
Ethan sedikit penasaran sebenarnya siapa yang menghubungi Yara hingga wajahnya begitu berubah.
" Kau masih berani mengikutiku? 3 Anjing mu sudah ku singkirkan semalam, selanjutnya mungkin kau sendiri Nyonya Evron." Ucap Yara dengan nada di tekan.
Ethan terkejut mendengarnya , Nyonya Evron itu tak lain dan tak bukan adalah ibu tirinya sendiri sekaligus musuhnya.
" Berikan padaku!" Ethan langsung menyambar ponsel Yara.
" Kau berani kembali, apakah sudah siap menemui ajal?" Tanya Ethan. Terdengar tawa yang sumbang dari Kristin.
" Sepertinya memang benar, kalian cocok sebagai kekasih. Lihatlah, kalian saling melindungi. Aku tidak keberatan dia menjadi menantuku." Ucap Kristin.
" Kau bukan ibuku, juga bukan keluargaku. Sebaiknya kau pikirkan saja putra kandungmu sendiri yang kau telantarkan." Ucap Ethan lalu langsung mematikan panggilan itu.
" Katakan kepadaku, apa dia sudah melakukan sesuatu kepadamu?" Tanya Ethan kepada Yara.
" Bukan urusanmu tuan." Ucap Yara ketus.
" NAYARA VALERIE!" Bentak Ethan cukup keras. Ethan menarik Yara dan keluar dari restoran cepat saji itu menuju mobil Ethan.
" Jika kau ingin segera lepas darinya, maka kita harus bekerja sama Yara, Bukankah musuh kita sama? Tolong jangan keras kepala apakah kamu tidak bisa? Aku tahu kau sakit hati kepadaku, tapi sungguh itu bukan keinginanku membunuh pak Bima saat itu. Berapa kali harus aku jelaskan?" Ucap Ethan setelah saat ini mereka berdua berada didalam mobil.
" Tatapanmu, dan diamnya dirimu saat itu sudah cukup memberiku jawaban, bahwa kau.. Mencurigaiku sebagai mata mata dan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padaku. Jika saat itu aku tidak melompat ke laut, bukankah saat ini aku sudah menjadi tulang belulang ditanah seperti apa yang terjadi dengan pak Bima? Mudah sekali kau berucap?" Tegas Yara. Matanya bahkan tidak berkedip menatap Ethan dengan dingin.
"Aku minta maaf." Ucap Ethan tanpa Ragu. Hal itu membuat Yara sedikit terkejut. Seorang Ethan Dominique, ketua Bloid meminta maaf?
" Sesaat setelah kau melompat, aku menghubungi Rayson dan tim nya untuk mencarimu, tapi bagai di telan bumi kau tidak dapat ditemukan dimana pun. Dimana kau selama ini?? " Ucap Ethan lagi.
" Tidak penting dimana aku selama ini. Yang penting aku sudah melunasi hutangku dengan memancing ibu tirimu keluar." Ucap Yara.
" Memancingnya keluar bukan berati sudah mengalahkan nya kan? Yara, tolong dengarkan aku.. Mari kita bekerjasama seperti sebelumnya." Ucap Ethan.
Yara mengernyit bingung. ' Sebenarnya setan apa yang sudah membuat Ethan jadi idiot? Ataukah dia mengalami gegar otak? kemana sifat dingin yang selalu dia tunjukan padaku Apa karena kini identitasku sudah diketahui? ' Batin Yara bermonolog.
" Yara kau sungguh tidak ingin membalaskan dendam atas kematian kakek Todd kah?" Ucap Ethan, dan itu berhasil membuat Yara terkejut.
" Apa maksudmu? Kakek meninggal karena sakit jantungnya." Ucap Yara.
" Tidak.. Kakekmu meninggal bukan karena sakit jantung. Sebelum aku mengeksekusi Jamie dia tertawa sumbang, dia berkata bahwa ia telah menghabisi kakekmu lalu asistennya yang tak lain adalah pak Bima." Ucap Ethan.
DEG.!! DEG.!! DEG!!.
Yara terkejut bukan main, bahkan sebelum dirinya diusir dari rumah Todd dulu, mahkota berduri sudah bergerak.
" Sebenarnya mengapa ibu tirimu ingin menghabisi keluargaku dan kekuargamu? Meskipun aku cucu angkat disana, kakek sudah seperti kakekku sendiri. Dia yang paling sayang padaku, dia orang baik.."
" Untuk detailnya aku tidak tahu.. Yang jelas Kristin ingin menghancurkan semua kelompok mafia. Maka dari itu, bekerjasamalah denganku, kita balaskan dendam kita bersama." Ucap Ethan.
Sebenarnya Ethan bisa saja menghadapi Kristin sendiri bersama dengan kelompok mafianya, namun kemudian ia mengingat pesan kakeknya untuk melindungi Yara karena Yara cucu kesayangan mendiang Davis Todd.
Entah itu adalah alasannya, ataukah dia punya alasan lain namun Ethan belum menyadarinya.
Yara menatap mata Ethan mencari sedikit kebohongan agar ia bisa menolak dengan tegas. Namun ia tidak menemukan itu, justru yang di lihatnya ini adalah mata yang hangat.
" Jika semua ini berakhir, berjanjilah hutang diantara kita sudah impas." Ucap Yara akhirnya.
" baik, Jadi apakah kau menerima tawaranku untuk bekerjasama.?" Tanya Ethan.
" Akan aku pikirkan." Ucap Yara, setelah itu Yara keluar dari dalam mobil Ethan.
Ethan menatap punggung Yara yang menjauh, sebenarnya Ethan sudah merasa jika selain pengawal rahasianya ada pengawal lain yang ikut memantau dirinya dan Yara, terlebih lagi saat tiba tiba 4 orang pria ading ikut berdiri saat dirinya dan Yara keluar dari restoran cepat saji.
" Sebenarnya dengan siapa kamu tinggal selama ini? kenapa kamu semakin misterius, bahkan aku tidak bisa melacak atau mencari tahu tentangmu setelah kau menghilang hingga sekarang kau sudah kembali. Kita tinggal di negara yang sama, tapi mengapa seakan kau tinggal di benua lain, sangat sulit mencari tahu tentangmu." Ucap Ethan, dan Yara pun sudah tak terlihat lagi.
Yara berjalan memutar di belakang restoran cepat saji, dan sudah ada mobil supirnya disana.
" Nona, ternyata nomor itu nomor sekali pakai. Kami tidak bisa melacak keberadaan nya." Ucap salah satu pria yang mengawal Yara yang melaporkan tentang nomor Kristin yang sebelumnya menghubungi Yara.
" Dia sangat berhati hati tentu saja. Apakah Sandy menghubungi kalian?" Tanya Yara.
__ADS_1
" Tuan Sandy saat ini masih berada di perusahaan, Malam baru pulang nona." Ucap Pengawal itu.
" Baiklah, tolong antarkan aku ke kediaman Todd." Ucap Yara.
Mobil itu pun melaju menuju kediaman Todd, sepanjang jalan Yara menatap senja yang mulai memerah, sembari memikirkan perkataan Ethan yang mengatakan bahwa kematian kakeknya adalah ulah Kristin. Jika bemar demikian, kemungkinan Davis mungkin memiliki sesuatu yang membuat Kristin mengincarnya.
Setelah 30 menit akhirnya Yara sampai disana. Namun ternyata Yara harus bertemu dengan sosok orang yang ia benci hingga ke tulang tulang.
" Kenapa kau masih disini? bukankah kau sudah memiliki tempatmu sendiri Darren Todd" Ucap Yara pada orang itu.
Ya, pria yang Yara benci hingga ke tulang tulangnya adalah Darren Todd.
" Yara kau sudah kembali? aku menunggumu setiap hari di depan sini." Ucap orang itu.
" Aku tidak memintamu menungguku." Ucap Yara dingin.
Darren mencoba menyentuh tangan Yara, namun ke empat pengawal Yara sigap menahan tangan Darren.
" Yara, aku minta maaf atas semuanya. Yara bukan maksudku dulu membuatmu begitu malu dan terhina hingga di usir dari rumah, aku terpaksa. Sebenarnya orang yang aku cintai dari awal adalah kamu, tolong percaya aku." Ucap Darrwn dengan tidak tahu malunya.
Yara menaikan sebelah alisnya, Mengapa ada manusia berwajah tebal seperti orang yang ada di hadapannya saat ini.
" Oh, iya kah?" Ucap Yara singkat.
" Iya Yara, percayalah pada kakak, kakak sangat mencintaimu Yara, kita bisa mulai dari awal lagi oke.?" Ucap Darren dengan wajah memelas.
Yara hanya tersenyum miring mendengar itu.
" Kau.. mencintai aku, atau harta ku? Kau pikir aku tidak mengenalmu? Cih, kita mulai dari awal katamu? Hatimu sudah dimakan anjing kah?" Ucap Yara dengan nada di tekan dan sorot mata penuh kebencian.
Darren ketakutan melihat sorot mata itu, mengapa Yara kini menjadi semakin sulit dikendalikan pikirnya.
" Aku bukan Nayara Valerie yang dulu bisa kau bodoh bodohi dengan kata cinta dan janji palsumu. Kau pikir aku tidak tahu kau mendekatiku karena kau sedang butuh uang?" Ucap Yara lagi.
DEG
Darren terkejut, mengapa Yara bisa tahu niatnya.
PLAK.!!
Sebelum Darren menyelesaikan kalimatnya, Yara lebih dulu melayangkan tamparan yang cukup keras, hingga membuat sudut bibir Darren berdarah dan pipinya langsung memerah.
" Kau sungguh pria paling brengsek yang pernah aku temui Darren Todd, Sungguh.. Aku sangat menyesal mengenalmu." Ucap Yara.
" Bawa dia pergi dari sini, terserah mau kalian apakan asal jangan dibunuh." Ucap Yara lalu melangkah masuk kedalam kediaman Todd.
" Yara, kakak minta maaf, tolong Yara jangan begini. Yara.. Yara.. Ugh.!" Teriak Darren frustasi.
Yara membuka pintu kediaman Todd, pintu yang dulu menyambutnya pertama kali sejak ia datang dari panti asuhan. Yara masih sangat ingat dengan jelas tawa Davis Todd saat menyambut Yara. Seketika muncul kenangan kenangan masalalu yang muncul di mata Yara.
" Kakek, aku datang." Ucapnya sembari melangkah masuk.
Itu adalah pertama kalinya ia kembali lagi setelah ia kabur saat dulu membawa surat wasiat tertulis Davis untuknya. Mansion besar itu tampak sangat sepi, tidak ada satupun manusia disana. Yara naik keatas, ia menuju kamar mendiang Davis.
CKLEK!
Suara pintu kamar terbuka.
Yara masuk, seketika tercium bau bauan kayu tua khas Davis saat masih hidup dulu. Matanya menggenang, aroma itu, tawanya, kebersaman mereka, Yara rindu semuanya. Luruh sudah air matanya, Yara duduk di ranjang milik Davis, matanya melihat ke sekeliling. Barang barang antik disana sudah banyak yang hilang, dan Yara yakin sekali siapa pelakunya. Tentu saja Carig Todd sekeluarga.
" Kakek, Yara rindu.. " Ucapnya ketika melihat sebuah foto Davis yang terpajang di nakas.
Tangan Yara tidak sengaja menjatuhkan sebuah cerutu tua milik Davis, cerutu itu masuk kedalam kolong ranjang yang sempit. Tangan Yara berusaha mencari cerutu itu, ia menjangkau kesana kemari namun tiba tiba tangan nya menyentuh sebuah nenda.
" Apa ini, kenapa kakek menaruhnya di kolong ranjang?" Ucap Yara.
Yara berusaha menarik benda itu, namun tidak bisa. Benda itu seperti tidak bergerak sama sekali, satu satunya cara adalah menggeser ranjang Davis.
Akhirnya dengan sekuat tenaga ia mencoba mendorong ranjang itu. Pelan namun pasti sedikit demi sedikit ranjang itu pun bergerak kesamping.
__ADS_1
Yara bisa saja memanggil 4 pengawalnya yang berbadan besar itu untuk membantunya menggeser ranjang, namun Yara tidak ingin kamar mendiang kakeknya itu dimasuki sembarang orang.
" Huft.. huft.. huft.. " Terdengar nafas yara yang memburu.
Akhirnya ranjang itu tergeser sepenuhnya, terlihat pintu kayu yang seperti menutupi sesuatu di baliknya namun pintu itu dikunci dengan sandi. Yara mencoba memasukan beberapa angka disana , dari tanggal ulang tahun kakeknya, tanggal ulang tahun pernikahan kakeknya, hingga tanggal ulang tahun Carrig serta anggota keluarga lainnya. Tapi nihil, pintu itu tidak terbuka.
" Aih... apa sandinya.? " Yara berpikir keras, seketika ia dengan ragu menekan beberapa angka lagi dan..
KLIK.!!
Terbuka, pintu itu akhirnya terbuka. Berjam jam Yara duduk disana, hingga tak menyadari hari sudah sangat gelap.
" Aku tidak menyangka, ternyata kakek selalu mengutamakan aku." Ucapnya terharu dengan berkaca kaca. Bagaimana tidak, sandi pintu kayu itu adalah tanggal lahir Yara yang tidak pernah yara sangka.
Yara membuka pintu itu, terlihat sebuah kotak kayu tua dengan ukiran khas zaman dulu. Terlihat juga setumpuk dokumen dokumen disana, juga ada sebuah figura foto berukuran sekitar 30 x 15 cm disana. Yang Yara ambil pertama adalah sebuah figura.
Terlihat ada foto beberapa orang yang Yara kenal berdiri disana. Diantaranya Davis, Bima, John, dan seorang pria yang tak pernah Yara temui. Dari foto itu, terlihat kemungkinan saat usia mereka masih sekitar 35 tahunan, karena wajah mereka teihat masih muda.
" Siapa pria ini?" Ucap Yara, Dibalik foto itu ternyata ada sebuah tulisan yang mengatakan 'Pendiri Mahkota Berduri' Dan nama nama dari masing masing pria itu.
" Damian Maxwell? Jadi pria ini kakek kandungku yang belum pernah aku temui? " Yara meliha lamat lamat foto kakeknya, memang sedikit ada kemiripan dengan ayah kandungnya yang saat ini tengah koma.
" Aku tidak tahu hal apa yang membuat kakek menitipkan aku pada kakek Todd, apakah karena kebencian? ataukah hal lainnya?" Ucap Yara pada firinya sendiri.
Yara mengesempingkan figura foto itu, lalu tangan nya meraih sebuah kotak kayu tua yang tidak terkunci. Yara membuka kotak itu, lalu terlihat disana ada sebuah lambang Mahkota berduri, ada juga foto bayi yang Yara tidak tahu siapa, Lalu ada sebuah benda yang terlihat seperti cap segel seperti di kerajaan kuno.
" Kenapa kakek menyimpan benda seperti ini? ini seperti segel kerajaan zama dulu yang ada di film film." Ucap Yara.
Yara membuka segel itu, dan ternyata ada tulisan 'mávros Drákos' di segel itu.
" mávros Drákos , Bahasa Yunani, yang artinya Naga hitam. " Ucap Yara.
Kemudian Yara mengingat sesuatu,
' Kristin adalah orang Yunani menurut penyelidikan, dan dia adalah putri dari mafia besar di eropa selatan, apakah ini ada kaitannya? apakah mávros Drákos ini adalah nama kelompok mafia orang tua Kristin? Jadi apakah tujuan Kristin menyerang adalah untuk segel ini?' Bati Yara bermonolog.
Tak ingin buntu dengan pertanyaan nya, Yara pun membuka setumpuk dokumen dokumen itu, guna mencari petunjuk apapun itu tentang mávros Drákos itu.
Yara membaca semua itu, namun ada beberapa yang tidak ia mengerti, karena beberapa diantaranya menggunakan bahasa Yunani kuno yang sulit di terjemahkan. Merasa sudah lelah, akhirnya Yara bangkit dari duduknya, dan melihat ponselnya.
" Astaga sudah jam 11 malam." Ucapnya. Terlalu fokus, membuatnya tidak menyadari sekitar. Bahkan dering ponsel pun tidak ia sadari.
Ring... Ring..
Bunyi ponsel Yara berdering. Itu adalah panggilan ke 173 kali dari Sandy.
" Halo.."
" Nona, apakah kamu baik baik saja? kenapa tidak mengangkat panggilan saya?" Ucap Sandy beruntun.
" Maaf, Aku berada di kediaman Todd, aku menemukan beberapa bukti bukti yang akan membawa semua ini ke titik terang." Ucap Yara.
" Apa maksud nona, saya sudah berada di halaman kediamam Todd, sebaiknya kita kembali karena terlalu berbahaya disini." Ucap Sandy.
" Baik, aku akan segera turun." Ucap Yara .
Yara kemudian mengemasi barang barang itu lalau ia bawa keluar. Yara terkejut melihat siapa yang juga berada di halaman depan kediaman itu.
Terlihat Sandy dan Ethan yang sedang bertatapan, tatapan itu menyiratkan permusuhan.
" Kanapa CEO Sandy ada disini malam malam" Tanya Ethan kepada Sandy dengan tidak ramah.
Ya, dunia bisnis tentu saja sangat luas. Mereka tentu saling mengenal satu sama lain, namun Ethan terkejut saat melewati kediaman Todd ada banyak mobil terparkir dan Ethan melihat sosok Sandy yang ia kenal dalam dunia bisnis tengah berdiri di samping mobilnya menatap kediaman Todd itu.
" Presdir Ethan, apakah anda tidak salah bicara? Atau anda sedang mabuk dan salah mengenali rumah? Ini adalah kediaman Todd." Ucap Sandy, juga tidak dengan ramah.
Ya, mereka adalah musuh bebuyutan didalam dunia Bisnis.
" Kamu sudah selesai?" Tanya Sandy ya g melihat Yara keluar.
__ADS_1
" Yara.." Ucap Ethan terkejut.
TO BE CONTINUED...