
"Mas, ini kakakku Mbak Amelia. Beliau sengaja datang menjenguk Mas."
Juriah mengetuk pintu dan memperkenalkan Amelia pada Arthur yang masih bercengkrama santai dengan Victor.
Arthur menatap wajah Amelia. Ia tersenyum tipis dan mengangguk.
Entah mengapa, melihat paras cantik ayu nan anggun Amelia membuat tingkahnya lebih cool tidak seperti pada Inayah.
"Salam kenal. Saya Victor Valdes. Ternyata Kakaknya Inayah adalah menantunya Ibu Komjen Holtikultura, Ibu Fanny Ghassani. Senang bisa berkenalan dengan Anda!"
Victor dengan cepat menyalami Amelia yang tersenyum ramah.
"Saya yang senang bisa berkenalan dengan seorang sutradara film yang terkenal di luar negeri!" sahut Amelia.
"Iya, terkenal hanya di luar negeri. Dalam negeri, orang tidak ada yang tahu. Hehehe..."
"Mas Victor paling bisa merendah. Orangnya down to earth sekali."
"Haih, Mbak Amelia bisa saja. Hehehe... Terima kasih pujiannya. Untungnya pacar saya sudah keluar barusan. Kalau tidak, bisa panjang urusan. Hehehe..."
"Maaf, maaf, hehehe saya tidak ada maksud lain."
"Hahaha, maaf. Jangan terlalu kaku. Saya hanya bercanda, Mbak!"
"Hehehe..."
Kehadiran Victor diantara mereka menjadi pencair suasana yang agak tegang. Arthur masih seperti biasa. Dingin dan tak banyak bicara. Ia bingung sekaligus tidak tahu harus berkata apa pada kakak iparnya yang saat ini tidak ia kenali.
Namun penampilan Amelia yang stylish dan tak berhijab sedikit membuat kegusaran hatinya mereda.
Arthur yang saat ini adalah Arthur yang berfikiran kalau dirinya adalah seorang ateis yang sangat membenci wanita.
Dia masih terkungkung dalam memori masa lalunya yang kelam. Masa-masa disaat dirinya dihianati oleh Bianca.
Brakkk
"Papa! Papa!!!"
Pintu kamar terbuka lebar karena didorong keras oleh Putra Arthur Pangestu.
"Who is the boy?" teriak Arthur dengan nada tinggi.
"O my Gosh, really really looks a lot like your face, Arthur! Tuhan benar-benar ada!" seru Victor yang juga terkejut melihat wajah Pupu. Ini adalah pertama kalinya Victor melihat langsung Pupu.
"Siapa anak itu, Vic?"
"Dia anakmu dengan Bianca!"
"Wh what? Are you kidding me?"
"Hahaha... Aku sendiri berharap kalau anak ini bukanlah anak kandungmu, tapi nyatanya... Pupu is your kid. And Inayah juga sedang mengandung janin calon anakmu. Itu kenyataannya."
"WHAT???"
Arthur semaput pingsan.
Ia benar-benar terkejut dan sama sekali tidak siap menerima kenyataan yang ada.
Seketika suasana ruangan kamar inap Arthur Handoko menjadi riuh.
................
"Mas Victor, bolehkah saya minta tolong sekali lagi?"
"Silahkan, Mbak. Jika saya mampu, saya akan bantu. Tapi jika tidak, saya akan bantu sekuat tenaga."
Amelia mengangguk hormat pada Victor.
"Tolong bantu adik saya memulihkan kembali kesehatan memori ingatan mas Arthur. Tolong, please..."
Victor menatap bola mata Amelia. Ia sudah terpincut dengan kepribadian Amelia sejak pandangan pertama.
Sebenarnya perempuan model Amelia lah tipe idamannya. Berwajah cantik manis khas Indonesia asli dan bertubuh tinggi semampai. Berkulit eksotis coklat cenderung sawo matang, serta berambut hitam panjang agak ikal.
Sayangnya, lingkungan dan juga circle pergaulannya membuat Victor juga memiliki rasa yang fantastik pada teman sesama jenisnya. Juga trauma yang pernah didapatkannya dari seorang perempuan yang tak lain adalah ibu tirinya di Belanda sana. Membuat Victor cenderung belok dan merasa lebih nyaman berhubungan dengan sesamanya.
Kini perlahan Victor mulai menuruti perintah Arthur. Agar Ia menjadi pribadi yang lebih baik.
Ada Juriah yang memiliki nasib tak beruntung seperti dia dalam hal percintaan.
Hubungan simbiosis mutualisme menjadi alasan baginya bekerja sama dalam hal kebaikan yakni bisnis dan kehidupan.
Walaupun terlihat seperti penipuan publik, tapi dengan Juriah dirinya bisa berdiri lebih kokoh lagi.
Mereka saling bahu membahu. Saling dukung dan bantu dalam karier perfilman dan juga persahabatan.
__ADS_1
Juriah awalnya Victor anggap sebagai adik angkat saja.
Tapi lama kelamaan, bodi serta kepribadian Juriah membuat Victor merasa nyaman ketika mereka bersama.
Dengan dalih saling menguntungkan satu sama lain, baik Victor juga Juriah menjalani hubungan pacaran pura-pura.
Perlahan kenyamanan tinggal bersama itu menjadi tali pengikat keduanya yang belum main perasaan itu.
Seperti malam ini.
Victor duduk di rooftop rumahnya bersama Juriah sambil menikmati minuman soda dan kacang kulit favoritnya.
"Aku tidak bisa menolak permohonan kakak iparnya si Arthur."
"Apakah karena Mbak Amel adalah perempuan yang menarik hatimu, Mas?" celetuk Juriah yang langsung cemburu.
Jantungnya berdegup kencang ketika mendengar ucapan Victor tentang permintaan Amelia tadi siang padanya.
Tawa sengau Victor semakin membuat Juriah makin tidak enak hati.
"Cih! Dasar laki-laki! Gak pernah bisa dipegang ucapannya!" umpat Juriah, marah.
Juriah hendak berlalu. Ia tak ingin raut wajahnya yang tampak jelas mengguratkan kecemburuan terlihat oleh Victor.
Namun,
Grep.
Tangannya terlanjur kena tangkap tangan Victor.
"Mau kemana, Putri?" tanya Victor diiringi dengan senyuman.
Ia telah menangkap gelagat itu, lagi dan lagi dari raut wajah Juriah.
"Amelia memang menarik. Aku tidak mungkin menipu diriku sendiri dan juga jadi berbohong hanya untuk menyenangkan hatimu seorang saja. Hehehe... Lagipula, berbohong itu perbuatan dosa, bukan? Kata pak ustadz, neraka tempat para pembohong. Apa kamu mau aku ditaruh di neraka? Hm?"
Lirikan Victor yang penuh dengan candaan membuat Juriah tanpa sadar menghela nafas panjang.
Tingkahnya yang terlihat kekanak-kanakan itu justru begitu menggemaskan bagi Victor.
"Kenapa pacarku ini terlihat manis sekali jika sedang cemburu buta?" gumam Victor dengan suara berbisik.
Sontak merah merona wajah Juriah.
"Ih? Siapa yang cemburu buta? Buat apa cemburu buta, toh Aku punya mata. Bisa melihat juga!" tukas Juriah seperti kebakaran jenggot.
Sebenarnya sikap Victor yang suka memeluk bukanlah hal yang aneh.
Pria itu sudah terbiasa physical touch dengan siapa pun termasuk dengan Juriah, yang jadi asisten pribadi sekaligus artis barunya. Dipeluk dan dipegang tangannya oleh Victor, bukan hal yang baru bagi Juriah.
Tapi kali ini, entah kenapa ada gelenjar aneh menjalari sel-sel sensor motorik halusnya.
Jantungnya juga berdenyut sangat kencang.
Juriah merasakan debaran yang kian membuat hatinya tak puguh karuan.
Terlebih ketika tangan Victor yang kekar menangkup punggungnya kian merekat dadanya yang membuncah ke dada Victor.
Juriah bahkan bisa merasakan kalau debarannya terasa sampai jantung Victor juga.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
Hingga hembusan nafas dari lubang hidung keduanya terasa satu sama lain.
Dan,
Hampir saja Juriah berteriak. Victor,... mendekatkan bibirnya ke bibir Juriah.
Namun Juriah segera sadar dan mendorong Victor seraya berkata, "Jangan menggodaku terlalu berlebihan, Mas!"
"Kenapa? Kenapa, Putri? Apa kamu tidak mau kucium? Apa aku terlihat menjijikkan? Atau,..."
Juriah memalingkan wajahnya.
Terasa panas dan memerah kulit wajahnya sampai-sampai ia ingin sekali punya ilmu menghilang saat ini juga.
Juriah malu sekali.
"Siapa lah aku ini. Justru aku takut, mas Victor yang jijik padaku."
"Begitu? Bukannya kamu yang jijik padaku, karena kulihat kamu seperti selalu menjaga jarak dariku. Aku tidak salah sangka, kan?"
Juriah terdiam.
Sikapnya ternyata terbaca selama ini. Dan memang benar ia sedang berusaha menjaga dirinya dari Victor.
__ADS_1
Juriah tidak ingin jadi boneka mainan Victor.
Ia tidak ingin sakit hati lagi karena cinta yang salah tempat.
Apalagi mengingat sepak terjang Victor yang cukup lihai dalam hal percintaan.
"Kenapa, Juriah? Kenapa tidak mau menatap Aku?"
Juriah terhenyak. Victor menarik dagunya hingga mereka kini kembali bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.
"Aku takut..."
"Takut apa?"
"Takut, takut Mas hanya permainkan Aku. Jadi, daripada seperti itu, dan aku jadi sedih, sakit hati,... lebih baik... Mas jangan berfikir terlalu jauh untuk bermain-main denganku."
Jawaban Juriah yang terbata-bata membuat Victor memasang mode on serius.
"Jadi kamu ingin hubungan kita ini dibuat nyata?" tanyanya menyelidik.
"Mas..., sudahlah. Maafkan aku jika tidak bisa memberimu yang satu itu. Maaf. Aku tidak bisa membayar semua jasa-jasa mas dengan tubuhku. Maaf..."
Juriah menunduk. Victor mengangkat dagu Juriah kembali.
"Tatap aku! Apa aku terlihat seperti serigala buas dimatamu, Juriah? Apa aku tampak seperti laki-laki yang biadab yang inginkan balas budi dibayar paha dan dada?"
Juriah tercekat.
Wajahnya kembali memerah.
Ia tidak memandang rendah Victor. Tapi juga tidak bisa menyebut Victor laksana malaikat berhati mulia. Tidak.
Victor juga laki-laki. Meskipun Ia cenderung menyukai sesama jenis, tapi ia juga punya nafsu sebagai pria dewasa.
Jika sedang ingin bercinta, Victor tidak segan membeli perempuan yang dianggapnya pantas untuk jadi pasangan sesaat di atas ranjang tidurnya.
Juriah tahu itu. Dan Victor jujur pernah menceritakan keinginan bercintanya pada Juriah.
Juriah tidak ingin jadi manusia yang bobrok sebobrok-bobroknya.
Apalagi, Ia pernah menderita penyakit kelamin dan juga kanker rahim.
Juriah trauma untuk melakukan hubungan intim layaknya suami istri sejak boss pertamanya menipu dan membuangnya begitu saja.
Bahkan seorang Solehudin pun menceraikannya tanpa perlawanan setelah Ia mengatakan ingin cerai.
"Juriah? Kenapa diam?"
"Aku pernah memiliki penyakit kotor, Mas!"
"Kamu sudah sembuh. Surat keterangan sehat dari rumah sakit yang klinik kecantikan rekomendasikan menunjukkan itu. Jangan berdalih lain, karena itu adalah kebohongan."
Juriah menunduk.
Berdebat dengan Victor adalah suatu kebodohan.
Tak akan bisa menang. Dan Juriah lebih memilih diam.
"Kamu jijik denganku?"
Juriah menggeleng.
"Jijik karena aku pernah berhubungan dengan pria juga?"
Gelengan Juriah kian cepat.
"Lalu, kenapa menolak ciumanku?"
"Karena kita bukan muhrim!"
"Jadi, bagaimana caranya agar kita jadi muhrim?"
"Menikah dahulu."
"Let's go, besok kita menikah!"
"Hahh???"
Victor tertawa lebar.
Ia mengedipkan sebelah matanya. Lalu mencubit pipi chubby Juriah.
"Besok kita menikah! Tidurlah cepat, agar esok segera kita jelang! Hehehe..."
Juriah terkaget-kaget. Matanya menatap Victor yang berlalu dan menghilang di balik pintu rooftop.
__ADS_1
Apa iya? Apakah segila itu jalan fikiran Mas Victor? Hahh???
BERSAMBUNG