
"Bunda, Bunda... ayo bangun. Ini kan hari pertama Pupu sekolah!"
Inayah membuka matanya.
Putra Arthur Pangestu sudah duduk manis di sebelahnya.
Malam ini Inayah memang tidur sendiri. Arthur sang suami sedang berada di Brisbane untuk menerima penghargaan kategori film Asia drama terbaik di sana.
Sebenarnya Arthur sudah membujuk dan merayu Inayah turut serta. Arthur bahkan sudah meminta izin dosen Inay untuk cuti kuliah selama beberapa hari.
Tapi Inayah merasakan tubuhnya kurang enak badan. Sehingga menolak ajakan sang suami untuk ikut beliau mendampinginya menerima piala penghargaan di Brisbane festival film, Australia.
Rumah tangga mereka telah berjalan hampir setahun setelah pesta pernikahan yang fenomenal luar biasa megahnya di Cimory Puncak Pass Kota Hujan.
Bahkan digadang-gadang jauh lebih megah dari pesta pernikahan Lukman Amelia.
Sungguh seperti mimpi rasanya. Inayah ibarat Putri Raja, begitu cantik jelita. Anggun mempesona dengan balutan baju pengantin internasional yang dikirim langsung ibu mertuanya dari Amerika sana.
Mengingat itu, Inayah tersenyum lebar.
"Bundaaa..." rengekan Pupu membuat Inayah kembali tersadar.
"Ah, iya. Hehehe... Pupu sekarang sekolah TK ya?!" kata Inayah sembari mengusap raut wajah tampan putra sambungnya itu.
Pupu telah mandi dan berpakaian rapi.
Suster Arini telah mendandaninya sejak setengah jam yang lalu.
"Hoek hoekk..."
Inayah turun dari ranjang dan setengah berlari masuk kamar mandi.
Perutnya mual, kepalanya pusing sekali hingga langkahnya sempoyongan.
"Bunda?!?"
Pupu berteriak cemas.
"Susteeerr, tolongin Bunda!" teriak Pupu lagi memanggil suster pengasuhnya.
"Bu Inay!? Bu?"
Suster Arini tergopoh-gopoh masuk kamar Nyonyanya.
"Tidak... apa-apa. Hanya mual, sus!"
__ADS_1
Suster Arini kembali ke luar. Lalu kembali masuk dengan tangan memegang segelas air putih hangat untuk Inayah.
"Minum dulu, Bu!" ujarnya cemas.
"Mas Pupu berangkat sekolah sama Pak Raden saja ya? Suster mau bawa Bunda Inayah ke rumah sakit dulu."
"Tidak apa-apa, Sus! Suster antarkan dulu saja Pupu sekolah. Nanti siang saya yang akan jemput Pupu. Ini hari pertama Pupu sekolah. Pasti Pupu sedih kalau saya tidak mengantarnya di hari pertama."
"Bunda, are you okay? Tak apa, Pupu sekolah sama pak Raden. Bunda ke dokter di antar Suster. Besok Bunda sembuh bisa antar Pupu sekolah."
Inayah tersenyum. Ia bangga putranya ternyata begitu dewasa.
Inayah mengecup pipi Pupu.
"Sekolah yang baik ya, Sayang! Dengarkan perkataan Miss Venya dan Mister Haris. Nanti siang Bunda jemput kamu kalau sudah agak baikan."
"Bunda tidur lagi aja. Bunda pucat sekali wajahnya. Pupu takut Bunda sakit parah."
Inayah menatap haru wajah Putra Arthur Pangestu.
"Love you, Sayang! Your'e the best."
"Bye, Bunda. Cepat sembuh ya!?"
"Iya, Pupu Sayang. See you soon!"
Inayah tersenyum menatap putranya Arthur berjalan keluar dari kamarnya bersama Suster Arini.
Ia kembali melangkah menuju ranjang dan berniat lanjutkan tidurnya lagi.
Tak lama kemudian ponselnya berdering.
...[Morning, my beauty wife. Sudah bersiap untuk berangkat antar Pupu sekolah ya?]...
"Sayang..., aku ga antar Pupu sekolah. Tiba-tiba kepalaku sakit dan perutku mual."
...[Cepat ke dokter, Yang! Kamu semalam makan apa? Mbok Kina kasih makan kamu apa? Terus keadaan kamu gimana sekarang?]...
Terdengar suara Arthur yang panik.
"Aku mau lanjut tidur lagi dulu. Nanti agak siangan pergi ke dokternya, Mas!"
...[Sayang... sarapan dulu.]...
__ADS_1
"Iya nanti, Mas!"
...[Sayang... Barusan aku mimpi. Habis main di festival burung. Hahaha... mimpiku lucu kan. Seumur-umur aku baru mimpi kayak gini. Di sana itu aku dikasih burung merpati kipas. Cantik sekali. Hehehe...]...
"Ish, mimpi yang aneh. Jangan bilang pulang dari Brisbane kamu mau pelihara burung di rumah."
...[Enggak lah. Kamu kan tahu, aku tidak begitu suka pelihara hewan. Tapi kok bisa mimpi lucu begitu. Masih terbayang burung kipas yang cantik itu nih. Hehehe... Ya udah, kamu tidur lagi deh! Aku juga mau lanjut meeting sama produser film Titanic. Hehehe doakan Aku selalu ya Sayang!?]...
"Tentu, Sayang. Kamu jangan lupa makan siang. Jangan makan sedikit."
...[Koq kamu tahu aku makan sedikit? Aku juga koq ga enak perut juga Yang! Kayak badmood juga sebelum telpon kamu. Ya udah, assalamualaikum...]...
"Waalaikum salam..."
Klik.
Arthur memutus sambungan teleponnya dengan Inayah.
Ia kembali lanjutkan aktifitasnya di negara Australia.
........
"Benarkah, Dokter?"
"Hehehe... Selamat ya. Moga kehamilannya berjalan lancar sampai persalinan nanti."
"Aamiin..."
Inayah tertegun. Antara bingung, senang juga haru.
"Mas Arthur pasti kaget mendengar berita baik ini," gumam Inayah pada dirinya sendiri.
"Bagaimana, Bu? Kata dokter apa?" tanya Suster Arini yang menunggu Inay di luar ruangan pemeriksaan bersama Pupu.
Inayah tersenyum lebar sembari menyodorkan selembar kertas keterangan dan juga resep dokter yang harus Ia tebus di apotek.
"Hah? Hamil? Ibu hamil! Alhamdulillah..."
Suster Arini memeluk Inayah. Pupu tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa.
Inayah senang bukan kepalang.
Ternyata dirinya bisa hamil juga. Kekhawatiran Arthur akan masa tuanya yang kesepian tanpa hadirnya anak kini terpatahkan.
BERSAMBUNG
__ADS_1