
Soleh sedang di atas angin.
Ia berjaya karena Ojan dan keluarga memberinya harta juga kekuasaan. Tak sadar kalau sebenarnya dirinya sudah diperbudak hawa nafsu syetan. Dan sedang dikerumuni jin-jin peliharaan dukun yang biasa Ojan datangi.
Ini sudah seminggu Ia tinggal bersama Juriah di ruko Asamka. Kerjanya menjadi owner pemilik bengkel besar dan mengatur toko onderdilnya serta.
Ojan hanya sesekali datang memantau. Bahkan masalah keuangan pun ia serahkan seutuhnya kepada putri tunggalnya yang kini telah menjadi istri Solehudin.
Mariana dan Anta hampir setiap hari mendatangi ruko tempat tinggal anak pertamanya itu. Tentu saja niatnya untuk meminta uang dan juga makan selain pamer juga jika ada pelanggan bengkel yang ternyata mengenal mereka.
Mariana dan Anta seperti OKB, Orang Kaya Baru. Padahal harta itu hanya titipan Ojan bukan jadi hak milik Solehudin. Bahkan motor gede yang dibelikannya tempo hari pun atas nama Juriah, bukan Soleh. Jadi sebenarnya Soleh hanya memakai saja. Namun kesombongan kedua suami istri itu terlihat semakin menjadi.
Mereka merasa kalau itu semua nanti akan jatuh ke tangan putra sulung tercinta.
Sangat percaya diri karena melihat Ojan yang seolah memanjakan Soleh yang telah jadi menantunya.
Juriah memang telah digenggaman Soleh. Perempuan itu kini benar-benar mengekor Soleh kemanapun Ia pergi.
Ternyata itu juga adalah satu perbuatan syirik yang Mariana dan Anta lakukan diam-diam.
Mereka membuat Juriah menjadi perempuan yang selalu berada di bawah ketiak Soleh. Hingga apapun yang Soleh inginkan, pasti akan Ia turuti dan berikan. Bahkan kecemburuannya melampaui batas kewajaran.
Soleh memang cukup tampan. Wajahnya rupawan di usia dewasa 35 menjelang 36 tahun. Usia yang sedang berada dipuncak kejayaan bagi seorang pria.
Terlebih kini ada uang dan Juriah juga seringkali memanjakan Soleh dengan alat-alat penunjang perawatan penampilan.
Rumah toko mereka yang besar dan berlantai tiga itu telah dilengkapi dengan fasilitas alat olahraga. Mirip tempat nge-gym, ada berbagai alat-alat kebugaran yang bisa membuat Soleh semakin gagah karena mulai rajin olahraga.
Soleh yang agak pemalas dalam bekerja, tentu saja senang hati melihat kemewahan yang Ojan sodorkan.
Ia lebih sering di dalam rumah besar ketimbang menjaga toko onderdil milik Ojan.
Soleh lebih suka mengurung diri di lantai dua dan tiga bersama Juriah yang semakin suka mengajak Soleh bercinta.
Soleh mulai kewalahan. Ternyata Juriah sangat aktif hingga sering mengajaknya bercinta setiap kali. Itu saja kegiatannya sehari-hari. Membuat Juriah senang di atas ranjang dan main di ruang alat-alat kebugaran.
Tanpa terasa, seminggu sudah Ia mengurus bengkel dan toko onderdil yang berada di lantai dasar.
Memang banyak karyawan yang bekerja dan Soleh berdalih tak pernah pusing repot-repot terjun langsung karena ada orang-orang yang loyal bekerja dibawah tangannya. Cukup berkata tegas, baik pada bawahan dengan gaji memuaskan, niscaya para karyawan akan manut pada perintahnya.
__ADS_1
Tapi Ojan mulai melihat gelagat yang tidak baik.
Selama ini Ojan memang memberikan Soleh kepercayaan. Namun tidak serta merta melepaskan begitu saja tanpa ada orang yang memantau.
Ojan sendiri telah tahu karakter Anta, besannya yang suka sekali ongkang-ongkang kaki, tunjuk sana tunjuk sini pada karyawan bengkelnya seolah dialah pemilik asli.
Ojan mulai geregetan melihat kinerja Sang menantu yang tidak gesit.
Seperti pagi ini,
"Mas...! Mas...! Bangun Mas! Abi kepingin ngobrol sampai Mas Soleh!"
Soleh menggeliat. Juriah membangunkan dirinya pukul setengah tujuh pagi. Ia memang terbiasa bangun siang sedari dulu.
Tangannya iseng masuk menyusup ke dalam blus Juriah. Memelintir sesuatu yang imut kecil menyungsung. Membuat Juriah memekik kecil sambil mencubit pinggang Soleh.
Pagi yang indah untuk pasangan suami istri yang belum sebulan menikah.
"Ada apa, Sayang? Tumben-tumbenan Abi datang pagi-pagi?"
"Bangun dulu makanya!" ujar Juriah sembari mengangkat blusnya ke atas. Sengaja menyodorkan gunung kembar miliknya untuk dimainkan Soleh lebih lama lagi.
Soleh ogah-ogahan meladeni Juriah yang membicarakan Bapak mertuanya itu, tapi lebih fokus pada mainan yang Juriah berikan.
Menyenangkan memang. Bermain sebentar dan menggumul gemas membuat si empunya sesekali mel+nguh menahan rasa yang bergelinjang.
Soleh yang pemalas perlahan bangkit dari tidurnya. Menci+mi ceruk leher Sang istri yang baru saja mandi hingga harumnya membuat Soleh kian mabuk kepayang.
"Mas, Abi nunggu kamu di bawah!"
"Kamu duluan sih! Banguninnya pake mancing. Kan jadi bablas!"
"Ish dasar!"
Setelah cukup puas bermanja-manja dengan Juriah dan gunung kembarnya, Soleh bangun. Ia kekamar mandi terlebih dahulu. Gosok gigi juga cuci muka agar tidak tercium bau iler dihadapan sang mertua.
Ojan sedang memeriksa toko onderdilnya dengan wajah agak kusam.
"Uangnya hanya segini?" terdengar kompleinannya pada karyawan bagian kasir yang dijawab angkatan bahu tanda tidak tahu.
__ADS_1
Soleh yang kini berjalan mendekat ke arah Ojan turut merasakan aura intimidasi Sang mertua yang lumayan kuat.
"Soleh! Ini barang-barang toko sudah kosong. Tapi kenapa uang kas toko hanya segini? Harusnya sekitaran dua puluh juta lebih kalau cuma itung modal saja. Minimal dengan keuntungan bengkel bisa mencapai dua puluh lima sampai dua puluh tujuh juta dalam seminggu. Ini gimana bisa belanja barang baru lagi? Uangnya cuma ada tujuh juta sekian?"
Soleh menelan ludahnya.
Beberapa hari ini memang Anta, bapaknya lah yang menunggui toko onderdil serta mengurus bengkel selain karyawan kepercayaan Ojan yang terdahulu.
"Belajar bertanggung jawab itu perlu! Walaupun toko sendiri, tapi jika kamu tidak bisa mengkalkulasi antara pemasukan dan pengeluaran, bisa bangkrut lama-lama bengkel ini! Ck!"
Soleh menghela nafas pendek.
"Maaf, Bi. Saya memang belum belajar banyak soal alat-alat onderdil motor mobil. Masih pengenalan dulu sekitar seminggu ini."
"Abi, jangan salahkan Mas Soleh dong. Mas Soleh kan bukan karyawan bengkel sebelumnya apalagi montir. Mas Soleh masih butuh waktu untuk bisa mengatur segalanya apalagi soal keuangan. Uang segitu, bagi Abi pasti tidak ada apa-apanya, bukan?"
Juriah yang turut mendatangi kantor bengkel ikut nimbrung dan membela Soleh. Tentu saja Soleh jadi besar kepala.
"Tapi kalau kerja suamimu terus seperti ini, tidak butuh waktu lama bengkel ini bangkrut dan tutup!" cetus Ojan membuat Juriah segera merapat Bapak kandungnya itu.
"Maafkan mas Soleh, Bi!"
"Maafkan saya, Bi! Saya akan pelajari pembukuan bengkel setelah ini, Abi!" Soleh mencoba menjilat sang mertua yang terlihat emosi.
"Ya sudah. Ayo kamu ikut aku beli onderdil dan perlengkapan bengkel lainnya ke toko langganan!"
"Baiklah, Bi!"
"Sayang, pulangnya jangan lupa beli nasi kucing ya? Hari ini aku malas masak."
"Iya, Sayang!"
Ojan hanya mendengus kesal. Putri dan menantunya terlihat sangat manis, saling lempar kata sayang.
Ia mulai kesal dengan karakter dan sifat serta sikap Soleh yang perlahan memperlihatkan aslinya.
Ojan kira Soleh dahulu adalah pria yang memiliki semangat dan talenta luar biasa. Ternyata, Ia seorang yang pemalas. Membuat dirinya sering kesal melihat tingkah Soleh yang lebih suka bermain-main saja.
BERSAMBUNG
__ADS_1