Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 186. SEASON 2. Dunia sempit.


__ADS_3

Vaye sudah berada di dalam mobil Nicholas, dan keduanya pun pergi dari sana.


" Apa kamu melihat Timothy tadi?" Tanya Vaye.


" Hm, apa dia mengatakan sesuatu padamu??" Tanya Nicholas.


" Dia mencarimu, juga ibumu. Tapi aku mengatakan bahwa aku tidak tahu dimana kamu tinggal, karena kenyataan nya aku belum tahu." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.


" Setelah ini, aku akan bawa kamu ke rumahku." Ujar Nicholas, dan Vaye menunjukan dua jempolnya.


Tidak lama keduanya sampai di rumah sakit, dan Vaye langsung menuju ruangan seseorang.


" Paman Ray." Panggil Vaye ketika melihat Rayson yang hendak memasuki ruangan nya.


" Oh, hey sayang, kamu tiba juga." Ujar Rayson.


" Ya, dia temanku yang ingin meminta bantuan paman." Ujar Vaye.


" Kamu?? Kita bertemu lagi rupanya." Ujar Rayson, saat melihat Nicholas.


" Halo, dok." Ucap Nicholas.


" Paman mengenal Nicholas?" Tanya Vaye.


" Jadi namanya Nicholas? Paman dan Rasya bertemu dengan nya beberapa hari lalu. Apakah luka di tanganmu sudah sembuh?" Ujar Rayson.


" Sudah, dok. Rasya berbakat menjadi dokter hebat seperti anda." Ujar Nicholas.


" Kau terluka??" Tanya Vaye.


" Hanya tidak sengaja menyentuh mangkuk pecah." Ujar Nicholas.


" Mari masuk." Ujar Rayson.


Ketiganya pun masuk kedalam ruangan Rayson, Rayson membuka sebuah laci dan mengeluarkan kartu nama.


" Ini adalah kartu nama dokter psikiatri yang bagus, dia ada di negara J saat ini. Jika boleh tau, untuk siapa dokter ini?" Tanya Rayson.


" Ibuku, dok. Dia mengalami gangguan jiwa setelah kakak ku meninggal, dan juga.. ada masalah di dalam keluargaku yang membuatnya semakin terpukul." Ujar Nicholas.


" Rupanya begitu? Minggu depan mungkin dia kembali, saat dia kembali saya akan menghubungi Vaye." Ujar Rayson.


" Terimakasih banyak, dok." Ujar Nicholas.


" Tidak masalah.. Oiya, apakah ada perawat yang mendampingi ibumu?" Tanya Rayson.


" Ada, dia perawat yang biasa mendampingi ibuku, dok. " ujar Nicholas.


" Baiklah, itu bagus." Ujar Rayson.


Akhirnya pertemuan itu pun berakhir, Vaye dan Nicholas pergi menuju cafe untuk makan siang bersama sebelum akhinya mereka pulang ke kediaman Nicholas.


Tapi seakan hari itu sedang sial ia kembali bertemu dengan Timothy di cafe itu.

__ADS_1


" Nicholas." Panggil Timothy.


" Astaga, apakah dunia se sempit itu Vay??" Tanya Nicholas pada Vaye ketika mendengar suara Timothy yang memanggil dirinya.


" Mungkin iya." Ujar Vaye sambil terkekeh.


" Nicholas, kau pindah kemana? Dan kau bawa ibu Nely kemana?" Tanya Timothy.


" Apa pedulimu?? Dia ibuku terserah aku bawa dia kemana. Juga.. sejak kapan ibuku menjadi ibumu? Jangan panggil dia dengan sebutan ibu, dia bukan ibumu." Ujar Nicholas.


" Nicho, bisakah kamu tidak keras kepala?? Jika ibumu tidak di rawat, maka dia bisa membahayakan dirinya dan orang lain." Ujar Timothy.


" Aku lebih tahu apa yang terbaik untuk ibuku, kau orang luar.. tidak perlu ikut campur dengan hidupku dan ibuku. Dan satu lagi, aku sudah tidak lagi tercantum dalam anggota keluarga ayahmu, semoga kau puas." Ujar Nicholas.


" Vaye, ayo." Ujar Nicholas.


" Nicho.. Kau tidak berniat mengurung ibu Nely bukan??" Ujar Timothy.


Nicholas yang sudah melangkah kembali berbalik dan langsung berlari dan menghajar Timothy.


BUGH!! BUGH!!


" Kau pikir aku gila huh!!" Teriak Nicholas.


Semua orang ketakutan melihat bagaimana Nicholas menghajar Timothy. Vaye pun melerai Nicholas, ia menahan tangan Nicholas dan menggeleng.


" Jangan lakukan itu Nicholas, kendalikan dirimu." Ujar Vaye.


Nicholas terengah engah, tubuhnya gemetar karena begitu emosinya mendengar Timothy berkata demikian.


Timothy sendiri kini menghapus darah di mulutnya akibat pukulan Nicholas.


" Siapa yang tidak tahu Nicholas adalah orang yang kasar dan bertempramen buruk. Aku hanya mengkhawatirkan ibu Nely, Vay. Kamu tidak tahu apapun." Ujar Timothy.


" Lalu hanya kau yang tahu segalanya, Begitu?? Nicholas adalah putra ibunya. Walau ibunya membenci Nicholas, tidak berarti Nicholas akan membiarkan ibunya terluka. Apakah kau pikir Nicholas setidak berperikemanusiaan itu, huh?!" Ujar Vaye sedikit meninggi.


Timothy sampai terkejut, karena Vaye membela Nicholas seserius itu hingga ikut menyerangnya.


" Jika kau sudah mendapatkan segalanya, kenapa tidak kau biarkan Nicholas bernafas bebas dengan ibunya?? Dia hanya memiliki ibunya seorang, Timothy. Apakah kau juga mau mengambilnya?? " Ujar Vaye.


Timothy terdiam, ia tidak menyangka Vaye bisa berkata demikian. Ia menatap Nicholas yang masih menciba menenangkan dirinya, kemudian ia tersenyum.


" Kau menyukai Nicholas, Vay??" Ujar Timothy.


" Tidak ada alasan untuk aku membencinya." Ujar Vaye.


Vaye berbalik dan menarik tangan Nicholas untuk pergi dari sana. Timothy menatap tidak suka dengan kedekatan keduanya, entah ada yang melihat atau tidak , tangan nya mengepal kuat melihat Vaye pergi bersama Nicholas.


BRAK!!


Nicholas menutup pintu mobilnya dengan emosi, ia benar benar tidak mengerti bagaimana bisa Timothy berkata demikian.


" Kendalikan dirimu." Ujar Vaye.

__ADS_1


Vaye yang duduk di depan kemudi, ia tidak mungkin membiarkan Nicholas menyetir, karena Nichoals saat ini sedang dalam suasana hati yang buruk.


" Sungguh aku ingin sekali membunuhnya di tempat." Ujar Nicholas.


" Jika kamu melakukannya bukankah kau membenarkan tuduhan mereka bahwa kamu seorang pemhunuh?" Ujar Vaye.


" Bertahun tahun aku menyandang predikat itu, tanpa pernah aku melakukannya. Dari pada hanya menyandang predikat bukankah lebih baik sekalian saja aku membunuh dia, setidaknya kakak ku akan mendapatkan keadilan." Ujar Nicholas.


" Bodoh jika kamu melakukan itu. Sekarang fokus pada kesembuhanmu dan ibumu, jika kamu bisa melawan rasa takutmu, maka bukti itu bisa kamu berikan dihadapan semua orang, bahwa kamu bukan pembunuh kakakmu." Ujar Vaye.


Nicholas mengatur nafasnya, benar yang di katakan Vaye. Jika dia sembuh dan bisa mengendalikan dirinya, maka dia bisa melihat bukti itu, dan menunjukannya pada dunia terutama sang ibu, bahwa dirinya bukanlah pembunuh.


" Kamu benar." Ujar Nucholas.


_____________________________________


Waktu berlalu, libur sekolah juga sudah berakhir. Besok semua murid kembali masuk ke sekolah, begitu juga Vaye. Nathan juga akan kembali ke negara J hari ini.


" Kak, sejak kakak datang ke Jakarta, kakak tidak pernah mengujungi aku. Sekarang kakak mau pulang, aku belum jalan jalan kemanapun dengan kakak." Ujar Vaye.


" Katamu kamu takut ketahuan bahwa kamu Valleria, sekarang merengek begitu, apa yang harus kakak lakukan sekarang?? " Ujar Nathan sambil terkekeh.


" Aku ikut kakak ke negara J saja, boleh??" Ujar Vaye sambil menyengir kuda.


" Ayo, dari pada kamu berpetualang tidak jelas, lebih baik kamu ikut kakak belajar." Ujar Nathan.


Mendengar itu Vaye tertawa garing, ia lebih tidak mau lagi masuk universitas. Ia tidak suka di panggil jenius. Ia ingin menjalani hidup normal seperti remaja kebanyakan.


" Heeemmm ketawa." Ujar Nathan.


" Aku belum mau masuk universitas kak." Ujar Vaye.


" Ya sudah, tapi tolong kamu jangan terlibat apapun dengan hal yang membahayakan. Kamu membawa alat canggihmu kemari jangan untuk membuat kerusuhan." Ujar Nathan.


" Siap boss, ayo aku antar ke bandara." Ujar Vaye.


" Tidak perlu, ada paman Lucas yang mengantar kakak. Jika kamu ikut, kakak malah ingin mengantongimu dan kakak bawa ke negara J." Ujar Nathan sambil terkekeh.


" Enak saja di kantongi, kakak oikir aku permen." Ujar Vaye protes.


" Intinya.. jaga dirimu baik baik, adik. Kakak dan kak Edmund sedang membuat terobosan agak kita bisa membuat sesuatu yang lebih canggih lagi." Ujar Nathan.


" Kan kalian berada di dua universitas berbeda." Ujar Vaye bingung.


" Itu gunannya jenius." Ujar Natahan sambil terkekeh.


" Iya.. Iya.. jenius. Kalau begitu kakak berhati hatilah di jalan. Selamat sampai di negara J. " Ujar Vaye, dan Natahan mengangguk.


" Jaga dirimu baik baik, hum.. Jika sesuatu terjadi padamu, maka kakak yang akan membalik seisi Jakarta." Ujar Nathan, dan Vaye terkekeh.


" Siap kakak boss." Ujar Vaye.


Lucas datang dan membawa barang Natahan, kemudian Nathan memeluk Vaye lalu pergi dari sana.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2