Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 190. SEASON 2. SIDANG KASUS DI SEKOLAH.


__ADS_3

Vaye dan Nicholas sedang berada di ruang guru saat ini. Baik kepala sekolah, dan guru pengawas ujian yang saat itu mengawasi berjalannya ujian, saat ini berdiri menunggu petugas cctv yabg sedang memutar ulang kejadian yang menurut Lini melihat Vaye mencontek.


" Lini, bisa kamu beri tahu kira kira hari apa dan jam berapa Vaye masuk ruang guru?" Tanya kepala sekolah.


" Saya lupa, tapi saat itu jam pulang sekolah." Ujar Lini. Lini bahkan di dampingi kedua orang tuanya.


" Akan sulit jika kita harus memutar rekaman berhari hari lalu lamanya. Apalagi kita sudah melewati liburan selama satu bulan." Ujar guru pengawas.


" Lini, kira kira apakah kamu ingat berapa hari sebelum ujian Vaye masuk kemari?" Tanya guru pengawas lain.


" Mungkin sekitar seminggu atau 5 hari sebelum ujian di mulai." Ujar Lini.


" Baik, mari kita cari di hari itu." Ujar petugas cctv.


Petugas cctv memutar mutar rekaman di hari itu, antara seminggu dan 5 hari sebelum ujian. Dan di setiap jam yang sama setelah pulang sekolah, Terlihat Nicholas yang berjalan menuju ke ruang guru. Namun tujuan nya ke perpustakaan.


" Apa yang kamu lakukan di perpustakaan pada jam pulang sekolah Nicholas?" Tanya kepala sekolah.


" Menurut anda?? Apakah saya akan party di perpustakaan?" Ujar Nicholas.


" Nicholas!!" Bentak kepala sekolah.


" Beraninya anda membentakku!!" Teriak Nicholas, dan semua orang terkejut.


" Nicholas, sabar.." Ujar Vaye.


" Saya ke perpustakaan bersama Bagas, selama dua minggu sebelum ujian di mulai, saya selalu belajar bersama Bagas. Jika tidak percaya, silahkan panggil dia." Ujar Nicholas.


Semua orang saling pandang, dan akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil Bagas.


" Disini ada rekaman yang rusak, ini pada hari terakhir sebelum ujian di mulai." Ujar petugas cctv.


" Kau merusak buktinya Vaye??" Ucap kepala sekolah.


' Mereka memang menargetkan aku dan Nicholas. Siapa di balik ini semua?' Batin Vaye.


Vaye bisa saja membetulkan rekaman cctv yang rusak itu, dia bahkan bisa mengembalikan rekaman cctv saat kejadian pembunuhan Gamalael, kakak Nicholas.


Tetapi Vaye ingin melihat terlebih dahulu, dalam hal ini siapa saja yang mengambil keuntungan dari kejadian itu. Vaye verencana menarik ekor mereka semua secara bersamaan.


Satu yang Vaye yakini, Orang tua Lini dan Lini sendiri juga terlibat, dan dia mencurigai kepala sekolah dan guru yang baru saat ini. Tak lama Bagas datang.


" Bagas, apakah benar Nicholas belajar denganmu selama dua minggu sebelum ujian??" Tanya kepala sekolah.


" Tidak." Ucap Bagas.


Vaye dan Nicholas langsung malihat kearah Bagas dengan terkejut, apa apan pikir merek. Bagas di koridor sekolah, baru saja membela Nicholas dan mengatakan mereka berteman.


" Apa maksudmu, bren*sek!! Aku belajar denganmu di perpustakaan selama dua minggu." Ucap Nicholas emosi sambil mencengkeram kerah seragam Bagas.

__ADS_1


' Dia diancam.. siapa yang mengancam bagas?' Batin Vaye.


Vaye menatap satu persatu orang disana, dan yang terus menatap Bagas dengan tatapan tidak bisa diartikan adalah ayah Lini.


" Aku tidak pernah belajar dengan Nicholas, dia memaksaku datang ke perpustakaan untuk membuat alibi." Ujar Bagas.


" Cek cctv perpustakaan!" Teriak Nicholas.


Petugas cctv itu membuka rekaman cctv perpustakaan, tapi rupanya tidak ada apapun disana.


" Rekaman nya di hapus." Ujar petugas cctv.


" Beraninya kau menghianati aku, Kau akan menyesal telah melakukan ini.." Ucap Nicholas, lalu menghempas Bagas hingga bagas tersungkur di lantai.


" Tempramen yang buruk, kau pasti sudah mengancam dirinya bukan??" Ujar ayah Lini.


" Tapi tidak ada rekaman Vaye di sini." Ujar guru pengawas.


" Mungkin dia terekam di cctv yang rusak itu. Kalian sungguh kompak, bersama sama mencontek catatan guru dengan alibi belajar di perpustakaan." Ujar kepala sekolah.


Vaye melihat kearah Lini.. Terlihat Lini yang tampak gelisah. Mata Lini bergerak gerak seperti orang yang ketakutan, tapi kemudian ayah Lini memeluk Lini. Tatapan Vaye dan Ayah Lini bertemu lalu kemudian Vaye membuang tatapan nya.


" Kalian berdua, kalian di keluarkan dari sekolah. Panggil orang tua kalian kemari sekarang juga. Saya akan memberi tahu kelakuan buruk kalian di sekolah." Ujar kepala sekolah.


" Bahkan tidak ada satupun bukti yang memperlihatkan bahwa kami memotret catatan guru, bagaimana bisa anda membuat keputusan sepihak." Ujar Nicholas.


" Bagaimana mau ada bukti, kalian dengan cerdasnya nerusak semua bukti itu." Ujar Kepala sekolah.


" Panggil orang tua kalian kemari!! Jangan terlalu banyak membantah." Ucap Kepala sekolah.


Akhirnya semua orang bubar sementara sambil menunggu orang tua Vaye dan Nicholas datang. Tetapi baik Nicholas maupun Vaye, keduanya belum memanggil orang tua mereka.


" Bagaimana ini bisa terjadi.. Aku tidak menyangka caraku belajar di perpustakaan justru bisa di jadikan senjata. Dan Bagas.. si bren*sek itu, apa apaan dia itu, mengatakan bahwa aku mengancamnya." Ujar Nicholas, kesal.


Yang di sebut oleh Nicholas saat ini sedang duduk diam di bawah pohon di taman sekolah. Wajahnya terlihat muram dan seperti tidak bernyawa. Vaye rupanya melihat itu, Vaye pun menghampiri Bagas.


" Jangan, dia sudah menusuk kita daei belakang." Ujar Ncholas menahan tangan Vaye.


" Aku yakin telah terjadi sesuatu." Ujar Vaye, dan Vaye pun melepaskan tangan Nicholas.


" Vaye.." Panggil Nicholas, membuntut di belakang Vaye.


Vaye menghampiri Bagas, dan Bagas semakin menyembunyikan wajahnya.


" Bagas.." Ujar Vaye.


" Maaf.. Aku tidak berdaya." Ujar Bagas, baik Vaye dan Nicholas mengernyitkan alisnya.


" Apakah mereka mengancammu?" Ujar Vaye.

__ADS_1


" Ayah Lini adalah rekan kerja papaku, dan papaku masih membutuhkan sokongan dana darinya, atau bisnis papaku akan berakhir." Ujar Bagas.


" Manusia Licik." Ujar Nicholas.


" Maafkan aku Nicholas, aku tidak pantas mendapatkan teman. Jika kau mau memukulku, maka silahkan." Ucap Bagas.


" Kau serius?? Saat ini aku memang sedang ingin memukul orang." Ujar Nicholas, dan Bagas mengangguk.


Nicholas mengepalkan tinjunya dan melayangkannya kearah Bagas, Bagas juga pasrah saja sambil menutup mata.


" Nicholas ja..."


Ucap Vaye terhenti ketika melihat rupanya Nicholas memeluk Bagas. Bagas juga terkejut, karena Nicholas justru memeluknya bukan menghajarnya.


" Kau juga korban, mari kita cari keadilan bersama sama." Ujar Nicholas.


Bagas menangis dan membalas pelukan Nicholas, Vaye tersenyum senyum sendiri melihatnya, rupanya Nicholas bisa mengertikan keadaan Bagas.


" Ekhem! Bisa lepas, orang akan beranggapan aneh ketika melihat kita nanti." Ujar Nicholas.


" Maaf, aku hanya terlalu terharu. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan pertemanan kita." Ujar Bagas sambil menghapus air matanya.


" Manisnya.." Ujar Vaye.


" Vay...." Ucap Nicholas.


" Vaye, Nicholas.. Kalian di cari kepala sekolah." Ujar seorang murid.


" Baik." Ujar Vaye.


" Tetaplah berpura pura kau menghianati aku, jadi kau tidak kembali diancam. " Ujar Nicholas sambil menepuk pundak Bagas dan pergi dari sana bersama Vaye.


Keduanya sampai di ruang kepala sekolah dan mereka berdua terkejut melihat Prasetya yang berada disana. Prasetya langsung bangun dari duduknya dan..


PLAK!!


Suara tamparan menggema di ruangan kepala sekolah.


PLAK!!


Tamparwn kembali mendarat di pipi Nicholas.


" Tuan Prasetya, apa yang anda lakukan!" Ucap Vaye.


" Mendidik berandalan kecil ini untuk menjadi lebih patuh." Ujar Prasetya dengan tatapan menyalak.


" Bagaimana bisa anda memperlakukan putra anda sendiri seperti itu??" Ujar Jilian.


DEG!!

__ADS_1


Vaye terkejut.


' Gawat, paman Jilian sudah tahu.' Batin Vaye.


__ADS_2