
Cintakah kini Juriah pada Solehudin? Terlebih setelah menerima perlakuan manis Sang Suami yang setiap saat membuatnya ternganga hingga tak mampu berkata-kata.
Seperti hari ini.
Mereka pulang ke kampung orang tua Juriah dengan sepeda motor.
Perjalanan yang biasa selama satu jam lebih menjadi pengalaman kencan yang luar biasa bagi Juriah.
Seumur hidup Juriah tidak pernah berboncengan dengan pria lain selain Abinya. Apalagi setelah kejadian dirinya yang telah dirusak di masa lalu.
Juriah kini merasakan sensasi lain untuk yang pertama kali.
Seperti seorang gadis muda yang baru mengenal cinta sesungguhnya, Juriah begitu senang menerima perlakuan Solehudin kepadanya.
Juriah yang suka sekali mengkhayalkan sifat pria lembut jika suatu saat Ia memiliki pasangan ketika menonton sinetron atau drakor, kini benar-benar jadi kenyataan. Dan Soleh lah si pelakon pemberi kebahagiaan manis itu lewat tingkah laku.
Seperti ketika kaki Juriah terantup batu dan ia hampir saja terjungkal, Soleh seketika melompat cepat sampai plastik belanjaan yang dibawa Soleh jatuh berhamburan di trotoar parkiran demi menolong.
"Kakimu ga berdarah khan?" tanya Soleh dengan suara bergetar lembut melewati gendang telinga Juriah bagaikan alunan musik klasik yang menenangkan.
Juriah menggeleng. Antara malu dan senang sekali, ia hanya menunduk memperhatikan Soleh yang sedang berjongkok mengusap-usap ujung kakinya yang tadi terasa nyeri sekali.
"Alhamdulillah, ga berdarah. Tapi pasti sakit ya? Mau kugendong sampai motor?"
"Jangan Mas, jangan! Malu dilihat orang!" Sontak Juriah tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa harus malu? Kita kan suami istri. Bisa ditunjukkan foto kopi buku nikahnya koq. Lagipula Aku gendong Istriku karena kakinya sedang sakit tersandung akar pohon itu!" ucap Soleh seperti bocah yang sedang membela diri.
Juriah lagi-lagi tertawa kecil. Suaminya terlihat imut sekali padahal usianya sudah 35 tahun.
Ia sampai melupakan gengsinya dan langsung menarik tangan Soleh agar segera melanjutkan langkahnya karena beberapa pasang mata pengunjung toko oleh-oleh disekitar menatap mereka dengan senyuman tipis.
"Aku bawa lho fotokopi buku nikah kita! Ini beneran, ini..."
"Mas, hehehe... itu belanjaan kita jatuh!"
Juriah segera mengambil paper bag dan juga kresek plastik yang tadi terpental karena Soleh lebih memilih melompat membantunya agar tidak sampai terjatuh ke trotoar.
"Oh iya, hehehe..." jawab Soleh.
Kini mereka sibuk memasukkan kembali belanjaan yang barusan berhamburan.
"Terima kasih ya Mas! Kamu..., suami yang paling baik,"
"Sedunia?" bisik Soleh menggoda Juriah.
"Jadi Udin dong namanya kalo 'Sedunia'?" timpal Juriah, mulai berani meledek Soleh.
Spontan Soleh tertawa lepas. Istri mudanya ternyata bisa melawak juga.
"Sayang..., kamu sangat cantik jika sering bercanda! Apalagi, tawamu itu benar-benar menceriakan dunia!" bisik Soleh lagi dengan rayuan recehnya.
Puk.
Juriah tersipu sembari menepuk pelan bahu Soleh yang langsung bergetar sampai ke sanubari.
__ADS_1
Aku cuma mau menceriakan hati Mas Soleh! Gumam hati kecil Juriah bahagia.
Wah, dia sudah berani tepuk-tepuk pundakku. Apakah ini artinya kode, kalau dia sudah bisa membuka hati menerimaku untuk masuk ke dalam jiwa raganya?
Soleh juga bertanya-tanya dalam hati. Berharap Juriah bisa menerima dirinya seutuhnya sebagai suami yang wajib menafkahi batin juga selain lahir.
Mereka lanjutkan perjalanan.
Juriah merasa pemandangan sepanjang jalan jauh lebih indah dari biasanya. Padahal dia sering bolak-balik naik motor pergi ke kampung sebelah untuk urusan lain.
Tapi saat ini, duduk di belakang suami sendiri. Juriah serasa bagaikan mimpi.
Akhirnya, ia mengakui dirinya sendiri yang kini berstatus Istri.
"Wah pengantin baru baru pulang! Beneran romantis deh, boncengan motor berduaan sama merangkul pinggang suami!" goda beberapa tetangganya yang melihat Juriah ketika melewati jalan depan rumah mereka.
Seketika kebanggaan Juriah semakin besar dan nyata.
Ya dong. Sekarang Aku sudah menikah. Sudah punya suami dan tidak boleh ada lagi orang yang mengatakan hal tidak baik kepadaku juga Keluargaku.
Juriah mengulum senyum. Hanya binaran matanya yang nampak indah berkilau. Pertanda hatinya benar-benar bahagia.
"Heleh, itu pasti cuma pernikahan kontrak! Yakin aku, itu suaminya cuma sayangnya sesaat. Setelah beberapa tahun, bahkan bisa juga hitungan bulan saja, Juriah pasti ditinggalkan. Toh istri pertama laki-laki itu juga tak kalah cantik dari si Juju!"
Deg.
Tertohok hati Juriah sayup-sayup masih saja mendengar ocehan pedas mulut para tetangganya yang julid.
Hhh... Dasar mulut ibu-ibu penggosip. Bisanya hanya bergunjing membicarakan aib orang, tapi lupa aib keluarga dan diri sendiri. Hati-hati bicara, Bu! Bisa berbalik arah itu tuduhan kepada anak dan menantumu sendiri.
Juriah menghela nafas. Tatapannya memandang ke depan, jalan depan rumah sudah terlihat. Ia tak ingin lagi menengok ke belakang. Dikibaskan rambutnya yang terurai lepas. Juriah hanya ingin bahagia.
Bukan apa-apa, Juriah yang sedang terluka hati, jiwa raga karena jadi korban kebiadaban seorang pria, dilamar oleh tetangga sekitar tanpa memikirkan keadaan serta perasaan Juriah yang justru sedang tidak stabil itu.
Ada banyak laki-laki yang Ia tolak di wilayahnya sendiri.
Itu karena Juriah sangat takut kalau hidupnya justru akan semakin hancur jika pernikahan yang dilakukan demi untuk menutupi aib saja, bukan atas dasar kasih sayang dan cinta tulus.
Juriah takut, pernikahannya seumur jagung, sedangkan mereka bertetangga dan pastinya gosip-gosip kian membara jika pernikahan sesama tetangga tidak berlangsung lama.
Juriah tidak inginkan itu.
Ia bersyukur memiliki orang tua seperti Ojan dan Samsiah.
Meskipun orangtuanya asli orang kampung yang juga suka sekali menyuruhnya segera menikah dan menerima siapa saja pria yang datang melamar, tetapi mereka tidak pernah bersikap memaksakan kehendak.
Hanya mencari dan berusaha mengenalkan. Selebihnya, Juriah sendiri yang akan mengambil keputusan.
Itulah kehebatan Ojan dan Samsiah.
Dan dengan Soleh, seperti sudah menjadi takdir Illahi.
Padahal Soleh pria beristri. Cuma konon kabarnya belum punya anak meskipun sudah sepuluh tahun berumah tangga.
Istrinya juga seorang yang angkuh menurut cerita orang tua Solehudin. Hingga mereka begitu menginginkan sang putra menikah lagi. Dan Juriah adalah pilihan terbaik.
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam!"
Rumah besar keluarga Ojan telah kembali seperti semula.
Setelah Juriah dan Soleh melarikan diri ke kampung Soleh yang berjarak sekitar seratus kilometer lebih.
Samsiah senang sekali melihat perubahan aura wajah putrinya yang terlihat berbeda.
Sebagai seorang Ibu, Samsiah bisa menyadari kalau pernikahan Juriah yang dilakukan melalui perjodohan akhirnya berhasil juga membuat Juriah berubah.
"Kalian sudah pulang?" sapanya dengan pertanyaan.
Juriah dan Soleh mencium punggung tangan Samsiah sambil mengangguk mengiyakan.
"Sudah dicopot, Mi hiasan pelaminan?" tanya Juriah setelah menghenyakkan b+k+ngnya ke atas kursi sofa.
"Sudah dari kemaren, Nduk!"
"Abi kemana, Mi?" tanya Juriah lagi.
Soleh tidak berkata apa-apa. Hanya duduk diam dengan sedikit salah tingkah.
"Abi pergi ke luar. Membagikan amplop buat para kerabat yang kemarin bantu-bantu kita di pesta hajatan kalian."
"Oh begitu."
"Rencana kalian selanjutnya bagaimana?" tanya Samsiah pada anak dan menantunya.
Soleh juga Juriah hanya saling pandang belum tahu harus menjawab apa.
Tapi kini Juriah lagi yang menjawab.
"Mi! Bagaimana kalau kami tinggal di bengkel saja? Ya?"
"Pindah di rumah bengkel yang di Asamka?"
"Iya. Sekalian Mas Soleh langsung nanganin toko onderdilnya! Juju bisa buka toko sembako di kontrakan sebelah. Jadi kita bisa usaha bersama!"
"Itu kan memang idenya Abi. Soleh sendiri gimana pendapatnya?"
"Saya... terserah Juriah saja. Maunya bagaimana."
"Terus..., istri pertamamu tinggal di mana? Mau terus tinggal di Ibukota? Atau,..."
"Kata Juriah, mau diajak tinggal bersama Amelia." Soleh mulai berani bicara.
"Apa? Tinggal bersama istri pertama? Di Asamka?" sontak Samsiah kaget.
"Kayaknya rencana itu dipending, Mas! Ibu dan Bapak Mas bilang, kita tidak boleh tinggal bersama. Tidak elok dan bisa menimbulkan keributan nantinya. Aku juga..., pastinya Mbak Amel juga bakalan canggung nantinya."
Soleh menatap wajah Juriah dengan seksama.
Bukankah dia yang bilang sendiri tempo hari? Bahkan memaksa Amelia supaya mau tinggal bersama kita di rumah bengkel keluarganya?
__ADS_1
Juriah tersenyum tipis dengan kepala menggeleng pelan.
BERSAMBUNG