
Pukul dua siang dua mobil yang beriringan itu sudah tiba di kediamannya Mia.
"Ya Allah, kenapa harus calon pengantinnya yang jemput?" ucap Mia melihat putri dan calon menantunya datang.
"Cari-cari kesempatan untuk berduaan, Mak sebelum dipingit. Hehehe..."
Amelia mencubit pinggang Lukman.
"Mak, anaknya nih Mak. Udah berani cubit-cubit pinggang Lukman nih, Mak!"
"Amel?! Ga boleh cubit-cubit gitu! Gimana kalo nanti Lukman sakit terus gak bisa nyetir? Gimana coba?"
"Oala Maaak, sekarang koq ada dikubunya Mas Lukman ya? Lagipula Aku gak nyubit kencang koq!" pekik Amel dengan tertawa lepas.
"Intinya yang nyubit harus berani bertanggung jawab ya, Mak? Harus mau jaga lahir batinnya Lukman seumur hidup ya Mak!" tukas Lukman lagi.
"Kebalik ah! Harusnya Aku yang bilang gitu! Lelaki kan suka berubah setelah menikah! Bilangnya cinta, ehh pas ada cewek lain, malah mendua!" dengus Amelia mengeluarkan unek-uneknya.
"Lelaki yang mana tuuuh?"
"Sudah, sudah. Daripada kalian ribut, itu di meja makan ada sepiring ketan. Yok dimakan buat pengganjal di perjalanan!" Mia langsung melerai mendengar perkataan yang makin jauh. Ia takut obrolan keduanya bablas.
"Hehehe... makasih, Mak!" (Cup)
Mia terpana dengan mata terbelalak.
Lukman mengecup pipinya.
"Sembarangan cium-cium pipi Emakku!"
Amelia langsung protes sembari memukul pelan bahu Lukman. Tapi dengan bibir tersenyum lebar.
"Emakmu ya Emakku juga. Jadi kamu juga harus menganggap Mamaku adalah Mamamu juga!"
Kini Amelia yang tersipu.
Seperti tersentil hatinya.
Amelia memang belum bisa dekat dengan Fanny meskipun Fanny seringkali menelponnya, menchat bahkan mengajaknya jalan.
Amelia malu. Fanny terlihat tinggi sekali dipandangannya.
Calon Ibu mertuanya begitu elegan, cantik menawan khas perempuan bangsawan yang berdarah biru. Bahkan dari cara berjalannya yang bak model papan atas, seperti artis model terkenal Donna Harun.
Lukman dan Amelia makan ketan kelapa buatan Mia dengan lahap.
Sesekali Amel menyuapi Lukman yang memberi kode kalau mulutnya sudah kosong dan makanan sudah ditelan, minta diisi ulang.
__ADS_1
"Aduh, Mak! Mataku kecolok!" seru Inayah yang sudah keluar kamar dengan tas ranselnya seperti Dora the Explorer.
"Hahaha,..."
"Duh, mulai deh si Ratu drama!"
"Kalian jangan bikin Aku jadi kepengen nikah muda!" pekik Inayah membuat Rama menarik ujung belakang kerudungnya.
"Abang!!" pekik Inayah.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
"Tia, Arif... sarapan dulu!" ajak Lukman sembari menyodorkan baskom plastik berisi ketan kelapa yang masih banyak.
"Makasih, Mas Lukman! Tadi di rumah sudah makan nasi goreng!" jawab Arif langsung mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan Lukman.
"Duh Rif, berasa tuanya kalo kayak gini! Hehehe..." ujar Lukman terkekeh.
"Mana Pricilia?" tanya Amelia, keponakannya.
"Itu, sudah di mobil sama Mas Imron. Hiks, beneran kepingin cepat-cepat naik mobil bagus katanya!"
Imron adalah supir pribadi keluarga Lukman yang sudah kenal dengan anggota keluarga Amelia.
Sontak suasana riuh dan Tia mengiyakan.
"Hahaha... bener, Ga! Mbak lebih suka naik mobil bak terbuka daripada naik mobil Avanza! Apalagi kalau ada pengharum ruangannya. Terus, mobilnya terjebak kemacetan parah. Yassalam... bubar jalan udah, semua isi perut!"
"Ish, jorok!!!" pekik Inayah kesal.
"Tandanya ga bakat jadi orang kaya. Hahaha..." ledek Arif pada istrinya.
"Aku mah lebih suka hidup pas aja, Bang!" balas Tia.
"Iya. Pas mau healing, ada uangnya. Pas mau beli baju baru, tinggal tunjuk dan bawa ke kasir toko. Pas mau beli motor, kontan tak perlu kredit. Itulah hidup pas!"
"Betul. Hahaha... Sederhana saja hidupku, Bang!"
Lukman tertawa terpingkal-pingkal.
Adik iparnya itu adalah pasangan yang kocak dan gokil juga ternyata.
Sungguh indah hidup ini jika kita enjoy menikmatinya.
Pukul empat sore setelah sholat Ashar, mereka berangkat ke Ibukota. Tepatnya ke kediaman keluarga Lukman, dimana acara perhelatan pernikahan akan digelar di sana.
__ADS_1
Mia, Gaga dan Inayah satu mobil dengan Lukman dan Amelia.
Sementara Keluarga kecil Tia bersama Rama di mobil yang dikendarai Imron, supir setia Bimo.
"Mel,"
"Ya, Mak?"
"Jujur, Emak gugup lho Mel!" bisik Mia pada Amel yang duduk di depan.
Lukman tersenyum tipis.
"Emak tenang saja. Mama saya gak suka gigit orang koq kalo di kawasannya. Hehehe..."
"Duh, Man! Emak takut bikin malu kamu sama keluarga besar karena kenora'an kami."
"Mak, kita ini sama koq, sama-sama makan nasi. Mama memang keliatan judes tapi aslinya baik. Hehehe..."
"Justru Mama Fanny teramat baik. Jujur Amel juga gugup. Karena belum pernah main lagi ke rumah keluarga Lukman, Mak!"
"Laa, malah menularkan ketakutan massal ini!?" goda Lukman pada Amelia.
"Gugup Mas, Aku beneran gugup!"
Lukman menggenggam tangan Amel.
"Mas, lagi nyetir!" tegur Amel seraya melepaskan genggaman Lukman yang tersenyum lebar.
"Yok, bismillah yok, kita baca Al-Fatihah, dilancarkan semuanya oleh Allah Ta'ala."
Semua manut pada ajakan Lukman.
"Itu si Gaga sama Inayah, diem-diem bae! Jangan-jangan mabok ya?"
"Mas jangan kebanyakan ngemeng! Pusing kepalaku, tau!" semprot Inayah membuat Lukman terbahak-bahak.
"Maaf, Inay cantik! Hahaha..."
"Ampun deh ah, anak sama calon menantu kelakuannya ish!"
"Hahaha..., Alhamdulillah, Mak harus terima Lukman apa adanya ya?!?" tutur Lukman pada Mia.
"Iya. Koq berasa becanda sama anak sendiri jadinya ini!" sungut Mia membuat Lukman senang.
Pertanda dirinya benar-benar diterima di keluarga Amelia.
BERSAMBUNG
__ADS_1