
Amelia tersenyum bahagia.
Kini usaha kateringnya telah mendapatkan nama.
Sebuah baliho papan reklame berukuran lumayan besar terpajang di atas kanopi rumah toko kontrakannya.
...AMELIA KATERING AND RESTAURANT...
Amel tersipu.
"Kenapa namaku yang dijadikan iconnya, Mas?" ucapnya malu-malu.
"Kamu kan pemiliknya. Namamu juga bagus, Mbak. Semoga menjadi berkah dan membawa keberuntungan dalam usahanya."
"Aamiin..."
Seperti biasa, kepindahan Amelia sengaja mencari hari baik di hari Sabtu siang menjelang sore. Kalau pagi, katanya kurang bagus. Wallahu. Amelia hanya menurut saja pada Tasya yang lebih faham urusan begituan.
Bagi Amel, semua hari adalah baik. Tidak ada hari buruk apalagi hari sial. Hanya saja, bedanya mungkin karena tidak tepat saja waktunya. Karena Sabtu pagi adalah hari terakhir orang-orang bekerja. Jadi otomatis semuanya sibuk tak ada yang bantu bawa perabotan.
Di hari Minggu Ia dan Tasya juga Ziah bisa istirahat dari acara masak memasak karena konveksi Boss Adam libur.
"Kapan restoran akan launching dibuka?" tanya Lukman sembari menyeruput kopi hitam buatan Amelia yang membuatnya jadi kecanduan.
"Cari dulu tambahan karyawan. Aku takut keteteran kalau belum kokoh kekuatan dari dalamnya. Mbak Ziah akan ambil dua karyawan dari kampungnya Minggu besok. Kemungkinan Minggu depan baru bisa buka resto, Mas!"
Lukman tersenyum.
"Oiya, Mas Lukman... Tolong sampaikan pada pemilik ruko ini, terima kasih banyakku atas bantuannya. Terima kasih banyak."
"Buat Aku?"
"Tentu terima kasih paling banyak lah! Hehehe..."
__ADS_1
Amelia tersenyum malu. Lukman mulai sering menggodanya. Pria lajang itu sangat senang melihat semburat merah jambu yang tampak di wajah Amelia jika Ia menggoda calon istrinya itu.
"Mama nanya, kapan Aku akan ajak kamu main lagi ke rumah."
Perkataan Lukman membuat jantung Amel berdebar kencang.
"Apa... mas sudah bilang pada Bu Fanny tentang hubungan kita?"
Lukman mengangguk.
"Aku langsung cerita dan Mama sujud syukur. Hehehe..."
"Ish, Mas ini... ceritanya bikin lubang hidungku membesar. Jangan dilebih-lebihkan! Malu Aku. Siapa lah diri ini."
"Kamu, calon istriku. Ibu dari anak-anakku."
Meleleh hati Amel.
Ada rasa senang, tapi terselip juga rasa takut yang lumayan besar.
"Jangan fikirkan yang buruk-buruk. Kita jalani saja yang ada di depan dengan penuh doa kebaikan. Bagaimana? Dan kalaupun Tuhan belum memberikan kita kepercayaan, Dia Maha Kuasa, Maha Mengetahui waktu yang terbaik untuk kita mendapatkan kepercayaan mengurus titipan-Nya. Dengar, Mbak... Anak, harta, itu hanya titipan. Suatu saat jika Allah sudah Berkehendak, semua bisa Dia ambil hanya dalam satu kali tarikan nafas. Wusss, hilang!"
Amelia mengerjap.
Matanya berbinar indah.
Kagum sekaligus bahagia mendengar penjelasan Lukman yang mampu meringankan beban fikirannya.
"Keluargamu?"
"Kenapa? Takut mereka menanyakan lagi dan lagi? Hehehe... Wajarlah. Namanya juga orang tua. Selalu akan merasa putra-putri mereka layaknya bocah kecil yang harus terus ditanya dan ditanya. Itu memang pekerjaan wajib para orang tua. Seperti Aku, setiap ada kesempatan kumpul keluarga, selalu ditanya, 'Lukman, kapan nikah? Kapan lepas masa lajangnya? Cepetan, mumpung belum kiamat. Cepetan, takutnya nanti rudalnya berkarat'."
"Hahaha... Hahaha..."
__ADS_1
Amelia tanpa sadar tertawa terbahak-bahak.
Membuat Lukman ikut menyeringai lebar dan bahagia melihat wajah Amel yang cerah ceria.
Lukman menggenggam jemari tangan Amelia.
"Jangan khawatirkan itu! Jangan berfikir terlalu jauh tentang kepesimisan kita, Sayang! Tapi..., mari kita satukan kekuatan. Kau dan Aku, bisa lewati semua ujian dunia yang fana ini. Percayalah pada kebaikan Tuhan! Karena Allah itu Maha Baik!"
Amelia meneteskan air mata.
Tangannya membentang dan tanpa sadar merangkul pinggang Lukman hingga seperti ada aliran listrik yang membuat keduanya canggung tapi ingin.
"Lamar Aku segera, Mas! Aku... siap menjadi tulang rusukmu yang hilang satu."
"Hihihi..., koq kamu bisa merayu juga ya?"
"Huaaa, malah diledek!"
"Hahaha, maaf, maaf. Aku merusak sisi romantisnya Mbak! Hahaha, ya Allah, sungguh Aku ingin mengecup keningmu, Mbak!"
Desiran halus itu berubah menjadi letupan-letupan warna-warni cinta yang membara.
Lukman akhirnya membawa Amelia kembali sore itu juga ke kediaman orangtuanya yang bahagia mendengar kalau Lukman dan Amelia telah siap menikah.
Fanny dan Bimo langsung mengabari keluarga besar mereka. Memberitahukan kalau Lukman akan secepatnya lepas masa lajang.
"Ya ampun, anak ini! Waktu itu kita suruh nikah secepatnya ga juga nikah. Giliran kita tak lagi menyuruhnya jor-joran, tiba-tiba ada kabar si Lukman akan menikah akhir bulan ini! Hahaha..., jodoh memang tidak bisa diprediksi!"
Begitu celotehan para kerabat dan keluarga besar mereka yang terkejut mendengar kabar dari Bimo maupun Fanny via telepon.
"Amelia ga perlu pusing. Semuanya, biarkan kami yang urus. Cukup nanti kami yang akan datang melamar kamu pada Ibumu dan adik-adik."
Sungguh kebahagiaan yang tidak pernah Amelia bayangkan.
__ADS_1
Bahkan keluarganya sendiri hanya tinggal duduk manis menanti hari H itu tiba tanpa harus bersusah payah mengurus perhelatannya dengan Lukmanul Hakim.
BERSAMBUNG