
"Maaf, tadi saya menyangka Mas sedang mencandai saya kalau mas adalah rivalnya mas bule Arthur Handoko."
Juriah terkesima melihat semua foto-foto yang Victor perlihatkan kepadanya.
Semua menunjukkan kalau ternyata pria blasteran Indonesia-Belanda itu adalah rekan suaminya Inayah dalam hal perfilman.
Foto-foto kedekatan mereka adalah saksi bisu perjalanan karier keduanya sebagai seorang sineas muda di blantika perfilman lima tahun yang lalu.
Keduanya sama-sama sutradara sekaligus produser film indie yang bisa dibilang teman tapi juga musuh bebuyutan dalam hal pekerjaan.
Dulu, dulu sebelum Arthur menikah, keduanya cukup dekat. Mereka teman, kenal sudah lama. Saling bersaing namun secara sehat.
Tapi kini, Arthur memutus hubungan itu karena Victor ketahuan menyabotase film-filmnya dan membuat nama Arthur semakin buruk citranya dengan membayar buzzer pemilik akun-akun bodong dengan menyebarluaskan aib-aib Arthur di masa lalu.
Victor juga seorang ateis. Sama-sama memiliki trauma dengan cinta perempuan. Itu sebabnya mereka cepat sekali akrab dan menjadi sahabat sejak pertama jumpa di kota Wimbledon, Inggris disaat acara temu jumpa para sineas muda film-film indie.
Apalagi keduanya sama-sama memiliki darah campuran Indonesia yang kuat karena bapak mereka yang asli orang Indonesia.
Arthur adalah putra tunggal seorang pebisnis kaya raya dan tercatat sebagai konglomerat nomor 15 di Indonesia, sedangkan Victor adalah putra dari mantan aktor sohor Indonesia di era 70an.
Tapi, ternyata perlahan Arthur Handoko menjauh dan makin menjauh karena Victor yang semakin salah melangkah dengan menusuk Arthur dari belakang.
Alih-alih hubungan yang merenggang, Victor bukannya tersadar dengan kesalahannya tapi justru semakin tidak terima dengan tindakan Arthur yang kian jauh seolah tidak pernah kenal Victor.
Kini Victor yang memang sudah cukup lama memata-matai Arthur dengan kehidupan barunya, membuat strategi baru untuk mencari perhatian Arthur lagi mengajak Juriah kerja sama.
Juriah yang sedang oleng dan iri hatinya melihat kebahagiaan serta keberhasilan Amelia, mantan madunya itu seketika seperti mendapatkan angin segar.
Ia berharap memiliki kesempatan hidup berhasil seperti Amelia di Ibukota. Merasa dirinya lebih unggul dalam hal pendidikan juga kecerdasan. Sehingga dengan tekad bulat mengiyakan ajakan kerja sama Victor yang masih abu-abu tanpa pikir panjang dahulu.
"Apa rencana Mas Victor mengajak Saya kerja sama?" tanya Juriah spontanitas.
"Aku ingin usaha Arthur bangkrut sebangkrut-bangkrutnya di bidang film. Biar dia kembali memohon kepadaku dan mengakui kalau power ku masih dia butuhkan juga!"
"Waduh... Saya, saya tidak punya kemampuan untuk itu. Saya tidak punya kekuatan, kekuasaan apalagi uang. Saya bisa apa?"
__ADS_1
"Aku lihat kamu cukup membuat si Arthur itu agak kewalahan. Bahkan sampai dia sendiri yang mengantarkan mu ke terminal, bukan sopir pribadi atau orang kepercayaannya. Berarti kau punya sesuatu yang membuat dia merasa terancam oleh kehadiranmu di rumahnya."
Juriah termangu bingung.
Dia tidak tahu kalau dirinya se-berbahaya itu di mata Arthur Handoko.
"Apa iya? Mungkin hanya sekalian jalan ke kantornya, Mas! Aku tidak sepercaya diri itu juga mengakui kalau dia seperti ketakutan dan ingin aku pergi keluar segera dari ibukota."
"Bingo!"
Ctakk
Victor menjentikkan dua jarinya.
"Dia benar-benar takut kamu terus berada di sekitarnya. Berarti, kamu tahu kelemahannya!"
"Kelemahannya apa? Dulu dia ateis? Semua orang juga tahu termasuk istri dan keluarga istrinya!" timpal Juriah agak nge-gas.
"Apa yang kamu ketahui tentang dia?"
"Bagaimana kalian dulu bisa saling kenal?"
"Hm... Cukup rumit. Dia, dulu pernah datang ke rumah saya di kampung."
"Tujuannya? Atau kebetulan saja? Atau memang sengaja datang berkunjung?"
"Saya tidak tahu. Mungkin kebetulan saja karena saya dan suami waktu itu punya bengkel besar di wilayah itu. Mungkin memang ingin service mobilnya."
"Lalu?"
"Dia tanya-tanya seperti interogasi. Hmm... Dia, entahlah saya sudah agak lupa karena sudah sekitar tiga tahun yang lalu."
"Dia tanya-tanya?"
"Ya."
__ADS_1
"Mustahil! Orang secuek dan seangkuh dia banyak tanya macam intel kalau tidak punya kepentingan pribadi! Hm. Apa pertanyaannya? Spesifik? Umum?"
"Yang saya ingat..., dia seperti menyelidiki soal... mantan istri pertama suami saya. Mbak Amelia."
"Istri pertama suami Mbak? Berarti Mbak..., istri kedua? Ketiga? Atau...,"
"Istri kedua. Suami saya menikah dua kali. Pertama dengan Mbak Amelia yang ternyata adalah kakak iparnya mas Arthur."
"Tunggu, tunggu! Amelia, kakak iparnya Arthur adalah istri pertama suami kamu?"
Victor membelalakkan matanya.
Juriah mengangguk.
"Ternyata...! Hm. Semakin menarik! Oiya. Apakah si Arthur itu menyukai si Amelia? Sepertinya, cerita ini makin membuat saya penasaran!"
Juriah menelan salivanya.
"Come on! Kamu ikut Aku! Aku akan memberimu tempat yang layak."
"Ba_baik. Tapi,... tapi tolong jangan suruh saya... perempuan yang, mmmh maksud saya, jangan suruh saya untuk jadi perempuan nakal."
No no no! Of course not, Juriah! Ayo, kamu akan tinggal di rumahku yang di Ibukota!"
Seperti mimpi, Juriah dibawa kembali ke Ibukota oleh pria yang baru dikenalnya beberapa puluh menit yang lalu.
Victor berjalan di depan Juriah. Tangannya menenteng kardus bekas mi instan milik Juriah. Dan Juriah tergopoh-gopoh mengekor pria tinggi besar berbadan atletis itu.
Ya Tuhan! Pria ini gagah sekali. Badannya macho, sikapnya juga tegas. Adakah dia sudah beristri? Andaikan belum...
Seketika fikiran Juriah menerawang jauh tinggi di awang-awang.
Ia teringat jodoh Amelia yang seorang bujangan kaya raya.
Impiannya hidup bahagia, mendapatkan jodoh idaman yang membuatnya seperti ratu, kini kembali jadi khayalan.
__ADS_1
BERSAMBUNG