Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 173 Arthur Dan Rahasianya


__ADS_3

Betapa terkejutnya Mia, ketika matanya terbuka, ada wajah tampan Arthur yang tersenyum sembari mengunyah roti O yang dibelinya di kafe bandara.


"Mak..."


"Arthur..."


"Mak, sehat selalu ya Mak!"


"Mataku perlahan kian buram. Nafas juga mulai Senen Kemis. Dada sakit dan seringkali sesak tiba-tiba. Carilah ustadz yang bisa menikahkan Kamu dengan Inayah. Mak ingin segera melihat kalian ijab kabul."


"Mak... percayalah. Mak akan segera sembuh. Mak masih akan bernafas lebih lama."


"Bolehkah Aku meminta janjimu lebih cepat direalisasi?"


Deg.


Arthur seperti tersengat lebah.


"Nikahi putriku minggu ini, Mas! Bisa ya?"


"Jangankan Minggu ini, Mak. Sekarangpun Aku siap jika Inayah bersedia. Tapi masalahnya, setelah ijab kabul Aku harus kembali ke Bali untuk menyelesaikan tugasku."


"Inayah hari ini ada kelas pagi. Bisakah kamu menunggunya pulang ngampus? Bawalah seorang ustadz yang akan menikahi kalian!"


"Mak? Apakah ini beneran?"


"Tentu saja, Arthur! Mak sungguh-sungguh ingin melihat kalian menikah!"


"Tapi berkasnya, kami butuh ajukan dulu ke kantor urusan agama setempat."


"Mak takut, Mas! Takut tidak sempat menyaksikan hari bahagia kalian."


"Mak..."


Arthur menggenggam tangan Mia erat-erat.


Arthur mulai cemas, raut wajah Mia terlihat kuning cantik bercahaya.


"Baiklah. Aku akan cari ustadz yang bisa menikahkan kami hari ini juga."


"Biar Inayah dan Rama, Mak yang urus. Pergilah cari ustadz!"


Arthur mengangguk.


Pria dewasa itu seperti melihat firasat buruk yang akan terjadi dalam waktu yang tak lama lagi.


Mia meminta Tia yang baru saja datang setelah Alif suaminya bergantian pulang.


Tia terkejut, Arthur sudah ada di rumah sakit menjenguk Mia di pagi hari.


"Mas Arthur kapan datang?"

__ADS_1


"Setengah jam yang lalu, Mbak Tia!"


"Berarti pas mas Alif pulang, ya?"


"Sepertinya begitu, Mbak! Oiya, Saya pergi dulu ya Mbak, Mak?! Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


"Arthur, tunggu!"


"Iya, Mak?"


"Apa kamu sudah sunat?"


"Uhuk uhuk uhukk..."


Sontak Arthur tersedak air ludah sendiri mendengar pertanyaan Mia yang spontan.


Arthur mendekat dan berkata dengan wajah menatap mata Mia.


"Sudah, Mak! Bahkan saat itu usia saya sekitar sepuluh tahun." Kata Arthur membuat Tia dan Mia tergelak.


"Syukurlah. Mak takutnya kamu belum sunat. Hehehe... Maaf ya?"


Arthur tersenyum lebar sambil menepuk dahinya, gemas.


"Mak, Mak! Bisa-bisanya Mak nanyain Aku hal itu. Hehehe..., untungnya Inayah gak ada di sini. Kalau ada, pasti mukanya merah kayak kepiting rebus. Hehehe..."


Ia bergerak cepat mengikuti amanah Mia dan pergi ke majelis ulama Indonesia yang ada di masjid Istiqlal.


Diperjalanan Arthur sempat melamun memikirkan dirinya.


Inayah... Selama ini ada hal yang kusembunyikan darinya. Kuharap gadis itu bisa menerima kekuranganku. Dan semisalnya suatu saat nanti, setelah belasan tahun menikah dan Tuhan tidak memberikan kami keturunan, Aku akan melepaskannya. Aku akan memintanya mencari pria muda yang sesuai dengan umurnya. Yang bisa memberikannya keturunan. Karena Aku...


Arthur menghela nafas panjang.


Terbayang kejadian yang membuat dirinya shock diusia remaja.


Keluarga Papinya memang memiliki penyakit keturunan diabetes. Hampir seluruh pria di keluarga Joko Handoko menderita diabets. Dan kemungkinan besar, Arthur pun membawa sel penyakit tersebut jika dirinya tidak bisa menjaga asupan makannya dengan benar.


Di usia sepuluh tahun, Arthur sakit parah. Tubuhnya demam tinggi selama seminggu dan muntah-muntah serta buang air kecil terus menerus sampai ada darah di akhir tetesan urinnya.


Akhirnya Frederica dan Joko membawa Arthur ke hospital San Fransisco. Arthur sampai dirawat untuk diobservasi penyakitnya.


Setelah melalui proses pemeriksaan yang panjang, akhirnya dokter memvonis Arthur terserang virus E.****.


Saluran kemihnya bermasalah. Ada batu ginjal yang lumayan besar menghalangi saluran itu hingga Arthur diwajibkan menjalani operasi pengangkatan batu ginjal.


Itu adalah operasi pertama yang Arthur lakukan untuk menyembuhkan penyakitnya.


Namun ternyata, diusia delapan belas tahun, Arthur kembali menderita sakit batu ginjal.

__ADS_1


Setelah melakukan pemeriksaan yang lebih intensif, Dokter spesialis urologi mengatakan kalau Arthur terserang penyakit batu ginjal langka. Karena penyakit itu akan terus kembali menyerang ketahanan tubuh Arthur setiap lima sampai delapan tahun kemudian.


Dan dokter memberi kabar kalau bakteri yang bersarang di saluran kemihnya bisa membuat Arthur menjadi pria mandul.


Tentu saja Mami dan Papinya shock, apalagi Arthur sendiri.


Diusia muda, dia mendengar sendiri vonis dokter yang bagaikan petir menyambar di atas kepala di siang bolong.


Arthur kecewa pada Tuhan.


Sejak saat itu, Ia berubah sikap, sifat serta perangainya.


Menjadi pemuda yang tidak suka ikut kebaktian ke gereja seperti minggu-minggu sebelumnya.


Dia yang dulu sangat suka Natal, suka sekali acara keagamaan seperti Paskah, retret, dan membaca kitab, kini menjauh pergi.


Arthur juga mulai merubah sikapnya.


Semakin dewasa, Arthur lebih suka berhubungan dengan perempuan yang sudah menikah dan punya anak.


Dalam fikirannya, jika suatu hari nanti menikah dengan perempuan yang pernah memiliki keturunan, setidaknya Ia tidak perlu takut ketahuan kalau kesehatan reproduksi nya tidak bagus. Dan dia tidak perlu terlalu cemas berlebihan istrinya menuntut anak darinya karena telah memiliki anak sebelumnya.


Tapi, setelah mengenal Inayah, jalan pemikiran Arthur berubah.


Cinta yang mengubahnya.


Dan cinta pula yang membuatnya mengambil keputusan untuk berani mengubah prinsipnya yang pernah Ia gaungkan sebelumnya.


Inayah masih teramat muda untuk memiliki anak jika menikah dengannya.


Dan Arthur merasa punya kesempatan beberapa tahun untuk Inayah menunda kehamilan karena masa muda serta kuliahnya.


Arthur cukup aman dalam waktu beberapa tahun tanpa harus dikejar pertanyaan kapan punya anak.


Agak culas memang. Tapi..., Arthur akan menerima keputusan apapun yang diambil Inayah nanti, jika suatu saat Inayah inginkan anak dan minta cerai padanya.


Itu tekadnya dalam hati.


Arthur cinta Inayah.


Seringkali dia berfikir sampai larut malam, bagaimana caranya Ia mengambil hati gadis ingusan yang mempesona itu.


Arthur sungguh-sungguh inginkan Inayah.


Hingga Tuhan mengijabah doanya.


Inayah justru akan menjadi miliknya dalam waktu yang tidak Ia sangka-sangka.


Arthur bahagia sekali.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2