
"Sayang, Sayang?!"
Arthur yang pulang pukul sembilan malam ke rumahnya mencari Inayah ke sana kemari.
Putra dan suster pengasuhnya juga tidak ada.
Hanya ada asisten rumah tangga dan sopir pribadi keluarganya saja yang ada di rumah.
"Pak Yusuf, kemana bapak antar Ibu dan Pupu pergi?" tanyanya pada sang sopir pribadi.
"Saya mengantar den Pupu dan suster Arini ke apartemen Ibu Tia, Pak. Pulang jemput les matematika langsung ke rumahnya mas Reyhan. Katanya DenPu ingin menginap karena sudah lama tidak main bareng mas Reyhan."
"Bersama Ibu?"
"Ibu? Tidak, Pak. Ibu... kata Suster Arini sejak sore hari pergi keluar."
"Kemana?"
"Saya tidak tahu, Pak!"
"Panggil Bo Atun!"
"Baik, Pak."
Kini dihadapannya berdiri sopan asisten rumah tangga keluarga kecilnya.
"Ibu pergi kemana?"
"Saya tidak tahu, Pak."
"O my Gosh! Bisa-bisanya kamu tidak tahu ibu pergi kemana! Ck. Apa Ibu berdandan rapi? Ke kampus rasanya tidak mungkin. Karena Ibu sudah resmi ajukan permohonan cuti kuliah selama setahun. Hm..., kemana dong!? Atau, adakah yang menjemput Ibu? Mbak Tia atau Mbak Amel mungkin? Atau adakah temannya yang datang?"
"Tidak ada, Pak."
"Hhh..., ya sudah. Kembali kerja!"
"Baik, Pak. Permisi."
Raut wajah Arthur terlihat tegang. Rasa was-was mulai merebak.
Arthur merasakan perasaannya kurang enak. Sejak selesai Isya ia menelpon istrinya namun ponsel Inayah tidak aktif. Kini ia pulang pun Inayah tidak berada di rumah.
Sebelum sampai rumah, seorang rekannya mengabari kalau dirinya masuk pemberitaan gosip online sejam yang lalu.
Katanya gosipnya lumayan panas.
Arthur sendiri belum sempat melihat video pemberitaan itu karena masih berkendara menuju rumahnya selepas pertemuan acara temu kangen para sineas di ballroom hotel atas prakarsa Ram Production.
Jantungnya deg-degan.
Ia teringat akan pemberitaan media online tersebut dan menontonnya.
"Apa??? Yassalam! Ini pemberitaan yang tidak benar ini! Ini fitnah!" teriaknya dengan suara keras.
"Pasti ini kerjaan si Victor dan si Juriah!" serunya lagi dan langsung mengambil kunci mobilnya kemudian berlalu pergi.
Arthur hendak pergi ke apartemen Victor untuk meminta pertanggungjawaban pria yang dulu adalah teman dekatnya.
Sebelum semuanya menjadi ricuh, Arthur ingin Victor meluruskan gosip itu dengan klarifikasi di media tanpa menyangkut pautkan dirinya dengan Juriah.
Arthur semakin yakin, Inayah pergi karena berita yang beredar ini.
__ADS_1
Istrinya pasti sedang marah besar, ngambek hingga pergi dari rumah.
Arthur menebak kalau Inayah tidak akan pergi jauh. Kemungkinan besar Inayah ke kediaman salah satu Kakaknya. Dan memang benar tebakan Arthur.
Niatnya setelah bertemu Victor dan menyuruhnya klarifikasi, ia akan langsung meluncur menjemput Inayah di rumah kakaknya.
Seperti tebakan Arthur,
Inayah memang pergi ke rumah Amelia di Jakarta.
Namun sebelum itu Inayah sebelumnya sempat bertemu Rendy.
Inayah yang pergi dari rumah tanpa memakai kendaraan yang terparkir rapi di garasi rumah memilih pergi dengan taksi online.
Namun ternyata sopir gr+bcar tersebut ternyata adalah Rendy, asisten dosen yang pernah menembaknya di semester awal.
"Rendy?"
"Hehehe, koq bisa ya customer ku ternyata adalah kamu. Kukira istri Sultan tidak pernah naik kendaraan umum."
"Jangan ngeledek deh, apaan sih istri Sultan! Kamu sendiri, bukannya asdos ya? Koq nyupir gr+bcar? Emang boleh se-enjoy itu, ya?" sela Inayah membalas candaan Rendy.
"Cari cuan tambahan, hehehe..."
"Hoekkk, hoekkk..."
"Ke_kenapa? Aku berhenti sebentar deh ya?"
"Aduhh, bau pengharum ruangan mobilmu buat aku mual. Maaf ya, Rendy. Kesannya aku kayak song, hoekkk hoekkk... hoekkk!"
Rendy memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
Rendy bingung, kikuk dan cemas melihat keadaan Inayah yang mual-mual ingin muntah.
Setelah agak lama, Rendy teringat air mineralnya yang masih utuh belum di minum di bawah dasboard mobil. Ia segera mengambil dan membuka segel serta menyodorkannya pada Inayah.
"Ini masih baru. Minumlah dulu."
"Terima kasih."
Inayah meneguk air mineral dari botol yang sudah dibuka Rendy.
"Ya Allah, duuhh malu aku. Maaf ya, Ren, aku sedang hamil muda."
"Ooo, itu rupanya alasan kamu cuti kuliah dua semester!?"
"Hehehe, iya. Aku kan pernah bilang kalau aku otewe perempuan dua anak. Masih ingat?"
"Hm. Tapi yang bule itu pasti bukan anakmu kan? Kalau ya, umur berapa kamu nikah sama Tuan Produser itu."
"Hehehe... Pupu itu sudah kuanggap anak kandung, Ren. Otomatis ya anakku juga lah. Anak mas Arthur."
"Iya juga sih. Masih mual? Apa sebaiknya kita duduk-duduk dulu di taman?"
"Enggak usah, yok kita jalan. Tapi maaf, boleh ga aku minta tolong pengharum mobilnya di masukkan dasboard dulu. Aku gak kuat cium baunya."
"Hehehe, oke."
Rendy membukakan pintu mobil untuk Inayah.
Disaat yang sama mobil Victor melintas. Victor dan Juriah melihat kebersamaan Inayah dan Rendy.
__ADS_1
"Itukan, istrinya mas bule?! Inayah!" seru Juriah menunjuk Inayah dari balik jendela kaca mobil.
"Apa? Siapa?"
Victor melambatkan laju mobil dan menoleh ke samping.
Terlihat Inayah sedang tersenyum manis pada Rendy yang membantunya membukakan pintu mobil sambil mengucapkan kata terima kasih.
"Ya, betul! Itu dia perempuan bau kencur itu! Dan laki-laki yang bersamanya itu serasi dengannya daripada dengan si Arthur! Hm. Setampan apapun si Arthur, tetap saja usia tua tidak bisa dibohongi. Ck ck ck, kasihan kau Arthur! Itukah perempuan pilihanmu? Hm. Semoga cepat kau sadar siapa istri yang kau sanjung-sanjung itu!"
Victor mencebik. Sementara Juriah terdiam.
Sepertinya tidak mungkin Inayah selingkuh. Secara anak itu terlihat sangat bucin pada mas bule. Hm. Apa... si Inayah berbeda dengan Kakaknya? Bisa jadi. Bisa saja kalau kebucinannya waktu itu adalah sandiwara. Hm. Bisa jadi. Bukankah mas bule itu adalah sutradara film? Mungkin awalnya Inayah seperti aku. Berniat masuk jalur keartisan dan bermain drama supaya mendapatkan perhatian. Ck ck ck... Hahaha, ternyata dia juga punya niat buruk.
Juriah memperhatikan Inayah sampai menghilang dari pandangan.
Tring tritririiiinggg...
"Mas, ponselmu bunyi." Juriah memberitahu Victor.
"Angkat, Put!"
"Ternyata cuma miskol. Ada pesan, Mas!"
"Buka dan baca!" perintah Victor pada anak didiknya itu.
"Mas, video! Kubuka ya?"
"Hm."
Juriah terbelalak. Ia menoleh ke arah Victor yang fokus mengemudi.
"Ada apa? Hahh?"
"Berita besar, Mas!" pekik Juriah seraya menarik nafas panjang dan menutupi wajah dengan kedua belah telapak tangan.
Ciiiittt...
Victor merem mobilnya.
"Haish, kau membuatku penasaran!"
Diraihnya hape yang tadi di pegang Juriah, lalu melihat video kiriman yang membuat Juriah shock terkejut bukan kepalang.
"Waduhh?!? Berita besar ini!" pekiknya tanpa ekspresi.
"Bagaimana ini, mas?" tanya Juriah panik.
"Woles, Put. Ini justru keren. Berita ini bisa menaikkan pamormu sebagai artis pendatang baru. Hehehe, keren. Tanpa harus mikir pakai cara apa dan kerja keras seperti apa, semuanya seolah dipermudah. Good luck, Putri Fania! Hehehe..."
"Maasss, artis pendatang baru apa? Aku belum pernah main film, sinetron bahkan model pun bukan!"
"Coming soon, baby! Hehehe..."
Victor tertawa.
Ia kembali melajukan mobilnya. Senang dan niat berpesta.
Setelah ini ia akan bikin gebrakan dengan menjadikan Juriah pemeran utama wanitanya di film panas terbarunya.
BERSAMBUNG
__ADS_1