
Ke esokan harinya..
Vaye sedang berada di mall, ia sedang menunggu Nicholas di sebuah restoran untuk makan siang bersama. Rencananya, hari ini Vaye dan Nicholas akan mengunjungi ibu Nicholas. Nicholas sendiri saat ini sedang menemui dokternya di mall itu.
Tiba tiba seorang pria paruh baya duduk di depan meja Vaye, Vaye yang sedang asik dengan ponselnya pun melirik siapa gerangan pria yang duduk dihadapannya.
" Halo, Vaye." Ujar pria itu yang rupanya ayah Nicholas.
" Halo paman, apakah anda sedang menunggu seseorang juga?" Tanya Vaye ramah.
" Oh, tidak.. paman baru selesai bertemu dengan rekan kerja, lalu melihatmu duduk sendirian disini jadi paman menghampirimu." Ujar ayah Nicholas, dan Vaye hanya mengangguk.
" Ngomong ngomong kita belum berkenalan dengan baik. Nama paman adalah Prasetya kamu bisa panggil paman, paman Pras." Ujar Pras akhirnya.
" Ya, saya Vaye. " Ujar Vaye.
" Paman penasaran dengan hubungan antara kamu dan Nicholas, apakah kalian berpacaran?" Tanya Pras.
" Tidak paman, kami hanya teman." Ujar Vaye.
" Oh.. Tapi kelihatannya kalian sangat dekat. Kamu tahu bahwa Nicholas sangat kasar bukan? Dia memiliki tempramen yang buruk, mengapa kamu mau berteman dengannya?" Tanya Pras.
Seketika raut wajah Vaye berangsur berubah. Wajah ramah yang ia tunjukan tadi perlahan menghilang menjadi datar. Vaye tidak mengerti mengapa ada ayah yang berkata demikian tentang anaknya sendiri.
" Maksud paman berbicara seperti itu, apa??" Tanya Vaye.
" Hanya bertanya, paman tidak mengerti mengapa kamu mau berteman dengan Nicholas. Dari pada Nicholas, mengapa kamu tidak berteman dengan Timothy saja?" Tanya Pras.
" Timothy sering berkata bahwa Nicholas dekat denganmu, paman hanya kasihan padamu.. Jika kamu di paksa berteman dengannya, maka paman akan membantumu untuk terlepas darinya." Ujar Pras.
Vaye menatap Pras dengan pandangan tidak percaya, bahkan Vaye sampai menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Pras dengan santainya menjelekan Nicholas.
" Paman, biar saya beritahu paman tentang Nicholas. Sepertinya paman tidak mengenal putra paman itu dengan baik. Nicholas sebenarnya anak yang baik, dia tidak jahat. Saya akui tempramennya memang buruk, dia hanya butuh dorongan dan dukungan orang terdekatnya." Ujar Vaye.
" Sebagai ayah, anda tidak hanya tidak peduli pada dirinya, tapi anda juga menjelekkan dirinya di depan temannya. Saya tidak mengerti mengapa anda berkata demikian." Ujar Vaye lagi.
" Paman, jika anda tidak merasakan atau setidaknya tahu tentang apa yang Nicholas rasa dan alami, setidaknya jangan bicara hal buruk tentangnya. Bukanlah kata kata orang tua adalah doa bagi anak anaknya?? Saya permisi paman." Ujar Vaye, dan langsung bangun dari duduknya.
Entah mengapa Vaye menjadi emosi mendengar Nicholas yang di jelek jelekan oleh ayah kandung Nicholas sendiri, bahkan Vaye berpikir mungkin Nicholas bukan anak kandung Pras, karena Pras dengan teganya berkata demikian tentang Nicholas.
Akhirnya Vaye berjalan menuju dimana Nicholas saat ini sedang menjalani terapinya. Kini setiap seminggu sekali Nicholas datang ke dokter yang menangani psikisnya. Sebelum ada Vaye, Nicholas hampir setiap hari datang ke dokternya.
" Vaye, kamu kenapa disini?" Tanya Nicholas ketika melihat Vaye berjalan kearah tempat Nicholas terapi.
" Aku tidak mendapat temoat duduk, bagaiamana?? Apakah sekarang semakin ada kemajuan?" Tanya Vaye.
" Hm.. Berkat dirimu yang selalu memberikan hal hal positif padaku, aku jadi semakin menjadi lebih baik." Ujar Nicholas.
__ADS_1
" Mana ada begitu, itu adalah pilihanmu sendiri. Tapi jika kamu mengatakan bahwa aku membawa hal positif, maka terimakasih." Ujar Vaye sambil menyengir.
" Jangan terbang, nanti jatuh." Ujar Nicholas.
" Ish! Tidak pernah suka melihat orang senang sedikit." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.
" Kita makan sambil di jalan saja, bagaimana?" Tanya Vaye.
Vaye khawatir Pras masih berada di mall itu dan akan bergabung dengan mereka nantinya. Nicholas selalu tidak bisa mengendalikan dirinya saat di hadapan Pras.
" Baiklah.. Ayo." Ujar Nicholas, lalu merangkul pundak Vaye.
Memang benar, siapapun yang melihat kedekatan mereka tidak akan percaya bahwa mereka hanya teman. Mereka berdua terlihat sangat dekat bagai dua sejoli yang berpacaran.
Hingga akhirnya mereka sampai di basment, kali ini Nicholas mengeluarkan mobil sport miliknya. Mobil itu sangat jarang di pakai sebenarnya, karena Nicholas lebih senang menggunakan motor.
" Woah.. Kau mengoleksinya?" Tanya Vaye.
" Tidak, aku hanya punya satu ini saja. Uangku tidak sebanyak itu untuk mengoleksi mobil." Ujar Nicholas.
" Hm.. Baru kali ini aku tahu anak orang kaya tidak mengoleksi mobil." Ujar Vaye.
" Masalahnya aku hidup bukan dari uang orang tua, jadi aku tidak mungkin menghamburkan uang." Ujar Nicholas.
" Ha! Apakah ayahmu tidak menanggung hidupmu??" Tanya Vaye, dan Nicholas menggeleng.
" Aku bekerja tentu saja.." Ujar Nicholas, sambil membukakan pintu mobil untuk Vaye.
" Bekerja?? Bekerja apa??" Tanya Vaye.
Nicholas menatap Vaye, ia ragu antara bercerita atau tidak pada Vaye. Karena pekerjaan nya itu lain dari yang lain. Nicholas takut Vaye akan menjauhinya nanti.
" Kepo." Ujar Nicholas, sambil menyalakan mesin mobil.
BBRUMM!!
Suara mobil itu menggelegar.
" Jika tidak mau terkejut sampai pingsan lebih baik tidak perlu tahu pekerjaanku." Ujar Nicholas.
" Baiklah.. baiklah.. Sok misterius." Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.
Akhirnya mereka pun pergi dari apartemen dan menuju ke rumah sakit jiwa, dimana ibu Nicholas di rawat. Sebelum sampai, mereka memesan makanan dengan cara drive thru ri restoran cepat saji, lalu melanjutkan perjalanan mereka.
" Biar kau aku suapi saja, bahaya menyetir sambil makan." Ujar Vaye.
" Kau serius??" Ucap Nicholas terkejut.
__ADS_1
" Ya.. A." Ujar Vaye memberikan kentang goreng di mulut Nicholas.
" Come on, jangan bilang kau tidak pernah di suapi seseorang? " Ujar Vaye karena Nicholas begitu kaku dan malu malu.
" Kau yang pertama, setelah ibuku. Kau tahu, kita seperti orang yang berpacaran" Ujar Nicholas, terkekeh. Dan Seketika Vaye menjadi diam.
' Astaga, apakah aku terlalu berlebihan? Aku memperlakukan dia seperti aku memperlakukan kakak kakak ku.' Batin Vaye.
" Kenapa jadi diam?? Ayo suapi aku.. A.." Ujar Nicholas.
Akhirnya Vaye menyumpal mulut Nicholas dengan paha ayam.
" Ahaga.. Haye, ahu hegang mengekhir ( Astaga.. Vaye, aku sedang menyetir. )" Ujar Nicholas bicara tidak jelas.
Vaye terbahak mendengar Nicholas yang berbicara tidak jelas, hingga akhirnya ia menarik paha ayam itu dati mulut Nicholas.
" Makanya jangan suka bicara sembarangan." Ujar Vaye sambil terkekeh.
" Ish, jahatnya.." Ujar Nicholas.
Hingga akhirnya mereka melanjutkan perjalanan itu dengan Vaye yang menyuapi Nicholas, sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit jiwa dimana ibu Nicholas di rawat.
" Apakah ibumu dirawat disini?" Tanya Vaye.
" Hm.. Ayo." Ujar Nicholas.
Mereka berdua sampai di taman, terlihat seorang wanita paruh baya berambut panjang yang tengah duduk di bangku taman sambil menggendong boneka dan berbicara pada boneka itu.
" Gama.. Mama merindukan Gama." Ujar perempuan itu.
" Gama??" Ujar Vaye.
" Gama.. Gamalael, mendiang kakakku bernama Gamalael. " Ujar Nicholas.
Ibu Nicholas menoleh ketika mendengar orang lain ada di belakangnya. Dan perempuan itu terkejut melihat seseorang yang ia kenali.
" Pembunuh.." Ucapnya.
Vaye terkejut, karena ibu Nicholas memanggil putranya sendiri dengan sebutan pembunuh.
" Pembunuh!! Pergi dari sini, kau pembunuh! Kau pembunuh putraku Gama! " Ucap Ibu Nicholas lagi, dan tiba tiba dia menggila.
Ibu Nicholas juga hendak menyerang Vaye, namun Nicholas melindunginya. Hingga akhirnya petugas rumah sakit jiwa turun tangan untuk menangkap ibu Nicholas.
' Nicholas..' Batin Vaye
TO BE CONTINUED...
__ADS_1