
Samsiah baru datang pukul tiga sore menjelang Ashar. Juriah langsung memberondong Sang Ibu yang seolah tak pusingkan keadaan Ojan, suaminya yang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Umi! Dari mana saja? Aku dan Mas Soleh mau pulang! Bengkel sama toko ga ada yang jaga!" cetus Juriah dengan raut wajah marah.
"Ini ini Nduk! Kamu pasti mau daster kekinian ini deh, nih lihat!"
Samsiah malah menggelar jinjingan plastik yang dibawanya di kursi plastik yang ada di samping ranjang.
Soleh tak habis fikir. Samsiah terlihat tidak peduli pada suaminya yang sedang tidur setelah minum obat dan diberikan suntikan pereda rasa nyeri.
Benar-benar cuek bahkan hanya untuk menanyakan keadaan Ojan yang semalaman terus menerus mengeluh dan berteriak kesakitan.
Juriah juga pada akhirnya teralih fokusnya dengan daster-daster yang dibawa Samsiah.
"Aku mau ini. Ini juga, Mi!" ujarnya dengan mata berbinar penuh memilah-milah pakaian yang Samsiah beli di Bazaar murah.
Soleh hanya menatap dingin dan izin keluar kamar untuk merokok di luar rumah sakit.
"Mas, jangan jauh-jauh! Aku juga mau pulang setelah ini! Penat badanku, mau mandi juga!"
Soleh mengangguk pelan. Malas Ia berdebat dengan Juriah yang menurutnya sama kekanak-kanakannya dengan Ojan dan Samsiah.
Soleh teringat Amelia. Wajah manis istri pertamanya yang penurut dan jarang sekali membangkang ucapannya itu kini seolah terbayang di pelupuk mata.
Rindunya menyeruak.
Hampir dua bulan mereka bercerai. Soleh tak pernah sekalipun menchat Amelia karena banyak nomor pribadinya karena Juriah telah menghapusnya dari kolom kontak ponsel Soleh.
Namun Juriah tidak tahu, Soleh menghafal betul nomor WA Amelia meskipun sudah di hapus dari kontaknya.
Hingga Ia dengan mudah menekan nomor itu untuk sekedar mendengar suara lembut Amelia yang Ia rindukan setelah turun tiga lantai dari ruang opname Ojan.
Tak butuh waktu lama, Amel mengangkatnya.
"Hallo? Amel? Apa kabar?" tanyanya dengan jantung berdebar.
Di seberang sana, Amelia hanya diam termenung mendengar suara lembut Soleh yang sudah berhasil Ia lupakan dengan sekuat tenaga. Ia hanya diam. Menunggu ucapan Soleh selanjutnya karena takutnya ada kabar penting yang ingin Soleh ucapkan.
"Amelia... Amelia! Aku..., merindukanmu. Maaf..."
Bergemuruh kencang dada Amelia. Soleh seperti terdengar sedang mempermainkannya. Mencuat rasa kesalnya dan,
Klik.
__ADS_1
Amelia mematikan sambungan telepon dari Solehudin. Ia menatap sekeliling dan, matanya beriak mulai berair.
Kini Amelia berdagang kecil-kecilan dari uang yang Samsiah berikan tempo hari untuk sekedar menyambung hidup di teras rumah kontrakannya. Ia menjual gorengan, roti bakar, sosis, nugget dan es boba dengan harga yang terjangkau untuk jajanan anak-anak sekitar.
Tasya, Diki dan kadang Lukman serta beberapa tetangga lain membantunya menguatkan hati dengan membeli jajanan di warung kecil Amel.
Lukman bilang, kalau di pabrik konveksi tempatnya bekerja ada lowongan bagian buang benang, Ia akan mengajak Amelia bekerja di sana.
Saat ini konveksi belum membuka lowongan pekerjaan di bagian itu. Kalaupun ada lowongan, di bagian produksi. Amelia tidak bisa menjahit.
Lukman adalah pria yang baik dan perhatian pada Amel. Selalu membantu di setiap kesempatan.
Seperti yang sudah diketahui umum, Bujangan yang usianya lebih muda dua tahun itu memang memiliki rasa pada Amelia. Namun tak mau gegabah dan menunggu waktu yang pas untuknya mengungkapkan isi hati kepada Amelia.
Secara Amelia baru saja melewati masa sulit dalam pernikahan dan belum lama cerai.
Lukman berusaha sabar menahan gejolak rasanya yang ingin mengajak Amelia ke arah yang lebih serius dari sekedar pertemanan. Namun Ia sudah menandai Janda Amelia sehingga jika ada pria yang terlihat agak berbeda tingkah lakunya pada Amel, Lukman seperti memberi kode kalau Amelia adalah miliknya tanpa diketahui oleh Amel sendiri.
Kembali ke Juriah. Ia baru tersadar Sang Suami telah cukup lama keluar dari kamar inap Abinya.
"Umi, Aku pulang ya? Umi nanti jaga sama siapa?" tanya Juriah pada Uminya.
"Umi Maghrib juga pulang. Biar Le' Giman yang jaga Abimu. Umi kurang enak badan."
Juriah menatap wajah Samsiah agak kecewa.
"Abi sama Le' Giman?" tanya Juriah lagi.
"Iya. Lagipula kalau Abimu minta pipis atau pup, Umi susah mengurusnya seorang diri."
"Umi ikut nginap dong kayak Aku semalam nemenin Mas Soleh!" sela Juriah membuat Samsiah mengernyitkan dahi.
"Abimu bakalan lama dirawat di RS ini. Kita juga harus bisa menjaga kesehatan. Kalau Umi terus-terusan nginap di rumah sakit juga, lama-lama Umi juga bisa dirawat, Ju!"
"Tapi kan itu sudah jadi kewajiban Umi dan kita semua!"
"Ya kita juga harus lihat kondisi diri juga. Kalau semua sakit, siapa yang rawat?"
Juriah terdiam. Ucapan Samsiah ada benarnya juga.
Akhirnya Ia pamit pulang pada Uminya. Dan hanya menatap sedih ke arah Ojan yang masih tertidur setelah semalaman merintih dan teriak kesakitan.
"Aku dan Mas Soleh pulang ya, Umi? Kalau Abi tanya, bilang Ju sudah pulang."
__ADS_1
"Iya, Sayang! Sana, pulang dan istirahat. Kamu dan Soleh pasti lelah, bukan? Umi sangat mengerti. Apalagi kalian masih pasangan pengantin baru. Dih sana, pulang!"
Juriah menghembuskan nafas lega. Senyuman tipis menjadi jawaban dari ucapan Samsiah yang sedang memaklumi kondisi putri serta menantunya itu.
"Maas...!"
Soleh yang termenung dan sesekali menghisap dalam rokok kreteknya seketika menoleh ke arah Juriah yang memanggilnya.
Perempuan muda dengan dadanya yang montok setengah berlari menghampiri.
Soleh menepis bayangan Amelia yang menari-nari diingatan. Ada Juriah yang pastinya jauh lebih baik dan lebih berharga dibandingkan Amelia mantan istrinya.
Juriah muda. Cantik, bertubuh lebih sekal pastinya. Dan yang paling penting Juriah adalah tambang emas bagi Soleh dan orang tuanya. Apalagi adiknya Lani juga sedang melobi ingin punya sebidang tanah agar bisa dibangun sebuah rumah impian masa depan untuk keluarga kecilnya.
Soleh mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Sudah pamitan, Yang?" tanyanya dengan suara dilembutkan. Kini Ia harus pandai menggunakan strategi agar tercapai semua keinginan keluarga.
Juriah mengangguk dan tersenyum.
Soleh segera mengambil alih bungkusan besar yang dibawa Sang istri sambil membalas senyuman.
Juriah seolah ingin mencari perhatian dengan melakukan peregangan dihadapan Soleh.
"Lelah ya?" tanya Soleh yang faham maksud Juriah.
"Hooh."
Soleh mencoba perhatian dengan memijat bagian punggung Juriah dengan lembut.
"Yuk, pulang. Di rumah nanti biar Aku pijit bahunya yang tegang!" tambah Soleh membuat Juriah tertawa terpingkal-pingkal.
"Kenapa?" Soleh menyeringai.
"Bahuku hilang tegangnya berpindah ke anunya Mas!" jawab Juriah dengan suara berbisik.
Sontak mereka tertawa berbarengan. Soleh merangkul bahu Juriah.
"Kamu memang istri terbaikku!" pujinya membuat Juriah tersenyum dan menunduk senang bukan kepalang.
Cinta yang saling mengambil keuntungan. Begitulah Soleh memainkan perannya dan mulai dengan strateginya. Ada rencana besar yang ingin Ia jalankan sebelum Ojan kembali normal.
BERSAMBUNG
__ADS_1