Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 74 Akal Bulus Dibalas Akal Licik


__ADS_3

"Umi?!"


Terkejut sekali Juriah melihat Uminya sedang berpelukan mesra dengan seorang pria yang Ia kenal. Shock sekaligus tak percaya, Sang Umi yang selama ini Juriah anggap adalah perempuan santun yang begitu mencintai Abinya terlihat seperti wanita murahan.


Samsiah lebih terkejut lagi.


Pucat pias wajahnya mendapati sang putri kesayangan memergoki perbuatan mes+mnya dengan Tito yang tak lain adalah adik ipar Juriah.


Juriah segera keluar dari rumah Samsiah. Namun Uminya langsung mengejar dan menarik pergelangan tangan Juriah.


"Ju, tunggu Ju! Juriah!"


"Teganya Umi!" kilah Juriah dengan suara bergetar.


"Jadi begini kelakuan Umi selama ini. Disaat Abi sedang berjuang mati-matian untuk kesembuhannya. Mencari donor mata yang pas untuk Abi kesana-kemari. Umi malah..."


Juriah tak sanggup meneruskan ucapannya.


Ia takut jadi anak yang durhaka kepada orang tua.


Tetapi hatinya pedih juga geram pada Ibunda tercinta. Ditambah lagi pria yang menjadi teman mainnya itu justru adalah pria yang Juriah kenal dekat juga.


Juriah menangis terisak tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika Abinya sampai melihat sendiri perbuatan Umi.


"Teganya Umi! Bahkan sampai berbuat begitu di rumah sendiri?! Apa yang membuat Umi jadi seperti perempuan kotor begini? Kenapa Umi? Karena Abi sakit? Karena Abi tidak lagi segagah dulu? Karena ada pria lain yang dapat Umi jadikan permainan baru?"


Mulut Juriah menjadi gatal. Hingga akhirnya keluar juga semua ucapan yang paling tidak ingin Ia lontarkan sedari tadi.


Samsiah menangis berjongkok di hadapan Juriah.


Rumahnya yang dianggap sepi membuat Samsiah berani membawa Tito ke kamar tamu yang telah Ia rapikan sejak kepulangan Ojan kembali ke rumah.


Saat ini Ojan sedang pergi ke rumah sakit ibukota. Ada beberapa pasang mata yang katanya sesuai dengan kriteria yang diperlukan untuk operasi pencangkokan bola matanya kembali.


Samsiah tidak mengantar Ojan dengan alasan sakit kepala yang sangat hebat. Dan takut semaput di rumah sakit.


Ojan hanya ditemani oleh sepupu dan istrinya serta anak Le Giman yang paling besar yang membawa kendaraan.


Tito sendiri saat ini sangat deg-degan menunggu Samsiah dengan Juriah berbicara empat mata di ruang tamu.


Ingin kabur, tapi takut untuk menampakkan diri. Diam menunggu seperti ini, rasanya hatinya semakin tak karuan. Tito akhirnya hanya bolak-balik duduk dan berdiri di tepi ranjang.

__ADS_1


Untungnya mereka belum sampai tahap buka baju dan berhubungan badan seperti biasa ketika Juriah datang memergoki.


Baru berpelukan melepas kerinduan karena Ojan ada di rumah dalam beberapa hari ini.


"Juriah... hik hik hiks... kamu salah lihat, Nak!"


"Umi, apa Umi sedang puber kedua? Sedang ingin merasakan lagi nikmatnya memiliki kekasih seperti layaknya anak muda? Istighfar Umi, istighfar! Untuk apa Umi menghancurkan sendiri kebahagiaan hidup Umi yang selama ini selalu buat orang iri!? Umi cantik, Abi juga tampan dulu. Kalian punya banyak uang dan bisnis yang menjanjikan. Uang kalian berlimpah. Sedangkan anak hanya Ju seorang. Apa yang Umi dapatkan, tidak semua orang bisa memilikinya semudah Umi! Tinggal bersyukur dan menerima nasib jika saat ini Abi sedang diuji Allah!"


Juriah tidak tahu sepak terjang kedua orang tuanya dalam mencari nafkah.


Ia berfikir semua didapat karena murni kerja keras yang positif tanpa bantuan buhul-buhul orang pintar dan bantuan para jin peliharaan mereka.


Juriah selalu husnudzon. Padahal hampir semua saudara yang pernah bekerja dengan Ojan dan Samsiah mengetahui rahasia riwayat kekayaan pasangan suami istri itu.


Samsiah menangis di lutut Juriah.


"Tidak seperti yang kamu lihat, Sayang! Tidak seperti itu! Hik hik hiks..."


Juriah baru teringat pada Tito yang masih ada di kamar tamu.


Ia langsung bergegas menuju kamar tamu dan...


Tito terkejut. Matanya menunduk ke bawah dan nafasnya terasa berat dengan lidah yang tersekat.


Ia tak menjawab. Tetapi langkahnya diayun pelan mengekor Juriah. Mereka duduk di ruang tengah dengan wajah tertunduk malu.


"Umi dan Tito tidak berbuat mes+m, Nduk! Tito hanya membantu melepaskan kalung yang Umi pakai! Lihat, Nak, lihat! Leher Umi gatal-gatal karena memakai kalung yang kadarnya kecil. Gatal-gatal ini bahkan buat kepala Umi jadi sakit. Sampai Umi tidak bisa menemani Abimu pergi ke rumah sakit Gatot Subroto di Jakarta!"


Samsiah pandai berkelit.


Seketika gatal di kulit lehernya menjadi alasan untuk menutupi keburukannya dihadapan sang putri.


"Apa?" Juriah terkejut mendengar penuturan Samsiah.


"Umi bersalah, melakukan itu dikamar tamu. Dan Umi juga bersalah, membuat Tito jadi orang yang kamu sangka seperti itu jadinya."


Tito hanya menunduk. Tak berani berkomentar karena takut salah bicara.


Ia biarkan Samsiah yang mengarang cerita bohong. Semakin jauh saja kebodohan yang mereka perbuat demi sebuah kesempatan untuk perselingkuhan.


"Jadi, Ju yang salah melihat?"

__ADS_1


Juriah menatap Uminya, kemudian menatap Tito inginkan kepastian cerita yang sebenarnya.


"Maaf, Mbak. Saya yang lancang. Sudah masuk kamar tamu. Maaf..."


Hanya kalimat itu saja yang bisa Tito ucapkan dengan kepala tertunduk.


"Tito tidak bersalah, Ju! Umi yang salah. Umi malu, kulit leher Umi gatal-gatal. Nih lihat sendiri! Iya kan?"


Dengan polosnya Juriah meraba leher Samsiah dan berdecak.


"Ini alergi, Mi! Beli salep segera biar kulitnya tak mengelupas dan basah. Oiya Mas Tito, tolong belikan salep yang paling bagus di apotik Posan di ujung jalan Kiara ya!?"


Juriah malah lupa dengan kejadian yang barusan membuat emosinya melonjak.


Ia kini fokus mengusap kulit leher Samsiah.


Tito menghela nafas lega. Dirinya aman berkat Samsiah yang pintar mengambil hati Juriah.


Didorongnya motor gede Ojan dengan tubuh yang masih lemas hampir saja dirinya disidang putri tunggal Ojan dan Samsiah. Namun perempuan yang selalu memberinya kenikmatan surga dunia itu mengambil alih hingga hal-hal yang dikhawatirkan pun sirna perlahan.


"Kamu kemari pasti ada hal yang ingin disampaikan. Ada apa, Nak?" tanya Samsiah pada Juriah.


"Ah iya, sampai lupa. Hehehe... Juriah mau tanya, apa kalau hamil bisa saja mengalami flek pendarahan seperti bercak-bercak gitu, Mi?"


"Kenapa, Ju? Apa kamu pendarahan? Coba periksa ke dokter kandungan! Yuk, Umi antar!"


"Katanya Umi sakit kepala. Biar Ju nanti ke dokternya diantar Mas Soleh aja! Cuma mau tanya, Mi!"


"Setahu Umi ada juga perempuan hamil tapi tetap menstruasi setiap bulannya. Tapi gak seperti mens biasanya. Cuma flek sedikit-sedikit. Tapi mending konsultasi ke dokter aja. Khawatir Dede bayi kenapa-kenapa!"


Samsiah mengetahui kalau Juriah sedang hamil dari Ojan. Padahal itu hanya akal-akalan Soleh saja untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan.


Seperti saat ini.


Soleh menyuruh istrinya itu untuk bertanya pada Samsiah perihal haid-nya yang sudah berlangsung selama dua belas hari. Dan pura-pura bertanya soal kehamilan juga flek pendarahan.


Setelah itu, mereka bisa membuat cerita kalau Juriah kehilangan bayi yang belum lama dikandungnya. Sehingga Soleh akan aman dari amarah Ojan.


Pintar memang akal licik Solehudin. Sebanding juga rupanya dengan akal bulus Samsiah yang sudah lihai dan mahir berkata dusta.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2