
Nicholas masih berada di pangkuan Vaye, dan Vaye sedang menonton tv sambil tangan nya mengusap usap rambut Nicholas, sementara Nicholas sendiri memejamkan matanya.
" Kamu mengantuk?" Tanya Vaye.
" Hmm.. " Sahut Nicholas.
Bahkan suara Nicholas sudah mulai berubah menjadi mode bass, Vaye tersenyum mendengarnya.
" Pergilah ke kamar, dan tidur dengan baik. Oiya, besok bagaimana dengan seragam sekolahmu?" Ucap Vaye.
Nicholas membuka matanya dan bertemu tatap dengan Vaye.
" Oiyah.. Kenapa aku tidak terpikirkan." Ujar Nicholas langsung bangun dan duduk tegak, Vaye pun terkekeh.
" Pakai rok mau??" Ujar Vaye, dan Nicholas langsung memonyongkan bibirnya.
" Memangnya aku semelehoy??" Ujar Nicholas.
" Tapi besok kan olah raga, pakai baju eksta punya ku saja. Ya.. Mungkin sedikit kekecilan." Ujar Vaye.
" Ya, boleh lah.. Dari pada tidak ada sama sekali." Ujar Nicholas.
" Ayo tidur." Ujar Vaye sambil bangun daei duduknya.
" Mau tidur bersama?" Ujar Nicholas, sambil menaik turunkan alisnya.
" Yee, itu si maunya kamu." Ujar Vaye dan Nicholas terkekeh.
Vaye mendorong dorong tubuh Nicholas dan menggiringnya masuk ke kamar tamu, lalu dirinya sendiri masuk kedalam kamarnya.
Ke esokan harinya..
Vaye sudah bangun dan sedang membuat sarapan untuk dirinya dan Nicholas. Tidak yang sulit sulit, hanya dua gelas susu dan roti selai saja. MSementara Nicholas... Dia..
" Sayang, apakah tidak ada yang lain?" Ujar Nicholas sambil berjalan kehadapan Vaye yang sedang minum susu.
" PFFTT.. Hahahaha.." Tawa Vaye pecah sampai susu di mulutnya menyembur keluar karena melihat penampilan Nicholas.
Nicholas keluar dengan seragam olah raga Vaye yang.. sangat - sangat kekecilan. Bukan hanya sedikit kekecilan, tapi sangat kekecilan.
Tubuh Nicholas yang kekar itu sangat tercetak begitu nyata dengan kaos olah raga milik Vaye, sementara celananya.. Nicholas sudah seperti sedang menggunakan ****** ***** saja karena begitu ketatnya.
" Sayang...." Ujar Nicholas, merengek.
" Iya maaf, Pfftt.. Kamu lucu sekali dengan baju olah ragaku." Ujar Vaye sambil masih tergelak.
Nicholas akhirnya hanya berdiri sambil berkacak pinggang menghadap Vaye.
" Maaf - maaf.. Aku tidak punya lagi. Sudah tidak apa apa, kamu pakai itu dulu nanti saat sampai di sekolah aku belikan yang baru dari sekolah." Ujar Vaye.
Akhirnya Nicholas duduk dan meminum susu nya dengan kesal. Jika kalian bisa bayangkan, Nicholas bagai orang yang memaksakan keadaan memakai pakaian olah raga milik Vaye.
Bagaimanapun tubuh Vaye kecil, dan tingginya hanya sebatas ketiak Nicholas. Jadi tidak aneh jika pakaian Vaye di gunakan Nicholas maka hasilnya seperti itu.
__ADS_1
" Ayo jalan." Ujar Vaye.
" Masa aku turun ke basment seperti ini?" Ujar Nicholas, sambil melihat dirinya sendiri.
" Emm.. Pft! Sebentar aku cari sesuatu." Ujar Vaye.
Vaye masuk kedalam kamarnya dan kemudian mengambil pakaian milik kakaknya yang tertinggal.
" Nah, pakai ini saja." ujar Vaye, dan seketika Nicholas menghela nafasnya.
" Astaga, sayang.. Kenapa tidak dari tadi?? " Ujar Nicholas dan Vaye kembali terbahak.
" Aku ingin melihat kamu melucu sedikit." Ujar Vaye.
Nicholas mengacak rambut Vaye lalu kemudian masuk kembali ke dalam kamar, ia menggunakan baju Nathan saat ini.
" Kuy.." Ujar Nicholas.
Keduanya pun berjalan pergi menuruni lift menuju basmen, namun saat di lantai 32 lift itu berhenti dan terlihat Pras disana. Wajah Nicholas yang sebelumnya sumringah mendadak menjadi dingin ketika melihat Pras di hadapan nya saat ini.
" Nicholas.." Ujar Pras.
" Ekhem! " Nicholas hanya berdehem, sementara Vaye menggenggam tangan Nicholas erat.
" Nicholas, kemarin papa mengunjungi rumahmu." Ujar Pras dan Nicholas langsung menatap tajam Pras.
" Kamu berhasil membangun rumah masa kecilmu lagi. Maafkan papa yang tidak bisa memberikanmu rumah yang nyaman dulu, papa sangat menyayangkan masa itu." Ujar Pras.
" Papa menemui mamamu, dan rupanya mamamu sudah memiliki laki laki lain. Papa sadar papa terlalu jahat dulu, jadi papa hanya bisa ikut bahagia melihat mamamu bahagia." Ujar Pras.
Hingga sampailah mereka di basment, dan Nicholas langsung melangkah keluar sambil menggandeng tangan Vaye.
Pras hanya bisa menghela nafas, dia sudah bemar benar kehilangan semua hal. Dia pikir jika dia menceraikan Tamara, maka dia akan bisa kembali rujuk dengan Nely. Tapi rupanya Nely sudah bahagia dengan hidupnya.
Kemarin Pras juga bertemu Tamara, yang Pras kira Tamara akan hidup kesepian dan sendirian. Tapi rupanya Tamara juga hidup bahagia bersama suaminya Frans, juga anak laki lakinya Mark, kembaran Timothy.
" Sepertinya karma sungguh sedang berpihak padaku. Bahkan ketika semua orang sudah pergi dan bahagia, aku masih harus menderita sendirian." Gumam Pras.
___________________
Dua minggu kemudian..
Vaye sedang berada di bandara international. Saat ini dia sedang menunggu kedatangan Yara dan Ethan. Ya seperti yang sudah Ethan katakan, ia dan Yara akan datang ke tanah air.
" Sayang.." Teriak Yara.
Yara langsung berlari menghampiri Vaye dan memeluknya.
" Astaga, mommy sangat merindukan kamu." Ujar Yara.
" Mommy, semua orang melihat kearah kita. " Ujar Vaye.
" Kamu dengan siapa, sayang?" Tanya Yara.
__ADS_1
" Dengan Nicholas, dia sedang membeli makanan." Ujar Vaye.
Tak lama Nicholas muncul, dengan sekantong makanan di tangan nya.
" Halo mom, dad." Ujar Nicholas.
Ya, Nicholas sudah semakin dekat dengan kedua orang tua Vaye. Yara mengatakan pada Nicholas untuk memanggil dirinya dengan sebutan yang sama dengan Vaye, yakni mommy dan daddy.
" Halo, nak.. Kalian belum makan siang?" Ujar Yara.
" Belum, Vaye sangat antusias dengan kepulangan mommy jadi dia langsung kemari setelah sekolah selesai." Ujar Nicholas.
" Astaga, Vaye.." Ujar Yara.
" Hehe.." Cengir Vaye.
Akhirnya ke empatnya pergi dari bandara. Vaye duduk di belakang bersama Yara, sementara Nicholas mengemudi dengan Ethan yang duduk di sebelahnya.
" Nicholas, apakah kamu sudah ada tujuan kemana kamu akan masuk universitas?" Tanya Ethan.
" Ummm.. Ingin nya bersama Vaye, tapi sepertinya sulit." Ujar Nicholas terkekeh.
" Kok sudah pesimis duluan, semangat dong.." Ujar Yara.
" Bagaimanapun Vaye jenius mom, apalah daya otak Nicholas yang hanya sebesar biji kacang almond." Ujar Nicholas, dan semuanya tertawa.
" Astaga, bisa bisa nya kamu berkata demikian. Mommy yakin kamu bisa melakukan yang terbaik. Raih masa depan yang indah bersama Vaye. " Ujar Yara menyemangati Nicholas.
Sepenjang perjalanan itu, mereka bersenda gurau bersama hingga tidak terasa mereka sampai di kediaman lama Ethan atau markas BLOOD.
" Selamat datang, tuan." Ujar Noah.
" Terimakasih." Ujar Ethan.
" Mom, dad, seperrinya Nicholas harus langsung pulang. Oiya, ini ada undangan pernikahan." Ujar Nicholas.
" Undangan pernikahan?? " Ujar Yara.
" Ya, mamaku akan menikah dengan dokter Abraham." Ujar Nicholas.
" Oh.. Terimakasih. Akhirnya mereka memutuskan menikah dalam waktu dekat." Ujar Yara.
" Ya, dan sekarang Nicholas harus ikut sibuk." Ujar Nicholas menghela nafas.
" Eiih.. Jangan menghela nafas begitu, mamamu akan berbahagia masa kamu sedih." Ujar Yara.
" Karena Nicholas harus menghafal pidato mom " Ujar Vaye sambil terkekeh.
" Bagus itu, ya sudah.. Hati hati di jalan sayang." Ujar Yara.
" Bye, sayang." Ujar Nicholas pada Vaye sambil mengacak rambut Vaye.
Akhirnya Nicholas pun pergi dari sana.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..