Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 105 Karma Yang Kini Harus Soleh Tuai


__ADS_3

"Mbak! Maukah Mbak ikut Aku?"


"Kemana?" tanya Amel gugup mendapati pertanyaan Lukman.


"Tempat ini sudah tidak nyaman lagi untuk Mbak tinggali. Karena kemungkinan besar Bang Soleh akan kembali datang dan datang lagi untuk mengganggu kehidupan Mbak!"


Amelia tertegun. Ucapan Lukman benar.


Dulu diawal-awal Ia berstatus janda, ada keinginan untuk pindah dan cari rumah kontrakan baru.


Memang terlalu banyak kenangan terutama kenangan pahit yang Ia dan Soleh torehkan di rumah kontrakan ini.


Namun mengingat rezeki yang mengalir lumayan baik membuat Amelia berfikir ulang untuk pindah kontrakan.


Apalagi harus pindah jauh dari Tasya dan Diki serta Dea. Amelia merasa tak sanggup karena merekalah orang-orang yang senantiasa membantunya keluar dari kerumitan hidup.


Netra Amel lekat menatap bola mata Lukman.


Seperti aliran listrik yang menyetrum tubuhnya, Lukman segera menunduk. Tak berani beradu pandang terlalu lama.


"Dimana, Man? Apa ada kontrakan lain yang harganya sesuai dengan kantongku?"


"Yok ikut! Aku udah nemu tempat yang bagus juga untuk usaha."


Amelia menurut.


Dengan cepat wanita sederhana itu berganti pakaian dan memoles wajahnya senatural mungkin.


Lukman semakin terpesona melihat Amel yang baru saja keluar dari kamar.


"Yuk?"


"Tas, Aku pamit dulu ya? Nanti saja belanjanya sore-sorean. Sekalian kamu dan mbak Ziah istirahat!"


"Iya, Mbak. Ga usah khawatirin kami. Hehehe... Have fun ya?!" goda Tasya sembari mengedipkan sebelah matanya.


Merona wajah Amelia.


"Tenang, Tasya. Aku juga udah punya rencana untuk kalian semua. Doakan ya, semoga Mbak Amel cocok." Lukman menyela dengan senyuman lebar.


"Sip!" Tasya mengacungkan ibu jarinya.


Kedua pasangan yang baru saja resmi jadian itu pergi keluar.


"Ehh, motormu parkir di mana, Man?" tanya Amel baru tersadar kalau kendaraan roda dua milik Lukman tidak terparkir di halaman rumah kontrakannya.


"Aku..., bawa mobilnya Papa!"


Amelia menelan ludah.


"Papa... punya mobil?" gumamnya tersadar kalau Lukman adalah anak orang kaya.


Sontak Lukman tertawa kecil.


Ia menyalakan kunci mobilnya secara otomatis. Dan membukakan pintu depannya untuk Amel naik.

__ADS_1


"Terima kasih."


Amelia duduk dengan gugup di jok depan. Mendampingi Lukman yang menyetir.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Lukman menyetir. Pernah dua kali kesempatan tapi saat itu Lukman membawa mobilnya Boss Adam.


Jadi Lukman benar-benar hanyalah seorang karyawan yang merangkap supir juga kadang-kadang. Sama seperti Diki karena mereka berdua bisa mengendarai kendaraan roda empat dan punya SIM mobil juga.


Tapi sekarang, mobil yang Lukman bawa adalah mobil Papanya sendiri.


Amelia merasa tidak enak hati.


"Man..."


"Mmh?"


"Apa kamu merasa Aku ini seperti perempuan materialistis?"


"Lho? Koq bertanya begitu?"


"Aku... menerima kamu setelah tahu rumahmu yang besar. Aku... menerima kamu setelah kamu datang bawa mobil. Apa kamu ada pemikiran seperti itu?"


Lukman tertawa kecil. Ia menggeleng cepat.


"Aku ga mikirin itu. Hanya rasa bahagia yang membludak karena akhirnya cintaku diterima kamu, Mbak!"


"Apa kamu gak punya pemikiran negatif? Sama sekali?"


"Ada."


"Aku takut kamu terima Aku hanya karena kasihan dan bukannya cinta. Hanya itu yang kupikirkan!"


Amelia merem+s jemarinya.


"Kalau Aku menerima cintamu karena kasihan, sudah sejak lama aku lakukan itu."


"Syukurlah. Mbak ga memandangku sebagai pria yang menyedihkan."


"Kamu adalah pria yang baik. Sejujurnya aku minder karena kamu adalah pria lajang yang nyaris sempurna."


Merona wajah Lukman.


"Kamu baik. Sangat baik. Pria yang penuh tanggung jawab dan tidak banyak ulah yang aneh-aneh seperti kebanyakan pria di luar sana. Aku... jatuh cinta oleh kesederhanaanmu. Tapi otak normalku mengatakan kalau kita ini tidak cocok. Kamu Bujangan, sedangkan Aku seorang janda. Bahkan rumah tanggaku hancur karena ada satu masalah prinsipil yang tidak bisa Aku bela karena itu adalah kelemahanku. Aku, sepertinya akan kesulitan memberikan keturunan. Itu yang membuatku minder."


"Aku sudah tahu itu, Mbak. Tak perlu kita bahas yang itu karena Aku sepenuhnya mengerti dirimu dan perasaanmu."


"Setelah Aku bertemu Nenek dan Mamamu, jujur, Aku sangat iri sekali dengan kebahagiaan keluargamu yang begitu harmonis. Keluarga kamu, berkehidupan mapan. Tapi... mampu mendidik putra sulungnya sehebat ini menyikapi kehidupan. Itu yang buat Aku berani ambil keputusan. Tapi setelah melihat kamu datang dengan mobil bagus ini, Aku jadi ragu lagi untuk menerima dirimu, Man!"


Cekiiiit...


Lukman mengerem laju mobilnya setelah banting setir dan menepi di pinggir jalan.


"Lukman?!?"


"Kenapa? Kenapa, Mbak? Apa Aku salah karena bawa mobil Papa?" tanya Lukman panik.

__ADS_1


"Karena Aku takut kamu berfikir Aku menerima kamu karena harta. Aku mau jadi kekasihmu karena ingin menumpang hidup dengan keluargamu yang mapan."


Lukman menggeleng kuat-kuat.


"Aku mengenal kepribadianmu, Mbak! Bukan sehari dua hari, bukan seminggu dua minggu. Aku sudah mengamatimu hampir setahun bahkan ketika kamu masih menjadi istri orang, Mbak!"


Keduanya saling berpandangan. Seperti ada gaya tarik-menarik, kekuatan cinta terpancar dari sinarannya.


"Aku benar-benar mencintaimu dari hatiku yang terdalam, Amelia!"


"Aku... juga mencintaimu, Lukman!"


"Boleh kugenggam jemarimu? Mari kita satukan kedua belah telapak tangan kita. Mari kita saling berpegangan menghadapi dunia. Dan satu kekhawatiran yang kurasa. Aku pernah putus urat syaraf kem+luanku. Dan beberapa tahun sempat tidak berfungsi hingga sulit er+ksi. Tapi setiap kali Aku melihat Mbak, naluri lelakiku bangkit dan... tengoklah ke arah bawah. Aku ini pria normal dan Mbak jangan terpengaruh pada cerita Mama Papaku tentang aku yang dahulu."


Merah padam wajah Amelia.


Ada sesuatu yang menegang di balik celana bahan katun yang dipakai Lukman. Hingga Ia melempar pandangan ke luar jendela mobil dan tersipu malu.


"Aku ingin menikah denganmu. Ingin jadikan Mbak yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Karena Aku, tidak mudah jatuh cinta pada seorang perempuan. Seperti yang Papaku khawatirkan."


Amelia merasakan kehangatan mengalir lewat genggaman tangan Lukman.


"Aku sampai tidak bisa tidur mencari jalan keluarnya agar Mbak mau menerima cintaku. Mbak tahu? Aku sampai sholat tahajjud, sholat hajat selama di rumah sakit dengan tangan menempel selang infus. Sampai suster-suster emosi di Subuh hari karena darah beku yang menyumbat aliran cairan infus yang masuk ke tubuhku. Hehehe...! Jadi, please... Jangan sakiti hatiku, Mbak!"


Amel menunduk malu.


Matanya berkaca-kaca. Terharu juga bahagia.


"Terima kasih, sudah mencintaiku sebesar itu. Terima kasih, Lukman. Hik hik hiks... Huaaa huhuhu..."


Lukman menarik tubuh Amelia. Dan membiarkan pujaan hatinya itu menangis meluapkan emosinya untuk sesaat.


"Mari kita secepatnya menikah. Agar Aku tidak terpancing lebih jauh lagi untuk menyentuhmu, Sayang!" bisiknya di telinga Amelia.


Usia bukanlah patokan seseorang terdeteksi dewasa. Umur yang banyak belum tentu menandakan insan itu dewasa.


Seperti Soleh yang saat ini sedang uring-uringan di ruko karena kesal melihat Juriah yang merasakan sakit di bagian perutnya dan berteriak histeris sampai memakinya karena seharian menghilang tanpa kabar.


"Kalau kau butuh Aku, bukan begitu caranya! Jangan menghardikku seolah kau yang paling berkuasa di rumah ini!!!" teriak Soleh membalas makian Juriah.


"Sebelum kau berteriak, mengacalah dulu! Kau memang tidak ada kuasa sedikitpun di sini! Ini semua, adalah harta kekayaan orang tuaku! Kau, cuma modal tubuh yang tak punya kelebihan apa-apa selain bisanya memeras saja!" timpal Juriah lebih pedas lagi.


"Apa kau bilang?"


Soleh mengangkat telapak tangannya tinggi. Hampir saja pipi Juriah kena tamparannya.


Juriah berteriak menangis. Menjerit kesakitan karena rasa nyeri di perutnya kembali terasa.


Setelah itu,


Gubrak.


Juriah jatuh pingsan dan Soleh segera mengangkat tubuh kurus kering itu lalu membawanya ke rumah sakit atas saran para karyawannya.


Sebenarnya Soleh enggan mengurus Juriah karena sakit hati. Tapi melihat banyaknya orang yang melihat tubuh ringkih Sang Istri tergolek lemah di lantai, Soleh akhirnya bertindak juga.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2