
Video postingan Arthur Handoko tentu saja menjadi viral dalam waktu kurang dari tiga jam saja.
Banyak sekali rekan-rekan Arthur yang langsung menghubungi Inayah dan official perusahaan film milik Arthur yang ada di Jakarta.
Semua bingung, terutama Inayah.
Kakak-kakaknya kini juga mengetahui kabar berita itu dan langsung mendatangi kediaman Arthur Inayah di kota hujan. Secara Inayah memang lebih memilih tinggal di rumah sendiri ketimbang menginap di rumah Amelia Lukman.
Tia, Alif, Amelia serta Lukman, Rama gan dan Gaga juga merapat menemui Inayah yang terlihat lebih tegar dari sebelumnya.
"Gila itu di Arthur! Makin kesini kelakuannya makin ga jelas!!! Bisa-bisanya dia posting video tanpa persetujuan kita-kita sebagai Keluarganya Inayah!" maki Alif geram sekali.
Semua menggangguk dengan wajah tegang. Hanya Inayah yang justru menyikapinya dengan agak santai.
"Mas Arthur sedang dalam kondisi tidak sadar, Mas!" bela Inayah membuat semuanya menoleh pada Inayah.
"Ya Allah, Nay! Dia tidak lagi menganggap mu! Bahkan menceraikan kamu lewat video dan di share tanpa pikirkan perasaan kamu, apa itu juga dalam kondisi tidak sadar?"
"Dulu kata Mami Frederica temperamennya memang seperti itu, Mas. Dulu dia memang sangat dingin dan kejam kata mas Victor. Itu dulu. Dan sekarang Mas Arthur kehilangan separuh memori ingatannya. Membuat dirinya merasa masih seorang pribadi yang dulu. Inayah tidak bisa mengalahkan sikap dingin mas Arthur yang sekarang. Ini hanyalah... sebuah ujian bagi Inayah."
"Betul. Dan kamu sudah siap menerima ujian ini."
"Iya, Mbak. Saya terima semua ujian yang Allah tetapkan ini."
"Apa kita ga perlu mensomasi dia karena menceraikan Inayah dengan sangat tidak sopan, Mas Lukman?"
Lukman menghela nafas tak langsung menjawab.
"Kita serahkan semuanya pada Inayah saja. Karena yang paling tahu Arthur pastinya Inayah. Apalagi, sekarang Inayah sedang mengandung. Yang penting Inayah sehat jiwa raga dan juga bayi yang ada dalam kandungannya bisa lahir dengan sehat selamat penuh keberkahan. Itu saja pendapatku."
Lukman memang tidak ingin gegabah meluapkan emosi. Dia tidak ingin membuat Inayah jadi kepikiran terus menerus.
"Inayah, jangan pernah merasa hidup sendiri. Kami semua ada untukmu. Kapan pun itu. Jangan sungkan hubungi kami. Atau sebaliknya kamu tinggal bersama kita saja di Ibukota. Disini kamu sendirian. Hanya ditemani ART. Lebih baik tinggal sama Tia atau kami." Amelia mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
"Makasih, Mbak Yu'. Tapi Inayah lebih merasa tenang jika tinggal di sini. Ada banyak yang bisa Inayah kerjakan. Dan Inay akan kembali kuliah juga karena masa ngidamnya sudah lewat sepertinya. Jadi InshaAllah tidak akan mengganggu aktivitas Inayah lagi."
"Kamu mau masuk kuliah lagi?"
"Iya, Mbak. Sayang kalau terlalu lama cuti kuliah. Bisa-bisa Inay lupa pelajarannya."
"Hhh... Gimana ini? Kita juga ga bisa tinggal di sini temani kamu, Nay!"
"Ga apa, Mbak Tia. Aku baik-baik saja sekarang. Masalah mas Arthur, aku ikuti saja dulu kemauannya. Sambil menunggu mas Arthur kembali sadar dan pulih sepenuhnya. Aku akan lanjutkan kehidupanku."
"Hhh... Inayah, yang sabar ya? Yang tegar. Kami percaya kamu adalah perempuan yang hebat. Bahkan lebih hebat dari kami semua karena kekokohan imanmu. Kami semua selalu mendukungmu, apapun pilihanmu, Nay!"
"Terima kasih, Mbak-mbak, Mas-mas semuanya. Aku... sangat bahagia memiliki saudara seperti kalian. Terima kasih."
Tangisan kesedihan Inayah berubah menjadi tangis keharuan.
Ujian hidupnya memang terasa sangat berat.
Namun berkat support anggota keluarganya yang begitu solid membuat Inayah mampu melewati masalah ini dengan hati lapang.
Ia hanya harus ekstra mengsabar menunggu situasi kembali ke dalam posisi yang sebenarnya.
Menunggu ingatan Arthur kembali dan rumah tangga mereka adem lagi.
Itu saja.
Untuk saat ini, percuma ia menolak dan mengatakan banyak hal pada Arthur tentang keberatannya ditalak tiba-tiba. Arthur yang sekarang bukanlah Arthur yang Inayah kenal. Dan Inayah berusaha menerima kenyataan.
Allah Maha membolak-balikkan hati dan jiwa seseorang.
Inayah selalu meminta agar Allah memaafkan semua salahnya dan segera mengangkat sakit nya Arthur. Ia ingin semuanya kembali normal.
Malam itu semua saudaranya menginap di rumah besar yang ditinggalkan Arthur ke San Fransisco.
__ADS_1
Suster Arini sendiri telah pamit pulang kampung pula karena Arthur membawa serta Putra Arthur Pangestu bersamanya.
Inayah kini berbaring di atas ranjang tidurnya dengan wajah menengadah ke atas langit-langit.
Tring.
Ponselnya mendapat pesan.
...Assalamualaikum. Inayah, ini Rendy. Maaf ya soal yang tadi siang. Sumpah demi Allah, aku ga maksud untuk berbuat tak senonoh dengan merangkulmu tiba-tiba. Maaf (emoji minta maaf lima buah)...
Inayah membuka kode hape dan membaca pesan masuk dari Rendy tersebut.
Haruskah aku merespon chatnya Rendy ketika hati ini sedang gundah gulana? Bukankah ini adalah perbuatan yang kurang baik jika kulakukan? Apalagi saat ini suamiku sedang tidak ada. Jahatnya aku jika melakukan hal yang tidak pantas ini. Tapi... jika aku tidak menjawab chat Rendy juga terkesan salah. Karena dia hanya ingin meluruskan masalah yang tadi siang.
"Ya Allah, mohon maafkan Aku. Aku akan membalas chat Rendy sekali saja."
...Alaikumussalam. Tidak apa-apa. Jangan dipermasalahkan lagi, cuma salah faham saja koq....
Rendy terbelalak. Inayah menjawabnya. Hatinya seketika berbunga-bunga.
...Semangat (Emoji tangan memberikan kode penyemangat)...
Inayah tidak membuka chat Rendy lagi. Karena jika itu ia lakukan, chattannya bisa terus berlanjut. Inayah tidak inginkan itu.
Malam merayap begitu lambat.
Menemani Inayah yang sudah bertekad bulat akan melanjutkan kuliah meskipun sedang hamil.
Cutinya yang diambil selama dua semester akan dia cabut besok. Dan baru akan diambil kembali ketika kehamilannya telah masuk bulannya.
Harapannya, semoga badai ini segera berlalu. Berganti dengan kebahagiaan yang hakiki. Meskipun Inayah tahu, tidak ada yang abadi. Tapi ia memohon kepada Allah, agar percintaannya dengan Arthur Handoko diperpanjang sampai akhir hayat menutup mata.
Perlahan menetes air mata di pipi.
__ADS_1
"Mas..., aku rindu kamu, Mas! Kembalilah! Pulanglah, Mas Arthur! Aku sangat merindukanmu!"
BERSAMBUNG