Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 136 Bertemunya Tom And Jerry Versi Dunia Nyata


__ADS_3

"Kamu sudah bangun?"


Arthur terkejut. Ternyata dirinya saat ini sedang berada di sebuah rumah sederhana dan terbaring di atas sofa ruang tamu rumah Mia.


Inayah dan Mia tampak cemas melihat wajah pria bule itu.


"Nay, jangan-jangan bule ini tidak bisa berbahasa Indonesia!?" tebak Mia membuat Arthur jadi ingin mengerjai kedua perempuan beda usia itu.


"What you're name, Mister?" tanya Inayah dengan bahasa Inggris yang baku.


"Arthur! My name is Arthur!"


"Kamu tadi, mmmh apa ya bahasa Inggrisnya nabrak kucing?" Inayah tampak kebingungan untuk menjelaskan kepada pria asing yang terlihat lugu juga polos padahal hanya cassing saja.


"What' happened to me?"


Inayah menggaruk-garuk kepalanya.


"Hiks. Andai waktu sekolah mata pelajaran Miss Lala aku fokus, pasti bisa cas cus jawab pertanyaan bule bingung ini!" gumam Inayah pusing sendiri.


"Bule bingung?"


"Duhh, Mak... bingung Nay jelasinnya!"


"Oala Nduk! Apalagi Emak? Moso' iya kita angguk-angguk geleng-geleng?!"


Spontan Arthur tertawa.


Inayah jadi curiga.


"Hei, you! Pasti you ngerti apa yang Aku ucapkan barusan bukan? You pasti mau lari dari tanggung jawab!"


"A_apa?" sontak saja Arthur terkejut dan langsung menjawab.


"You menabrak seekor kucing di jalan! Tewas ditempat dan kami sudah menguburkannya dengan layak."


"Maaf, Nona! Apakah kucing itu kucingnya Nona?"


"Ha, kan? Aku udah ada firasat kamu bisa bahasa Indonesia. Soalnya kamu terlalu berani menyetir mobil sendiri jika tidak bisa berbicara Indonesia. Bukan kucing Saya, tapi biarpun kucing itu hanya seekor hewan, kita wajib mengurusnya dengan benar dan menguburkan dengan layak."


"Terima kasih. Terima kasih banyak."


Arthur mencari-cari sesuatu.


"Cari apa? Kunci mobilmu? Ini, Mister. Dan kami hanya membawa kunci mobil saja. Langsung dikunci tanpa membuka mobil dan membawa barang milikmu di dalam mobil."


"Terima kasih banyak."


Arthur puas dan senang. Dia pikir dia akan kehilangan segalanya. Seperti kejadian lima tahun yang lalu. Ketika dirinya juga dalam kondisi nyaris sama, pingsan karena kaget dan takut melihat darah. Semua hartanya raib termasuk uang dan juga laptopnya. Mereka hanya meninggalkan dompet kosong serta dirinya yang tergolek lemah setelah tersadar sendirian di dalam mobil.


"Mobil saya diparkir di mana?" tanya Arthur pada Inayah.


"Di pinggir jalan raya sana. Jangan khawatir, mobilmu aman, adikku yang menjaganya disana."


"Ini teh manis hangat. Tuan minum dulu, biar ada tenaga lagi dan bisa lanjutkan perjalanan." Mia datang membawa baki berisi secangkir teh manis hangat untuk Arthur.


"Sekali lagi, terima kasih banyak ya? Maaf, Ibu, kalau saya jadi buat Ibu repot."


Mia tersenyum sambil menggoyangkan kedua tangannya memberi isyarat bahwa dia tidak terbebani.


Arthur memang haus. Secangkir teh manis nikmat tandas Ia minum tanpa jeda apalagi bersisa.


Matanya menatap sekeliling.

__ADS_1


Rumah terlihat kosong dan tampak tumpukan kardus seperti barang-barang yang siap untuk dipaket.


"Kenapa... seperti akan pindahan?" tanyanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.


"Kami memang akan pindah besok pagi."


Arthur menatap wajah imut Inayah.


"Pindah? Oh... sepertinya kalian sedang sibuk, tapi Aku malah benar-benar menjadi beban."


"Iya, memang!" jawab Inayah spontanitas.


"Tidak, tidak juga. Hehehe... Maaf, Mister, putri saya memang agak jutek. Hehehe..."


"Inay kesal, Mak, Mister ini seperti tidak punya rasa penyesalan karena sudah menabrak kucing sampai mati!" sungut Inayah membuat Mia langsung mencubit tangan Inayah.


"Biar saja. Apalagi dia bule! Harus tahu tata krama dan cara hidup bersosialisasi di kampung ini! Tidak sama seperti di negaranya yang bebas melakukan hal sesuka hati!"


Arthur menatap tajam mata Inayah.


"Berapa usiamu, Anak Kecil?"


"Hei, Mister! Apakah usiamu sama seperti usia almarhum Bapakku sampai memanggilku dengan sebutan 'Anak Kecil'?"


Inayah terlihat semakin marah. Meskipun Arthur adalah bule dewasa yang tampan rupawan, ternyata Inayah tidak suka dengan pembawaannya yang terkesan angkuh sejak pertama jumpa.


Arthur pun sepertinya juga kurang menyukai Inayah yang Ia anggap anak muda bau kencur yang terlalu angkuh untuk ukuran usianya yang dipandang Arthur masih belasan.


"Maaf Ibu, berapa usia putri Ibu ini? Mengapa ucapannya sangat berani pada saya yang usianya jauh lebih tua dari dia. Apakah sudah lulus SD dan sudah duduk di bangku SMP?"


"Ya ampun! Mister sedang meledek saya? Tahun ini saya 18 tahun!"


"Apa?!? Delapan belas tahun???"


Arthur terkejut. Bola matanya yang berwarna coklat keemasan membulat membuat Mia tersenyum.


Arthur kembali menelisik wajah Inayah yang memang terlihat tenggelam dalam jilbab terusannya yang kebesaran. Sepintas mirip anak SD memang.


Inayah menegakkan badannya yang tadi duduk agak merunduk.


"Ini emangnya postur tubuh anak SD?" gerutunya ada rasa kesal tapi sedikit ge'er karena berasa dianggap imut oleh orang asing yang Ia juluki 'Bule Kesasar' itu dalam hati.


Arthur tidak melihat ponselnya karena benda pipih ajaib itu ada di dalam mobil. Andaikan saja ponselnya berada di tangannya dan memperhatikan google map, pasti Arthur tidak akan sesembrono ini melakukan interaksi dengan orang-orang terdekat Amelia yang memang sedang Ia cari untuk mendapatkan informasi tentang calon artisnya itu.


"Mohon maaf, Saya tidak bisa membedakan mana tubuh anak perempuan SD dengan tubuh anak perempuan yang sudah tamat SMA. Maaf, Ibu! Oiya, Saya izin pamit. Ibu sebaiknya ikut saya sampai ke mobil. Ada sedikit balas budi untuk kebaikan Ibu pada saya."


Mia mendongak.


"Oh tidak usah, Tuan! Tidak perlu seperti itu. Kami di kampung terbiasa hidup saling membantu dan tolong menolong. Jadi, mohon jangan dijadikan beban atas apa yang kami lakukan. Ini hanya bantuan kecil saja."


"Tidak, Ibu. Saya harus membayar Budi baik Ibu dan Nona ini. Mari, kita kedepan!"


Arthur menarik pergelangan tangan Mia yang langsung dicegat Inayah.


"Tuan Bule Kesasar yang sangat independen! Tolong jangan perlakukan Ibu saya seperti pembantu Anda!" hardik Inayah membuat Mia mendelik kepadanya.


"Mak! Bule ini gila sepertinya, Mak! Kenapa Mak seperti menjaga sekali perasaan dia, sedangkan dia justru sama sekali tidak menjaga perasaan kita?"


"Nduk! Tamu adalah raja. Kita wajib menjaga dan menghormati selagi beliau sopan terhadap kita."


"Apanya yang sopan? Dia geret-geret tangan Emak. Itu tidak sopan. Apalagi kita juga baru kenal. Bisa jadi dia ini seorang mafia, bandar perdagangan orang, penculik Internasional, atau bisa jadi... dokter bedah psikopat penjual organ-organ tubuh manusia!"


"Wow, bravo! Nona memiliki kemampuan menghayal yang sangat tinggi. Ada kemungkinan Nona jadi artis kabaret dalam jangka waktu lima sampai sepuluh tahun lagi!"

__ADS_1


Arthur tersenyum lebar. Semakin semangat meledek Inayah yang terlihat makin imut dimatanya. Apalagi saat mengetahui Mia cenderung membelanya ketimbang membela Inayah yang anaknya sendiri.


Arthur makin senang. Mia mengikutinya sampai parkiran mobilnya. Sementara Inayah mencucutkan bibirnya ogah mengantar bule songong itu pergi.


"Bye bye, terima kasih banyak Nona imut!" katanya dengan cengengesan.


Pria itu membuka pintu mobilnya dan memeriksa semua barang-barang yang ada di dalamnya.


"Hm. Bagus juga, masih utuh!" gumamnya membuat Mia mengangguk.


"InshaAllah disini aman, Tuan!"


"Mak!"


Mia menoleh ke arah warung nasi tempat Rama menunggui mobil Arthur.


"Ini. Untuk ucapan terimakasih saya."


Arthur memberikan Mia lima lembar uang lima puluh ribuan.


Mia mundur dan menolak. Rama menghampiri Emaknya.


"Tidak perlu, Mister! Selamat jalan dan hati-hati di jalan!"


"Ehh?!? Bagaimana boleh saya seperti ini?" tukasnya merasa tidak mengerti. Biasanya justru orang-orang Indonesia yang Ia kenal suka sekali mendapatkan uang imbalan. Bahkan mereka terkesan menunggu waktu agar Arthur segera mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.


"Silahkan, Mister. Semoga hari Anda menyenangkan."


Mia dan Rama saling berpandangan. Rama merangkul bahu Emaknya itu sambil mengangkat tangan kanannya, memberi kode agar kendaraan yang akan melintas melambatkan kecepatannya karena mereka bersiap menyebrang jalan.


"Hm. Ternyata ada juga ya orang Indonesia yang baik dan tidak mata duitan. Syukurlah. Kukira sekarang negara Papiku dalam keadaan kritis orang baik. Hm."


Arthur menyalakan mesin mobilnya. Ia segera membuka layar ponsel pintarnya dan...


"Hei?! Inikan... kampung kelahirannya Amelia!" pekiknya setelah melihat google map yang tertera.


Arthur mematikan kembali mesin mobilnya dan mengamati gambar denah lokasi alamat rumah orang tua Amelia yang Ia dapat dari orang yang Ia berikan tugas untuk mencari informasi tentang Amelia sebanyak-banyaknya.


"Hei!... Ini gang rumahnya!!!"


Arthur turun dari mobil.


Ia senang karena akhirnya bisa tepat berada di jalur jalan menuju rumah Amelia yang di kampung.


Arthur mengikuti arahan Miss google map.


Ia menyebrang jalan dan memasuki kembali gang rumah Mia.


"Hm?!?" gumamnya mulai curiga.


Arthur terus berjalan perlahan. Menyesuaikan dengan petunjuk yang diarahkan.


Dan...


"Ini, ini rumah orangtuanya Amelia?!?" serunya tak percaya. Karena jelas-jelas share loc alamat yang di berikan adalah rumah Ibu paruh baya yang barusan menolongnya.


Krieeet...


"La? Ngapain Anda kembali lagi?"


"I_ini betul rumah orang tuanya Amelia???"


Kini wajah Inayah tampak pias.

__ADS_1


Waduh?!? Jangan-jangan bule ini justru suruhan keluarga Mas Lukman untuk menjemput kami pindahan???


...BERSAMBUNG...


__ADS_2