Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. SIAP UNTUK SIDANG PERCERAIAN.


__ADS_3

Sekolah kembali dimulai, Vaye dan NIcholas datang ke sekolah bersamaan seperti biasanya. Dan disekolah juga masih ramai membicarakan tentang kasus Timothy yang menyiksa Bagas hingga koma sampai sekarang.


" Sekarang kalau dilihat lihat, Nicholas sangat tampan tidak sih?" Ujar seorang teman kelas.


" Hum, benar.. Menyukai pria yang pendiam dengan sikap yang sopan membuat trauma tersendiri. Siapa yang menyangka Timothy yang begitu sempurna bagai malaikat ternyata justru seorang iblis." Ujar teman kelas lain.


" Sayang sekali, Nicholas sudah menjadi milik Vaye hiks.. " Ujar yang lain nya dengan nada menyedih.


" Tapi mereka terlihat sangat cocok menurutku." Ujar gadis pertama.


" Ya, benar.. Gadis cantik dan pria tampan adalah kombinasi yang sempurna." Ujar gadis kedua.


" Apalah daya kita yang hanya mengontrak di bumi, setiap hari menyaksikan pasangan manis itu." Ujar gadis ketiga.


Vaye tentu mendengarnya, hingga ia tersenyum senyum sendiri akibat ulah teman kelasnya itu. Vaye tidak dekat dengan mereka, karena mereka berkelompok, dan Vaye tidak suka verkelompok. Vaye suka bebas berteman dengan siapa saja.


" Kenapa kamu senyum senyum begitu??" Tanya Nicholas bingung.


" Tidak ada, hanya membayangkan hal hal lucu." Ujar Vaye.


" Hhhmmmm.. Asal bukan membayangkan pria lain saja." Ujar Nicholas.


" Oh, boleh juga.. Sepertinya murid laki laki di kelas sebelah juga ada yang tampan." Ujar Vaye, dan mendapat tatapan tajam.


" Berani pergi selangkah dariku, maka akan aku ikat tanganmu dan tanganku agar tidak terpisah. " Ucap Nicholas, dan Vaye terbahak dibuatnya.


" Apa tidak sekalian di borgol saja?" Ujar Vaye.


" Hmm.. Itu ide yang bagus." Ujar Nicholas antusias.


" Astaga! aku bercanda.." Ujar Vaye.


" Maka dari itu, jaga matamu dan hatimu, jangan sampai aku tahu kamu memikirkan pria lain atau aku akan sungguhan memborgol tanganmu dengan tanganku." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.


" Iya Mr. Posesif." Ujar Vaye.


" Ah.. Mereka bertengkar pun sangat manis." Ujar gadis gadis yang sejak tadi memandangi interaksi Nicholas dengan Vaye.


Pelajaran pun di mulai, dan sepanjang pelajaran itu Nicholas tak henti hentinya tersenyum kearah Vaye dan sebaliknya. Entahlah hal lucu apa yang membuat mereka berdua saling tukar senyum, hanya mereka sendiri yang tahu.


Hingga akhirnya jam pelajaran berakhir, Nicholas dan Vaye berjalan menuju ke motor Nicgolas. Dan tidak lupa, Nicholas mengikatkan jaketnya di pinggang Vaye untuk menutupi kaki Vaye saat duduk di motor.


" Hari ini mungkin aku tidak bisa berjalan jalan denganmu, aku harus menemani mama untuk menghadiri persidangan." Ujar Nicholas.

__ADS_1


" Tidak masalah, semoga ibu Nely bisa bebas dari semua belenggu hatinya di masalalu. " Ujar Vaye.


" Amin.. Terimakasih doanya, sayang. Selama aku tidak bersamamu, jangan melakukan hal hal yang membahayakan dirimu, oke?" Ujar Nicholas.


" Ya ampun, tuan posesif.. Memangnya hal membahayakan aoa yang bisa aku lakukan? Alih alih khawatir aku selingkuh, kamu malah berkata demikian." Ujar Vaye terkekeh.


" Karena aku tahu kamu tidak akan selingkuh dariku, tapi aku lebih khawatir kamu melakukan hal hal membahayakan seperti mengejar preman atau semacamnya." Ujar Nicholas, dan Vaye terbahak.


" Iya.. Iya.. Aku tidak akan mengejar preman." Ujar Vaye.


" Bagus, pacarku memang patuh." Ujar Nicholas.


Akhirnya mereka pun pergi dari sekolah itu menuju apartemen Vaye. Sepanjang jalan itu, Vaye memeluk punggung Nicholas hingga akhirnya mereka sampai di depan apartemen Vaye.


" Hati hati saat jalan pulang, dan kabari aku perkembangan nya." Ujar Vaye.


" Hmm.. Masuklah, aku akan melihatmu dari sini." Ujar Nicholas, sambil mengusap pipi Vaye.


" Bye.." Ujar Vaye.


" Bye.." Sahut Nicholas.


Setelah Vaye masuk, Nicholas kembali menggunakan helmnya dan melaju pergi dari sana menuju ke kediaman nya. Vaye sampai di loby, dan rupanya di sana ada Pras ysng masih saja mengurusi unit apartemen yang akan di jual itu.


" Valleria.." Panggil Prasetya.


" Oh, hai tuan Pras?" Ujar Vaye.


" Kamu formal sekali dengan saya, tidak perlu se formal itu, kan?" Ujar Prasetya.


" Maaf, tapi ayah dan ibuku mengajarkan untuk tidak terlalu dekat dengan orang yang tidak di kenal." Ujar Vaye.


Pras mengepalkan tangan nya, tidak di kenal katanya? Padahal Pras merasa mereka sudah beberapa kali bertemu.


" Bukankah kamu kekasih Nicholas? Itu berarti kamu seharusnya bisa lebih akrab lagi dengan saya, saya adalah ayah Nicholas jika kamu lupa." Ujar Pras dengan tidak tahu malunya.


" Tapi bukankah anda yang bilang sendiri tidak ingin memiliki anak seperti Nicholas? Dan sepertinya juga Nicholas sendiri tidak menyukai anda. Maaf tuan Pras, saya harus keatas." Ujar Vaye.


" Saya tahu, pasti Nicholas yang sudah meracuni pikiranmu kan? Agar tidak dekat denganku. Anak itu memang sejak dulu kurang ajar, dia bahkan tega membunuh kakaknya." Ujar Pras.


Vaye tentu saja terpancing, ia menjadi emosi mendengar Nicholas di katai seperti itu. Padahal Nicholas justru adalah korban nya.


" Jika anda tidak tahu kebenarannya, lebih baik anda jangan berkata demikian. Jangan sampai pada saat datang kebenaran dan kenyataan lainnya, anda akan menangis darah." Ujar Vaye.

__ADS_1


" Bagaimana mungkin anda mengatai putra anda sendiri seperti itu, tuan Pras? Anda sama sekali tidak terlihat seperti ayah Nicholas, tapi lebih seperti musuh Nicholas." Ujar Vaye, lalu pergi meninggalkan Prasetya dengan kebungkaman nya.


' Kebenaran? Cih!! Kebenaran apa memangnya. Anak itu pasti sudah meracuni otak Valleria, seharusnya Valleria bersama Timothy dan aku akan mendapat banyak sokongan dari tuan Ethan. Nicholas memang perusak segala kebaikan.' Batin Prasetya.


Prasetya pun pergi dari sana, karena hari ini dia akan menjalankan persidangan perceraian dirinya dengan Nely.


" Aku penasaran, seperti apa Nely setelah sembuh. Aku yakin dia masih akan terus mengemis cinta padaku, dia hanya memanfaatkan persidanagan ini untuk bertemu denganku." Gumam Prasetya.


Di tempat lain..


Nicholas sudah sampai dei kediaman nya, terlihat juga Dokter Abraham yang duduk di ruang tamu sendirian.


" Dokter? Anda datang kemari, apakah ibuku memanggil dokter?" Ujar Nicholas.


" Ah, ya.. Ibumu bilang mungkin dia akan membutuhkan saya disana. Bagaimanapun ibumu belum lama sembuh dari sakitnya." Ujar dokter Abraham.


" Benar juga, terimakasih sudah meluangkan waktu anda untuk ibuku, dok. Saya yakin anda pasti sedang sibuk seharusnya." Ujar Nicholas.


" Tidak apa apa, ini juga termasuk menemani ibumu agar lebih kuat mentalnya." Ujar dokter Abraham.


" Kalau begitu saya ganti baju dulu, dok." Ujar Nicholas dan Abraham memgangguk.


Tak lama Nicholas kembali turun, ia hanya benar benar mengganti pakaian nya. Saat sampai di ruang tamu, Nicholas melihat dokter Abraham yang sedsng menggenggam tangan Nely, dan Nely yang terlihat sedang mengatur nafasnya.


' Apakah mama gugup? ' Batin Nicholas.


Setelah Nicholas lihat lihat, ibunya itu terlihat sangat serasi dengan dokter Abraham, Nicholas tentu masih memikirkan kebahagiaan ibunya. Ia ingin agar Nely mendapatkan pasangan lagi yang lebih baik dari Pras.


Yang bisa mencintai, menyayangi, dan menjaga Nely hingga sama sama tua. Dan Nicholas melihat itu didiri Abraham, mungkin karena Abraham adalah dokter psikis jadi Abraham mudah mengimbangi Nely.


' Sayangnya mungkin dokter Abraham sudah memiliki keluarga nya sendiri.' Batin Nicholas.


" Apakah sudah lebih baik??" Ujar Abraham.


" Ya.." Sahut Nely, dan melepaskan tangan nya dari Abraham.


" Mama, apakah mama sudah siap??" Tanya Nicholas setelah tangan Nely dan Abraham terlepas.


" Sudah, nak.. Ayo kita berangkat." Ujar Nely.


Akhirnya mereka pun berangkat, Abraham mengemudikan mobilnya dan nely duduk di samping Abraham. Sementara Nichoals, ia duduk di bangku penunpang. Sungguh sebuah gambaran keluarga yang lengkap.


' Niicho akan mencarikan mama pengganti yang lebih baik dari pria itu, ma.. Nicholas tidak akan membiarkan mama kembali menangis atau bersedih kembali. ' Batin Nicholas.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2