
Vaye sudah berada di apaertemen nya, baru saja ia berpisah dari Nicholas setelah mereka pulang dari rumah sakit dimana Bagas di rawat.
"Ah.. lelahnya. " Gumam Vaye.
Vaye merebahkan dirinya di sofa, kali ini dirinya benar benar sendirian karena semua keluarganya telaha kembali ke negara mereka masing masing.
Ring ring..
Suara ponsel Vaye berdering, tertera nama Edmund di layar dan Vaye pun langsung mengangkat panggilan itu.
" Kakak.. " Ujar Vaye dengan nada manja seperti biasanya.
" Adik, sedang apa kamu? " Tanya Edmund.
" Nothing.. kenapa??" Ujar Vaye.
" Kakak akan memberi tahu sesuatu tapi tolong jangan sampai membuat kamu gugup dan panik. " Ujar Edmund, dan seketika Vaye pun menjadi serius.
" Ada apa kak? " Ujar Vaye.
" Kakak sudah menyuruh anak buah paman Ryu untuk menjemputmu di bandara, sekarang kamu pergilah ke bandara dan terbang ke negara C malam ini juga. " Ujar Edmund sangat misterius, Vaye pun menjadi bertanya tanya.
" Sebenarnya ada apa kak?? Kenapa aku harus terbang malam ini juga?" Ujar Vaye.
" Adik,tolong menurut saja ya.. tolong sekarang kamu siap siap, nanti saat paman Lucas datang, segeralah berangkat. " Ujar Edmund.
" Tidak, beri tahu dulu sebenarnya ada apa.. kenapa kakak sangat misterius? Juga suara kakak terdengar aneh. " Ujar Vaye.
" Jika kakak katakan apakah kamu bisa berjanji bahawa kamu tidak akan panik dan tetap baik baik saja? " Ujar Edmund.
" Ya, aku janji aku akan mengondisikan diriku, sebenarnya ada apa kak?? "Ujar Vaye semakin penasaran.
" Vaye.. Opa dan oma meninggal dunia. " Ujar Edmund.
DEG !!!
Vaye terkejut sampai menjatuhkan ponselnya.
" Vaye.. Vaye apa kamu baik baik saja, bisakah kamu mendengar kakak?? Sayang.. Vaye. " Panggil Edmund panik.
" Vaye, sayang.. Kamu dengar kakak?? Tolong kondisikan dirimu, dan tolong berpikiran yang tenang dan datang kemari bersama paman Lucas, apak kamu dengar kakak??" Ujar Edmund lagi.
" Ya, Vaye dengar.. " Ujar Vaye dengan berkaca kaca.
" Tenangkan dirimu dan bersiaplah, mungkin paman Lucas akan segera sampai. " Ujar Edmund.
" Hmmm.. Vaye akan bersiap siap. " Ujar Vaye terisak.
__ADS_1
" Sayang.. tolong tenangkan dirimu oke.. jangan menagis. " Ujar Edmund.
" Kalau begitu Vaye siap siap dulu kak. " Ujar Vaye dan panggilan langsung diakhiri.
Setelah panggilan itu diakhiri, Vaye menangis sejadi jadinya. Vaye sangat menyayangi Aiko dan Jhosua, sejak kecil Vaye yang paling dekat dengan mereka berdua, jadi Edmund mengatakan untuk agar Vaye mengondisikan dirinya. Edmund takut sesuatu terjadi pada adiknya itu.
Sementara itu di negara lain..
Edmund menatap layar ponselnya, dan berdiri Nathan di sampingnya saat ini. Mata Nathan terlihat sangat merah saat ini, mungkin karena dia juga baru saja menangis.
" Bagaimana, kak??" Tanya Nathan.
" Vaye menangis, kakak jadi khawatir padanya." Ujar Edmund.
" Vaye akan baik baik saja kak, sebaliknya kita harus mencari tahu penyebab kecelakaan yang di alami oma dan opah. Kecelakaan itu tidak wajar." Ujar Natahan, dan Edmund mengangguk.
" Ayo kita kembali ke depan, mommy sedang sangat terpukul saat ini." Ujar Edmund dan Nathan mengangguk.
Dan ya, benar.. Yara saat ini sedang menangis di pelukan Ethan. Yara tidak menyangka bahwa kedua orang tuanya itu akan pergi secepat itu dengan cara yang tragis dan bersamaan.
Aiko dan Jhosua mengalami kecelakaan tunggal di jalanan yang sepi, mobil mereka di temukan sudah berada di dasar jurang yang curam. Jika saja mereka tidak memiliki alat canggih untuk mendeteksi keberadaan Aiko dan Jhosua, mereka mungkin belum tentu menemukan nya dengan waktu dekat.
" Sayang, tenangkan dirimu." Ujar Ethan.
Namun tetap saja air mata Yara tidak berhenti mengalir, walau dia tidak menangis histeris, tapi sangat terlihat begitu terpukul karena kehilangan kedua orang tuanya.
" Ed sudah menghubungi Vaye mom, Vaye akan terbang malam hari bersama paman Lucas. " Ujar Edmund, dan Yara mengangguk.
" Tolong mommy yang tenang, oma dan opah tidak akan pergi dengan tenang jika mommy terus menangis seperti ini." Ujar Nathan.
" Mommy belum siap kehilangan mereka, nak.. Mommy belum siap." Ujar Yara kembali terisak.
" Mommy masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama oma dan opah mu. Mommy hiks..hiks.." Tangis Yara pecah.
" Sssttt... Sayang, tenangkan dirimu. Nathan benar, mama dan papa tidak akan tenang jika kamu seperti ini." Ujar Ethan.
Di belahan Negara lain..
Vaye sudah dalam perjalanan bersama Lucas, ia bahkan sampai lupa mengabari Nicholas bahwa dirinya akan melakukan penerbangan ke negara C. Keduanya sudah sampai di Bandara dan langsung melalukan take off.
Keesokan harinya..
Nicholas menghubungi Vaye, namun belum juga aktif. Sejak semalam ia menciba neghbungi Vaye namun handphone nya namun tidak aktif hingga sekarang.
" Sayang.. apakah sesuatu terjadi padamu?" Gumam Nicholas.
Nicholas akhirnya turun dari mobilnya dan meminta tolong pada pihak resepsionis untuk naik keatas unit apartemen Vaye. San kini ia sampai di depan pintu unit apartemen Vaye.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
Nicholas mengetuk pintu unit apartemen Vaye. Namun tidak ada sahutan sama sekali dadi dalam.
" Vaye.. Ini aku Nicholas. Buka pintunya, sayang." Ujar Nicholas.
Nicholas yang khawatir akhirnya menekan sandi pintu Vaye. Ketika sudah terbuka, Nicholas langdung mengecek setiap sudut ruangan itu namun tidak ada tanda tanda kehadiran Vaye disana.
" Apakah dia sudah berangkat sekolah lebih dulu? Tapi kenapa, aku merasa tidak membuat kesalahan apapun kemarin." Gumam Nicholas.
Nicholas terlihat sangat panik sekarang, ia takut Vaye pergi meninggalkan nya. Ia teringat dengan ucapan Vaye kemarin, bahwa mereka berdua akan selalu sama sama..
" Mungkin dia sedang ada keperluan lain, tenang Nicholas.. Dia akan baik baik saja dan akan menghubungimu nanti." Gumam Nicholas lagi.
Akhirnya Nicholas turun dari apartemen Vaye dan berangkat langsung kesekolah. Semua irang di sekolah pun menatap heran Nicholas yang datang sendirian karena biasanya dia akan datang bersama sama Vaye.
" Nicholas.." Panggil Jilian.
" Ya, paman." Ujar Nicholas.
" Ikut paman sebentar ke kantor." Ujar Jilian, dan Nicholas mengangguk.
" Vaye terbang ke negara C.." Ujar Jilian.
DEG!
Nicholas langsung pias.
" Bukan karena apa apa, tapi nenek dan kakeknya meninggal dunia. Dia mungkin saat ini sedang sangat terpukul, karena Vaye sangat menyayangi nenek dan kakeknya itu." Ujar Jilian.
" Paman akan terbang kesana, karena hari ini rencananya akan di makamkan." Ujar Jilian.
" Aku ikut, paman." Ujar Nicholas.
" Jangan.. Kamu harus tetap sekolah, nilaimu akan di kurangi nanti jika bolos." Ujar Jilian.
" Tidak masalah, aku ingin berada di dekat Vaye. Dia pasti sedang sedih sedih. " Ujar Nicholas.
" Dengar nak, Vaye akan baik baik saja. Disana ada ayah dan ibunya, juga kedua kakak nya. Kamu jangan meninggalkan ibumu sendirian disini." Ujar Jilian.
Nicholas menjadi bimbang sekarang, dia sangat ingin ikut menyusul Vaye, tapi yang di katakan Jikian benar.. Ibunya sendirian.
" Baiklah, paman. Tolong beri tahu Vaye, untuk menghubungiku." Ujar Nicholas, dan Jilian mengangguk.
" Tenangkan dirimu, dia akan baik baik saja. Paman pergi dulu, ya? " Ujar Jilian, dan Nicholas mengangguk.
' Maafkan aku, Vaye.. Aku tidak berada di dekatmu saat kamu sedang sedih. Semoga kamu baik baik saja.' Batin Nicholas.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..