
Saat ini, seorang pria nampak sedang melaporkan pekerjaan nya, pria yang Yara lihat di loby itu ternyata orang kiriman kakak nya yang di tugaskan diam diam mengikuti dan melindungi Yara. Pria itu bernama Sandy tangan kanan kakaknya di Ghost.
" Astaga Ryu, adikmu ini memiliki filing yang sangat kuat. Dia sangat peka bahkan aku yang sudah terbiasa mengintai orang pun dia tau keberadaanku, Dia benar benar seperti dirimu boss." Ucap Sandy dalam panggilan nya.
"..... "
" Iya.. iya.. Dia juga adikku, tentu saja aku akan melindunginya dengan baik. Kau baik baiklah menjalani semua tugas negaramu Hahaha.." Ucapnya sembari tertawa lepas. Ia tidak tahu saja bahwa orang yang saat ini sedang ia bicarakan tengah berdiri di belakangnya.
"... "
" Iya iya.. Kalau begitu aku akan.. ASTAGA KAMBING.!! " Ucap nya terkejut. Saat ia berbalik badan, ia langsung bertatap muka dengan Yara.
" Ya.. Yara.. maksudku adik." Ucap Sandy tergagap.
" Jadi kau siapa? apakah kakak yang menyuruhmu?" Tanya Yara.
" Ah, hehehe.. Iya.. " Ucap Sandy gugup, entah mengapa damage Yara ini lebih menyeramkan dari pada Ryu menurutnya. Meskipun Ryu terkenal sebagai iblis gila, tapi aura Yara seperti lebih membuatnya tertekan.
Yara langdung merebut ponsel Sandy dan melihat panggilan itu yang sudah di akhiri dari pihak sana.
" Haih.. Kakak .. kakak.." Ucapnya menghela nafas.
" Ya sudah, kak Sandy mau berada di sampingku atau memantau dari jauh?" Tanya Yara.
" Kakak akan memantau dari jauh saja, bagaimanapun banyak yang mengenalku dari pihak mafia lain maupun publik. Akan sangat aneh jika tiba tiba kakak berada disampingmu." Ucap Sandy.
Yara bingung, memangnya siapa pria itu? ia saja tidak mengenalnya. Tentu saja Yara tidak mengenalnya, dunianya dulu hanya ada Darren seorang. Sebenarnya selain Ethan, Sandy juga salah satu pria muda yang menonjol. Di dunia luar ia dikenal sebagai CEO dari SAL Corporation salah satu perusahaan besar, serta pemilik rumah sakit besar di Jakarta.
" Tampangmu ini, mengapa seperti tidak percaya.?" Tanya Sandy pada Yara.
" Memang aku tidak percaya." Ucap Yara dingin.
" Aih, ya sudah.. Kamu cari tahu saja sendiri agar percaya. Nama kakak Sandy Andrea Loo kau bisa cari sendiri. Dan ingat, jangan kaget apalagi terpesona." Ucap Sandy percaya diri.
" Sudah tua tidak ingat umur." Ucap Yara spontan.
" Uhuk.!! Hei, aku tidak setua itu, usiaku 28 tahun ini." Ucap Sandy. Bagaimana bisa Yara mengatakan dirinya tua, apakah wajahnya memang setua itu.
" Tua." Ucap Yara lalu melangkah pergi meninggalkan Sandy dengan sejuta umpatan nya yang tidak bisa ia keluarkan.
Mengapa usia Sandy lebih tua dari Ryu, karena memang mereka bukan teman sepermainan, melainkan Ryu adalah penolong Sandy saat ia sekarat karena hampir mati di bunuh keluarganya sendiri. Mereka bertemu sekitar 5 tahun yang lalu, saat Ryu masih berusia 13 tahun. Di usia semuda itu ia sudah memimpin sebuah Mafia tersembunyi bahkan Ryu sidah memimpin Mafia GHOST itu sejah usianya 9 tahun.
__ADS_1
Jangan tanya bagaimana Ryu memimpin mafianya, Ia adalah anak dengan sejuta kejeniusan, IQ nya diatas rata rata. Ia bahkan mampu menggulingkan sebuah perusahaan raksasa dengan komputer di tangannya. Ia mengumpulkan semua anggotanya dengan cara sedikit langka dan aneh, tapi menghasilkan kekuatan GHOST yang selama ini tersembunyi.
Yara tidak menghiraukan Sandy lagi, saat ini tujuan nya adalah datang ke kediaman Ethan.
Ia berjalan menuju garasi di lantai bawah gedung apartemen itu, tujuan nya adalah untuk mengambil motor kesayangannya, si kuning.
" Kita bertemu lagi kuning, semoga kebersamaan kita kali ini tidak akan singkat seperti yang lalu." Ucap Yara sembari mengelus motor besar berwarna kuning itu.
Yara menyalakan mesin motornya, lalu melaju pergi dari sana. Sepanjang jalan ia menjadi ousat perhatian. Bagaimana tidak, ia menggunakan kemeja berwarna biru muda tanpa di kancing dengan kaos polos putih di dalamnya. Helm full face berwarna putihnya menambah kesan ke maskulinan Yara.
Tak lama motor itu berhenti di depan sebuah gerbang besar. Gerbang kediaman Ethan yang dulu pernah menampungnya.
" Y " Ucap seseorang saat membuka gerbang.
Padahal Yara belum menekan bel pintu sama sekali.
Keluar 2 sosok yang Yara kenal, Dawn dan Noah.
Mereka berlari menghamipiri Yara dan bersiap akan memeluk Yara, namun dengan sigap Yara mengangkat tangan nya menolak.
" Aku datang untuk bertemu dengan pimpinan kalian." Ucap Yara dingin. Entahlah, masih terbesit rasa kecewa dihatinya dengan dua orang itu.
" Y, apa kau membenci kami? kami minta maaf, saat itu kami hanya bisa mengikuti perintah ketua." Ucap Dawn.
Dawn dan Noah hanya bisa saling pandang, lalu dengan wajah sedih mereka mengantar Yara masuk kedalam kediaman Ethan. Saat ia baru memasuki rumah itu, sosok yang akhir akhir ini ia pikirkan tiba tiba lari dan berhambur kepelukan nya.
" Adik Y.. Aku tahu kau pasti masih hidup, adikku ini kuat, aku tidak akan pernah salah menilai" Ucap Jilian. Ya orang itu adalah Jilian, meskipun Jilian sudah tahu Yara seorang perempuan, tapi di hatinya Yara tetaplah adik angkatnya.
" Kau sudah sadar kak?" Tanya Yara dengan tatapan menghangat.
" Aku belum lama sadar. Saat aku mengetahui kabar itu, hal pertama yang aku lakukan adalah menyesal, menyesal karena tidak bisa melindungi adikku ini." Ucap Jilian dengan suara sedikit sedih dan merengek.
Yara benar benar merasa De Javu, sikap Jilian ini benar benar sebelas dua belas dengan kakanya Ryuchie. Ia merasa seakan ia tengah menghadapi kakaknya.
" Aku sudah kembali, dan baik baik saja. Terimakasih karena kakak mengkhawatirkan aku, dan juga terimakasih karena tidak menyerah." Ucap Yara.
" Ayo kita masuk, semua orang sudah lama menunggumu pulang, kamarmu juga selalu di rapikan." Ucap Jilian antusias sembari menarik tangan Yara. Namun Yara justru mematung di tempat.
" Kenapa? ayo masuk.. kita adalah keluarga." Ucap Jilian lagi.
' Dihatiku kediaman ini sudah menjadi musuhku kecuali dirimu kak.' Batin Yara bermonolog.
__ADS_1
" Aku datang untuk bertemu dengan Tuan Dominique." Ucap Yara dengan menyebut nama belakang Ethan.
Jilian yang mendengar itu merasa sedih, ia kembali mengingat apa yang teman bodohnya itu lakukan kepada Yara sehingga kini Yara menjadi asing. Bukan hanya Jilian, rupanya Ethan juga mendengar itu. Ia sudah berdiri sedari tadi di sudut ruangan mengamati interaksi Yara dan Jilian yang membuatnya tidak nyaman.
' Dia membenciku' Batin Ethan berucap.
" Kau datang?" Ucapnya setelah mengumpulkan keberanian nya.
Yara menatap Ethan dingin, di ingatannya masih terekam jelas bagaimana tidak pedulinya Ethan dengan nyawanya serta Bima.
' Tatapanya berubah, dan ia juga mengganti warna rambutnya menjadi semula' Batin Ethan bermonolog.
" Kau mengganti warna rambutmu lagi?" Ucap Ethan lagi.
Yara sedikit bingung, mengganti warna rambut? tapi kemudian ia ingat, kakaknya pernah menemui Ethan, pasti yang di lihat oleh Ethan adalah kakaknya.
" Bukan urusanmu tuan, aku datang untuk memberimu ini." Ucap Yara sembari menyodorkan sebuah map.
" Itu adalah semua data tentang Mahkota berduri yang kau cari. Aku anggap hutangku sudah lunas." Ucap Yara
" Tidak bisa.!" Ucap Ethan.
" Apa maksudmu Tuan Dominique!?" Tanya Yara dengan tatapan dinginnya.
" Kau harus ikut serta dalam menyelesaikan maslah ini, ingat posisimu juga terancam." Ucap Ethan
" Aku bisa mengatasinya sendiri tuan, Hutangku sudah lunas, aku permisi." Ucap Yara sembari berbalik badan. Namun Ethan langsung mencegahnya dengan menarik pergelangan tangan Yara.
" Aku belum menganggap hutang mu lunas, Nayara Valerie."
DEG.!!
Jantung yara berdetak keras, ia terkejut bagaimana bisa Ethan menyebutkan identitasnya di depan orang lain.
" Kakek ku ingin bertemu denganmu, ini juga masalah Mahkota berduri." Ucap Ethan lagi.
" Aku tidak mau, aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan kalian, tidak atasan, tidak teman, tidak juga partner kerja sama. Hutangku sudah lunas hari ini." Ucap Yara menegaskan.
DEG! DEG! DEG!
Ethan terpaku dengan ketegasan Yara. Tatapannya, suaranya, menyiratkan kebencian yang mendalam. Ethan bahkan sampai tidak menyadari jika Yara sudah tidak berada dihadapanya lagi.
__ADS_1
' Dia... Berubah.'
TO BE CONTINUED.