Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 152. SEASON 2. MEMBELA.


__ADS_3

Nicholas berada di atap sekolah, pandangannya lurus kedepan. Ia masih membayangkan bagaimana wajah Vaye tetap diam saat ia cekik. Nicholas memandangi tangannya, ada sedikit rasa penyesalan di hatinya saat ini.


" Gadis bodoh, kenapa dia selalu membuatku nyaman dan kesal secara bersamaan, dia selalu saja membela si bren*sek itu." Gumamnya.


Nicholas tidak kembali ke kelas, bahkan hingga sekolah berakhir. Dia hanya di atap, tidur di bangku tidak kemanapun.


Vayr berjalan keluar dsei kelasnya, dan mendengar Lini yang sedang membahas tentang Nicholas.


" Apakah ibunya Nicholas sungguh gila? kalian mendapat fotonya juga?" Ucap teman teman Lini.


" Boleh aku tahu foto apa yang kakian maksud?" Tanya Vaye.


" Oh, hai Vaye.. kamu masih baru jadi mungkin belum tercantum di group. Ada yang menyebar foto perempuan gila, dan disana tertulis itu adalah ibu kandung Nicholas. Mengerikan bukan? Tidak heran anaknya juga bersikap begitu." Ujar teman Lini.


Nicholas rupanya tidak sengaja mendengarnya, ia kembali emosi dan hendak melabrak gadis gadis itu namun ia menghentikan langkahnya ketika Vaye berbicara.


" Kenapa kamu bilang mengerikan? Apakah beliau menakuti kamu atau menjahati kalian? Juga.. Tidak lucu menjadikan aib orang lain sebagai bahan gosipan. Jika orang tua mu yang gila dan di sebar luaskan pada semua teman temanmu, bagaimana perasaanmu?" Ucap Vaye.


Nicholas diam di balik dinding, ia tidak menyangka Vaye masih membelanya di belakang bahkan setelah di cekik oleh Nicholas.


" Kenapa kamu membelanya? Padahal dia jahat. Kamu bahkan hampir mati tercekik olehnya. Aku rasa dia gila karena ibunya gila." Ucap teman Lini yang lainnya.


" Jika dia sungguh jahat, mungkin aku sudah tidak berada dihadapan kalian saat ini. Dan dia sama sekali tidak mencekiku sekeras itu, dia hanya menggertak." Ujar Vaye.


Nicholas terkejut mendengarnya, jelas jelas ia mencekik Vaye hingga wajahnya membiru, tapi Vaye bilang dirinya tidak di cekik.


" Kau menyukai Nicholas, ya? Sejak tadi kau membelanya terus. Kau tidak tahu saja, dia itu kejam." Ucap teman Lini yang lain.


" Dia bukan musuhku, aku tidak ada slasan untuk membencinya." Ucap Vaye.


Se lapang dada itukah Vaye? Dia tidak menganggap Nicholas musuh bahkan setelah ia di cekik oleh Nicholas.


" Vaye, kamu berhak memilih teman, tapi jangan Nicholas. Dia adalah satu satunya murid dengan predikat keburukan tertinggi di sekolah." Ucap Lini.


" Terimakasih untuk infonya." Ucap Vaye dan pergi dari sana.


Vaye yakin jika ada satu saja orang yang membela Nicholas, Nicholas pasti akan memiliki pandangan lain tentang sekitarnya. Dia tidak akan menilai semua orang itu sama. Vaye ingin membantu Nicholas sebagai teman.


Vaye pernah menemui hal yang serupa saat dirinya bersekolah di sekolah yang lama. Dan kali ini, Vaye ingin membantu Nicholas, agar Nicholas bisa hidup lebih baik. Dan sebagai teman kelas, ia akan membela Nicholas.


Tiba tiba Nicholas lewat di depan gadis gadis tadi, dan mereka sangat terkejut terlebih mereka takut saat melihat sorot mata Nicholas.


" Vaye." Ucap Nicholas, saat Vaye akan memasuki mobilnya.


" Ada apa?" Ucap Vaye ketika berbalik badan dan melihat Nicholas berdiri tak jauh darinya.


" Maaf.. " Ucap Nicholas.

__ADS_1


Vaye terkejut mendengarnya, Nicholas si kepala batu itu, bisa mengatakan maaf rupanya.


" Aku yang seharusnya minta maaf. Kamu benar, tidak semua masalah hidup orang itu sama. Aku minta maaf karena menasehatimu tanpa melihat dari arah pandangmu." Ucap Vaye, sambil tersenyum.


" Apakah itu tadi, sakit?" Tanya Nicholas.


" Tidak.. " Ujar Vaye.


" Kamu bodoh atau bagaimana? Hampir mati tercekik masih bilang tidak sakit." Ucap Nicholas.


" Baiklah, aku jujur.. Itu tadi, sedikit sakit." Ucap Vaye.


" Kenapa kamu tidak melawanku? kenapa malah diam saja di cekik?" Ucap Nicholas.


" Karena aku tahu, kamu tidak akan benar benar membunuhku. Matamu, memiliki keraguan saat mencekikku tadi." Ucap Vaye.


Nicholas terdiam, memang ia tidak bisa membunuh Vaye, bahkan ia menyesali perbuatannya.


" Bodoh.. " Ucap Nicholas, lalu langsung pergi meninggalkan Vaye.


Vaye menggelengkan kepalanya, lalu berbalik hendak masuk kemobilnya, tapi tiba tiba Nicholas masuk kedalam mobilnya. Vaye pun bingung dengan apa yang di lihatnya.


" Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Vaye.


" Aku sedang tidak bisa menyetir, aku numpang padamu." Ucap Nicholas.


Vaye terkekeh mendengarnya, ia pun masuk kedalam mobilnya dan mengemudi pergi dari sekolah. Dari jauh, Timothy rupanya melihat interaksi antara Vaye dan Nicholas, ia pun berbalik pergi tanpa eksperesi.


" Kamu melihatnya?" Ucap Vaye.


" Hm.." Ujar Nicholas.


" Aku hanya mengatakan apa adanya." Ucap Vaye.


Nicholas menatap Vaye yang tengah mengemudikan mobilnya, Nicholas heran, sebenarnya terbuat dari apa hati Vaye itu? Dia bisa begitu baik dan tidak mendendam sedikit pun.


" Jangan menatapku begitu, kau tidak berencana untuk jatuh cinta dengan gadis cupu sepertiku, bukan? " Ujar Vaye.


" Percaya diri sekali, anda." Ucap Nicholas, dan Vaye terbahak.


Melihat Vaye yang tertawa begitu lepas, Nicholas justru ikut tersenyum kecil, Vaye terlihat sangat manis.


' Aku bisa tersenyum dengan hal konyol yang dia lakukan.' Batin Nicholas.


Akhirnya mereka pun sampai di apartemen. Mereka bahkan berjalan menuju lift bersama, tidak seperti kemarin saat Nicholas meninggalkan Vaye.


" Kau tinggal di unit berapa?" Ucap Nicholas.

__ADS_1


" 38 G." Ucap Vaye singkat.


" Baiklah, sampai jumpa besok di sekolah." Ucap Nicholas, dan turun lebih dulu.


Vaye sampai di unitnya, dan seperti biasanya ia akan membanting dirinya di sofa.


" Kamu sudah pulang?" Ucap sebuah suara.


Suara bas yang terdengar menenangkan. Lalu muncul sosok pria tampan dengan rambut peraknya, berjalan menghampiri Vaye.


" Kakak??" Ucap Vaye senang.


Vaye langsung berlari dan lompat ke dalam gendongan kakaknya, Edmund.


Edmund terbang ke tanah air ketika mendapatkan libur selama seminggu, Ia ingin melihat keadaan adik kembarannya itu.


Edmun telah menjelma menjadi pemuda tampan yang mempesona. Rambut peraknya dan mata hitamnya, postur tubuhnya bahkan terlihat sangat maskulin, dengan tinggi sekitar 180 cm.


Vaye memeluk kakaknya erat erat. Vaye bisa menjadi begitu manja saat bersama orang orang terkasihnya, dan bisa menjadi dewasa saat sendirian.


" Kapan kakak datang?" Tanya Vaye.


" Belum lama, bagaimana sekolahmu?" Ucap Edmund.


" Mmm.. baik." Sahut Vaye.


" Kenapa jawabnya ragu ragu begitu? Apakah ada yang merundungmu karena penampilan ini?" Ucap Edmund.


" Tidak ada.. sudahlah jangan dibahas, aku merindukan kakak. Kak Nathan tidak ikut?" Ucap Vaye mengalihkan pembicaraan.


" Tidak, dia ada penelitian." Ujar Edmund.


Walau mereka seumuran, bahkan kembar, tinggi mereka berbeda. Dan Edmund selalu memperlakukan Vaye seperti dulu saat masih kecil, memperlakukannya seperti adik bayi.


" Woah.. Kakak menjelma menjadi hulk dalam sekejap. Kakak sekolah atau menjalani latihan militer sebenarnya? Tubuh kakak jadi berotot begini." Ujar Vaye.


" Beraninya mengatai kakak Hulk. Olah raga itu wajib, kamu juga harus olah raga, mommy saja tinggi." Ujar Edmund.


" Kok jadi bawa bawa tinggi badan.. Iya, iya, Vaye pendek." Ujar Vaye sedikit merajuk.


" Hehe, maaf bayi kecil kakak. Kakak akan tinggal selama empat hari disini, kamu tidak mau membawa kakak kemana mana kah?" Ujar Edmund.


" Aku saja tidak pernah kemana mana. Paling hanya turun ke mall, olah raga di gym, sekolah, lalu tidur. " Ujar Vaye.


" Membosankan sekali hidupmu." Ujar Edmund sambil terkekeh dan mengacak rambut Vaye.


" Ish.. kakak! senangnya mengacak rambutku." Ujar Vaye protes.

__ADS_1


" Ayo turun, bawa kakak ke mall. Kakak ingin menemani kamu selama empat hari ini. Manfaatkan waktu kita dengan baik." Ujar Edmund, dan vaye langsung tersenyum dan mengangguk.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2