
Vaye berjalan ke mall untuk mencari makan malamnya, ia berkeliling terlebih dahulu untuk membeli sesuatu, hingga akhirnya ia berhenti di restoran Italia.
Ia duduk di meja nomor dua di pojok, Restoran itu memiliki tempat duduk dengan senderan cukup tinggi hingga yang duduk disana tak terlihat oleh pengunjung lain.
Saat Vaye tengah menunggu pesanan nya, ia mendengar suara yang tidak asing yang sepertinya duduk persis di belakang tempat duduknya.
" Aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan, jadi jangan pedulikan apa yang aku lakukan. Kau ingin menikah, maka silahkan.. Saat itu terjadi maka diantara kita benar benar tidak ada hubungan apa apa lagi." Ucap Suara itu.
' Nicholas.. dia disini.' Batin Vaye.
Ya suara yang tidak asing di telinga Vaye adalah suara Nicholas. Terlihat Nicholas tengah duduk satu meja dengan pria paruh baya, namun tatapan permusuhan jelas terlihat diantara keduanya.
" Sampai kapan kamu mau menjadi keras kepala? Papa mengajak mu bertemu untuk bicara baik baik, Nicho." Ucap pria paruh baya yang rupanya adalah ayah Nicholas.
" Tidak akan pernah ada pembicaraan baik diantara kita. Juga.. Kau bukan papa ku lagi, sejak kau meninggalkan aku bersama mama sendirian." Ucap Nicholas.
Nicholas bangun dari duduknya dan pergi dari sana, namun saat ia hendak pergi tatapan nya tak sengaja bertemu dengan Vaye yang juga menatap kearah Nicholas, sebelum akhirnya Nicholas melanjutkan langkah kakinya.
" Nic.. Nicholas!" Teriak ayah Nicholas.
Vaye pun tidak menanggapi lagi, saat itu makanan nya datang, ia pun langsung memakan makan malamnya yang walaupun terlalu terlambat untuk di bilang makan malam.
Vaye menyelesaikan makan malamnya, lalu membayar nya. Karena besok sekolah libur, ia memutuskan untuk sedikit berkeliling di taman yang berada di lantai atas apartemen nya.
Saat lift terbuka, rupanya ada Nicholas yang juga berada disana. Vaye menatap sekilas mata Nicholas yang tampak sedikit merah, entah apa penyebabnya.
" Kau mendengar percakapanku, kan?" Ucap Nicholas.
Tentu saja ucapan itu di tunjukan kepada Vaye, karena hanya ada dirinya dan Vaye di lift itu.
" Aku tidak mendengar apapun." Ucap Vaye.
" Lalu kenapa kau menatapku, tadi?" Ucap Nicholas.
" Kau baik baik saja?" Tanya Vaye, mengalihkan pembicaraan.
" Jangan sok peduli denganku, urus saja urusanmu." Ucap Nicholas.
" Lalu kenapa kau bertanya padaku tentang aku mendengar pembicaraan mu atau tidak? Itu juga urusanku bukan? Aku bisa bilang aku tidak mendengar apapun." Ucap Vaye.
__ADS_1
Lift pun terbuka, Vaye pun turun di lantai 15 gedung itu, karena tujuan nya saat ini adalah ke taman. Angin begitu besar disana, juga terlihat sepi.
Vaye mengelilingi taman itu, terlihat ada lapangan untuk tenis dan basket yang sangat luas berada di sebelah taman itu. Vaye duduk di sebuah gazebo yang tersedia disana, dan pemandangan yang tersedia adalah pemandangan kota Jakarta di malam hari.
" Kolam nya cukup besar juga, mungin besok aku bisa berenang disini. Ah.. malas nya.." Gumam Vaye.
Ia merasa bosan karena tidak ada yang bisa dia lakukan, apalagi di Indonesia ia tidak memiliki teman karena selama ini ia tinggal di AS.
Tiba tiba ia mendengar seseorang bernyanyi dengan gitarnya, suaranya terdengar sangat merdu, juga ia sangat mahir memainkan gitarnya. Vaye diam diam menikmati alunan lagu yang di nyanyikan pria itu.
' Suaranya bagus juga.' Batin Vaye.
Tiba tiba suara itu berhenti, dan barulah muncul seseorang dari gazebo lain disana. Rupanya yang bermain gitar adalah pemuda yang seusia dangan Vaye, ia bertubuh tinggi, putih, sepertinya blasteran Jerman dan Asia.
Tatapan keduanya tak sengaja bertemu, namun keduanya juga saling acuh. Hingga akhirnya Vaye pun memutuskan untuk kembali ke unit apartemen nya.
Ke esokan harinya, sekitar jam 4 pagi Vaye yang tidak bisa tidur itu, kini memutuskan untuk berolah raga di gym. Walaupun itu bukan di sekolah, ia tetap menggunakan kaca mata tebalnya saat pergi kemanapun.
Tiba tiba tatapannya bertemu dengan Nicholas. Saat ini Nicholas tengah berdiri di pinggiran kolam, mungkin dia akan berenang.
' Jadi dia juga tinggal di gedung apartemen yang sama denganku? ' Batin Vaye.
' Dia mengabaikan aku, ck.. Dasar gadis culun. Tapi sejak kapan dia tinggal disini, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.' Batin Nicholas.
Rupanya Nicholas diam diam melirik kearah Vaye, entahlah.. Seakan ada magnet yang menarik pandangan Nicholas untuk melirik Vaye.
' Dia tangguh juga, sudah dua jam dia berlari disana.' Batin Nicholas.
Nicholas menyudahi aktifitas renangnya, ia mengeringkan tubuhnya lalu pergi dari kolam renang. Dan disaat yang bersamaan juga Vaye menyudahi aktifitas Gym nya, lalu ia pun membuka pintu ruang Gym.
" Makan apa, ya.. mmm.. " Gumam Vaye.
Vaye tidak menyadari Nicholas berada di belakangnya karena fokus dengan ponselnya. Saat lift terbuka, rupanya di dalamnya ada pria semalam yang bermain gitar. Vaye masuk, dan saat berbalik badan, ia terkejut karena Nicholas berada tepat di depannya.
" Hua!!" Vaye terkejut karena hampir bertabrakan dengan dada Nicholas.
" Fokus saat berjalan." Ucap Nicholas.
" Mana aku tahu kamu ada di belakangku, kamu tiba tiba muncul seperti hantu." Ucap Vaye kesal.
__ADS_1
" Ck, kamu selalu saja membantah ucapanku." Ucap Nicholas, sambil menekan tombol unit apartemen nya.
Vaye tak menghiraukan lagi ucapan Nicholas, ia menekan unit tempatnya tinggal dan menjauh dari Nicholas. Posisi mereka saat ini adalah Vaye di depan, dan Nicholas dengan pria itu ada di belakang Vaye.
Vaye sampai lebih dulu, dan langsung keluar dari lift tanpa mengucapkan apa apa pada Nicholas. Setelah Vaye pergi, Lift pun hening.
" Mau apa lagi kau datang?" Ucap Nicholas. Rupanya mereka berdua saling mengenal.
" Nic, bisakah kamu tidak keras kepala? Sebentar saja duduk bersamaku dan kita bicaralan baik baik. Sudah lima tahun kamu tidak pulang." Ucap pria itu.
" Kenapa juga kau peduli padaku? pergilah, selagi aku sedang dalam suasana hati yang baik." Ucap Nicholas.
" Nic.."
" Jangan datang lagi kemari, dengar itu." Ucap Nicholas dan langsung pergi keluar setelah lift terbuka.
Pria itu sampai diam, tak bisa berkata apa apa. Ia juga tidak keluar dari lift, dan hanya diam di lift sampai lift kembali tertutup dan turun ke bawah.
Akhir pekan sudah berlalu, dan kini semua murid kembali belajar seperti sedia kala. Vaye turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke kelas. Sesampainya di kelas, ia mendengar bisikan bisikan dari teman sekelasnya.
" Dia sudah masuk kelas lagi? Kamu yakin melihat dia di bawah?" Ucap salah satu murid.
" Ya, aku melihatnya di bawah, dan seperti biasanya Nicho memandang dia dengan tatapan permusuhan." ucap yang lain nya.
" Lini, apa kamu tahu apa yang terjadi?" Tanya Vaye pada Lini.
" Itu, musuh Nicho sudah masuk hari ini. Itu dia, dia sudah datang." Ucap Lini.
Vaye melihat kearah yang Lini lihat, rupanya pria yang bermain gitar saat di taman apartemen.
' Ha, dia satu kelas dengan ku? Kenapa aku tidak melihatnya kemarin.' Batin Vaye.
" Dia adalah Timothy, satu satunya teman Nicholas tapi mereka menjadi musuh, sejak lima tahun yang lalu." Ucap Lini.
Bisa di pastikan, Lini menyaksikan keduanya, karena mereka menjadi satu kelas sejak di bangku sekolah dasar.
Tiba tiba Nicholas pun masuk ke kelas dan duduk dengan wajah datar dan dingin nya. Pria bernama Timothy itu rupanya duduk di sebelah Vaye, kini Vaye berada diantara Timothy dan Nicholas.
' Atmosfer jenis apa ini? ' Batin Vaye.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..