
Sejak malam itu, Arthur semakin membuat starategi gerakan yang lebih gesit lagi.
Keesokannya dia kembali mendatangi rumah Mia. Berharap kalau Amelia yang jadi target utama ada di rumah itu tanpa kawalan Lukmanul Hakim, suaminya.
Ternyata, semua justru kebalikannya.
Bahkan rumah itu kosong karena penghuninya sedang keluar rumah semua. Termasuk putra bungsu mereka Gaga yang sudah mulai masuk sekolah asrama di Bogor Selatan.
"Ck! Ternyata Aku salah perhitungan!" gumamnya dengan suara kesal.
Semalam Ia juga tidak berhasil mendekati wanita cantik yang tak lain adalah mertuanya Amelia.
Meskipun Ia berhasil mengantarkan Fanny sampai gerbang pintu rumahnya, tapi Arthur tak berhasil mendapatkan nomor pribadi Amelia termasuk Fanny juga.
Keluarga mereka adalah keluarga yang cukup kuat pendirian. Arthur salut dan angkat jempol untuk kepribadian mereka termasuk keluarga Mia.
Baru saja Arthur hendak beranjak masuk kedalam mobil setelah ada sekitar seperempat jam duduk di teras rumah yang tidak dijaga pihak keamanan atau asisten rumah tangga seperti layaknya rumah mewah lainnya, tiba-tiba...
"Inayah!" serunya memanggil sebuah nama salah satu anggota keluarga yang tinggal di situ.
Inayah baru saja pulang dari toko buku. Dan jantungnya berdegup kencang melihat wajah tampan yang Ia kenal sedang berdiri di samping sebuah mobil Alphard berwarna merah menyala.
Gadis muda itu teringat cerita Emaknya semalam.
Tentang Arthur yang ternyata memiliki sepak terjang lumayan mencemaskan circle pergaulannya yang baru saja akan dimulai di kota besar ini.
Ternyata, Arthur tidak sebaik yang mereka kira.
Mia mendapatkan kabar itu langsung dari Fanny, tentu saja Inayah tidak bisa mengabaikan nasehat kedua perempuan yang sangat Ia hormati dalam hidup.
"Darimana?" tanya Arthur seperti biasa. Cuek tapi sopan.
"Toko buku!"
"Hm. Rumah sepi?"
"Iya. Semuanya ada di restoran Mbak Yu'!"
"Boleh share loc alamat restonya Amelia?"
"Katanya teman? Pasti lebih tahu dong. Maaf, saya terburu-buru."
Arthur bisa merasakan kalau Inayah terlihat gugup dan suaranya juga gagap menjawab setiap pertanyaannya.
"Hei!"
Inayah kaget. Arthur menarik tungkai lengannya dengan kuat.
__ADS_1
"Ehh?! Ada apa?"
"Ada apa? Kenapa? Aku merasa kamu sedang ketakutan karena Aku datang. Iya kan?"
"Ti_tidak. Itu cuma perasaan Mas Arthur saja. Maaf, Inayah mau ke kampus. Ada beberapa dokumen yang harus Inayah berikan ke kampus!"
"Simpan motormu! Kebetulan hari ini Aku free. Biar kuantar kamu ke kampus. IBIK kan?"
Mati aku! Begini nih kalo terlalu welcome sampai menceritakan semuanya termasuk kampus tempatku menuntut ilmu! Duhh, Maak! Tolong Inay, Mak!
"Inayah? Kenapa bengong?"
Inayah menelan air ludahnya.
"Inayah mau sholat Dzuhur dulu."
"Ini kan baru jam sebelas ya? Walaupun Aku bukan seorang muslim, tapi setahuku azan Dzuhur itu jam dua belas keatas kan?"
Maaak! Gimana ini?
"Maksudnya, Saya tunggu azan Dzuhur dulu. Mas Arthur bisa kembali lagi nanti. Setelah pukul satu siang, begitu!"
"Hm. Sepertinya, kamu mulai berkelit agar Aku tidak ikut masuk ke dalam rumah ya?"
Sontak Inayah naik darah juga.
Tentu saja, bukannya marah, Arthur malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... akhirnya. Rinduku pada kejudesanmu terobati juga. Hahaha..."
Hilih? Beneran laki-laki gak bener ini! Dia malah tertawa bukannya mikir! Ternyata memang ya, lelaki tampan itu sudah pasti buaya darat laut dan udara. Hhh...
Inayah memasuki pagar rumahnya yang baru saja Ia buka kunci gemboknya.
"Tunggu!!! Kenapa Aku dilarang masuk? Apa karena di rumah ini hanya ada kita berdua saja nantinya?"
"La itu Mas Arthur tahu!!!"
Inayah hendak menutup gerbang pagarnya kembali tapi ditahan Arthur yang masih memamerkan senyum innocent nya.
Ya Allah gustiii! Tolong kuatkan imanku!
"Mas! Maaf. Bukan maksud saya untuk berbuat tidak sopan pada Mas yang usianya jauh lebih diatas saya. Tapi sebagai pria dewasa yang berpendidikan dan memiliki pekerjaan terhormat walaupun mungkin tingkah Mas diluaran kurang terhormat, tapi saya yakin akhlak Mas masih cukup baik."
Disitulah Arthur baru tersadar, kalau ternyata trade mark buruknya sudah terbuka dihadapan Keluarga Mia termasuk Inayah.
"Tunggu!!! Apa Bu Fanny yang menceritakan semuanya tentang keburukan Aku?"
__ADS_1
"Maaf. Sebaiknya hubungan ini hanya sebatas kenal saja. Tidak boleh menjurus ke arah yang lebih jauh untuk saling lebih berakrab-akrab ria lagi. Kami sekeluarga, menghormati pilihan Mas Arthur dan kehidupannya. Tentu saja. Saya beserta keluarga saya juga tidak akan mencampuri urusan Mas Arthur. Jadi, saya mohon maaf. Kita sudahi sampai di sini ya?"
"Apa maksudnya?"
"Apa belum jelas ucapan saya?"
"Masalahnya apa? Apa Aku sampai mengganggu kehidupan kalian? Apa Aku bertingkah anarkis walaupun sebenarnya memang kedatanganku ke sini ada suatu tujuan. Tapi sejujurnya Aku murni ingin berteman. Bersilaturahim dengan keluarga kalian yang kukagumi ketulusannya. Kalau pun akhirnya Aku tidak bisa memaksa Amelia menjadi artis pemeran utamaku, Aku senang bisa berteman dengan kalian! Ini pembunuhan karakter!"
"A_apa???"
"Kalian melakukan bullying dengan membunuh karakterku karena cerita sepihak dari luar! Apa sebagai orang yang sudah saling kenal harus seperti ini? Bukankah lebih baik kalau kalian terutama kamu, menanyakan kebenarannya langsung padaku sebelum ikut menghakimi seperti yang lain! Bukankah seharusnya kalian berbuat baik dan menarik orang yang tersesat? Bukannya justru ikutan menghujat yang bahkan menenggelamkan orang itu semakin jauh terjerumus ke lembah hitam? Apakah kalian yang notabenenya adalah Keluarga baik-baik yang memiliki hati nurani putih suci seputih kapas ikutan arus menghujatku???"
Inayah menganga.
Ia tak menyangka kalau Arthur akan berkata-kata sebanyak dan setajam itu juga.
"Tunggu! Kami tidak menghujatmu, Mas! Hanya merenggang dan memintamu menjauh. Tidak lagi menempel pada kami karena kami takut sekali terbawa arus yang kurang baik. Jangan salah faham!"
Inayah anak yang cerdas. Ia bisa melontarkan kalimat balik yang kini membuat Arthur terdiam dengan tatapan kecewa.
Inayah yang tadinya kesal, melihat raut wajah Arthur yang sedih menjadi kasihan juga.
Penghakiman Bu Fanny yang disalurkan lewat Emaknya membuat Inayah serba salah juga.
Dalam hal ini Arthur memang belum pernah berbuat kesalahan kepada keluarga mereka.
Namun mendengar cerita-cerita tentang Arthur yang cukup seram tentu saja membuat Inayah ngeri juga.
Arthur, yang memiliki julukan King Arthur. Seorang produser film sekaligus sutradara penganut atheis.
Bukankah hal yang tidak aneh jika seorang atheis melakukan hal-hal yang dilarang Allah Ta'ala? Itu urusan dia, bukan? Kenapa, kenapa kita harus menjauhinya karena kehidupannya? Bukankah iman kita tentu saja berbeda? Bukankah seharusnya kita lah yang tidak terbawa arus untuk ikut jalan dia yang tidak lurus? Tapi... Tapi ada benarnya juga, jika kita seolah tutup mata dengan kelakuannya dan terus berteman hingga tiada batasan sampai pria ini bisa mondar-mandir sesuka hati ke rumah ini, kemungkinan besar bakalan berdampak juga pada kehidupan kami semua? Bukankah Rasulullah sendiri mengatakan dalam kalau kita harus berhati-hati dalam memilih pertemanan?
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap.” (HR. Imam Bukhari).
Inayah menggaruk-garuk kepalanya yang sedikit runyam.
Dan matanya meredup melihat Arthur berjalan dengan kesal meninggalkannya masuk mobil.
Mobil Alphard mewahnya berbalik arah, meluncur dengan kecepatan lumayan tinggi membuat Inayah hanya bisa menghela nafas lega.
Tapi meskipun Ia merasa lega, tapi di hati kecilnya ada sebongkah rasa bersalah. Bersalah karena pada akhirnya Ia pun bersikap seperti kebanyakan orang yang lebih suka melihat sampulnya saja ketimbang mencari tahu isi bukunya.
"Untuk apa baca bukunya? Lihat gambar covernya di sampul sudah terlihat mesum dan menjijikkan. Apalagi baca bukunya yang penuh kisah-kisah berbau p+rn+grafi pastinya. Hm..."
Inayah menjentikkan jemarinya. Ia berusaha menghilangkan penyesalan di hati terdalamnya sambil mengunci pintu gerbang dan masuk ke dalam.
BERSAMBUNG
__ADS_1