
Vaye dan Edmund berjalan di mall, Edmund memutuskan untuk menemani adiknya itu berbelanja. Edmund geleng geleng kepala saat membuka kulkas Vaye di apartemen, kosong seperti rumah hantu. Jadi sekarang mereka memutuskan untuk belanja semua kebutuhan Vaye.
" Apel?? " Tawar Edmund.
" Maaf aku bukan snow white." Ujar Vaye, dan Edmund pun terkekeh.
" Vaye... " Ucap Edmund.
" Hehe, iya iya... " Ucap Vaye.
Tapi rupanya, ada seorang teman yang berada dalam satu kelas melihat Vaye disana. Ia pun kagum saat melihat Edmund yang begitu tampan.
" Ck, gadis cupu itu beruntung sekali. Di sekolah dekat dengan Timothy, di luar sekolah juga ada pria tampan lainnya. " gumamnya, tapi lalu pergi dari sana.
Vaye masih menggunakan kaca mata tebalnya, bahkan rambutnya di kepang dua oleh Edmund. Ya, Edmund yang sejak kecil sedingin es kutub utara itu begitu hangat jika bersama orang orang terkasihnya.
Edmund sangat menyayangi dua perempuan teristimewa di hatinya, yaitu Yara, ibunya.. dan Vaye, adiknya.
Akhirnya aktifitas belanja Edmund dan Vaye pun berakhir. Mereka pergi dengan begitu banyak barang belanjaan di tangan Edmund.
" Kamu cari restoran saja, kakak akan bawa pulang belanjaan ini keatas." Ucap Edmund.
" Oh, oke.. " Ucap Vaye.
Mereka pun berpisah, Vaye mencari restoran untuk ia makan malam dersama Edmund. Tiba tiba seseorang menepuk pundaknya.
" Vaye??" Ucap pria yang berusia 40 tahunan.
" Paman Jilian? " Ucap Vaye terkejut.
Jil, Jilian.. Jilian telah menjelma menjadi laki laki yang penuh karsima. Dia menggunakan kaca mata sekarang, dan rambutnya juga di biarkan memanjang dan di kuncir kebelakang.
" Kamu disini, dengan siapa?" Tanya Jilian.
" Dengan kakak, kak Edmund. Tapi dia sedang menaruh belanjaan di atas." Ujar Vaye.
" Atas? Kamu tinggal di sini?" Ucap Jilian.
" Ya, Vaye tinggal di apartemen ini." Ujar Vaye.
" Oh.. bagaimana sekolahmu, kamu kan sudah lulus sayang, kenapa sekolah lagi?" Ujar Jilian.
" Ayo ikut paman, paman baru buka restoran baru disini. Lain kali kamu harus sering sering mampir." Ucap Jilian.
Jika 17 tahun yang lalu Jilian adalah pemuda cerewet, kini dirinya adalah laki laki penuh wibawa, bahkan semua wanita yang melihatnya pun jatuh cinta padanya. Sayangnya Jilian belum mau menikah.
Vaye dan Jilian duduk di sebuah restoran baru milik Jilian. Jilian yang tidak di akui keluarganya dulu, kini menjadi laki laki hebat yang berdiri dengan kakinya sendiri, dia seorang Chef profesional sekaligus pemilik sekolah dimana Vaye belajar sekarang.
__ADS_1
Namun sama seperti Vaye, Jilian juga menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik sekolah. Dia lebih menikmati menjadi seorang Chef saja.
" Ini menunya, silahkan tuan putri pilih mau makan apa." Ucap Jilian, sambil mengusap usap kepala Vaye.
" Vaye sudah besar paman, bukan Vaye kecil lagi." Ucap Vaye.
" Tapi bagi paman, kamu tetap bayi kecil kesayangan paman." Ucap Jilian.
Kedekatan Vaye dengan Jilian itu lagi lagi dilihat oleh teman kelas Vaye. Dia sampai menutup mulut karena melihat Vaye yang mau maunya di usap kepalanya oleh pria yang terlihat sangat dewasa.
" Ewww.. Ternyata gadis cupu itu kesehariannya jual diri, sebelumnya dia dengan pria tampan, sekarang dengan pria dewasa. Wah.. harus aku masukan ke group, besok pasti heboh." Ujar gadis itu. Lalu pergi dari sana.
" Halo kak, Oh.. Di lantai 3. Ada paman Jilian disini." Ujar Vaye yang mengangkat telepon nya.
Tak lama, Edmund pun muncul. Edmund begitu terkejut melihat penampilan Jilian yang sekarang.
" Astaga.. Keponakan paman sudah sangat besar. Kenapa badanmu jadi seperti Hulk begitu? " Ucap Jilian yang tak kalah terkejut melihat tubuh Edmund.
" Benar kan paman? Vaye juga berkata demikian sebelumnya." Ujar Vaye.
" Haih.. mulai kompak nya kalian." Ujar Edmund. Vaye dan Jilian terkekeh mendengarnya.
Nicholas kebetulan lewat disana, dan mendengar suara tawa Vaye. Ia pikir dirinya terngiang ngiang dengan tawa Vaye, tapi ternyata Vaye memang disana.
" Dengan siapa gadis cupu itu?" Gumamnya.
" Bukankah dia Chef yang terkenal itu? Chef Jilian. kenapa Vaye bisa mengenalnya. " Gumamnya lagi saat melihat Jilian.
Waktu berlalu, Vaye, Edmund dan Jilian telah selesai dengan makan malam mereka. Dan kini mereka pun berpamitan.
" Sering sering datang kemari, sayang. Paman akan memasakan makanan kesukaanmu." Ucap Jilian.
" Siap, bye paman." Ujar Vaye, mereka pun pergi dari sana.
Ke esokan harinya..
" Kakak ingin melihat sekolahmu, boleh?" Ujar Edmund.
" Tidak kak.. Nanti malah ketahuan, kakak itu sudah terkenal dengan ke jeniusan kakak." Ujar Vaye.
" Kamu juga.."
" Tidak, kakak tidak boleh datang titik." Ujar Vaye.
" Baiklah..." Ucap Edmund mengalah.
" Bye kak.. " Vaye lari sambil membawa roti di mulutnya.
__ADS_1
" Kamu melarang kakak datang dengan identitas kakakmu, kalau begitu kakak akan datang dengan identitas sebagai tamu kehormatan." Gumamnya setelah Vaye pergi.
Edmund hanya ingin memastikan lingkungan sekolah Vaye, dia tidak ingin adiknya salah pergaulan. Ia pun menggunakan taksi untuk datang ke sekolah adiknya.
Vaye sampai di sekolah, Ia berjalan di koridor dan merasa keanehan. Semua murid menatap dirinya aneh, dan berbisik bisik dengan kata kata hujatan kasar.
' Ada apa dengan mereka semua? ' Batin Vaye.
" Nah itu! dia datang.. Ih.. Bisa bisanya masih muda sudah begitu tidak tahu malu." Ucap teman kelas Vaye yang melihat Vaye versama Edmund dan Jilian.
" Aku? Tidak tahu malu?" Ucap Vaye menunjuk dirinya sendiri.
" Aku melihatmu kemarin di mall, dan kau dalam satu hari itu bertemu dengan dua pria yang berbeda. Kau pasti jual diri kan?? " Ucap teman kelas Vaye sambil menunjukan foto foto saat Vaye bersama dengan dua pria berbeda.
Foto itu di ambil dari belakang dan hanya wajah Vaye saja yang terlihat, sementara wajah dua pria itu tidak terlihat.
Vaye yang di katai begitu pun bingung, karena ia sama sekali tidak melakukannya, terlebih yang kemarin bersamanya adalah kakak dan pamannya.
Semua orang langsung menghina Vaye dan mengecam Vaye. Vaye bahkan di dorong dorong oleh semua orang hingga Vaye jatuh. Dan hal itu disaksikan oleh Edmund.
Edmund sampai tak lama setelah Vaye sampai, awalnya ia tersenyum melihat adiknya yang begitu semangat datang ke sekolah, hingga ia menjadi begitu emosi mendengar adiknya dikatai menjual diri dan di dorong hingga jatuh.
Edmund hendak maju, namun tiba tiba ada pemuda yang berdiri dan membuat semua murid disana terdiam.
" Jika kalian mengatakan hal itu lagi, aku pastikan tangan kalian akan patah satu persatu." Ucap Nicholas.
Ya, Nicholas maju melindungi Vaye, ia mengulurkan tangannya pada Vaye dan membantu Vaye berdiri.
" Aku ada disana saat itu, kami sedang makan malam bersama. Beraninya kau membuat gosip!" Ujar Nicholas emosi.
' Wah.. Adikku rupanya sudah memiliki guardian nya sendiri.' Batin Edmund.
" Bagaimana ini? Beritamu itu benar atau tidak! " tanya murid lain.
" Tapi aku tidak melihat Nicholas disana." Ucap gadis itu.
" Ck, kalian hanya sekumpulan para penggosip. Jika pun Vaye bersama pria di Mall memangnya harus kalian mengklaimnya menjual diri? siapa tahu pria itu ayahnya, atau kakak, kakek, adik, paman." Ujar Nicholas kesal.
" Bubar!! Jika sampai aku masih dengar gosip itu, maka jangan salahkan aku mematahkan tangan atau kaki kalian." Bentak Nicholas. Semua orang pun langsung bubar.
" Kamu tidak apa apa? " Tanya Nicholas pada Vaye.
" Apa itu tadi, kamu membelaku?" Ucap Vaye sambil terkekeh.
" Ish, di buly bukannya melawan malah diam saja. Kamu kuat membantingku ke lantai, masa tidak kuat membanting gadis gadis itu?" Ucap Nicholas.
" Toh itu hanya gosip. Terimakasih sudah membelaku, ayo masuk kelas." Ucap Vaye, lalu mereka pun masuk ke kelas.
__ADS_1
Edmund pergi ke ruangan lain di sekolah itu, tujuan nya saat ini adalah mencari kepala sekolah.
TO BE CONTINUED...