Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 37 Langkah Amelia


__ADS_3

Pluk.


"Daripada kamu nganggur dan berfikir macam-macam, mendingan nih cuci baju bapak ibu mertuamu sana! Kalau kamu masih mau disayang Soleh, ambil hati keluarganya, bukan bergaya macam orang kaya padahal miskin saja!"


Mariana melemparkan pakaian-pakaian kotor dihadapan Amelia yang duduk terpekur di depan meja makan.


Ia kembali tersadar dengan keadaan dirinya yang selalu saja salah karena kemiskinan kedua orangtuanya.


Lelehan air mata Amel tidak membuat Mariana luluh. Bahkan semakin mendengus kesal.


"Pake drama segala! Kau fikir kau tuh Cinderella? Upik abu? Cih! Berlagak macam Ratu padahal statusmu hanya istri tua anakku! Kau harus ingat, Amelia! Berkelakuanlah yang baik! Ambil hati kami terutama anakku Soleh! Bukan dengan menekannya melakukan hal-hal yang kau anggap dosa padahal bagaimana kau memperlakukan kami!"


Amelia bangkit. Ia menghapus air mata dan mengambil tasnya lalu pamit permisi.


"Ehh!? Disuruh nyuci malah mau pergi? Ya silahkan. Pintu rumah kami terbuka lebar koq buat kamu pergi."


"Ibu, maaf, Amelia pulang dulu! Amelia terlalu bingung dan sedih dengan keadaan ini! Hik hiks..."


"Bu, sudahlah. Jangan terlalu jahat pada Mbak Amel! Biar bagaimanapun, kita ini sesama wanita. Lani mengerti Mbak Amel sedang merasakan kesedihan. Kita tidak menyalahkan mbak Amel. Hanya, untuk mengikuti semua ucapan Mbak tadi, sepertinya itu terlalu dini, Mbak! Sekarang jalan keluarnya adalah kita sama-sama saling menerima keadaan dan kenyataan. Lani ngerti sekali Mbak dan Lani pun kalau ada diposisi Mbak sepertinya ga kuat juga. Tapi,... sekarang sudah terjadi dan mbak sudah merestui. Tinggal kita bersikap sabar saja ya?!"


Lani merangkul bahu Amelia.


Ia sebenarnya kasihan pada Kakak iparnya. Tapi mau bagaimana lagi. Ada keuntungan yang keluarganya dapatkan dari pernikahan Soleh, kakak sulungnya dengan Juriah.


Ibu Bapaknya bahkan sudah menerima hibahan sekotak sawah berukuran 400 meter untuk digarap sendiri.


Konon katanya akan diberikan secara cuma-cuma nanti jika rumah tangga Soleh Juriah memiliki anak.


Keuntungan yang menggiurkan pastinya.


Lani membayangkan dalam waktu setahun atau dua tahun, jika Juriah hamil, Lani bisa minta lahan itu sebesar 100 meter untuk dibangun rumah impiannya bersama Tito.


Pernikahan mereka sudah menginjak tahun ketiga, tapi Lani mulai jenuh terus-terusan tinggal di pondok indah mertua yang rumahnya Tito tepat disamping rumahnya.


Mereka memang menjalani hubungan jarak dekat.


Lagu 'Pacar Lima Langkah' yang dulu sempat booming adalah kisah nyata percintaannya dengan Tito anak tetangga sebelah.


Lani ingin segera punya rumah. Pisah dari orang tua dan menabung perkakas rumah tangga yang mahal-mahal tanpa harus khawatir dipinjam mertua apalagi adik ipar.


Amelia pergi tinggalkan rumah Mariana dan Anta setelah mencium punggung tangan kedua mertuanya.


Ia ingin pulang ke rumah orangtuanya.


Ingin sekali rebahan dan tidur sejenak menghilangkan rasa penat di kepalanya yang seperti mau pecah.


Amelia naik angkutan kota dan butuh satu jam lebih dari kampung Mariana ke kampung halamannya.


Ternyata keluarga mereka sedang berkumpul. Inayah dan Gaga sudah pulang dari sekolah karena Amel melihat sepatu mereka berserakan di teras rumah yang harus berpelurkan adonan semen saja.

__ADS_1


Amelia masih duduk di teras membuka sandal gunungnya yang bertali.


Samar-samar terdengar suara keributan kedua adiknya yang tidak asing lagi bagi Amelia.


"Mak, Yu' Inayah naruh buku-bukunya sering sembarangan tuh di kamarku!" celoteh Gaga.


"Habisnya Aku bingung, ada Yu' Amel dikamarku. Apalagi kalo ada Bang Soleh, Aku kan malu ambil buku di kamar sendiri. Takut ganggu jadinya!" timpal Inayah.


"Mak, kapan sih Yu' Amel kembali ke Jakarta? Koq sudah seminggu lebih belum pulang-pulang? Biasanya paling lama cuma tiga hari? Kapan aku bisa bebas lagi tidur di kamarku sendiri? Yu' Inayah kalo tidur mirip kebo!"


"Hilih! Kamu tuh yang mirip kebo! Aku juga udah bosan tidur sekamar sama anak yang kakinya bau terasi! Ish, cuci dulu tuh kaki kalo mau tidur dong! Baunya mirip yang ada di selokan tuh!"


"Yu' Inayah bau ketek!"


"Mak! Gaga tuh, body shamming! Nyebelin!"


Amelia kembali terpekur.


Adik-adiknya ternyata mulai risih dengan keberadaannya di rumah ini.


Memang sudah seharusnya Ia pergi. Karena selama ini Amelia seperti beban hidup yang bertambah bagi mereka.


Uang yang Soleh berikan semalam dengan dilempar baru Amel berikan tadi pagi semuanya pada Emaknya untuk tambahan uang belanja.


Amelia yang sudah membuka tali sandalnya, urung masuk rumah.


Kini Ia berfikir untuk mendatangi rumah madunya, menemui suaminya.


Dan kini Amelia mantap melangkahkan kembali kakinya pergi dari teras rumah orangtuanya.


.............


Juriah terkejut.


Amelia duduk di sofa rumah keluarganya.


"Mbak?"


"Ju!"


Keduanya saling bersalaman dan cipika-cipiki.


"Bang Soleh kemana?" tanya Amelia sembari tersenyum.


"Sedang tidur. Mbak sendirian kesini?"


"Iya. Maaf ya? Saya tidak telepon atau japri Juriah dulu karena ada keperluan yang mendesak sama Bang Soleh."


"Mbak butuh uang? Berapa? Di atas satu juta? Sebentar ya, Ju ambil dulu!"

__ADS_1


"Bukan soal uang! Tetaplah disini, Juriah! Saya cuma mau diskusi sama Bang Soleh dan kamu juga!"


Juriah menatap wajah Amelia.


Pikiran buruknya makin terbentuk menilai Amelia.


Apa yang mau Mbak Amel diskusikan? Apa... soal ajakanku tinggal bareng di Asamka?


"Mbak, maaf... Saya ga bisa ajak Mbak tinggal bersama. Banyak faktor yang melarang itu!"


"Iya. Aku sudah dengar dari Bang Soleh!"


"Mas Soleh tidurnya pulas. Saya tidak berani membangunkannya. Maaf, sebaiknya kita diskusikan berdua saja dulu."


"Iya, Ju! Ju... Apa Bang Soleh memperlakukan kamu dengan baik?"


Juriah terdiam. Pertanyaan Amelia membuatnya berfikir dalam.


"Iya. Ada apa Mbak tanyakan hal itu?"


"Apa..., Bang Soleh pernah ceritakan rencananya kedepan?"


Pertanyaan Amelia bagai sedang menyelidik.


Juriah menggeleng cepat.


"Kami, akan segera pindah ke Asamka. Tapi katanya mas Soleh, mau pindahan dulu dari Jakarta. Tapi, saat ini belum ada obrolan serius juga. Kenapa Mbak?"


"Amel?"


Amelia dan Juriah berbarengan memandang Soleh yang berdiri di depan pintu kamar.


Soleh sudah bangun.


"Silahkan di minum dulu, Mbak!"


Yu' Karti kerabat Juriah yang bekerja di rumah Ojan keluar membawakan nampan berisi minuman dan sepiring kue.


"Terima kasih, Yu'!" jawab Amelia merespon sopan.


"Yu', maaf tolong buatkan teh manis hangat buat Mas Soleh!" perintah Juriah pada kerabatnya itu.


Soleh duduk di samping Juriah.


Amelia menatap Sang Suami yang hanya sarungan saja.


"Kenapa? Kamu mau kita pindah secepatnya? Ya udah. Aku mandi dulu. Kita ke Jakarta, pindahan dari kontrakan."


Amelia hanya mencium punggung tangan suaminya tanpa berkata apapun. Begitu pula dengan Juriah yang bungkam.

__ADS_1


Soleh kembali masuk kamar. Tinggalkan Amelia dan Juriah yang sibuk melamun dengan fikiran masing-masing.


BERSAMBUNG


__ADS_2