaanku. Bagaimana cara mematahkan kutukan itu." Ucap Yara.
Kristin berubah sendu lagi tatapannya lurus kebawah.
" Segel itu, dan tato itu terhubung satu sama lain. Jika kelak tato itu menyala, maka segel itu juga akan menyala, kutukan itu akan hilang jika segel itu ditetesi darah saat tato di punggung Yara menyala." Ucap Kristin.
" Bagaimana kau tahu bahwa Yara lah yang dikutuk. Sedangkan Yara terlahir kembar." Ucap Yara.
Kristin menatap tajam Yara.
" Karena saat Yara lahir, ada fenomena alam yangbterjadi. Memang mereka hanya beda lima menit, tapi.. Alam memilihnya. Dewa dan Dewi di sana memilihnya." Ucap Kristin.
' Dewa dan Dewi.. Sekarang apa lagi, kemarin keturunan terpilih, sekarang ada Dewa dan Dewi.' Ucap Yara bermonolog.
" Tunggu, apakah maksudmu Yara adalah keturunan terpilih yang kau sebutkan sebelumnya?" Ucap Yara.
__ADS_1
" Iya... Dia.. Adalah sumber malapetaka bagiku. DIA HARUS MATI..!!" Teriak Kristin.
TO BE CONTINUED...