
Soleh pulang dengan senyuman mengembang.
Ia bahkan membantu Juriah dalam segala urusan pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan pakaian setelah menutup toko onderdil warisan Ojan Samsiah.
Hatinya seperti merasakan ketenangan karena telah mengacaukan pernikahan Amelia yang akan dilaksanakan esok siang.
"Kau tak dapat kumiliki, setidaknya Lukman juga harus gigit jari!" gumamnya puas pada dirinya sendiri.
"Mas...! Kenapa?"
Sontak Soleh terperanjat. Juriah sudah berdiri dibelakangnya.
"Sayang...?" jawabnya agak gagap.
Gaun malam Juriah yang tipis menerawang, membuat Soleh menginginkan sesuatu yang sudah lama tidak Ia nikmati.
Walaupun isinya tak lagi penuh seperti diawal pernikahan, tapi Soleh percaya, Juriah memanglah Tuhan jodohkan untuk selalu jadi miliknya.
Kini Ia bertekad ingin membuat Juriah gemuk berisi lagi. Caranya, tentu saja dengan memberikan kebahagiaan serta makanan dan minuman yang enak-enak. Itu sudah mulai ada difikiran Soleh.
Pria itu memeluk tubuh istrinya yang kini tipis dan terlihat ringkih.
Sejujurnya Juriah juga malu hati dan rendah diri kini. Karena badannya tak seindah dulu. Wajahnya tak sesegar yang lalu-lalu.
Tapi Ia begitu mencintai Soleh. Dan berharap Soleh pun seperti dirinya.
"Mas...!"
"Hm?"
"Maafkan Aku ya, tidak bisa menjadi istri yang baik bagimu!" bisik Juriah di daun telinga Soleh dengan lembut.
"Tidak, Ju! Kamu adalah istri terbaikku! Kamu setia padaku, bahkan sampai akhir."
Jawaban Soleh seperti siraman embun di pagi hari bagi Juriah. Sangat menyejukkan.
Terenyuh sekaligus haru membuat Juriah pasrah ketika Sang Suami memasukkan tangannya ke dalam gaun tidurnya yang tipis menerawang.
"Sudah lama ya, kita tidak bercocok tanam!?" bisik Soleh membuat Juriah tertawa sengau.
Soleh menuntun Juriah.
Hampir saja Ia lupa kalau kakinya tinggal satu karena ingin menggendong istrinya yang dipikirnya pasti seringan kapas.
Juriah tertawa.
"Yok,..." tuntunnya pada Soleh.
Soleh tersenyum kecut.
Dia malu hati.
Tak seperkasa dulu.
Kini permainan mereka juga tidak se-hot pernikahan setelah tahun yang lalu.
Bahkan banyak kendala dan kesulitan karena kondisi fisik mereka berdua juga.
"Mas..."
__ADS_1
"Iya, Sayang?"
"Kenapa area sensitifmu bercak-bercak merah begini? Gatalkah? Atau sakit? Ini khawatir membesar seperti cenang!"
Juriah yang mengelap lembut batang Soleh mulai engeuh dan intens memperhatikan.
Soleh terdiam membisu.
Dokter sudah menjelaskan ciri-ciri penyakitnya. Membuatnya kembali berfikir ketakutan.
Mungkinkah penyakit siallan ini semakin menjalar karena minggu lalu Aku tidak kontrol ke dokter? Gumamnya was-was.
Juriah tidak tahu kalau Soleh tertular virus HIV AIDS dari kupu-kupu malam yang dibayarnya sebanyak sepuluh juta di daerah Cikarang.
"Mas...?!"
"Sepertinya kena alergi, Sayang! Sudahlah kamu masih mau lanjut atau..."
"Ayo. Tapi pelan-pelan ya? Jangan terlalu dalam cangkulnya. Hehehe... masih terasa sakitnya. Maaf ya Mas?"
Begitulah. Mereka bercocok tanam hanya ala kadarnya saja. Tidak seperti dahulu yang penuh sensasi dan gaya bercinta bahkan yang aneh-aneh.
Juriah dan Soleh hanya terbaring terlentang setelah kegiatan malamnya. Pikiran mereka menerawang pada masa-masa indah yang silam.
Kini hanya kerinduan saja yang terpendam.
Tidak boleh seperti dulu.
Tidak bisa seperti dahulu.
.............
Seorang stylish gaun pengantin sedang mematut tubuhnya dengan gaun cantik berwarna putih.
"Bodinya Mbak keren! Body goals banget ini! Idaman setiap wanita banget. Tinggi semampai, langsing, tapi dada dan pinggul besar. Hehehe... Waah, bikin ngiler Aku. Apalagi Mas Lukman ini!" goda sang stylish yang bernama Sanny itu.
"Mbak bisa aja, bikin saya malu jadinya. Hehehe..."
"Kulit Mbak juga sehat."
"Kulit hitam hehehe..."
"Eksotis lho! Mbak kalo tinggal di Bali, idaman cowok-cowok luar yang tajir melintir!"
"Hei, hei, hei! Aku di ruang sebelah dengar ucapanmu, Sanny!"
"Ehh?"
Amelia tertawa. Ternyata suara Lukman menggema dari ruang make up sebelah yang ternyata hanya ditutupi tirai gorden tebal saja.
"Alamak! Mati awak, kena Aku ditandai Mas Lukman! Hihihi..."
Suasana menjadi hangat. Terlebih setelah Fanny ikutan masuk mengatur sang calon menantu yang beberapa jam lagi akan jadi menantu resminya.
"Foto dulu dong, San!"
"Belum selesai didandani, Tan!" jawab Sanny agak kurang puas.
__ADS_1
"Please, ini untuk isi galeri ponselku!"
"Yo wes!" Sanny pasrah, padahal Amelia belum fix siap semuanya.
"Cantik! Anggun!" puji Fanny, Mamanya Lukman.
"Mel, senyum Mel! Jangan tegang gitu! Hihihihiii..."
Amelia tertawa. Fanny membuat Amelia terlihat sangat tegang.
Ia telah dirias Make Up Artis ternama. Duduk di kamar sambil menunggu Lukman ijab kabul di meja pelaminan.
Bimo memang meminta Amelia untuk duduk di kamar sampai ijab kabul Lukman selesai disahkan penghulu dan wali nikah serta para saksi. Ia khawatir Soleh datang lagi meracau.
Tapi jauh sebelum itu, Bimo sudah menyuruh orang-orangnya untuk menjaga ketat hotel. Dan beberapa orang mengintai Soleh di kampung. Was-was juga si satu kaki itu datang lagi membuat keonaran.
Pernikahan pertama kalinya bagi Lukman.
Tetapi dia jauh lebih santai ketimbang Amelia yang sudah pernah menikah.
Lukman telah mantap mengucapkan nama Amelia binti almarhum Bapak Kan'an dengan mas kawin yang telah mereka sepakati.
Hanya dengan sekali tarikan nafas, Lukman berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pria yang kini telah beristri.
Sungguh Kuasa Allah SWT yang membuat semuanya begitu lancar.
Dihadapan Rama, adik Amelia yang menjadi wali nikahnya, dihadapan Mia, Tia, Inayah dan Gaga, Lukman berjanji akan memegang teguh janji sucinya untuk menjaga dan melindungi Amelia yang kini jadi istrinya.
Didepan orangtua Lukman sendiri, Ia berjanji akan menjadi suami yang baik. Menjadi anak yang baik juga dengan mengikuti saran serta nasehat baik para orang tua.
Lukman akan menerima keputusan Bimo, mengurus serta melanjutkan bisnis keluarga. Menjadi CEO PT Bayangkara Abadi Permai yang menaungi beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang properti dan agribisnis penyaluran alat-alat pertanian. Juga pewaris tunggal Hotel Mercusuar Gold yang kini dipakai sebagai tempat acara pernikahan.
Para tetamu yang kebanyakan adalah undangan khusus dari kampung Amelia terkesima mengetahui siapa lelaki yang menyunting janda kembang kampung mereka. Sungguh kabar yang mencengangkan sampai tak ada yang berani berkata-kata.
'Woaaa, pantesan! Menantunya Emak Mia yang sekarang adalah anak konglomerat!'
Sungguh pesta pernikahan yang sempurna bagi para tamu undangan.
Makanan, minuman dan camilan aneka ragam serta buah-buahan semuanya tumpah ruah, bebas untuk dinikmati.
Semua hadirin tamu undangan sangat bahagia, apalagi jamuan tuan rumahnya yang benar-benar ramah sekali. Termasuk menginap semalam di hotel bintang lima tersebut sampai esok acara resepsi yang digelar lebih meriah lagi. Karena Bimo dan Fanny menyediakan konser artis-artis terkenal Ibukota bahkan sampai bintang top bayaran termahal Lesty Kejora dan artis kawakan lainnya seperti Inul Daratista, Dewi Persik, Iis Dahlia juga Nassar yang dipandu MC empat artis juga yaitu Irfan Hakim, Ramzi, Gilang dan Jirayut.
Artis band papan atas seperti Padi dan Sheila On Seven turut meramaikan acara pernikahan Lukman dan Amelia. Bahkan sampai masuk diberitakan di sebuah liputan khusus televisi swasta.
Sungguh Amelia tak pernah memikirkan kebahagiaan yang begitu banyak berlimpah ini datang di kehidupannya.
Mia menangis terharu.
Rama gemetar saking bahagianya.
Tia, Inayah dan Gaga sibuk menikmati kebahagiaan yang tak pernah mereka bayangkan.
Semuanya bergembira, tanpa terkecuali.
BERSAMBUNG
__ADS_1