
Treeet treeet treeet
Treeet treeet treeet
Tito melihat layar ponselnya.
...Bu Samsiah is calling...
"Sebentar, Lan! Ada telepon!"
Lani hanya bisa menelisik wajah suaminya dengan tatapan dingin.
Ada luka hati yang sedang Ia sembunyikan.
Jika saat ini Ia ungkap, semuanya akan berakhir. Termasuk juga rumah tangga dan kenikmatan yang belum puas Ia dapatkan.
Hati kecilnya merencanakan sesuatu yang lebih besar dari pembalasan dendam pengkhianatan yang dilakukan Tito bersama Samsiah.
Lani baru tersadar kalau suaminya kini berprofesi sebagai gig+Lo seorang perempuan yang lebih pantas dianggap Ibu itu daripada seorang selingkuhan.
Ternyata Ia harus bersedia menukar semua pemberian Bu Samsiah, Ibu mertua Kakaknya dengan tubuh serta hati Tito.
"Hallo? Iya, Bu?"
...[Hallo? Tito? Kamu dimana? Rumahmu sepi. Pintunya juga sepertinya rusak kuncinya! Aku ada disini. Di depan pintu rumah kamu!]...
"Saya ada di rumah sakit, Bu! Cia dirawat semalam. Ada apa Ibu sampai datang ke rumah?"
...[Hhh... Gimana keadaan Cia? Aku, Aku... ingin bertemu kamu. Hik hik hiks...]...
"Ibu kenapa? Kenapa nangis? A_ada apa dengan Bapak? Apa...,"
Tito tidak berani meneruskan ucapannya. Tangannya mulai berkeringat, jantungnya berdegup kencang. Khawatir kalau hubungan mereka diketahui Ojan, Suami Samsiah seperti Juriah yang tempo hari melihat mereka tengah berpelukan di kamar tamu yang lupa dikunci.
...[Datanglah, To! To... hiks hiks, Aku, Aku ingin ketemu kamu?]...
Berdebar hati Tito.
Mata Lani menembus netranya dengan sinaran yang baru pertama kali Ia lihat.
"Kenapa Ibu mertuanya Bang Soleh?" tanya Lani dingin.
"Dia ada di depan rumah kita!"
"Suruh aja dia kemari. Kamu ada di rumah sakit, kan!?"
"Hhh... Sepertinya Aku pulang dulu ke rumah, Lan! Oiya. Rumah kita kemalingan! Perabotan banyak yang hilang!"
"A_pa???"
Lani melotot. Mariana yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menarik baju menantunya itu butuh penjelasan.
"Maksud kamu apa?"
"Pintunya dirusak seseorang dan dalam keadaan terbuka ketika Aku pulang! Pas masuk, rumah kondisinya berantakan. Tivi, salon aktif, tas-tas branded kamu yang ada di kaca etalase juga hilang. Kamar acak-acakan! Aku belum sempat periksa kamar, apa saja yang hilang!"
"Hahh? Kamu gak lagi ngerjain Aku kan, Bang?"
"Untuk apa Aku ngerjain kamu? Ini beneran!"
"Semalaman kamu dari mana, Lan? Apa pulang ke rumah?" tanya Mariana pada putrinya.
"Semalaman Aku disini, Bu! Di luar rumah sakit mencari hiburan karena sumpek dengan situasi yang sedang Aku alami!" bentak Lani yang mulai menampakkan kekesalannya.
"Ehh? Di luar? Malam-malam? Ngapain? Sendirian? Malah keluyuran ga jelas, bukan jaga anak sakit!"
__ADS_1
Lani tidak menggubris ucapan Ibunya. Ia hanya fokus pada wajah suaminya yang terlihat resah.
Pagi ini kondisi Felicia sudah lebih baik. Putri mereka juga akan segera dipindahkan ke ruang inap. Membuat Mariana melarang anak dan menantunya itu untuk pulang ke rumah melihat kondisi rumahnya yang habis kemalingan.
Setelah dua suster tenaga kesehatan membantu memindahkan Cia dengan bantuan kursi roda ke ruang rawat inap kelas tiga, Tito dan Lani pamit pulang sebentar pada Mariana.
Cia menangis kejer tak mau ditinggalkan Lani. Tapi dengan cepat Lani memberi pengertian pada anaknya yang belum genap dua tahun itu kalau rumah mereka semalam dibobol maling.
Cia berhenti menangis setelah Lani memberikan ponselnya agar Cia bisa main game sesuka hati sambil menunggu Lani datang.
Di perjalanan dengan motor baru milik Tito, Lani merasakan kehampaan hati yang dalam.
Tiada lagi kebanggaan seperti diawal keberhasilan Tito dalam memberinya banyak perhiasan dunia sesuai keinginannya.
Baru kini Lani menyadari, ternyata harta tak selamanya memberikan kebahagiaan.
Matanya berembun, teringat masa-masa susah dahulu. Tapi Ia dan Tito selalu bersama bahkan nyaris 24 jam.
Tito hanyalah pria pekerja serabutan. Petani dadakan, tukang las, tukang cat dadakan, apa saja yang orang butuh tenaganya, murni tenaga yang hanya dibayar tunai lima puluh ribu rupiah seharian bekerja.
Pekerjaan Tito yang tetap hanyalah tukang ojek pangkalan. Yang setiap harinya berhasil membawa uang paling banyak seratus ribu rupiah. Itu pun belum dipotong bensin yang harga ecerannya naik beberapa bulan yang lalu.
Walaupun Lani selalu mengomel dan mengomentari perihal uang belanja yang selalu saja minim, tetapi Tito sepenuhnya milik dirinya.
Sarapan, makan siang, ngopi, makan malam, ngopi lagi, selalu bersama dirinya.
Berdebat. Bertengkar. Bahkan sampai pernah saling sentil dan berlari berkejaran karena emosi menjadi candaan. Semuanya itu terasa nikmat dimatanya kini.
Tidak seperti sekarang.
Rumah mentereng.
Lantainya bahkan marmer yang asli dikirim dari kota besar dan belinya pun harus pesan dulu sebelum dibuatkan.
Semua perabot rumah tangga jadulnya yang dulu pernah Lani cicil dengan kredit pada tukang perabot keliling, semuanya ada di rumah Mariana dan juga rumah orang tuanya Tito.
Dengan sombong Lani berkata, perabot itu kini tidak lagi pantas masuk rumah besarnya.
Tetapi ternyata, rumah besar itu adalah hasil dari dirinya menjual tubuh serta hati seorang pria yang dulunya jujur, polos mencintai dirinya sepenuh hati.
Merebak air mata Lani sepanjang perjalanan menuju rumah.
"Sudahlah. Jangan tangisi semua yang telah hilang! TV, harta elektronik yang hilang, bisa kita beli lagi!" ujar Tito yang diam-diam memperhatikan kesedihan di raut wajah istrinya yang kini glowing karena rajin skincare-an.
Tito tidak tahu, Lani telah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Tentang hubungan gilanya dengan perempuan paruh baya yang tak lain adalah Ibu mertua Kakaknya.
Lani tak merespon ucapan Tito.
Pikirannya blank. Jiwanya benar-benar hampa. Kosong tak ada lagi emosi yang tersisa.
Berdegup kencang jantung Lani dan juga Tito. Samsiah berdiri di depan teras rumahnya dengan tatapan tajam menatap mereka yang baru saja tiba.
Mau apa wanita tua itu? Masih gatal? Masih kepingin digaruk Suamiku? Umpat hati Lani kembali kesal.
Diusapnya air mata yang tersisa. Tak ingin Ia terlihat rapuh dimata Samsiah yang terlihat lusuh itu.
"Bagaimana keadaan Cia?" tanya Samsiah.
Lani cuek. Malas menjawab. Hanya Tito yang merespon pertanyaan sang majikan.
"Sudah dipindahkan ke ruang inap, Bu!"
Lani langsung masuk rumahnya. Ia terkejut setengah mati. Rumahnya berantakan seperti kapal pecah.
__ADS_1
Setengah berlari Ia masuk kamarnya yang juga jebol kuncinya.
Baju-baju mahalnya berhamburan di lantai.
Seketika Lani teringat pada kotak emas murni yang Ia kumpulkan bahkan jauh sebelum Tito mudah mendapatkan uang.
Lani melotot tak percaya.
Semuanya raib tak bersisa.
"Huaaaa!!!" teriaknya merasakan kesedihan yang luar biasa.
Tito berlari masuk kamar melihat Sang istri yang teriak histeris. Sementara Samsiah juga berlari mengikuti berondongnya.
"Lani?!?"
"Kotak perhiasan dan uangku hilaaaanggg!!!" pekik Lani lagi. Dan langsung lemas jatuh pingsan.
Tito segera menyangga tubuh Lani sedangkan Samsiah hanya bengong dengan kedua belah tangan menutupi mulutnya.
"Ya Tuhaaan!" lirih Tito dengan mata berkaca-kaca.
Ia memboyong tubuh Lani ke atas ranjang tidurnya.
Samsiah maju, berusaha ingin membantu Lani agar kembali longgar pernafasannya.
"Jangan sentuh istriku! Kumohon, Ibu pulang lah! Pergilah dulu! Kondisi Lani sedang tidak baik-baik saja! Saya ingin istirahat dulu dua tiga hari ini!"
"Tito, hik hik hiks... Tito!"
Samsiah seperti ingin minta perlindungan dari berondong yang biasanya memberinya pelukan hangat. Tapi tidak kali ini.
Tito justru mendorong tubuh ringkihnya yang sakit akibat perbuatan Ojan semalam kepadanya.
Samsiah menatap Tito tak percaya.
"Pulanglah! Ini rumah keluargaku yang sebenarnya! Jangan diracuni oleh nafsumu juga, Bu Sam!"
Samsiah menutup mulutnya. Air matanya tumpah ruah. Hatinya sakit, dihardik pria yang selama ini begitu Ia sayang.
"Mana kunci motorku? Mana?!?" pintanya setelah agak lama hatinya kacau balau karena ucapan Tito yang melukainya.
"Bu..."
"Kunci motor! Sinikan!!!"
Tito menatap wajah Samsiah.
Seketika tersadar kalau ucapannya barusan membuat harga diri Samsiah terhina.
Tito memeluk tubuh Samsiah yang menahan tangis sesegukan.
"Maaf, maaf Sayang! Fikiranku sedang kacau. Otakku mumet mendapati kenyataan putriku sakit dan rumah kemalingan. Kuharap kamu bisa mengerti. Seharusnya mengerti Aku, Sayang!"
"Aku juga sedang kacau! Aku jauh lebih kacau dari kamu, Tito! Hik hik hiks... Lihat!"
Samsiah membuka dua kancing kemejanya hingga terlihat jejak-jejak merah yang mulai menghitam di sekujur tubuhnya karena gigitan Ojan.
Tito ternganga tak percaya.
"Bawa pergi Aku, Tito! Mari kita kabur bersama. Tinggal bersama dan hidup bahagia bersama!"
Tito semakin membulatkan mulutnya yang menganga. Otaknya semakin oleng karena tekanan yang tiba-tiba.
BERSAMBUNG
__ADS_1