
Setelah pulang sekolah, Timothy tiba tiba menarik tangan Vaye dan membawanya ke ruang perpustakaan ketika Nicholas sedang tidak bersama Vaye. Vaye langsung menghempas tangan Timothy ketika sudah sampai di perpustakaan.
" Apa ini Vaye, bukan kah kamu mengatakan bahwa kamu tidak ingin dulu memiliki hubungan dengan siapapun, lalu apa maksudnya dengan kamu yang tiba tiba sudah menjadi kekasih Nicholas? " Tanya Timothy.
" Karena aku juga menyukai dia, kami memiliki rasa yang sama. Tapi dengan dirimu aku tidak merasakan perasaan yang aku rasakan pada Nicholas." Sahut Vaye.
" Lalu mengapa kamu memberiku kesempatan untuk mengejar dirimu? Kau mempermainkan peasaan ku padamu, Vay? Itu sama sekali tidak lucu Vaye." Ujar Timothy.
" Maaf, aku tidak bermaksud mempermainkan dirimu. " Ujar Vaye.
Setelah Vaye mengatakan itu Timothy langsung berbalik pergi. Dan saat Timothy berjalan menjauh dari Vaye, Vaye justru teringat dengan punggung orang yang dilihat nya dai cctv kemarin.
" Punggung itu.. apakah.. " Gumam Vaye.
" Vaye, kamu tidak apa apa?" Ucap Nicholas khawatir.
Nicholas mencari keberadaan Vaye sejak tadi, ia hanya pergi ke toilet dan Vaye tiba tiba hilang begitu saja dari depan toilet. Nicholas yang panik itu pun langsung berlari dan bertanya pada siapapun yang berpapasan dengan dirinya. Hingga ia melihat Timothy yang keluar dari perpustakaan dengan wajah kesal, Nicholas pun langsung berlari masuk kedalam perpustakaan mencari keberadaan Vaye.
" Aku tidak apa apa.. Sepertinya aku sudah menemukan pelaku yang menyiksa Bagas. " Ujar Vaye
" Siapa??" Tanya Nicholas.
___________________
Adegan beralih, kini Vaye dan Nicholas sedang berada di depan komputer di apartemen Vaye, dan Vaye sedang mengotak atik komputernya. Vaye membuka sebuah rekaman cctv yang menangkap pria yang membawa tongkat bisbol dan memutarnya.
" Kamu melihatnya? " Tanya Vaye pada Nicholas ketika rekaman itu diputar.
Nicholas sampai memutar berulang ulang rekaman itu, untuk memastikan penglihatannya, dan semakin rekaman itu di ulang semakin jelas juga bahwa itu adalah punggung Tymothy.
" Bren*sek!! jadi dia pelakunya. " Gumam Nicholas.
" Tapi karena tidak terlihat wajahnya, kita tidak bisa membuktikan bahwa itu Timothy. Kita harus mencari bukati yang lenih kuat lagi." Ujar Vaye.
" Aku tidak menyangka Timothy melakukan itu pada Bagas, apa karena Bagas buang angin di hadapan wajahnya kemarin? Tapi apa harus melakukan hal sekejam itu pada Bagas." Ujar Nicholas.
" Semalam saat aku mengejar pria yang mencurigakan itu, aku yakin tubuh pria yang aku kejar dan yang muncul saat Timothy datang menolongku berbeda, apakah itu juga Timothy?" Ujar Vaye.
" Kita akan selidiki nanti, Yang terpenting kita sudah tahu bahwa orang itu adalah Timothy. Kita hanya harus mencari bukti yang meyakinkan." Ujar Nicholas.
" Hmm.. Sekarang bayar hutangmu." Ujar Vaye.
" Hutang? Hutang apa?" Tanya Nicholas bingung.
" Kamu tidak berniat menjelaskan mengapa tiba tiba kamu dan paman Jilian menjadi akrab?" Tanya Vaye.
Dan Nicholas tersenyum mendengarnya. Akhirnya Nicholas mengangkat tubuh Vaye yang ringan itu keatas pangkuan nya.
__ADS_1
" Astaga!! Apa harus langsung mengangkatku begitu saja, aku bukan anak kucing, Nicholas. " Ujar Vaye, dan Nicholas terbahak mendengarnya.
" Tidak ada yang bilang kamu anak kucing, kok.. tapi ya, kamu menggemaskan seperti anak kucing." Ujar Nicholas dan mengacak acak pelan rambut.
" Hei!! Rambutku rusak." Ujar Vaye.
" Hahahaha" Tawa Nicholas renyah terdengar.
" Tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku, bahwa aku akan memiliki sisi seperti ini dan mengalami hari seindah hari hariku saat bersamamu. Kamu warna dalam hidupku, Vaye." Ujar Nicholas serius.
" Ya ya.. jadi kamu jadi memberitahuku atau tidak? Bagaimana bisa kamu dan paman Jilian menjadi begitu dekat. " Ujar Vaye.
Akhirnya Nicholaspun menjelaskan pada Vaye, bahwa Jilian adalah paman nya yang terpisah selama bertahun tahun. Nicholas menjelaskan bahwa Nely adalah adik Jilian yang kabur demi cintanya, yaitu Prasetya.
Tentu saja Nicholas tidak memberitahu bagaimana pertemuan keduanya berlangsung, Nicholas belum siap untuk memberitahu Vaye bahwa dirinya bekerja di dunia gelap ( Mafia ).
" Rupanya begitu?? Dunia memang sempit." Ujar Vaye.
" Jadi, kenapa kamu tidak mengembalikan warna asli rambutmu?? Bukankah rambutmu berwarna perak?" Tanya Nicholas.
" Hmmm.. apakah kamu mau melihatku dengan rambut perakku?" Tanya Vaye, dan Nicholas mengangguk sambil tersenyum.
" Tapi jika kamu tidak mau, tidak masalah.. Aku suka kamu apapun penampilanmu." Ujar Nicholas.
" Kalau begitu ayo.." Ujar Vaye.
" Kemana?" Tanya Nicholas.
Di tempat lain..
Di ruangan Bagas yang masih terbaring koma, seseorang berdiri di sampingnya dia adalah Timothy.
" Siapa kamu?" Ucap ibu Bagas yang tiba tiba masuk.
" Oh, hai tante.. Saya teman kelas Bagas. Saya datang menjenguk Bagas." Ujar Timothy.
" Ah.. Rupanya teman kelas bagas. Bagas masih belum ada kemajuan, nak." Ujar ibu Bagas.
" Padahal dia anak yang baik, sangat di sayangakan." Ujar Timothy.
" Kalau begitu saya permisi dulu tante." Ujar Timothy.
" Ah, iya nak.. terimakasih sudah mengunjungi Bagas." Ujar ibu Bagas,dan Timothy mengangguk lalu pergi dari sana.
Setelah keluar dari ruangan Bagas, Timothy menghela nafas lalu kemudian tersenyum dan pergi dari sana. Sekitar 15 menit setelah Timothy pergi, Bagas tiba - tiba kejang - kejang dan ibu Bagas langsung berteriak keluar memanggil dokter.
" Dokter!! Dokter!! Tolong anak saya." Teriak Ibu Bagas.
__ADS_1
Bagas kejang kejang dengan sangat kuat hingga matanya terbuka, lalu kemudian keluar busa dari mulutnya. Kebetulan Rayson yang lewat disana ditarik begitu saja oleh ibu Bagas.
" Dokter! Tolong anak saya. Dia kejang kejang." Ucap ibu bagas sambil menangis.
Rayson pun langsung masuk kedalam ruangan, dan melihat betapa mengerikannya pemandangan di hadapan nya. Yang sebelumnya mulut Bagas keluar busa, kini menjadi keluar darah.
Rayson mencabut selang selang yang mengalirkan cairan ke dalam tubuh bagas, dan dia langsung menghubungi dokter yang menangani Bagas sebelumnya.
" Dia di racuni." Ucap Rayson.
Rayson pun langsung melakukan pertolongan pada Bagas, sebisa mungkin agar Bagas tetap hidup. Tangis ibu Bagas tak bisa di kondisikan melihat sang putra begitu mengenaskan.
Dokter dokter berdatangan karena yang menghubungi Rayson, jadi merka semua panik. Dan langsung turun tangan membantu Rayson.
" Nyonya, tolong anda keluar terlebih dahulu." Ujar seorang dokter pada ibu Bagas.
Ibu Bagas pun keluar, dan menangis di depan ruangan Bagas yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan matinya.
" Mengapa ada yang tega ingin membunuh anakku, apa salah anakku.." Gumam ibu Bagas dalam tangisnya.
Di tempat lain..
Nicholas dan Vaye masih berada di dalam salon saat ini. Nicholas sebagai kekasih Vaye, menemani Vaye yang mengubah kembali warna rambutnya menjadi perak.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya rambut Vaye selesai juga di warnai.
" Halo.." Ucap Vaye pada Nicholas.
Nicholas menengok kearah yang punya suara, dan terkesima. Vaye muncul dengan rambut perak bergelombangnya, Vaye sangat cantik.
" Aih.. Apakah aku semengerikan itu, sampai kamu tidak bisa menelan ludah?" Ujar Vaye.
" Kamu cantik sekali." Ujar Nucholas.
" Hmm.. Berarti aku yang sebelumnya tidaklah cantik??" Ujar Vaye.
" Bu- bukan.. Kamu cantik, maksudku kamu tetap cantik.. Hanya saja kamu sangat cantik dengan rambut perakmu." Ujar Nicholas gugup.
" Iya, kah?? Terimakasih.." Ujar Vaye.
" Hmm.. cantik sekali." Ucap Nicholas.
" Sudah malam, ayo cari makan. Aku sangat lapar." Ujar Vaye.
" Uluh uluh.. Pacarku kelaparan rupanya. Nah, aku beli minuman ini untukmu, kesukaanmu, kan?" Ujar Nicholas sambil memberikan satu cup besar minuman rasa mangga.
" Woah.. Terimakasih." Ujar Vaye.
__ADS_1
Nucholas tersenyum dan mengusap kepala Vaye, keduanya pun pergi dari sana.
TO BE CONTINUED..