
Samsiah hanya bisa menangis sendirian di kamar. Meratapi nasib, merasakan tubuh yang nyeri kesakitan.
Setiap jengkal ruas tubuhnya terasa nyeri dan ngilu karena Ojan yang terus mencoba bercinta dengannya.
Ojan tidak bisa ereks+ dengan benar. Sehingga melakukan perbuatan yang menyakiti tanpa sadar.
Setiap kali Samsiah berteriak memintanya untuk berhenti, justru nafsu Ojan kian memuncak dan makin ganas menggigiti setiap inci tubuh istrinya itu.
Dua minggu Tito menghilang tanpa kabar.
Nomor ponselnya pun tidak aktif.
Samsiah hanya bisa menangis pilu.
Demi hidupnya yang kian tersiksa dari hari ke hari, Samsiah mencoba mencari tahu tentang Tito lewat Soleh yang sudah membawa pulang Juriah ke rumah toko.
Samsiah sengaja datang di saat Ojan sedang pergi ke Mbah Surip dukun satu lagi kepercayaannya.
Samsiah sebenarnya malu dan takut. Putrinya pasti akan memakinya seperti kala itu di telepon.
Tapi dirinya sangat membutuhkan Tito. Ia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Alhasil, sejuta uang menjadi pelicinnya untuk mengetahui keberadaan Tito.
Grep.
Soleh terkejut ketika Ibu mertuanya menarik tangannya ketika mereka berpapasan di lantai atas rumah.
Soleh kaget. Ia pikir Samsiah akan berbuat hal yang tak senonoh padanya hingga Soleh menunduk tak berani menatap. Itu karena Samsiah langsung menyodorkan uang satu juta dihadapannya.
"Soleh, tolong beritahu Aku, dimana Tito tinggal?" bisiknya di telinga Soleh.
"Ti_tidak tahu, Umi."
Soleh gemetar sekali saat itu. Apalagi ketika ibu mertuanya mendekatkan dadanya nyaris menempel di tubuh Soleh.
"Ini, tolong bilang dimana rumah orang tuanya Tito?"
Kini Soleh mengerti. Samsiah sudah tergila-gila pada adik iparnya itu yang kini telah bercerai dengan adiknya.
"Kami bertetangga."
"Maksudnya?"
"Orangtua kami tetanggaan bersebelahan."
Samsiah menyesal memberikan uang satu juta pada Soleh.
Ia mengambil lima lembarnya lagi lalu pergi turun ke bawah. Samsiah keluar dari rumah toko tanpa keinginan menjenguk Sang putri yang sedang tidur di kamar.
Soleh hanya menggelengkan kepala.
Tak habis fikir pada kelakuan Samsiah yang tidak Ia sangka.
Sementara Samsiah langsung meluncur ke kediaman Mariana.
Mariana yang sedang sakit di kamar terkejut dengan kedatangan Samsiah.
Yang lebih membuat Mariana makin terkejut, Samsiah datang sendiri dan langsung menanyakan rumah orang tua Tito, mantan menantunya.
"Ada apa memangnya?" tanya Mariana kepo.
Tentu saja Samsiah mengarang cerita dalam menjawabnya.
"Tito memiliki banyak hutang padaku!"
__ADS_1
"Oh. Tuh, rumahnya disamping kiri. Cat hijau muda."
Mariana mencibirkan bibirnya.
Samsiah tidak menunggu lama untuk segera bergegas ke rumah Tito, berondongnya.
"Kulonuwun, permisi!"
"Rampes, iya Bu? Cari siapa ya?" Engkos membukakan pintu.
"Tito-nya ada?"
"Tito tidak ada, Bu. Kenapa ya? Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya, ingin bertemu Tito membicarakan sesuatu."
Samsiah duduk di kursi sofa rumah orang tua Tito yang sederhana.
"Eh ada tamu."
"Saya majikannya Tito. Mau ada perlu sama Tito, Bu!" tutur Samsiah dengan lemah lembut.
Mariana yang menguping di samping tentu saja keheranan mendengarkan suara Samsiah yang sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Malah sebaliknya.
"Oh. Sayang sekali, Tito-nya kerja di luar kota sekarang, Bu!"
"Kerja di luar kota? Dimana? Apa Ibu tahu alamatnya tinggal? Nomor hapenya juga sulit dihubungi. Apa Tito ganti nomor?"
"Kalo alamat saya kurang tahu alamat jelasnya. Yang saya tahu, Tito ikut anaknya Le Fatur di daerah Cikarang. Diajak kerja di pabrik shampoo. Sayang ijazahnya. Belum sempat dipergunakan."
"Oh. Jauh juga ya?"
"Memangnya ada apa Ibu mencari Tito?"
Nani dan Engkos termangu. Saling berpandangan.
"Reniii, Ren..." Nani memanggil Reni anak keduanya.
"Apa Bu?"
"Kamu punya nomor hapenya Bang Tito yang baru?"
"Iya. Kenapa?"
"Ini Ibu majikannya Tito kepingin tahu."
Reni diam mematung. Ia ingat pesan Tito sebelum pergi ke luar kota.
"Tolong jangan kasih tau siapa pun nomor WA Abang yang baru! Hanya kamu saja yang Abang beritahu. Untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa! Lani dan keluarganya juga tidak boleh sampai tahu! Apalagi orang lain, Ren! Aku ingin merubah diri ini lebih baik lagi!"
"Maaf, kalau boleh saya tahu, Ibu ini siapa ya?"
"Saya adalah majikannya Tito. Tolonglah, saya ingin menghubungi Tito!"
"Maksudnya, ada apa sampai ingin menghubungi Bang Tito? Sebaiknya saya telepon lewat ponsel saya ya? Soalnya Abang minta nomornya dirahasiakan."
Samsiah menggelengkan kepala.
Air matanya merebak. Bahkan mulai turun di pipi yang kiri.
"Tolonglah! Saya butuh ketemu Tito!"
"Sebentar ya?"
__ADS_1
Tuuut tuuut tuuut
Reni menghubungi Tito lewat ponselnya.
Tetapi ponsel Tito tidak dapat dihubungi karena tulisannya memanggil bukan berdering.
"Sepertinya Bang Tito sedang bekerja."
"Saya minta nomornya! Tolong!" Samsiah mengulurkan gulungan uang kepada Reni dengan tatapan mata mengiba.
Reni menatap dengan bingung.
Engkos menarik Reni dan menanyakan apa maksud Samsiah sampai menyogok sang putri dihadapannya.
"Saya ada masalah dengan Tito dan harus dibereskan sekarang juga, Pak!"
Engkos kian curiga melihat Samsiah yang meneteskan air mata.
"Masalah apa? Apa anak saya buat masalah ketika bekerja di rumah Ibu? Oiya, motor yang tempo hari Ibu beri, ada di rumah yang Lani tempati. Ibu bisa ambil semuanya di sana! Tito tidak membawa barang berharga ketika pergi keluar dari rumah itu. Jadi, urusan hutang piutang telah selesai.".
Tentu saja Samsiah kikuk mencari-cari alasan lain.
"Ada hal penting yang harus saya tanyakan pada Tito soal rumah tangga putri saya dengan kakaknya Lani."
Engkos, Nani dan Reni terkejut. Mereka tahu, kalau Tito pernah bekerja pada mertuanya Soleh, kakaknya Lani.
Dipikiran mereka menebak sesuatu yang selama ini ditutupi Tito juga Lani. Perihal perempuan selingkuhannya Tito yang Lani tuduhkan.
Apakah Juriah, istrinya Soleh yang selingkuh dengan Tito? Nani membatin dalam hati.
Engkos dan Reni juga memiliki pemikiran yang sama.
Satu lagi orang yang kepo maksimal yang menguping di samping pintu rumah Engkos. Yaitu Mariana.
"Sebaiknya, Ibu tidak lagi mengganggu putra saya! Dia sudah menyesali semua kesalahannya. Dia pergi dari kota ini pun karena ingin bertobat. Maafkanlah putra saya, jika sudah berbuat hal-hal yang mengecewakan keluarga ibu. Kami bahkan rela mencium tangan Ibu untuk tidak lagi memperpanjang urusan ini. Biarlah Tito yang menanggung akibatnya. Rumah tangganya telah selesai dengan Lani. Semoga Soleh dan Putri Ibu rumah tangganya dalam keadaan baik-baik saja. Silahkan Ibu pergi dari sini. Maaf, kami tidak menerima pemberian seseorang secara tertutup seperti ini."
Engkos memberikan gulungan uang yang tadi Samsiah berikan pada Reni.
Samsiah menangis sesegukan.
"Saya tidak minta apapun. Hanya Nomor ponselnya Tito. Setelah itu saya pergi. Saya juga pastikan rumah tangga putri saya baik-baik saja."
"Saya tidak berani memberikannya. Ini amanah dari Bang Tito sendiri, Bu!" ucap Reni.
"Tito kerja di Cikarang? Pabrik shampoo?" Samsiah masih mencoba mencari tahu.
Engkos hanya mengangguk.
Samsiah akhirnya pamit pulang dengan hati yang sedih sekali.
Samsiah terkejut ketika hendak memakai sandalnya. Ada Mariana yang sedang menempel di dinding tembok rumah Nani.
"Kenapa? Apa katanya? Si Tito kabur karena membawa uang Ibu Samsiah ratusan juta kan? Kenapa tadi gak bilang sejujurnya? Hah?"
Tentu saja Mariana menyelidik dengan seksama.
Samsiah hanya diam saja.
Ia pamit permisi pada Mariana tanpa basa-basi lagi.
"Cih! Sombongnya istri juragan kaya raya! Andaikan dia ga punya uang dan usahanya bangkrut pun pasti tidak akan berani sesombong itu padaku! Aku tanya banyak tak ada satupun yang dia jawab! Sialan!" umpat Mariana kesal.
Meriang mulai terasa lagi. Ia kembali masuk kamar karena menggigil kedinginan.
__ADS_1
BERSAMBUNG