Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 27 Ternyata Masih Belum Waktunya


__ADS_3

"Yang, kenapa kamu berkata begitu di depan orangtuamu? Sungguh membuatku malu, Yang!" kata Soleh pada Juriah ketika mereka sudah selesai makan dan kembali ke kamar.


"Tidak apa-apa, Mas! Kedua orang tuaku juga adalah orang tuamu sekarang. Abi punya uang simpanan yang terkadang sering dipakai untuk hal-hal yang kurang baik seperti judi bola dan Umi karaokean sama teman-temannya di tempat favorit mereka setiap minggu."


Soleh membelalakkan mata.


Hah? Abinya Juriah suka judi bola online? Uminya pun suka karaokean?


"Ah kamu ga boleh buka aib orang tua, Yang! Durhaka nanti!"


Juriah tersenyum ketir.


"Bukan buka aib orang tua, tapi memang kenyataannya seperti itu. Aku ini sebenarnya anak tunggal tapi lebih sering kesepian kalau Abi Umi berjalan dengan sendiri-sendiri. Mungkin mereka jenuh dengan keadaanku yang... seringkali dicemooh banyak orang."


"Ayang,.. kan Aku kata,"


Grep.


Juriah mendekap mulut Soleh.


"Maaf Mas, Aku lupa..."


Netra mereka saling beradu. Riak dimata Juriah membuat Soleh terpesona.


Mata yang indah dengan bulu-bulu halus panjang nan lentik diatas kelopaknya. Sungguh indah ciptaan Allah Ta'ala.


Sangat disayangkan, wajah cantik ayu rupawan harus menerima cobaan berat di usia muda.

__ADS_1


Juriah juga tak kuasa menahan gejolak rasa di dada.


Wajah tampan Soleh dengan garis rahang yang tegas membuatnya makin terpesona.


Ya Allah, kumis tipis ini, bulu-bulu jenggotnya yang tumbuh tak beraturan, serta kulit tubuh dan kuatnya telapak tangan Mas Soleh adalah idamanku selama ini. Pria idaman yang menandakan kalau Ia adalah seorang pekerja keras.


Perlahan Soleh sorongkan tubuhnya ke depan. Makin mendekat Juriah setelah gadis itu melepaskan tangannya dari mulut Soleh.


Cup.


Soleh mencuri bibir manis Juriah dengan cepat.


"Maaf..., kalau tingkahku ini mengagetkanmu, Juriah. Maaf."


Soleh segera melontarkan kalimat lembut untuk menenangkan Juriah yang memerah wajahnya.


"Jangan minta maaf, Mas. Itu sudah jadi hakmu untuk... memintanya dariku." Gumaman Juriah menjawab ucapannya membuat Soleh berfikir dalam hati.


Apakah pertanda Juriah mulai menerimaku?


"Tidurlah, kamu pasti lelah!" ujar Soleh seraya merebahkan tubuh istri mudanya di atas ranjang tidur Juriah.


Hati Juriah kebat-kebit. Berdebar sangat kencang dengan perasaan campur aduk. Antara takut, senang, sekaligus penasaran pada kemampuan Soleh dalam membuainya hingga terbang ke langit tinggi di angkasa.


Soleh tetapi tidak secepat itu untuk mendapatkan Juriah. Fikirannya masih ditahan perlahan untuk memulai semua.


Belum waktunya. Aku takut Juriah malah ketakutan nantinya dan hubungan kami jadi menjauh jika Aku memaksakan kehendak.

__ADS_1


Soleh menarik selimut sutra dan menaruhnya tepat di atas dada Juriah.


Sebuah kecupan hangat di kening seperti biasa. Membuat Juriah menunggu sekali langkah Soleh selanjutnya.


"Tidurlah, Sayang! Jangan lupa doa tidur untuk menjagamu dari mimpi buruk!" bisik Soleh dengan suara lembut.


"Sayang..., selamat tidur!" Kini Juriah coba memancing Soleh yang juga merebahkan tubuhnya disamping. Soleh terlihat santai dengan memejamkan mata setelah mengatur tangannya menjadi tumpuan kepala.


"Selamat tidur, Sayangku Siti Juriah!"


Ah, Mas... koq kamu tidak menyentuhku? Gumam hati Juriah agak kecewa.


Juriah pura-pura ikut memejamkan mata.


Soleh sesekali melirik Juriah dari balik matanya yang memicing.


Biarlah dia nyaman dulu denganku. Toh pernikahan ini akan sangat panjang. Tiga tahun kedepan itu bukan waktu yang singkat. Aku harus bersabar untuk mendapatkan butiran mutiara lainnya dari Juriah Sayang.


Kini tubuh mereka sejajar menghadap langit-langit. Pura-pura terpejam padahal hati mereka masih sibuk dengan perasaan masing-masing.


Dengan kekecewaan Juriah, juga dengan kekuatan Soleh menahan keinginan untuk mencicipi tubuh istri Mudanya.


Seperti kata quote of the day seorang pesohor, belum waktunya.


Seperti itulah baik Juriah maupun Soleh meyakini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2