Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. MINTA RESTU NICHOLAS.


__ADS_3

Nely masih berdiri di hadapan Abraham saat ini. Ia masih syok mendengar apa yang Abraham katakan.


" Saya tahu, kamu pasti tidak memiliki rasa yang sama denganku. Seharusnya saya tahu itu, baiklah.. Anggap saja perkataan saya tadi hanya angin lewat." Ujar Abraham.


" Beraninya kamu berkata demikian." Ujar Nely.


" Ha? Apa?" Ucap Abraham.


Kau bilang aku terlalu tua untuk berkata romantis, tapikau mengatakan itu kepadaku. Lalu bagaimana dengan Istrimu? Atau anakmu." Ujar Nely.


Jika tadi Nely yang terkejut, kini Abraham yang terkejut. Istri? Anak? Dia saja masih bujangan jika Nely percaya.


" Kenapa kau diam? Kau mau menghianati mereka, beraninya membawa bawa aku. " Ujar Nely meninggi.


" Hahahahaha" Tawa Abraham pecah.


Nely menatap aneh pria di hadapan nya itu, bisa bisa nya dia tertawa begitu sumbang.


" Apa yang lucu?" Tanya Nely.


Abraham menghentikan tawanya, dan menatap Nely dengan sangat serius. Nely yang di tatap sangat serius pun menjadi mundur.


" Kamu memang wanita yang baik, saya tidak salah memilih untuk menaruh hati saya kepadamu." Ujar Abraham.


" Saya belum menikah, dan belum sekalipun menikah. Bagaimana bisa saya punya istri dan anak?" Ujar Abraham dengan menahan tawanya.


" Eh??" Ucap Nely terkejut.


" Saya belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, sejak dulu saya selalu fokus dengam semua yang saya lakukan tapi tidak dengan cinta. Bagi saya dulu, cinta itu hanya hal yang merepotkan, karena berurusan dengan hati. Saya tidak mau pekerjaan saya terganggu karenanya. " Ujar Abraham .


" Sampai setelah beberapa kali saya berinteraksi denganmu, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Lain dengan saat saya menangani pasien lain. Saya jatuh hati padamu, Nely." Ujar Abraham.


" Maukah kamu, memulai hidup barumu bersamaku?" Ujar Abraham


Kini Nely justru bingung, mungkun karena trauma di khianati dia menjadi ragu ragu menerima perasaan Abraham. Padahal sejujurnya, dirinya pun memiliki rasa pada Abraham.


" Tapi Nicholas.." Ujar Nely.


" Yang terpenting perasaanmu, kita bisa membuat Nicholas perlahan menerima hubungan kita. Saya yakin Nicholas juga memikirkan kebahagiaanmu, dan akan mendukung apa pun yang membuatmu bahagia. " Ujar Abraham.


Nely diam, seolah berpikir. Dia takut memulai, karena dia takut apa yang akan dia mulai akan berakhir sebelum sempat berkembang. Restu Nicholas adalah yang utama baginya.


" Baiklah, saya tahu kamu sangat menyayangi Nicholas. Maka saya akan melamarmu pada Nicholas nanti." Ujar Abraham.


" Ha!?" Ujar Nely terkejut.


" Jadi bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Apakah kamu mau memulai hidup baru denganku?" Tanya Abraham lagi.


Nely menatap mata Abraham, yang saat ini sedang menatap begitu dalam padanya. Nely tidak melihat sedikitpun keraguan dan kebohongan. Setelah ia menarik nafasnya, ia pun mengangguk.


Abraham tersenyum bahagia melihat Nely yang mengangguk lalu berkata..


" Terimakasih.. Aku berjanji, tidak akan mengulang kesakitan yang sama padamu. Tidak akan membuatmu sedikitpun terluka, dan sedih. Aku akan pastikan, kamu bahagia selalu." Ujar Abraham.


Waktu berlalu, kini Nicholas dan Vaye sudah pulang dari sekolah. Mereka ber empat bersama Mark dan Bagas sedang berjalan di koridor sekolah menuju pintu keluar.

__ADS_1


" Apakah kalian akan langsung pulang?" Tanya Mark pada ketiga teman nya.


" Ya, aku hanrus mengantar mamaku ke dokter." Ujar Nicholas.


" Aku ikut." Ujar Vaye


" Oke.. " Sahut Nicholas.


" Ish, mereka berdua bagai lem dan perangko. Nemmmmpeeellll terooosss..." Ujar Bagas


" Iri bilang." Ujar Mark.


" Lah, kok kamu malah bela mereka." Ujar Bagas.


" Sudahlah, sepertinya hanya kamu saja yang punya waktu luang. Ayo ikut aku, aku butuh teman untuk mencoba sesuatu." Ujar Mark.


" Se- sesuatu apa?"Ujar Bagas curiga.


" Hiyy... Pikiranmu kemana?" Ujar Mark, Nicholas dan Vaye terkekeh.


" Aku ingin membeli konsol game yang baru, ayo cepat jangan terlalu lama berpikir." Ujar Mark dan langsung menyeret Bagas.


" Apakah masih sempat untuk aku meminta tolong?? To- tolong.." Ujar Bagas menatap Nicholas dan Vaye.


Tapi Nicholas dan Vaye justru melambaikan tangan nya sambil tersenyum.


" Kejamnya dunia." Ujar Bagas.


" Mereka berdua depertinya berteman dengan baik." Ujar Vaye.


" Ayo, aku harus mengantar mama ke rumah sakit." Ujar Nicholas, dan Vaye mengangguk.


Mereka pun pergi dari gedjng sekolah itu, menuju kekediaman Nicholas. Sampai akhirnya tak lama kemudian mereka sampai di kediaman Nicholas dan Nicholas terkejut melihat mobil Abraham disana.


" Bukankah ini mobil Dokter Abraham? " Tanya Vaye.


" Ya, benar. Berarti Dokter Abraham ada disini." Ujar Nicholas.


" Ayo masuk." Uajr Nicholas.


Dan benar, Abraham masih berada disana. Sejak pagi hingga sore Nicholas sampai di rumah, Abraham masih berada disana.


" Halo Nicholas, Vaye." Ujar Abraham.


" Halo, dok. Rupanya dokter disini? " Ujar Nicholas.


" Ya, saya di sini sejak pagi." Ujar Abraham.


Nicholas menatap Nely yang tampak seperti orang gelisah, juga Abraham yang terlihat sangat sumringah.


" Sepertinya terjadi sesuatu." Bisik Vaye.


" Apakah ada sesuatu yang terjadi? Kalian tampak.. Aneh." Ujar Nicholas.


" Nicholas, mari duduk dan kita berbicara sambil duduk." Ujar Abraham.

__ADS_1


Setelah Vaye dan Nicholas duduk, Abraham pun mulai mengutarakan maksudnya.


" Nicholas, apakah kamu mengizinkan jika mamamu menikah kembali? " Ujar Abraham.


" Menikah kembali?? Mama mau menikah dengan pria itu lagi!? " Ujar Nicholas dengan tatapan tajam.


" Nicholas.." Vaye menenangkan Nicholas.


" Mama tahu bahwa pria itu sangat buruk dan lebih buruk dari pada binatang, kenapa masih mengharapkan dia kembali? Aku tidak setuju ma." Ujar Nicholas.


" Tapi Nicho.." Ujar Nely hendak menjelaskan.


" Tidak! Jika mama menikah kembali dengan dia maka Nicholas akan pergi selamanya dari hidup mama." Ujar Nicholas memotong ucapan Nely.


" Nicholas mamamu bukan mau menikah dengan Prasetya kembali." Ujar Abraham akhirnya.


" Terus?? Dokter bilang mama ingin menikah kembali." Ujar Nicholas.


" Ya, tapi bukan dengan Prasetya." Ujar Abraham.


" Lalu dengan siapa!?" Ujar Nicholas.


" Saya.." Ujar Abraham.


" Eh?! " Ujar Nicholas dan Vaye bersamaan.


Wajah Nely sudah merah padam karena menahan malu saat ini, tidak terpikirkan olehnya Nicholas akan sebegitu emosinya sehingga ucapan baik baik yang sudah ia dan Abraham persiapkan menjadi tidak berlaku karena Nicholas emosi.


" Apakah saya tidak salah dengar??" Ucap Nicholas.


" Tidak, saya berniat melamar mamamu kepadamu, tapi tidak di sangka kamu begitu emosi dan salah sangka." Ujar Abraham.


" Apakah mama menerima dokter Abraham?" Tanya Nicholas pada Nely, Nely pun mengangguk.


" Ya, nak.. Tapi jika kamu tidak setuju maka mama.." Ucap Nely tertahan.


" Selamat!! Selamat dokter Abraham, saya merestui kalian berdua." Ujar Nicholas tiba tiba memotong kembali ucapan Nely.


" Kamu serius, nak? " Ujar Nely, dan Nicholas mengangguk dengan mantap.


" Jika kamu terpaksa ma tidak perlu, nak. Mama tidak akan menikah jika kamu tidak ingin mama menikah." Ujar Nely.


" Selama itu bukan Prasetya, dan selama itu membuat mama bahagia.. Maka Nicholas setuju. Nicholas lebih setuju lagi karena itu dokter Abraham. " Ujar Nicholas.


" Terimakasih, kamu sudah merestui kami." Ujar Abraham.


" Titip mamaku, dok.. Jangan sakiti dia." Ujar Nicholas.


" Saya berjanji.." Ujar Abraham.


Cinta itu bukan seberapa lama kita saling mengenal, dan seberapa lama kita bersama. Cinta datang tidak bisa di tebak kapan dia akan datang, hari ini.. detik ini.. Kita bisa saja bertemu dengan orang yang tanpa kita duga akan kita cintai.


Bagai sudah di takdirkan, Abraham yang tidak pernah serius dengan cinta bisa begitu serius mencintai Nely yang berusia lebih tua darinya. Itulah cinta.. Kekuatannya maha dahsyat, bahkan mampu membuat hati yang sekeras batu menjadi selembut kapas.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2