
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam."
Inayah tersenyum lebar mendapati tatapan mata kakak dan Kakak iparnya.
"Makan dimana, Nay?"
"Yang mas Lukman saranin lah!"
"Beneran? Bukan nangkring di gerobak mie ayam bakso?" selidik Lukman membuat Inayah membuka mulutnya dan...
"Nih aroma ayam goreng ngadu sama sambal! Inay malah makan satu porsi setengah, tahu!?"
"Hah? Beneran?" Amelia ikut bertanya.
"Iya. Ternyata beneran rekomended, Yu'! Nanti deh, makan di sana nasi anget ayam goreng panas plus sambel dan lalapannya. Wuuuh, mantul Yu'!"
"Mauuu...!!!"
"Maaf, Inay pikir Mbak Yu' sudah makan makanan rumah sakit. Inayah gak beli buat Mbak."
"Maaasss..., mauuu!"
Rengekan Amelia membuat Lukman tersenyum manis dan menuruti permintaan sang istri yang sedang hamil.
"Inay jaga Mbak Amel dulu ya? Biar mas Lukman turun, beli,"
"Sini, Aku aja deh yang beliin! Aku lebih rela jadi kurir ketimbang misahin kalian berdua walau hanya sekejap."
"Heleh! Kamu! Jangan-jangan ada barang bagus ya di warung itu? Pelayannya ganteng ya?" ledek Lukman membuat Inayah memeletkan lidahnya sambil tertawa.
"Hehehe...! Bye, Inayah jalan dulu ya!"
Lukman dan Amelia tertawa terkekeh. Adiknya sedang masa pubertas di usia delapan belas tahun. Mereka juga mengerti jika Inayah sudah mulai kenal dan tertarik dengan lawan jenis.
Padahal Aku gak mau Mas Lukman ketemu sama Mas Arthur! Bahaya kalo sampe mereka ketemuan di sini! Jangan sampai ada keributan yang mengakibatkan kondisi kehamilan Mbak Amel jadi terganggu nantinya!
Inayah turun dengan menggunakan lift.
Ia celingukan mencari sosok pria bule yang tadi makan siang bersamanya di warung nasi ayam goreng.
Ternyata Arthur sudah tidak ada di sana.
Sedikit kecewa tapi Inayah tidak terlalu berharap juga bertemu Arthur lagi.
Secara hatinya juga tidak ingin berteman terlalu dekat.
Arthur adalah pria dewasa. Sudah pasti pengalaman hidupnya jauh lebih banyak dengan plus minus tingkah lakunya yang cukup menakutkan Inayah yang seorang gadis yang baru beranjak dewasa.
Inayah adalah gadis kampung yang sederhana. Ia adalah anak Emak, anak rumahan yang lebih suka di rumah ketimbang bermain bersama teman-temannya di luaran.
Ia memang tidak se-cupu itu juga. Inayah anak yang cerdas dan suka sekali membaca buku, terutama novel percintaan.
Ia juga cukup tahu banyak pergaulan yang bebas di luaran sana dari hasil hobi membacanya.
Dunia percintaan tidak seindah dongeng-dongeng seribu satu malam.
Bahkan dongeng-dongeng Hans Christian Andersen banyak membawa kisah sedih memilukan.
Apalagi novel-novel online jaman sekarang yang lebih suka mengangkat cerita tentang perselingkuhan, pelakor dan pembinor.
__ADS_1
Membuat Inayah cukup memahami kalau sebagai seorang perempuan harus memiliki pertahanan diri yang kuat.
Apalagi Inayah juga melihat sendiri bagaimana Kakaknya sendiri yang adalah korban dari kejamnya cinta. Diceraikan dengan satu alasan yang menyakitkan dan dipoligami tanpa ilmu pengetahuan agama yang benar.
Inayah senang, akhirnya Mbaknya bisa melewati semua cobaan cinta yang memilukan.
Bahkan kini Amelia sedang hamil muda.
Amelia tidak terbukti mandul seperti yang dituduhkan mantan suami dan keluarganya dahulu.
Inayah sangat puas dan berharap Ia bisa bertemu Soleh untuk memamerkan kalau Kakaknya kini sedang mengandung.
"Lho? Kamu kesini lagi?"
Sontak Inayah yang sedang menunggu pesanannya selesai dipaket, terkejut mendengar suara seseorang.
"Lha? Mas Arthur sendiri?"
"Lupa, Aku mau beli buat dibawa pulang. Buat makan malam! Kamu sendiri?"
"Mbak Yu' Amelia ngiler dengar ceritaku kalau sambalnya maknyus. Hehehe... Akhirnya turun beli buat Mbak Yu'."
Grep.
Seketika jantung Inayah berdebar sangat kencang.
Telapak tangan Arthur tiba-tiba menepuk pucuk jilbabnya seraya tersenyum dan berkata, "Adik yang baik!"
Entah mengapa, Bumi seolah berhenti berputar, waktu seakan berhenti sesaat.
Inayah terkejut bukan kepalang. Dan dadanya bergemuruh dipenuhi letupan-letupan mirip kembang api yang dinyalakan di malam pergantian tahun baru.
"Saya juga pesan ya Mbak, dibungkus dua porsi!"
Inayah seperti kikuk dan canggung ketika Arthur duduk tepat dihadapannya di meja depan kasir.
"Kamu pesan berapa?" tanya Arthur santai sekali.
"Du_dua."
"Pasti buat Amelia dan Lukman juga. Soalnya kalau buat kamu,... mmm, barusan makan satu porsi setengah. Masih sanggup buat makan lagi? Hehehe... Kapan-kapan kita buat konten mukbang yuk?"
Wajah Inayah tampak merah sekali.
"Hei! Kamu demam? Wajahmu merah sekali!"
"Tu_tunggu!!!" pekik Inayah segera setelah hampir saja telapak tangan Arthur mendarat di keningnya. Hendak memeriksa suhu tubuh Inayah apakah panas tinggi karena kedua belah pipi gadis imut itu merah bak tomat apel yang matang sempurna.
Sontak Arthur tersadar kalau tindakannya agak berlebihan dan membuat Inayah jadi terlihat seperti pendosa yang melanggar aturan Tuhannya untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis.
"Maaf." Arthur mengucapkan kata itu dengan suara pelan dan tulus dari dalam hati. Inayah tersenyum kikuk.
"Mbak, masih lama?" tanya Inayah pada pelayan yang berdiri di belakang meja kasir.
"Ini, Mbak pesanannya. Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Mas Arthur, Inayah buru-buru. Permisi!"
Arthur termangu. Ia menatap Inayah yang berjalan cepat sekali.
Entah mengapa, Arthur merasakan separuh hatinya serasa kosong karena Inayah bersikap seperti itu.
__ADS_1
Seumur-umur, ini adalah perasaan yang pertama kali Arthur rasakan kepada seorang perempuan. Ia merasa takut, kalau Inayah kembali salah faham dan menjauhinya kembali.
"Inayah, tunggu!!!"
Arthur berlari mengejar Inayah.
"Ke_kenapa?"
"Aku minta maaf! Sungguh Aku tidak bermaksud melecehkan kamu tadi!"
"I_iya, Inay tahu."
"Tapi kamu..., terlihat gugup dan tidak nyaman. Tidak seperti tadi siang. Tolong, tolong jangan berubah secepat ini! Aku, Aku tidak mau kamu diamkan lagi seperti beberapa hari lalu!"
"Inay pergi dulu, Mas! Buru-buru, belum sholat Dzuhur. Bukan seperti yang Mas pikirkan juga. Inayah cuma, cuma sedang buru-buru. Sungguh!"
"Kamu tetap mau berteman denganku kan?"
Inayah kian gugup.
Netranya bertemu pandang dengan tatapan Arthur yang terlihat penuh harap.
Seperti mendadak kena serangan jantung, Inayah merasa debarannya kian tak beraturan. Ia menunduk tak berani menerima tatapan mata Arthur yang seolah mendesaknya untuk menjawab.
"Tentu saja, kita adalah teman."
"Terima kasih. Terima kasih, Inayah. Boleh Aku minta nomor kontak pribadimu?"
Sontak mata Inayah membulat.
"Nomor ponsel?"
"Iya. Bukan nomor yang lain. Argh maksudku, bukan, bukan bermaksud mengatakan hal-hal yang you know lah. Aduhh kenapa Aku jadi gugup juga. O damn! So_sorry!"
Arthur sepertinya tertular virus gugup Inayah.
Mereka berdua jadi seperti orang asing yang baru berkenalan pertama kali.
Inayah mengambil ponselnya dari tas kecil yang disandangnya di pundak.
Arthur men-scan QR code What'sApp Inayah.
"Terima kasih. Aku, Aku boleh chat kamu kan? Aku janji, tidak akan mengganggu waktu kuliah kamu. Mm... sekiranya kamu sibuk, abaikan saja chat ku. Aku akan mengerti."
Inayah mengangguk sambil tersenyum kikuk.
"Aku pergi dulu ya Mas!!"
"Iya."
Entah mengapa.
Arthur hanya bengong terdiam mematung setelah Inayah berlalu bahkan sampai sekitar lima belas menit Arthur berdiri dengan wajah bingung.
Ke_kenapa Aku jadi kayak gini sama bocah ingusan itu? Hei?!? Dia bocah ingusan! Kenapa Aku jadi takut sekali kalau dia salah faham pada kelakuanku yang random? Ya ampun... tapi asli Aku benar-benar takut melihat dia berubah sikap jadi dingin lagi. Kebersamaan kami barusan telah membuat aku menjadi manusia normal lagi yang padahal tadi Aku merasa kesepian dan ketakutan setelah keluar dari ruangan dokter Arman.
Arthur menghela nafasnya.
Bingung dengan sikapnya yang jadi seperti ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1