
Seperti mimpi yang teramat buruk bagi Lani.
Mendapati Sang Suami selingkuh dengan nyonya besarnya, lalu ditinggal pergi anak satu-satunya untuk selamanya. Itu adalah ujian terberat dan pukulan paling hebat yang Lani terima hari ini.
Mariana yang pulang ke rumahnya seperti sudah mendapatkan firasat akan ada kejadian yang menyedihkan yang harus Ia terima.
Mariana tidak bisa tidur karena udara malam yang lumayan panas menyebabkan tubuhnya banjir keringat.
Terkejut sekali Mariana merasakan ada hawa dingin yang terbaring di sampingnya dengan dua bola mata menatap kearahnya.
"Huaa!!!" pekiknya kaget.
Tapi itu hanya halusinasi bagi Mariana. Karena Ia merasakan ada Anta yang terbaring dengan wajah menghadap ke arahnya.
Seketika Mariana bangkit dan mencuci mukanya di wastafel dapur.
Mariana pulang ke rumahnya yang kini sepi dan sunyi setelah kematian Anta.
Bahkan suasananya tampak jelas berbeda. Membuat Mariana semakin tidak betah di rumah.
Untuk kembali ke rumah Lani, Ia belum berani karena rumah putrinya itu kemarin di bobol maling.
Mariana takut maling itu kembali dan merampok lagi karena tahu di penghuninya sedang tidak ada di rumah.
Lani dan Tito sedang menunggui Cia bersama-sama setelah Mariana mendengar suara ribut-ribut diantara mereka berdua.
"Sudah, jangan ribut! Jangan saling salah-salahan. Ini sudah terjadi. Sebaiknya kalian berdua interopeksi diri dan memberikan Cia kasih sayang lebih banyak lagi! Ya sudah, Ibu mau pulang dulu ke rumah di Kranggan! Jaga Cia baik-baik! Jangan bertengkar di depan anak!" tegurnya sebelum izin pulang ke rumah karena sudah tiga hari dia tinggalkan.
Pukul lima pagi, azan Subuh berkumandang di masjid.
Tok tok tok
Tok tok tok
Mariana terkejut ketika pintu rumahnya diketuk tiba-tiba oleh seseorang.
"Bu Mar! Bu!!! Bu Mar! Ini Aku, Nani!"
Terdengar suara Nani tetangganya yang tak lain adalah ibunya Tito. Otomatis Nani adalah besannya.
Krieeet...
"Ada apa, Nan?" tanyanya dengan suara parau karena kurang tidur sejak kemarin malam. Mariana juga kesal karena Cia dirawat di rumah sakit sementara orang tua Tito belum juga datang menjenguk.
"Cia! Cia, Bu!!!"
"Cia? Iya, Cia dirawat di rumah sakit. Sebagai seorang nenek yang baik, harusnya kamu datang jenguk Cia gantiin jaga cucu yang baru satu-satunya itu!" imbuh Mariana seolah ada jalan untuk meluapkan emosinya.
"Cia meninggal dunia!!!"
"Apa???"
__ADS_1
Tentu saja Mariana kaget.
Biji matanya melotot tajam menatap Nani yang gemetaran dan mulai berlinang air mata.
"Cia? Cia kenapa, Nani? Siapa yang bilang?"
"Tito telepon Reni barusan! Hik hik hiks... minta tolong Kang Engkos buat urus tempat pemakaman Cia di sini!"
"A_pa? Pemakaman???"
Nani mengangguk pelan. Ia makin sedih melihat Mariana tertawa.
"Hahaha... Ini pasti Aku sedang mimpi! La wong si Cia sudah baikan! Kemaren siang sudah mau makan. Aku pula yang menyuapinya. Ish, dasar tukang bohong!"
"Bu Mar, Bu Mariana...! Buat apa saya bohong apalagi ini masalah nyawa. Ga mungkin aku buat mainan!"
"Nani!?!"
"Cia meninggal dunia tadi malam pukul dua dini hari!!! Huaaa haa hik hiks..."
Nani pergi tinggalkan Mariana yang mematung bingung.
Ia bergegas mengambil ponselnya.
Nama Lani tujuannya.
"Laniii! Lani ada apa???"
Klik
Mariana tanpa sengaja mematikan sambungan teleponnya. Otaknya seperti blank. Kosong tak bersisa fikiran apapun selain diam dan termenung.
Dua bulan belum usai. Kematian Anta masih menyisakan duka. Kini Cia, cucu kesayangannya karena berasal dari putri satu-satunya karena tiga anaknya yang lain adalah anak laki-laki.
Mariana menelpon Soleh dengan suara parau dan lemah.
Ia juga menghubungi Jamal serta Fitra.
Ketiga putranya kaget sekali mendengar kabar putri kecilnya Lani yang imut-imut itu telah meninggal dunia.
Semua bergegas menuju rumah Mariana untuk berkabung dan ambil bagian dalam penghormatan terakhir untuk Felicia Saputri anak Tito dan Lani.
Kecuali Soleh.
Soleh masih di rumah sakit menunggui Juriah yang baru saja sadar dari komanya.
Soleh juga terkejut dan langsung menuju rawat inap Cia yang tak jauh dari kamar rawat Juriah.
Tetapi ternyata Ia tidak bisa menemui ponakannya untuk yang terakhir kali karena jenazah Cia sudah dibawa ke ruang mayat di lantai bawah.
Soleh tidak bisa melanjutkan perjalanan karena Juriah yang kini sendirian di kamar, tak ada yang menemani. Sehingga Soleh memilih untuk kembali ke kamar Juriah.
__ADS_1
"Sayangku!"
Juriah sudah membuka mata.
Wajahnya pucat sekali.
Sangat jauh berbeda dengan Juriah yang Soleh kenal. Karena wajah Juriah terlihat layu, keriput dan anta' atau tidak sedap dipandang mata. Membuat Soleh menghela nafas panjang melihat tubuh Juriah yang biasanya hot hanya terbaring lemah.
"Masss...!" bisik Juriah dengan suara lirih.
"Iya, Ju!?"
"Mau minum!"
Soleh mengambilkan segelas air dan membantu Juriah meneguknya.
Air berceceran hingga membasahi dada Juriah.
"Masss..."
"Maaf, ya. Lekas lah sembuh Istriku! Biar kita bisa segera pulang ke rumah dan kamu sehat seperti dulu lagi!" ujarnya sembari tersenyum manis untuk membuat Juriah bahagia.
"Iya."
Hati Soleh sedih sekali.
Ia mulai panik. Tuhan sepertinya sedang menghukum dirinya dan juga anggota keluarga yang lain.
Kesedihan tiba-tiba menyukai keluarganya.
Satu persatu Allah mengambil kebahagiaannya dengan membawa orang-orang yang sangat dia sayangi pergi.
Anta, kini Cia. Entah bagaimana Lani selanjutnya jika hidup mereka tanpa Cia setelah mengetahui Tito yang berselingkuh dengan ibu mertuanya.
"Umi kemana?" tanya Juriah membuat Soleh terkejut dan tak bisa menjawab pertanyaannya.
Soleh hanya mengangkat bahu. Lalu mengusap pucuk kepala Juriah tanpa kata.
Keduanya berpandangan, dan Juriah menangis terisak membuat Soleh memeluknya erat.
"Jangan sedih! Ada Aku yang akan selalu menemani, Sayang!"
"Sungguh?!"
"Ya. Lihat Aku. Ada di sini mengurusmu! Percayalah!"
Juriah menggenggam erat tangan Soleh yang hangat. Ada harapan serta ketakutan yang besar secara bersamaan.
Ia bermimpi, Soleh tertawa puas dan tinggalkan dirinya kembali mengejar Amelia.
Juriah takut sekali kalau mimpinya jadi kenyataan.
__ADS_1
BERSAMBUNG