
Dok dok dok
"Victor, Victor! Buka pintu, ini Aku Arthur!"
Arthur menggedor-gedor pintu pagar rumah Victor dengan kekuatan penuh.
Perumahan yang sepi dan lengang membuat Arthur semakin memperbesar tenaganya.
"Victor! Victor Valdes!!!"
Dok dok dok
Dok dok dok
Sebuah lubang kecil di pintu pagar terbuka sedikit hingga menampakkan satu buah mata yang mengintai dari dalam.
"Iya? Ada perlu apa ya?" Terdengar suara tanya dari balik pagar.
"Mana majikanmu? Si Victor itu?" teriak Arthur dengan lantang.
"Ada apa Arthur?"
Arthur mengenali suara sahutan dari dalam.
"Buka! Buka pintunya! Atau aku akan teriak dan sengaja buat kerusuhan di sini!"
"Buka, Doyok!"
Victor memerintahkan pegawainya untuk membuka kunci gembok pagar rumahnya.
Krieeet
Arthur menerobos masuk. Ia melihat Victor yang tersenyum menyambut kedatangan pria spesial baginya.
"Buat klarifikasi! Jangan lanjutkan niat jahatmu untuk menghancurkan rumah tanggaku!"
"Hei! Kau fitnah aku, Arthur!" seru Victor tak terima dituduh berbuat jahat.
"Siapa lagi yang berniat menjatuhkan nama baikku kalau bukan kau dan si Juriah itu. Mana dia? Mana perempuan itu?"
"Hei, kau bilang kini kau lebih baik sekarang. Memiliki agama, mempunyai akhlak yang baik. Tapi, ternyata kau masih seperti yang dulu. Suka menuduh sembarangan tanpa bukti!" hardik Victor.
"A_ada apa, Mas Victor?"
Tampak Juriah tergopoh-gopoh turun dari lantai atas. Rambutnya yang panjang tergerai masih terlihat basah. Sepertinya dia baru saja selesai mandi dan terkejut mendengar suara ribut-ribut di bawah.
Mata Juriah menatap Arthur dengan raut penuh ketakutan.
"Kau, kau biang keladinya! Gara-gara kau Istriku sampai pergi dari rumah!" tunjuk Arthur pada Juriah penuh amarah.
"Hentikan! Kau sudah kelewatan! Woi, Bung! Sebelum kau tuduh orang, teliti dulu siapa pembuat video itu dan menyebarkannya ke berita online. Kupikir kau adalah pria yang jenius. Ternyata, kepandaianmu kini tertutup oleh rasa berlebihmu mencintai perempuan murahan itu!"
Plakk
Tamparan keras Arthur tepat mendarat di pipi kanan Victor yang menganga terkejut mendapati kekerasan dari pria yang begitu ia puja dan ia cinta.
"Arthur!" pekiknya kaget.
"Sekali lagi kau bilang istriku perempuan murahan, nyawamu habis ditanganku! Dengar, bereskan semua masalah ini! Buat klarifikasi kalau aku tidak ada sangkut pautnya dengan kalian berdua! Kalau kalian ingin terkenal, terkenal-lah lewat karya! Bukan dengan sensasi murahan seperti dagang diri di klub malam! Ingat! Kalau sampai tiga hari ini kau tidak membereskan semuanya, aku akan datang lagi untuk membunuh kalian berdua!"
"Dengar! Tadi di perjalanan Aku melihat istrimu yang Soleha bersama pemuda tampan. Mereka menaiki mobil Avanza putih dan terlihat akrab satu sama lain. Istrimu tersenyum manis sekali pada pria muda itu!" seru Victor memberitahu Arthur.
"Istriku bukanlah perempuan seperti itu! Bukan seperti dia! Lont+ berkedok perempuan penjual kesedihan itu!" maki Arthur kian mengebul otaknya. Dipenuhi nafsu amarah yang sangat tinggi.
Juriah merah padam wajahnya. Tapi ia tak membantah. Melawan orang yang sedang kesetanan tidak akan membuatnya menang. Begitu fikirnya kali ini.
Victor termangu melihat kilatan amarah di bola mata Arthur yang memerah.
Seumur-umur kenal Arthur, ini adalah pertama kalinya Victor melihat kemarahannya yang menakutkan. Seperti habis menelan matahari.
Arthur pergi berlalu tanpa kata.
Meninggalkan Victor dan Juriah yang terpaku lalu saling menghela nafas dan lempar pandangan.
__ADS_1
Sementara di rumah Amelia, Inayah telah sampai dan langsung disambut sang kakak dengan pelukan hangat serta perhatian khusus.
Keduanya langsung masuk kamar tamu dan mengobrol dari hati ke hati.
"Apa??? Jadi perempuan itu sempat menginap di rumah kalian sebulan yang lalu?"
Amelia sangat terkejut. Matanya terbelalak membulat.
Inayah mengangguk sambil menceritakan kronologisnya sampai Juriah bisa menginap di rumahnya malam itu. Tepatnya berbagi ranjang dengan suster Arini, Suster pengasuh putra sambungnya.
"Kamu tahu, Inay? Siti Juriah adalah istri mudanya mas Soleh."
Jeleggerrr...
Seperti mendengar suara petir yang menggelegar tepat di atas kepala.
Inayah terdiam membatu seakan lupa caranya bernafas.
"Inay, Inay! Inayah?!"
Amelia mengguncang bahu adik kandungnya itu yang seperti gunung es, dingin dan suram.
"Mbak?!? Benarkah itu?" kata Inayah akhirnya dengan suara pelan dan parau. Ia menahan emosi juga air matanya agar tak keluar mendengar perkataan Amelia.
"Maaf, aku membuatmu terguncang,"
"Hoekkk hoekkk hoekkk. Hoekkk..."
Inayah berlari ke arah kamar mandi.
Seketika Amelia menyadari kalau adiknya itu sedang berbadan dua.
Segelas air hangat Amelia sodorkan pada Inayah.
"Minumlah, Nay!"
Kedua kakak beradik itu seolah berusaha menenangkan diri dalam kebisuan mereka tanpa kata-kata.
Pecah tangis keduanya terdengar lirih menyedihkan.
"Hik hiks hiks... Demi Allah aku tidak tahu, Mbak Yu'! Aku ternyata sudah memasukkan ular berbisa ke dalam rumah kami! Hik hiks hiks... Ya Allah ya Tuhanku! Kenapa selalu saja ada orang yang inginkan kehancuran keluarga kami yang bahkan tidak pernah sedikitpun ada niat ingin menghancurkan orang lain. Hik hik hiks..."
"Hik hiks hiks, sudahlah Inay. Itu hanya masa lalu Mbak Yu'. Kamu harus mencegah suamimu agar tidak kebablasan mengenal Juriah. Mumpung masih belum terlalu jauh. Kamu harus menyadarkan Arthur segera. Apalagi kamu sepertinya sedang mengandung. Iya kan? Betul kan tebakan Mbak Yu'?"
"Hik hik hiks... Iya. Hiks hiks... Tapi aku lebih baik mundur daripada harus berjuang menyadarkan mas Arthur. Aku ingin cerai saja! Sendiri lebih baik daripada makan hati dan dibohongi suami!"
"Inayah! Jangan bicara sembarangan! Tidak boleh bilang begitu, apalagi kondisimu sedang berbadan dua! Ini hanyalah ujian rumah tangga! Jangan cepat mengambil keputusan!" seru Amelia memarahi sang adik.
"Aku lebih baik bercerai sekarang daripada nanti-nanti dan melihat kelakuannya lebih jauh lagi nanti. Aku tidak mau dimadu! Huuuhuhu huaaa hik hiks hiks..."
Amelia memeluk adiknya erat.
Lukman yang baru saja pulang dari kantor terkejut mendengar suara tangisan dari dalam kamar tamu.
Braakkkk
"Ada apa? Ada apa???"
Lukman membatu melihat istri dan adik iparnya menangis berpelukan.
Otaknya langsung mengarah kepada Arthur.
Ga salah lagi, ini pasti soal si Arthur bule gila itu! tebaknya dalam hati.
Lukman tak berani banyak tanya pada keduanya. Hanya tatapan mata yang ikut merasakan kesedihan yang dialami Inayah.
Lukman keluar setelah mengusap lembut bahu Amelia dan juga Inayah.
Lidahnya terasa kelu. Tak bisa berkata apa-apa.
Ia ingin mengobati kesedihan sang istri dan adik iparnya dengan membuatkan spaghetti bolognese instan untuk camilan berat malam itu.
Lukman sibuk di dapur mengolah mie asli negara Italia itu. Mencicipi rasa masakannya dahulu seujung sendok sebelum ditaruh di pinggan besar untuk disajikan hangat-hangat nanti kepada orang terkasih.
__ADS_1
Amelia dan Inayah masih berbincang di kamar tamu rumah mereka.
Baru saja Lukman tersenyum merasa puas dengan hasil masakannya itu, tiba-tiba bel berbunyi.
Dia hanya menoleh sebentar ke jendela besar dapurnya yang terbuka lebar.
Tampak asisten rumah tangganya berjalan cepat menuju pintu utama.
Lukman kembali sibuk dengan urusan menata spaghetti buatannya dengan garnish ala-ala kreasi sendiri.
"Assalamualaikum..."
Tersentak Lukman melihat siapa yang datang dengan salam suara khasnya yang nge-bass.
Bajingan itu rupanya!
Lukman bergegas menghampiri Arthur yang tersenyum tipis dengan melambaikan tangan kepadanya.
Buggg
Bogem mentah mendarat telak tepat kena batang hidung Arthur yang bangir hingga,
"Mas Lukman?!?"
Darah segar mengucur pelan dari lubang hidung Arthur yang kena pukulan Lukman.
"Sudah pernah kubilang, bukan? Kalau kau menyakiti Inayah, akulah orang yang pertama menghajarmu!" kata Lukman dengan wajah menegang kencang.
"Mas, ini salah faham! Sumpah demi Allah, pemberitaan itu tidak benar! Aku berani bersumpah di bawah Al-Qur'an! Demi Allah, Mas aku tidak melakukan hal yang dituduhkan. Itu,"
"Apa kau tahu, perempuan yang kalian rebutkan itu adalah istri muda dari, aaarrrggh malas aku menyebut namanya!" seru Lukman dengan kesal.
"Aku tahu. Untuk itu aku menyuruhnya kembali ke kampung supaya dia tidak membuat rusuh keluarga kecil kalian!" terang Arthur dengan tangan sebelah menutup hidung agar darah yang menetes jadi tersumbat.
"Alasan!"
Lukman kembali melayangkan pukulan. Tapi kali ini Arthur tangkis.
"Kalau tuduhan itu benar, aku tidak akan melawan, Mas! Malah kalau pun kamu ingin membunuhku, silahkan! Tapi semua itu tidak benar! Aku berhak membela diri dan melawan!" sela Arthur sembari mencengkeram pergelangan tangan Lukman yang nyaris kepalannya kembali meremukkan tulang wajah tampannya.
Tapi Lukman adalah seorang pemegang sabuk hitam taekwondo sedangkan Arthur hanya bisa berkelahi sat set sat set tanpa ilmu bela diri yang mumpuni.
Akhirnya wajah tampannya kembali mendapatkan pukulan.
Asisten rumah tangga Lukman memekik kaget melihat perkelahian tuannya.
Amelia dan Inayah yang menyadari kalau di luar kamar terdengar suara ribut-ribut bergegas keluar.
"Mas Arthur!!!" jerit Inayah langsung menutup mulutnya, terkejut dan kaget melihat wajah Arthur yang terluka sampai berdarah-darah.
"Maaasss! Sudah, sudah!!!" pekik Amelia langsung merangkul Lukman yang tampak sangat marah itu.
"Biarkan aku menghajarnya, Amel!"
"Mas, istighfar! Jangan lakukan kekerasan! Ingat, kita punya dua anak yang masih kecil-kecil. Jangan ajarkan kekerasan pada mereka! Kumohon, lunakkan hatimu, Mas! Mari kita bicarakan secara dewasa. Bukan dengan cara seperti ini!"
Inayah menangis, tapi tidak mendekat kepada Arthur. Malah mundur semakin menjauh.
Arthur merentangkan kedua tangannya pada Inayah.
"Istriku, ini semua adalah kesalahpahaman. Berita itu bohong. Jangan sampai kamu percayai itu. Dengar dulu penjelasanku, Sayang!"
"Aku kecewa, Mas! Kamu membohongi aku selama sebulan ini! Sungguh aku kecewa! Hik hiks hiks..."
"Aku tidak pernah membohongimu. Tidak pernah, Inayah!"
"Bohong! Kau menutupi kedekatanmu dengan Mbak Juriah. Iya kan? Kamu tidak cerita padaku kalau kamu punya niat ingin menjadikannya seorang artis!"
"Tidak ada itu! Itu bukan aku! Aku juga tidak punya maksud menutupinya dari kamu, Sayang! Hanya ingin menjauhkan masalah saja. Aku tidak ingin Keluarga besar kita jadi ricuh gara-gara perempuan sialan itu!"
"Apa maksudmu, Mas?"
BERSAMBUNG
__ADS_1