Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 103 Akhirnya...


__ADS_3

Orang-orang yang melihat interaksi antara kedua mantan pasangan suami istri yang dulu mereka kenal itu hanya bisa berkasak-kusuk menghibah bahkan ada yang tertawa puas melihat Soleh. Kebanyakan dari mereka adalah para ibu-ibu yang sedang belanja di warung Bu Saodah.


"Hehehe, kesian kesian! Makanya tuh para lelaki! Jangan suka kesusu buru-buru kepincut perempuan lain, nikah lagi diam-diam lalu ceraikan istri karena dapat yang lebih muda. Yang muda belum tentu semengerti yang tua! Yang muda tidak selamanya buat kalian bahagia! Makan tuh pencarian! Hihihi..."


"Betul banget Bu Saodah! Lelaki itu gampang tergoda yang muda! Padahal yang muda belum tentu enak rasanya! Hihihi, yang tua pastinya yang lebih legit dong! Lihat aja, berondong jaman sekarang sukanya sama perempuan yang lebih tua! Iyakan, Lukman?"


Lukman yang baru saja memarkirkan mobilnya di samping warung Bu Saodah jadi sasaran.


Ia melihat Soleh yang sedang menangis dengan tubuh terduduk di teras rumah kontrakan Amelia.


Lukman hanya menunggu. Sampai Soleh bangkit dan pergi dari sana.


Sepertinya Bang Soleh datang untuk mengajak Mbak Amel rujuk kembali! Melihat reaksinya yang seperti itu, pastinya Mbak Amel menolak keras. Syukurlah!


Lukman menoleh pada Bu Saodah yang senyum-senyum meliriknya.


"Bu, beli larutan cap kaki tiga yang di kaleng sepuluh ya?"


"Pasti buat mendinginkan hati Mbak Amel ya? Oh iya, sudah seminggu baru kelihatan lagi. Dari mana aja, Man? Cari duit buat lamar Mbak Amel ya?"


Sudah bukan rahasia lagi kalau Lukman memang menyukai Amelia dan ingin menikahi janda kembang itu.


Lukman hanya tersenyum tipis. Tidak menanggapi juga tidak menampik. Tak ada jawaban sepatah pun yang keluar dari mulutnya.


Hingga matanya melihat ke arah Soleh yang keluar dengan motor gedenya dari teras rumah kontrakan Amelia.


Lukman menghela nafas lega.


Lukman berjalan menuju rumah kontrakan Amel. Diliriknya jam di tangan. Pukul sepuluh lebih.


Pastinya Amelia sedang sibuk bersama Tasya dan Ziah di dapur. Lukman hanya ingin menyambangi sebentar saja karena tidak mau mengganggu juga.


Tok tok tok


"Assalamualaikum!"


Amel yang mendengar suara salam dari luar. Kembali berdiri dengan emosi kian meninggi.


Pisau daging diambilnya lagi, dan...


"Mau apa kau ketuk-ketuk pintu rumah ini lagi? Mau mati?" pekiknya setelah membuka pintu sembari menodongkan pisau ke arah Lukman yang terkejut setengah mati.


Amelia juga kaget setelah melihat wajah Lukman.


Prang!!!


Pisau daging itu Amel lepaskan hingga jatuh di lantai.


"Lukman!!!" ucapnya senang. Tanpa sadar Amelia berlari dan langsung memeluk Lukman.


Ia menangis di dada pria lajang itu untuk menumpahkan kekesalannya.


"Lukmaaan... hik hik hiks, kemana aja kamuuu!!!?"

__ADS_1


Lukman terharu, sekaligus bahagia.


Bunga-bunga dihatinya yang sempat layu kini merekah berkembang sempurna.


"Maaf, maaf hapeku rusak nyemplung kamar mandi, Mbak! Aku juga sakit. Sempat dirawat tiga hari dan ini baru bisa keluar rumah karena dilarang Mama."


Amelia langsung melepaskan pelukannya.


Tersadar Ia kalau Lukman adalah anak orang kaya raya juga.


Amelia kini minder dengan strata sosial Lukman yang bukan berasal dari keluarga sederhana seperti dirinya.


"Mbak! Maukah Mbak menikah denganku?"


Amelia menelan ludah.


Ia ingin menjawab iya. Tapi takut dengan dirinya yang jauh dibawah Lukman soal bibit, bebet dan bobotnya.


"Man..., kamu gak minder jika beristrikan Aku?" tanya Amelia mencari tahu.


"Aku justru sangat bangga jika bisa mempersunting dirimu!"


Melting hati Amel hingga merona pipinya yang terasa panas setelah mendengar ucapan Lukman yang bagaikan rayuan.


"Man..., Aku... mau."


Amelia menjawab dengan wajah tertunduk malu.


Tasya dan Ziah bersorak gembira.


Bagi Tasya dan Ziah terutama bagi Amel yang seperti sedang ujian negara Kehidupan.


Diujung jalan, sepasang mata meredup mendengar Amelia menerima pinangan Lukman.


Dia adalah Adam. Duda pemilik konveksi yang bekerja sama dengan katering Amel.


Ia yang tadinya hendak ke rumah kontrakan Amel menunggu pesanan katering selesai dan membawanya ke pabrik, urungkan niat.


Di mobilnya ada Diki yang menyetir.


"La, Boss? Kok balik lagi? Apa belum selesai mereka packingnya?" tanya Diki yang bingung melihat Adam yang cepat kembali.


"Dah, kamu aja yang ambil! Malas Aku!" cetus Adam membuat Diki garuk-garuk kepala.


Suami Tasya itu turun dari mobil. Lalu bergegas menuju rumah kontrakan yang ada di samping kontrakannya.


"Bapak!" suara putrinya menyambut Diki.


"Deaa, sedang apa, Sayang?"


"Di rumah Anti Amel tadi ramai ribut-ribut!" celoteh Dea bercerita pada Diki.


"Iya kah?"

__ADS_1


"Hooh!"


Diki menggendong putrinya.


Ia terkejut melihat Lukman yang sedang duduk di kursi sofa ruang tamu Amelia.


"Lukman?!?"


"Dik!"


"Woaa, kemana aja Lo? Ck, beneran gila ni orang! Eh, Lo tau gak? Mbak Amel itu cinta sama Lo lho!!? Dia nangis terus ga ada kabar dari Lo!" bisik Diki macam emak-emak kompleks yang suka gosip di warung Bu Saodah.


"Hehehe... Lamaranku diterima!" adu Lukman dengan bangga.


"Sama Mbak Amel?"


Lukman mengangguk bahagia.


"Woa, Alhamdulillah. Hahaha... Lo pasti abis dari dukun ya?" goda Diki membully Lukman.


"Apaan!? Gue sakit, lambung akut. Masuk rumah sakit! Malah di tuduh ngawaduk Dina rungkun! Dasar!"


"Hahaha... abisnya Lo ngilang ga da kabar. Hape Lo mati!"


"Nyemplung bak kamar mandi! Rusak total! Nih baru ganti! Nomornya rusak, ganti baru juga!"


Diki tertawa melihat Lukman yang sewot.


Hatinya turut senang. Sahabat serta teman dekat istrinya kini mulai menjalin hubungan.


Berharap hubungan mereka lancar dan segera naik pelaminan.


Diki jadi teringat Boss Adam yang barusan bete wajahnya. Ternyata, Boss nya itu melihat Lukman yang sedang mengajukan lamaran pada Amel.


"Pantesan tadi Boss Adam adat-adatan! Ternyata, hehehe..."


"Gimana keadaan Boss Adam?"


"Sejak ditolak Mbak Amel, dia jadi bengis, Man!"


"Hah? Ditolak toh?!"


"Gue kan bilang, Mbak Amel itu sebenarnya cinta sama Elo! Katanya Lo tulus setiap kali bantuin dia. Beda sama si Boss yang meskipun orang kaya, tapi gak terlihat ketulusannya sayang Mbak Amel!"


"Ehem ehem, kayaknya ada yang lagi ghibahin Aku deh!"


"Hehehe, Mbak! Maaf..."


Amel tersipu. Malu juga Ia karena hatinya kini diketahui oleh orang-orang terdekat.


Ia memang menyukai Lukman yang apa adanya. Bukan Lukman yang ternyata anak orang kaya. Tapi Amel sendiri belum tahu kalau Lukman adalah pewaris tahta perusahaan properti terbesar di Indonesia.


Amelia hanya tahu kalau keluarga Lukman adalah keluarga besar yang cukup berada. Tapi tidak menyangka kalau keluarganya adalah keluarga konglomerat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2