
Inayah kalah dengan keinginan Pupu untuk melihat hewan-hewan di kebun binatang ragunan.
Rendy ternyata tour guide yang asyik sampai akhirnya Inayah ikut terhanyut oleh gayanya Rendy tatkala mendampingi mereka melihat-lihat isi ragunan.
Kini bahkan Inayah sama antusiasnya dengan Pupu yang kadang berjalan cepat, kadang berlari sambil bergoyang senang.
Anak itu membuat Inayah dan Rendy seringkali tergelak riang.
Rendy juga menyewa sebuah sepeda untuk membonceng Pupu keliling kebun binatang yang lumayan luas itu.
"Kamu duduk aja, Nay disini. Biar aku bawa Pupu keliling karena kita tidak akan bisa seharian mengunjungi uwa' mu kalau hanya jalan kaki. Hehehe..."
"Dih? Uwak mu, bukan uwak ku! Hehehe..."
"Iya, iya. Uwak kita bertiga."
"Uwak awung!" sela Pupu yang kini sudah faham siapa itu 'Uwak Awung' yang seringkali Rendy sebut namanya.
Hari itu berlalu dengan cepat tanpa Inayah sadari. Azan Ashar berkumandang dan Ia merasa baru saja sholat Dzuhur.
"Ternyata waktu gak terasa cepat berlalu ya?" gumamnya membuat Rendy tersenyum simpul.
"Itu karena kamu terlihat senang dan sangat menikmati piknik dadakan kita ini. Hehehe..."
"Makasih banyak ya, Ren. Kamu sudah mau bersusah-susah kami ganggu waktunya."
"Jangan bilang begitu, Nay! Aku senang koq. Senang banget malahan dapat kesempatan ini."
"Ah kamu. Kalo keseringan pasti gak senang juga kan. Hehehe..."
"Hehehe... Kalau sudah kewajiban juga aku pasti akan jalani dengan tenang."
"Kewajiban apa? Koq kewajiban?"
"Ya semisalnya nanti suatu saat nanti jadi kewajibanku menjaga kalian, who knows kan? Allah Maha Berkehendak. Aku percaya takdir, jodoh, semua hanyalah Allah Yang Maha Mengatur. Iya kan?"
"Hehehe, iya juga sih. Udah ah, udah mau jam empat sore. Aku takut kita pulang ke rumah ke maghriban. Secara jam pulang kerja, jalanan Bogor pasti macet juga."
"Hehehe..."
Arthur yang semakin penasaran dengan kedekatan Inayah bersama pria yang kata anaknya 'ganteng' itu, semakin terbakar api hatinya. Api kecemburuan yang kian berkobar.
Ada apa ini? Kenapa rasanya dadaku sakit sekali? Kenapa semua terasa sangat tidak masuk akal? Disatu sisi aku tidak mengingat kebersamaanku dengan perempuan berkerudung norak itu. Tapi disisi lain, aku merasakan panas hati mengetahui ada pria lain yang ternyata juga lumayan serius mendekati Inayah.
Arthur tidak bisa diam.
Hatinya gerah, tubuhnya bergairah.
Ada amarah, emosi dan kesedihan yang bercampur jadi satu.
Juga rasa yang seperti ingin meledak melampiaskan kekesalannya pada pria yang ditengarai berusia 26 tahun itu.
Usia yang sedang bagus-bagusnya.
Tidak seperti dirinya yang tinggal dua tahun lagi menapaki usia kepala empat.
Usia matang menuju tua.
__ADS_1
Arthur kembali menghela nafasnya.
Inayah hendak pulang ke rumahnya bersama Pupu setelah mengucapkan salam perpisahan pada Rendy di depan pintu mobil Arthur Handoko yang ditunggui pak Soleh di parkiran.
Inayah dan Rendy baru saja selesai sholat ashar di masjid dalam kebun binatang.
Pupu sendiri tertidur pulas di lantai masjid ketika Inayah dan Rendy sholat. Setelah itu Rendy memangkunya sampai ke parkiran.
Rendy memang ikut mobil Inayah. Sementara motornya ditinggal di parkiran kampus IBIK Bogor.
Rendy memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan mengambil motornya kembali esok hari sekalian ngampus.
"Sampai ketemu lagi di lain waktu ya Inayah."
"Terima kasih banyak, Ren. Sepertinya aku baru akan lanjut ngampus setelah putriku enam bulan lahir. Mungkin juga ambil kelas malam buat menghemat waktu."
"Kabari aku kalau kamu butuh sesuatu. Jangan sungkan! Widia juga suka minta bantuanku kalau sedang ada masalah. Kita kan teman!"
"Iya, terima kasih Ren! Salam ya untuk Widia. Maaf, Aku ambil cuti lebih cepat dari yang diperkirakan. Widia masih mudik dan sedih pas aku kabari aku percepat ambil cuti."
"Iya. Kami semua sedih. Tapi, tetap selalu do'akan yang terbaik untukmu, Nay!"
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak. Kalian adalah sahabat terbaikku. Assalamualaikum, Ren!"
"Waalaikum salam..."
Rendy hanya bisa melambai-lambaikan tangannya setelah membantu pak Soleh memarkir kendaraan yang akan membawa Inayah dan Pupu pulang ke kota hujan yang berjarak satu jam lebih dari Ibukota Jakarta itu.
Inayah tersenyum lega.
Ia mengelus lembut rambut Pupu. Putranya Arthur itu tertidur sampai mendengkur. Seketika Inayah tertawa kecil melihat Pupu yang nikmat sekali tidurnya karena kecapekan.
Entah mengapa, mendengar gumaman Inayah yang sangat jelas di telinga membuat Arthur menitikkan air mata.
Ia senang, juga sedih.
Senang karena ternyata Inayah masih sangat menginginkan dirinya.
Sedih karena sampai detik ini ingatannya belum juga kembali.
Rasanya sangat menyakitkan. Terombang-ambing dalam ketidakpastian hidup. Beruntungnya Allah telah menangkap tubuh dan hatinya hingga bisa kokoh kembali meyakini agamanya.
Sholat adalah jalan terbaik untuk Arthur meminta petunjuk Tuhan.
...............
Dua hari berlalu, Arthur senang mengetahui putranya telah kembali masuk sekolah.
Arthur juga senang, Inayah benar-benar menjalankan kewajibannya full sebagai seorang ibu rumah tangga. Mengurus anak meskipun sendirian tanpa didampingi suami.
Arthur sebenarnya sedih mengingat Inayah yang kian besar perutnya karena ada anak keduanya bersemayam di sana.
Tapi Arthur masih terlalu gengsi membuat dirinya bimbang untuk segera ke Indonesia.
Frederica dan Joko juga sudah tak lagi mengingatkan Arthur untuk segera menemui Inayah dan Pupu. Keduanya sudah lelah hati dan pasrah terserah pada kemauan putra semata wayangnya yang keras kepala itu.
Tring
__ADS_1
Arthur terkesiap.
Ia tak mengira kalau ternyata Rendy juga berani men-chat Inayah pukul sembilan malam.
Arthur mengetahui karena kembali membuka deteksi sadapan ponsel nya Inayah yang sempat ia gunakan.
Itu semua karena rasa keingintahuan Arthur yang tinggi pada apa saja dan siapa saja yang Inayah hubungi.
...Malam, bumil...
Arthur geram, Rendy menyebut Inayah dengan panggilan sayang 'bumil'. Dia tidak tahu kalau bumil itu kepanjangan dari ibu hamil.
Sempat tersenyum tipis karena cukup lama chat itu diabaikan Inayah.
Rasakan kau, Inayah tidak akan meresponmu! Umpatnya dalam hati.
Tapi ternyata kesenangannya itu hanya sebentar. Inayah membuka chat Rendy dan terlihat sedang mengetik balasannya.
"Ck. Dasar memang perempuan ini! Ga boleh dikasih perhatian sedikit, langsung meleleh lumer. Huh!" maki Arthur pelan.
...Malam, Ren. Ada apa chat aku malam-malam?...
...Engga'. Cuma tanya kabar....
...Oh. Aku lagi istirahat, menjelang tidur...
...Oke, have anice dreams, Nay. Oh iya, gimana kehamilan kamu? Sudah masuk bulannya melahirkan ya? Udah ada kontraksi belum?...
Dih?!? Emangnya Lo dokter kandungan Inayah ya? Pake tanya-tanya segala kontraksi! Tanya nih kontrakan! Udah bayar kontrakan belom Lo!?! Hhh...
Panas hati Arthur. Chattan Rendy semakin terkesan lebay keluar jalur.
...Hehehe... Belum lah, Om Ganteng....
Waduhh?!? Ini Inayah? Jawabannya gini? Muji-muji cowok lain selain Aku?
...Kalau dah masuk HPL, hubungi aku aja Nay. Aku akan antar kamu ke klinik bersalin. Jadi kamu ga sendirian ke sananya. Taruh nomor pribadiku paling atas buat kondisi darurat. Supir gr+bcar ini siap antar jemput....
...Hehehe, tq Ren. Makasih. Ada kakak2 aku koq. Juga sekarang ada pak Soleh. Mami dan Papi mertua aku yang bayarin gaji pak Soleh. Terima kasih atas tawarannya....
...Jangan sungkan hubungi aku ya Nay?...
...Insyaallah (emoji senyum)...
...Aku siap sekali jika dibutuhkan....
...Oke. Assalamualaikum, aku mau tidur Ren. Kamu juga jangan lupa tidur....
Arthur menepuk keningnya.
Inayah terkesan jutek, tapi terlihat perhatian sekali di matanya.
Makin membuat Arthur terbakar api cemburu buta.
Ia kesal, lalu pergi ke luar apartemennya melangkah menuju masjid.
Ia memang mengusahakan pelampiasannya ke rumah ibadah dan curhat pada Sang Pencipta.
__ADS_1
BERSAMBUNG