
Setelah berbincang bincang dengan Abraham di kediaman nya, kini Nicholas mengantarkan Vaye pulang ke apartemen nya. Nicholas tak henti hentinya tersenyum ketika mengingat bahwa akhirnya Nely mau memulai hidup yang baru.
" Kamu senang?" Tanya Vaye.
" Sekali.. Aku senang akhirnya mama mau memulai hidup baru dengan dokter Abraham. Dokter Abraham adalah orang yang baik." Ujar Nicholas antusias.
" Aku ikut bahagia mendengarnya. Ibu Nely adalah wanita yang baik, dia pantas bahagia dengan laki laki gang juga baik seperti dokter Abraham" Ujar Vaye dengan senyum manisnya.
" Tapi ngomong ngomong, sejak kapan mereka saling jatuh cinta, ya? " Ujar Vaye lagi.
" Entah, mungkin karena mereka sama sama dewasa jadi sangat mudah menyembunyikan perasaan mereka. " Ujar Nicholas.
" Ya, benar.. Tidak seperti seseorang yang langsung cemburu ketika aku dilihat orang lain, bahkan teman nya sendiri pun di cemburui." Ujar Vaye, menyindir Nicholas.
" Oh, nyindir... Tentu saja aku harus seperti itu. Kita masih muda, mungkin masih labil. Bagaimana kalau nanti kamu tiba tiba tertarik dengan temanku sendiri. Apalagi kedua temanku itu tidak kalah tampan nya denganku." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.
" Itu tergantung hati.. Selama hatiku hanya terpaut denganmu, setampan apapun pria itu.. Maka aku tidak akan tertarik pada mereka." Ujar Vaye, dan Nicholas tersenyum mendengarnya.
" Aku akan selalu mencintaimu, dan membuat hatimu selaku terpaut denganku." Ujar Nicholas.
" Aku
Hingga akhirnya mereka sampai di apartemen Vaye. Nicholas turun ke basment dan itu membuat Vaye kebingungan sendiri.
" Kamu turun ke basment?" Tanya Vaye.
" Ya, aku ingin lebih lama denganmu." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.
" Kita sejak pagi bersama, kamu bilang ingin lebih lama denganku? " Ucap Vaye sambil terkekeh.
" Pokoknya aku masih ingin denganmu." Ujar Nicholas kukuh.
" Iya.. Baiklah, astaga." Ujar Vaye sambil masih terkekeh.
Padahal sejak pagi bernagkat sekolah, di sekolah, sampai pulang dari sekolah mereka selalu bersama. Apakah itu yang di namakan bucin?
Akhirnya mereka sampai diatas, di unit Vaye. Saat Vaye membuka pintu, ia di kejutkan dengan sosok yang berdiri dengan stelan formalnya, Ethan.
" Daddy?? " Ujar Vaye terkejut.
Ya, Ethan berdiri sambil memegang ponselnya seperti tengah menghubungi seseorang.
" Sayang, kamu dari mana? Kok baru pulang?" Ujar Ethan.
" Lho, Nicholas ikut kemari?" Tanya Ethan lagi.
" Halo paman." Ujar Nicholas, menyapa Ethan.
" Ya, kenapa malam malam kamu ikut kemari? " Tanya Ethan pada Nicholas, tentu saja Nicholas jadi gugup.
" Dia bucin dad." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.
" Hehehe..." Tawa Nicholas.
" Bucin boleh, tapi ingat waktu, Nicholas.." Ujar Ethan.
" Iya, paman." Ujar Nicholas.
" Vaye, masuk kamarmu." Ujar Ethan Tegas.
__ADS_1
" Tapi daddy.."
" Patuh, ya.. Masuk kekamarmu." Ujar Ethan lagi.
Vaye menatap Nicholas, dan Nicholas mengangguk. Akhirnya Vaye pun masuk kedalam kamarnya.
" Bahkan dia mempertimbangkan dirimu terlebih dahulu. Haih.. aku sudah kehilangan putriku." Gumam Ethan.
" Paman, tolong jangan marahi Vaye. Aku yang memaksa naik kemari." Ujar Nicholas.
Ethan menatap Nicholas, lalu menghela nafasnya. Tentu sia tahu rasanya ketika cinta sedang begitu bergejolak, bagaimanapun dirinya juga pernah muda.
" Silahkan duduk." Ujar Ethan akhirnya.
Nicholas menurut, ia duduk di kursi mini bar di dekat dapur. Ethan mengeluarkan bir yang ia simpan disana, lalu membukanya.
" Kamu minum bir?" Tanya Ethan.
" Em.. Ya paman." Ujar Nicholas.
" Kalau begitu ayo kita minum." Ujar Ethan.
Ethan menuangkan sebotol bir ke gelas kecil, masing masing setengah gelas. Ia sedang malas meracik bir jadi dia minum langsung saja.
" Terimakasih paman." Ujar Nicholas ketika Ethan menyuguhkan segelas bir untuknya.
Nicholas dan Ethan ber adu gelas sebelum akhirnya menenggak bir itu secara bersamaan.
" Vaye dulu sangat manja padaku, apapun itu dia akan bilang padaku. Daddy Vaye boleh ini? Daddy Vaye mau itu. Daddy.. Daddy.. Semuanya dia akan mengutamakan aku sebagai daddy nya. " Ujar Ethan.
" Tidak terasa waktu begitu cepat berjalan dan berlalu, Vaye kecilku sudah beranjak dewasa. Dan kini dia sudah tidak lagi meminta izin dariku." Ujar Ethan.
" Nicholas, sebagai seorang ayah.. Saya mengizinkan kamu dekat dengan Vaye karena Vaye juga menyukaimu. Saya tidak mau melarang apa yang menjadi kesukaan anak anak saya, hanya saja.. Tolong jaga dia.. Jaga kehormatan nya sebagai perempuan." Ujar Ethan lagi.
" Bagus, kalau begitu kau boleh menginap disini malam ini. Temani saya main catur, mau?" Ujar Ethan.
" Eh?? Catur? Saya tidak bisa main catur." Ujar Nicholas.
" Eih.. Anak muda zaman sekarang, tidak mengenal mainan traditional." Ujar Ethan, dan Nicholas hanya menyengir.
Tapi apakah kalian percaya seorang Ethan Dominique bisa bermain catur? Catur adalah permainan yang membutuhkan konsentrasi penuh dan waktu yang lama. Sementara Ethan adalah pria yang sibuk dengan urusan bisnisnya.
Di sisi lain, Ethan juga seorang ketua mafia yang masih aktif. Tidak mungkin jika Ethan bisa melakukan hal yang se senggang itu.
" Tapi paman bisa ajarkan aku, agar aku bisa menemani paman bermain catur." Ujar Nicholas.
Dan benar saja, wajah Ethan seperti orang kebingungan. Sebenarnya.. Ethan belum lama ini kalah bermain catur dengan Ryuchie. Ya, siapa yang tidak tahu orang negara J pandai bermain catur? Ryuchie salah satunya.
" Sudahlah tidak perlu, lebih baik kita panggil Vaye saja. " Ujar Ethan, dan Nicholas hanya bisa garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Vaye, sayang.. Keluar." Ujar Ethan.
Dan dengan sigap Vaye langsung membuka pintu sampai Ethan terkejut.
" Hhmmm.. Kamu menguping??" Ujar Ethan, dan Vaye menyengir.
" Daddy tidak mempersulit Nicholas kan??" Ujar Vaye.
" Astaga.. Sekarang anak daddy hanya memikirkan kekasihnya saja." Ujar Ethan.
__ADS_1
Akhirnya ketiganya duduk di sofa ruang tengah, Vaye duduk di tengah tengah diantara Ethan dan Nicholas. Dua pria beda usia itu seperti saling berebut perhatian Vaye.
" Daddy, jika Nicholas menginap disini, daddy tidur di mana?" Ujar Vaye.
" Tentu saja Daddy tidur di kamar." Ujar Ethan.
" Lalu Nicholas tidur dimana?" Tanya Vaye.
" Di kamar dengan Daddy." Ujar Ethan.
Nicholas yang sedang hendak memasukan keripik kedalam mulutnya langgusng terkejut dan keripik itu terjatuh.
" What!!" Ujar Vaye.
" Kenapa? Kami sesama laki laki, tidak ada yang akan terjadi dengan kami. Justru jika dia bersama kamu, daddy akan khawatir. " Ujar Ethan.
" Ekhem! It- itu.. Paman, lebih baik aku tidak jadi menginap saja." Ujar Nicholas langsung kaku.
" Kenapa? Anggap saja saya daddy mu. Tidur dengan orang tua kenapa harus malu?" Ujar Ethan.
" Daddy, yang benar saja.. Nicholas, lebih baik kamu pulang saja. Besok kita harus sekolah." Ujar Vaye.
" Ini sudah larut malam.." Ujar Ethan.
" Tapi dad, masa Nicholas dan daddy.. " Ujar Vaye tertahan.
" Hahahahaha.." Tawa Ethan pecah.
Nicholas dan Vaye kebingungan melihat Ethan yang tertawa begitu renyah nya. Vaye dan Nicholas sampai saling pandang dan menggeleng bersamaan.
" Aduh, perut daddy sakit." Ujar Ethan.
" Daddy salah minum obat?" Ujar Vaye.
" Daddy tidak menginap sayang, daddy harus langsung terbang lagi malam ini." Ujar Ethan akhirnya.
" Ha! Daddy memangnya sejak kapan di sini?" Tanya Vaye.
" Sejak siang, dan malam ini daddy terbang kembali ke negara P. " Ujar Ethan.
" Ya sudah, sudah waktunya daddy pergi. Nicholas, ingat janjimu.. Laki laki yang di pegang adalah janjinya." Ujar Ethan.
" Siap paman." Ujar Nicholas.
" Daddy pergi dulu, sayang.. Jaga diri baik baik." Ujar Ethan pada Vaye.
" Tapi Vaye masih rindu daddy." Ujar Vaye manja.
" Uluh.. Manjanya anak daddy. Dua minggu lagi mommy dan daddy akan kemari, selama itu kamu bisa bermanja manja lagi nanti." Ujar Ethan.
" Sungguh??" Ucap Vaye antusias, dan Ethan mengangguk.
" Daddy pergi dulu, ya? " Ucap Ethan dan mencium pucuk kepala Vaye.
Akhirnya malam itu Ethan kembali pergi, dan tinggalah hanya Vaye dan Nicholas yang tersisa di apartemen itu.
" Jangan minum bir lagi, besok kita sekolah bisa pusing." Ujar Vaye.
" Iya, sayang.." Ujar Nicholas sambil memeluk Vaye.
__ADS_1
Vaye kembali duduk di sofa dan Nicholas merebahkan dirinya di pangkuan Vaye. Keduanya saling tatap, dan kemudian berciuman.
TO BE CONTINUED.