Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 112 Poor Soleh


__ADS_3

Soleh pergi ke Ibukota dan mampir dulu ke rumah kontrakan Amelia.


Beruntungnya Amel, karena baru sekitar seperempat jam yang lalu Ia dan Tasya sekeluarga pindah kontrakan ke tempat yang Lukman tunjukkan.


Tinggal Soleh yang celingukan karena dua rumah kontrakan itu telah kosong tak berpenghuni lagi.


Bahkan Amel sengaja meninggalkan beberapa perabot rumah tangganya untuk diambil tetangga-tetangga sekitar yang inginkan.


"Pindah kemana Bu, mereka?" tanya Soleh dengan hati sedih.


"Kurang tahu, Saya Bang!"


Semua tetangga menutup pintu ketika Soleh bertanya tentang kepindahan Amelia dan alamat barunya.


Semua sudah tahu kelakuan Soleh tempo hari karena kelakuan mantan suaminya Amelia tetangga mereka.


Begitulah, setiap tindakan dan perilaku yang meledak-ledak tanpa dipikir lebih dulu berimbas pada pandangan orang yang melihat dan masih terus mengingat sampai kapanpun walaupun itu bukan tabiat asli yang seringkali diumbar. Namun orang terlanjur illfeel dengan Soleh sebagai pria kurang ajar yang menyebalkan.


Soleh merasakan aura dingin yang para tetangganya keluarkan hingga Ia memaki kesal.


"Dasar tetangga-tetangga julid! Bukannya membantu malah bisanya jadi perusak keadaan!!! Mati saja kalian semua!!! Mana mungkin tidak ada satu orangpun yang tahu kemana Amelia pergi!"


Soleh mengumpat dengan suara keras. Bahkan ia juga melotot ke arah Bu Saodah yang juga hanya mengangkat bahu ketika Soleh menyapa dan bertanya alamat baru mantan istrinya itu.


"Lah? Memangnya situ siapa? Sodaraku bukan, Suamiku bukan, koq plotat-plotot itu matanya!"


"Hus ssst... Biarkan saja! Jangan di respon!" bisik seorang Ibu pembeli yang juga kesal melihat tingkah Soleh yang sangat arogan.


Mereka baru bernafas lega setelah pria itu pergi dengan membawa mobilnya yang keren seorang diri.


"Siallan memang mereka semua! Si Amel juga! Berani-beraninya pindah rumah tanpa konfirmasi Aku dulu! Ck! Dasar perempuan ga tau diuntung!"


Soleh terus berkicau tak jelas dengan amarahnya.


"Padahal Aku ini bawa uang seratus juta! Aku ingin memberinya separuh untuk modal usaha. Tapi dasar perempuan yang gak punya otak! Justru pindah begitu saja dari rumah kontrakan yang penuh sejarah!"


Soleh mampir masuk ke sebuah kafe. Dia pusing tujuh keliling, ingin melampiaskan sebentar dengan minum kopi.

__ADS_1


Dulu-dulu, tempat ini hanyalah ditolehnya dengan rasa penasaran tinggi.


Banyak muda-mudi berpakaian trendy keluar masuk kafe ini. Tanpa Soleh tahu, ada apa sampai kafe seramai ini bahkan jika Ia pulang lembur kerja shift malam.


"Ada diskotik tersembunyi, Mas! Khusus pelanggan VIP dan baru buka pukul dua belas malam." Sang pramusaji yang Soleh tanya dengan tips selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah menjelaskan.


"Ough, pantas!"


Soleh, seharusnya sudah sampai di rumah sakit unit darurat Cikarang mendatangi ruang jenazah tempat Samsiah bersemayam justru mampir di klab malam.


Ingin menikmati malam panjang pertama kalinya dengan membawa banyak uang.


Lampu disko berkelap-kelip membuat pusing kepala Soleh semakin pusing.


"Mas, minta minuman yang paling nendang!" ujarnya pada seorang bartender yang sedang asyik meracik minuman dengan atraksi flair bottle.


"Yang termahal!" imbuhnya lagi membuat Sang bartender tersenyum mengangguk.


Soleh ingin menikmati dunia malamnya yang bebas. Ingin masuk ke dunia orang-orang kelas atas yang tak pernah pusing memikirkan dunia nyata.


segelas minuman cocktail beralk+hol tinggi berhasil membuatnya tertawa bagaikan orang gila.


Berjingkrak-jingkrak dengan gayanya yang norak. Yang sebagian orang tertawa lirih melihatnya. Sebagian lagi tak peduli dan mereka melantai bersama melewati hentakan beat musik yang DJ mainkan dari mesin pemutar musik.


"Hahaha... keren, keren!"


Seorang perempuan cantik dengan pakaian minim memancing perhatian Soleh.


Wajahnya cantik full make up.


"Hai, ...orang baru ya?" sapanya dengan suara merdu merayu di telinga Soleh yang langsung dijawab anggukan.


"Ya ... Bawa Aku keduniamu yang indah, cantik!" jawabnya dengan suara lantang karena sudah dikuasai mabuknya minuman.


"Minumnya dong, Bos!"


"Pesan saja. Aku yang bayar!"

__ADS_1


"Okay!"


Perempuan itu tersenyum genit sambil menggelitik pinggang Soleh dan berbisik, "Dandananmu norak. Tapi karena kamu banyak uang, it's okay lah!"


Soleh menyeringai.


Tangannya iseng menggeratak bagian depan perempuan yang langsung terpekik senang.


"Mau main?" ajaknya sembari mengangkat gelas minuman yang baru saja Ia pesan.


"Siapa takut?"


"Berani bayar berapa?"


"Huh, semahal apa tubuhmu sampai menyepelekan Aku?" jawab Soleh merasa terhina.


"Tentu saja. Aku bukan barang obralan. Hehehe..."


"Sebut saja hargamu! Jika kau mampu memuaskan Aku malam ini, kubayar dua kali lipat!" ujar Soleh sombong.


Perempuan malam itu terkekeh. Antara jijik namun juga senang.


Ia adalah seorang kupu-kupu malam yang sudah faham beragam karakter laki-laki yang memakai jasanya.


Soleh kemungkinan adalah seorang perampok yang ingin membuang uangnya untuk main bersama dirinya.


"Ayo... kita lanjutkan di atas!" bisik sembari menggandeng mesra Soleh.


Tentu saja pria itu tertawa jumawa.


"Amel... hahaha, kau pikir Aku tidak bisa dapatkan perempuan lain yang lebih baik darimu, hah?!? Hahaha..., Aku ini lelaki. Panjang langkah kakiku dibandingkan langkahmu yang hanya terseret-seret mencari cinta. Hahaha..." racau Soleh dengan tubuh melayang menempel erat di tubuh perempuan yang bau aroma m+dat.


Perempuan malam itu ikut tertawa. Akhirnya Ia tahu, pria yang menuju tua bangka ini rupanya sedang frustasi juga karena cinta.


Tugasnya adalah melayani pria kesepian ini sampai tak lagi bisa berkutik dan mengakui kehebatannya di atas ranjang meskipun memiliki virus HIV AIDS.


Hm. Poor Soleh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2