
Ke esokan harinya, di bandara Internatioal.
Sekitar tengah malam, sebuah pesawat pribadi turun mendarat di bandara. Lalu tak lama muncul lah sosok yang akhir akhir ini dicari orang orang, Yara. Yara menggunakan pakaian serba hitam dan masker serta kaca mata hitam, dirinya di kawal oleh anak buah Ghost yang bertugas menjadi bodyguard.
" Nona, tuan muda menunggu anda di mobil." Ucap Ralf.
" Baik." Sahut Yara.
Yara berjalan dengan langkah lebarnya, dan memasuki sebuah mobil sedan mewah buatan eropa.
" Adik.. " Ucap Ryu antusias.
Ryu langsung memeluk Yara begitu melihat Yara lagi. Bagaimanapun, pertemuan terakhir mereka adalah saat Yara memutuskan kembali ke tanah air dari negara C dulu.
" Kak, kakak kenapa menjemputku.?" Ucap Yara.
" Anak ini, kakak menjemput adik apa tidak boleh? kakak sangat merindukanmu gadis nakal." Tanya Ryu.
Yara memaksa kembali ke tanah air, kemaris setelah Ryu menyelesaikan urusan nya dengan markas Kristin, Jackson mengabarinya bahwa Yara mogok melakukan apapun termasuk makan, Yara meminta pulang hari itu juga, hingga akhirnya Ryu tidak punya pilihan lain dan membiarkan Yara kembali, lagi oula dirinya juga merindukan Yara.
" Hehe, tentu saja boleh.. Terimakasih." Ucap Yara.
" Itu tugas kakak, lalu apa kau sudah makan.?" Tanya Ryu.
" Sudah, chef di pesawat membiatkan aku banyak makanan dan aku kekenyangan." Ucap Yara.
" Itu bagus, kelak jika kamu mogok makan lagi, hukumanmu adalah makan yang banyak sampai kekenyangan." Ucap Ryu dengan kekehan.
Sungguh, itu merupakan pemandangan langka, Sandy yang saat ini menjadi supir Ryu melihat dari spion mobilnya terkesima. Ini adalah kali pertamanya melihat secara langsung Ryu dan Yara berada di tempat yang sama dan berdekatan.
' Sungguh bagai buplikat kunci, tidak ada yang bisa dibedakan kecuali gender dan sifat mereka.' Batin Sandy bermonolog.
" Halo Sandy " Sapa Yara.
' Matilah aku..' Batin Sandy berucap.
" Jangan sapa dia di depan kakak, kamu hanya adiknya kakak." Ucap Ryu menatap tajam Sandy.
' Sudah kuduga..' Batin Sandy lagi.
" Hanya menyapa masa tidak boleh, kakak jangan terlalu kejam denganya." Ucap Yara.
" Kamu membela dia.??" Ucap Ryu menatap Yara.
' Nona, tolong jangan di perpanjang atau aku akan mati berdiri.' Batin Sandy berucap.
" Tidak kak, oke.. Oke.. Baik, aku tidak akan menyapa Sandy di depan kakak." Ucap Yara mengalah.
" Bagus.." Ucap Ryu.
Tiba tiba ponsel Ryu berdering, dan tertulis satu nama disana ' Ratu ku' begitu yang tertulis.
" Ratu??" Ucap Yara bingung.
" Hmm.. Ratu, kau dengarkan ini ya, Ratu akan segera memulai pidato." Ucap Ryu.
__ADS_1
Ryu menggeser hijau layar ponselnya, dan panggilan terhubung.
" Halo Ratuku.." Ucap Ryu.
" Jangan panggil ibu Ratu, kamu tidak menuruti perkataan ibu, lebih baik ibu mati saja." Ucap Seorang wanita yang suaranya Yara kenali.
" Ibu.?? " Ucap Yara lirih, namun masih bisa di dengar ibunya, Aiko.
" Yara. Sayang, kamu ada bersama dengan kakak mu.?? Sebentar, hei anak nakal, cepat alihkan oanggilan ini menjadi video." Perintah Aiko kepada Ryuchie.
" Haihh.. Iya iya Ratu.. " Ucap Ryu.
Ryu pun mengalihkan panggilan menjadi video call. Aiko langsung menangis di seberang sana dan membuat kedua anak nya itu khawatir.
" Ibu.. Kenapa menangis.? Ibu tidak apa apa kan.?" Ucap Yara panik.
" Ratu, jangan buat aku takut oke, aku sedang berada jauh darimu. Jika aku sudah kembali aku janji kita bermain prank prank an." Ucap Ryu tak kalah panik.
" Kalian.. Kalian.. Tidak menyayangi ibu.. Huhuhu.." Ucap Aiko.
" Ibu, kami sangat menyayangi ibu.. Kenapa ibu berkata seperti itu.?" Ucap Yara.
" Kalian disana berdua berkumpul, ibu sendirian. Lebih baik ibu mati saja, ibu mau gantung diri di pohon toge dan menjadi hantu." Ucap Aiko merajuk.
Ryu menepuk keningnya.
' Ibuku memang Ratu drama.' Ucapnya. Tidak sadar dirinya juga sering begitu.
" Astaga Ratu, aku dan adik tidak sedang liburan oke. Kita disini sedang menyelesaikan urusan, agar cepat selesai dan bisa cepat pulang lalu berkumpul dengan kalian disana." Ucap Ryu.
" Ibu, jangan katakan hal seperti itu lagi oke, Yara tidak mau ibu berkata seperti itu lagi." Ucap nya dengan mata berkaca kaca.
Ryu melirik adiknya itu, ia terkejut adiknya menangis.
" Eh, adik.. Kenapa kamu menangis.?? " Ucap Ryu panik.
" Ibu.. Ibu bilang ingin menggantung diri di pohon toge." Ucap Yara.
Yara menganggap ucapan ibunya itu sebagai hal serius.
" Astaga sayang, maafkan ibu. Ibu tidak berkasud membuat kamu sedih. Ibu hanya bercanda dengan kakakmu." Ucap Aiko panik.
" Kan.. Ibu sangat keterlaluan membuat adikku sedih." Ucap Ryu.
" Sayang, maafkan ibu oke.." Bujuk Aiko.
" Ibu, lain kali tidak boleh bercanda dengan kematian.Yara tidak mau kehilangan lagi." Ucap Yara, tak terasa air matanya menetes.
" Iya sayang, ibu janji, ibu janji. Cup.. Cup.. Jangan menangis oke, maafkan ibu." Ucap Aiko.
Yara hanya manggut manggut karena tak bisa berkata sesuatu, ia tengah menahan ledakan air matanya.
" Sekarang katakan, kenapa ibu mengubungi ku tengah malam begini.? Kenapa ibu tidak istirahat, ini sudah sangat larut." Ucap Ryu..
" Ibu hanya sedang tidak bisa tidur saja, ibu sangat kesepian." Ucap Aiko sendu.
__ADS_1
" Kalian berdua jauh dari ibu, tidak ada yang bisa ibu ajak mengobrol. Hanya ada pelayan, dokter Li, dan Derico. Mereka juga sibuk dengan urusan mereka masing masing." Keluh Aiko.
Ryu menyadari perasan ibunya itu, bagaimanapun sedari dulu dirinya juga jarang dirumah, karena sebagai pemimpin mafia yang memiliki musuh tak ada habisnya, ia harus bekerja ekstra untuk melindungi orang orangnya dan keluarganya.
" Ibu sabar yah, Aku janji setelah semua disini selesai, aku dan adik akan segera pulang. Dan kita akan menjalani hidup bahagia, ibu tidak akan kesepian lagi. Sekarang ibu tidur yah, istirahat.. Ini sudah sangat larut malam, jika ibu sakit ayah akan sendirian." Ucap Ryu.
Seketika Ryu menjadi sangat bijaksana, Kata katanya itu berhasil menenangkan ibunya.
" Baiklah, janji setelah disana selesai kalian cepat kembali oke.??" Ucap Aiko.
" Iya ibu Ratuku.. Sudah yah, adikku akan semakin sedih nanti." Ucap Ryu.
" Baiklah, Yara sayang.. Jaga diri baik baik yah, sampai ketemu lagi nanti. Ibu saaaaangat menyayangimu." Ucap Aiko.
" Yara juga sayang ibu, jaga diri ibu oke, jangan mudah mengucapkan kata mati lagi." Ucap Yara.
" Hehe.. Iya sayang.. Kalau begitu selamat istirahat." Ucap Aiko.
" Ibu juga.." Ucap Yara dengan senyuman.
Panggilan itu pun diakhiri.
" Kak, apakah di kediaman kita ada pohoh toge.?" Tanya Yara.
" Entah, Kenapa.?" Ucap Ryu.
" Tebang pohon itu." Ucap Yara.
Sandy yang mendengar itu pun tertawa, ia tak bisa menahan tawanya lagi.
" PFFT.." Tawa Sandy terdengar.
" Kenapa kau tertawa.?" Ucap Ryu.
" Nona, pohon toge tidak bisa di tebang, hanya bisa di cabut. " Ucap Sandy.
" Kalau begitu cabut." Ucap Yara.
" Hahahahahaha.." Tawa Sandy pecah tak tertahan lagi.
" Kau minta dihajar.?? " Ucap Ryu.
" Astaga nona, coba nona cari di internet bagaimana bentuk pohon toge." Ucap Sandy.
Dengan lugu Yara langsung mengeluarkan ponselnya, lalau mengetik di pencarian pohon toge.
" Ini... Toge.?" Ucap Yara heran melihat bentuk toge.
" Ini kan bean sprouts..? " Ucap Ryu.
Selama ini Ryu tidak tahu juga sebenarnya bentuk pohon yang dinamakan toge itu seperti apa. Rupanya selama ini dirinya di prank oleh sang ibu.
" Benar tuan muda, nona.. Lalu bagaimana caranya nyonya besar menggantung diri di pohon yang bahkan tidak sebesar jari kelingking kita.??" Ucap Sandy dengan kekehan.
" Dasar ibu Ratu , awas saja kalau sudah bertemu nanti." Ucap Ryu. Sementara Sandy terbahak.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..