
Kedua perempuan beda usia itu berjalan berdampingan menelusuri lorong rumah sakit.
Setelah bertanya kepada bagian informasi, Inayah dan Mia akhirnya mendapat keterangan tentang ruangan kamar inap produser dan sutradara film yang berkewarganegaraan ganda itu.
"Anyelir Satu! Ini, Mak sepertinya!" kata Inayah pada Mia sambil menunjuk ke arah pintu kamar ruang inap VVIP yang letaknya paling pojok itu.
"Ruang VVIP, tapi... kenapa posisinya paling pojok begini ya?" gumam Mia pada Inayah.
"Mungkin permintaannya, Mak!"
Keduanya tersenyum, menyadari kalau pasien yang akan mereka jenguk memang berbeda dari kebanyakan orang.
Tok tok tok
"Permisi..."
Krieeet...
Mia membuka pintu kamar dengan perlahan.
Ruangan yang sangat besar dan bersih.
Mia dan Inayah menghela nafas sambil saling berpandangan, mengangguk lalu berjalan masuk.
Ranjang tidur yang sedikit lebih lebar dari ranjang besi rawat inap lainnya.
Seorang pria sedang tertidur lelap dengan tangan terpasang selang infusan.
"Sedang istirahat sepertinya," tutur Inayah dengan suara berbisik.
Mia mengangguk.
Wajah bule itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Seperti bukan Arthur yang selalu berapi-api dan dipenuhi dengan jiwa yang bebas.
Keduanya berdiri sambil menatap Arthur dengan perasaan yang sama. Sama-sama kasihan melihatnya tergolek lemah sendirian, tanpa ada seseorang yang menemani.
Bahkan di atas meja masih tergeletak nampan berisi makanan rumah sakit yang masih steril dibungkus plastik wrap, belum disentuh Arthur.
"Ternyata... anak ini benar-benar kesepian hidupnya!" gumam Mia.
Inayah tidak berkata-kata. Matanya sesekali melirik wajah tampan Arthur yang kian menggemaskan. Sungguh tidak seperti pria berusia 34 tahun saja.
Dimata Inayah, Arthur masih terlihat muda bagaikan pemuda dua puluh lima tahunan.
"Nay...?!?"
Inayah dan Mia terkejut.
Arthur terbangun dari tidurnya dan langsung menyebut nama Inayah.
"Hai!"
"Bagaimana keadaan Nak Arthur?" sapa Mia dengan senyuman tersungging manis di bibir.
"Mak..."
Arthur hendak bangun, namun dilarang Mia.
"Jangan, rebahan saja karena kamu baru bangun tidur."
"Tidak apa-apa, Mak. Saya sudah jauh lebih baik. Karena operasi selesai kemarin malam."
Mia tersenyum lega. Inayah menghela nafas panjangnya.
"Syukur Alhamdulillah." Mia membantu Arthur yang perlahan bangkit dan duduk di ranjang tidurnya.
__ADS_1
"Senangnya. Mak dan Inayah menjenguk Saya."
"Semalam Inayah cerita. Lekas sembuh ya? Pasti banyak kerjaan yang menunggu kamu lanjutkan. Hehehe..."
"Iya, Mak. Terima kasih atas perhatiannya. Besok saya sudah boleh pulang. Tinggal pemulihan saja, hanya belum bisa bekerja terlalu berat. Hehehe..."
"Oiya, maaf Nak. Mak dan Inayah jenguk tanpa bawa apapun. Mau beli makanan takutnya ada pantangan."
"Tidak apa-apa, Mak. Kehadiran Mak dan Inayah sudah merupakan kebahagiaan buat Saya."
Mia membatin,
Anak ini sangat pandai dan manis dalam berkata-kata. Wajar saja kalau banyak perempuan tergila-gila padanya. Selain tampan dan juga kaya raya, dia juga sopan dalam bicara dan lemah lembut terhadap perempuan.
Inayah diam saja sedari tadi. Padahal di fikirannya banyak berkecamuk perasaan yang campur aduk.
"Kamu pasti belum makan!" tebak Mia membuat Arthur tersipu.
"Ini, Mas makanannya!" kata Inayah sembari menyodorkan nampan berisi semangkuk bubur nasi beserta lauk pauk yang masih tersegel.
"Makan dulu, biar cepat sembuh."
Perhatian Mia membuat Arthur senang, namun justru Inayah cemburu.
"Mak, jangan terlalu baik dengan orang ini!" tukas Inayah membuat Mia tertawa dan Arthur memeletkan lidahnya.
"Kamu cemburu ya, karena Mak perhatian padaku?" ledek Arthur membuat Inayah yang kini gantian memeletkan lidah.
"Anggap aja, anak Mak tambah satu, Nay. Hehehe... Boleh ya?" tambah Mia semakin membuat Arthur besar kepala.
Inayah memanyunkan bibirnya.
Ada senang, tapi juga kesal.
Mia membantu Arthur membuka plastik wrap yang membungkus rapat makanannya. Dan Arthur mulai makan dengan perlahan.
Arthur menggelengkan kepala.
"Tidak dikabari?" tanya Mia lagi.
"Mereka sibuk, Mak! Tidak apa-apa."
Mia menghela nafas. Inayah hanya bisa memandang Mia dan Arthur bergantian.
"Mak..." kata Arthur setelah selesai makan.
"Ya?"
"Bolehkah Saya berbicara empat mata dengan Mak?"
Mia menatap Arthur dengan tatapan serius. Inayah bingung juga.
"Nay..."
"Ya, Mak?"
"Bisa tunggu Emak sebentar di luar?" tanya Mia pada putrinya.
"Maaf ya, Nay!" timpal Arthur.
Inayah mengangguk. Ia menuruti perkataan Mia lalu berjalan keluar.
"Mak..."
Mia menatap wajah Arthur.
__ADS_1
"Saya..., bolehkah saya melamar putri Mak untuk jadi istri Saya?"
Mia tersentak kaget.
"Siapa? Inayah?"
"Ya. Inayah, Mak!"
"Maaf, apa kamu masih terpengaruh obat bius operasi?"
Arthur menggelengkan kepalanya.
"Mak, Saya... bersedia masuk Islam jika Mak mengizinkan."
Mia diam. Matanya menatap tajam kedua bola mata Arthur yang coklat keemasan.
"Apa kamu sudah mencuci otak putri Saya?" tanya Mia dengan suara datar.
"Saya belum bicara apapun pada Inayah. Saya ingin langsung bertanya pada Mak dulu. Baru setelah Mak setuju, Saya akan bilang pada Inayah."
"Tidakkah kamu sadari, putri saya baru menginjak usia 18 tahun? Dan kamu... 34 tahun. Nyaris dua kali lipat umurnya dengan Inayah. Sudah pasti pengalaman hidupmu jauh di atas putri Saya dalam hal segalanya."
Deg
Arthur tersadar, Mia begitu gusar dan marah besar.
"Mak,... maaf..."
"Tidak segampang itu untukmu mendapatkan putri saya, Mas Arthur Handoko! Walau kamu menukar keimananmu dengan meyakini satu Tuhan yang sama nantinya dengan kami. Inayah baru saja kuliah. Dia baru mengenal dunia. Tolong, jangan rusak kepolosan putri saya!"
Mia mengambil tasnya. Dia tergesa-gesa pergi dengan beban batinnya yang cukup berat.
"Mak?!!"
"Permisi. Assalamualaikum!"
Brukk.
Mia menutup pintu depan jantung berdegup kencang.
Inayah yang berada di luar kamar langsung menoleh pada Mia.
"Mak?"
"Ayo kita pulang! Dan jangan pernah hubungi pria itu lagi!"
Mia menarik tangan Inayah dan menggenggamnya erat.
Dadanya bergemuruh, khawatir sekaligus cemas meskipun Arthur berkata dengan bahasa yang baik dan tertata.
Citra buruk Arthur masih tertanam di benak Mia.
Pria pecinta wanita dewasa. Itulah julukan Arthur yang sempat Fanny ceritakan pada Mia. Bahkan Arthur sudah biasa turun naik ranjang, tidur bersama para pecintanya itu.
Tentu saja lamaran Arthur pada Inayah membuat Mia panik sepanik-paniknya.
"Ada apa, Mak? Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa!"
"Apa dia merayu Mak? Membuat Mak kesal sekali seperti saat ini!"
"Dia tidak merayu Mak! Tapi dia minta kamu untuk jadi istrinya! Dia bersedia masuk Islam jika Mak memberikan izin!"
"Apa?!?"
__ADS_1
BERSAMBUNG