Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 28 Berhasil Mendua


__ADS_3

Treeet treeet treeet...


Soleh terperanjat.


Pukul sepuluh malam, ponselnya berdering.


Ternyata Amelia yang menelponnya.


"Hallo? Assalamualaikum, Amel? Ada apa?"


Juriah yang ikut terbangun karena suara dering telepon seluler Soleh seketika membatu.


Mbak Amel telepon? Malam-malam begini?


"Apa? Oh, iya. Iya, Yang. Aku akan ke sana sekarang juga. Apa? Tapi..., ya sudah. Besok saja selepas sholat Subuh Aku ke sana. Ta'ziah ke rumah pakde mu. Iya. Maaf Mel, ini aku sama Juriah sudah tidur. Iya. InshaAllah kusampaikan salammu pada Juriah! Oke, assalamualaikum..."


Klik.


"Siapa, Mas?" tanya Juriah pura-pura baru terbangun.


"Amelia. Katanya Bu'Denya meninggal dunia tadi pukul sembilan malam."


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun."


Soleh menghela nafas sembari menatap wajah Juriah.


"Mas mau kesana sekarang?"


"Tadinya iya. Tapi dilarang Amel. Katanya kasihan kamu ditinggal malam-malam sendirian. Jadi paling Aku besok habis subuhan ke sananya."


Hm. Ternyata ucapan Mbak Amel sangat didengar oleh Mas Soleh. Apakah sebucin itu dirimu padanya, Mas? Apakah Aku tidak bisa membuatmu jauh lebih bucin lagi nantinya? Kenapa... rasanya dada ini sakit mendengar kamu begitu menuruti perkataan Mbak Amel, Mas?!


Juriah menekan-nekan d+d+nya.


"Ke_kenapa, Yang?" tanya Soleh tergagap melihat Juriah terlihat memukul pelan bagian tubuh yang menggiurkan naluri kelelakiannya.


"Entah, Mas... Seperti, sepertinya agak sedikit nyeri."


"Kamu masuk angin sepertinya. Kemarin kita pulang kesorean. Naik motor tanpa baju tebal, jadinya..."


"Agak sakit sebelah sini."


Juriah pura-pura mengelus-elus d+d+ sebelah kirinya dengan gerakan memutar pelan.


Seketika jakun Soleh mulai tak terkendali.


"Yang ini?" tanya Soleh tergagap dengan telunjuk mengarah ke bagian jantung Juriah.


"Rasanya seperti apa? Panaskah?" tanya Soleh lagi dengan penuh perhatian.


Juriah menatap Soleh. Tatapan yang penuh pengharapan.


Ayolah mas... ayo bergerak. Aku sudah memberimu kode.


Soleh hanya berani menatap saja. Ia takut untuk menyentuh bagian sens+t+f milik Juriah. Khawatir kalau Juriah akan marah dan menjauh lagi darinya.


Soleh bangkit tinggalkan kamar dengan langkah tergesa-gesa. Ternyata, Ia ingin mengambilkan segelas air putih hangat untuk Juriah.


Juriah yang terlihat bingung karena suaminya justru pergi tinggalkan dia sendirian di kamar, kini tersenyum mengerti.

__ADS_1


"Minum dulu, Sayang!"


"Terima kasih, Mas!"


Glek glek glek


Soleh memperhatikan Juriah yang tengah meneguk air yang dibawakan dari ruang dapur.


Bibir Juriah terlihat basah dan menggoda.


Soleh juga melirik kembali ke bagian d+d+ sebelah kiri milik Juriah. Lalu beralih ke sebelahnya.


Sama besarnya. Pasti ranum dan nikmat karena usia yang masih muda!


Soleh menggelengkan kepala.


Ia tersadar telah berfikir kotor dan berusaha menghilangkan sifat m+s+mnya yang seringkali muncul jika bersama Juriah.


"Ah..."


Juriah menoleh ke arah Soleh.


"Kenapa, Mas?" tanya Juriah dengan suara lembut bergetar.


"A aku, ish.. dahlah, mau ke kamar mandi dulu. Mau pipis!"


Juriah tersipu. Soleh tergopoh-gopoh keluar lagi dari kamar. Diam-diam Juriah mulai menyadari kalau jun+or adik kecil Soleh telah terbangun dari tidurnya.


Soleh kembali ke kamar, dan Juriah masih dengan senyuman tersungging di bibir.


"Mas..."


"Maas..."


Soleh merasa suara Juriah seperti seorang gadis Jepang yang imut sekali ketika Ia menonton f+lm d+w+sa.


Soleh mulai berani meraih bahu Juriah. Namun sangat pelan dan diusahakan selembut mungkin.


"Sayang..."


"Mas..."


"Sayang..."


Soleh membelai rambut Juriah yang hitam lurus menjuntai se-atas pinggang.


Tangannya menjelajah pelan. Naik ke atas kepala, lalu menyelusup ke bagian belakang leher Juriah.


Kini wajah cantik itu hanyalah beberapa sentimeter saja dari wajahnya.


Juriah tidak berontak. Juga tidak mendorong tubuh Soleh. Seketika membuat Soleh berfikir untuk memulai manuver.


Dik+c+pnya bibir Juriah. Dan gadis itu hanya mengg+liat menahan h+sr+t dengan mata terpejam.


"Sayang..., bukalah matamu. Lihatlah wajahku, yang mencintaimu setulus hati. Juriah Sayang..., lihat Aku. Terima Aku apa adanya. Aku... suamimu, yang akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada dirimu..."


Juriah menurut.


Bola matanya yang indah berwarna hitam pekat kini menatap netra Soleh yang agak kecoklatan.

__ADS_1


"Mas..."


"Ya Sayang..."


"Mas... Ahh..."


Soleh menc++m pipi Juriah perlahan. Lalu turun ke bibir dan hanya meng+c+p ujungnya saja. Soleh lanjutkan dengan lembut sekali menurun ke ceruk leher Juriah.


Gadis itu menggeliat dan sesekali memejamkan mata menahan des+h+nnya yang terdengar keras di telinga Soleh.


"Jangan berisik, Sayang! Nanti Abi Umimu dengar. Hehehe..." bisik Soleh membuat Juriah memukul Soleh pelan namun tepat di ujung gagang lato-latonya.


"Aihhh."


Soleh menahan pekik.


Kini Ia lebih gesit menc++mi kembali bagian wajah Juriah. Mencoba memberikan sentuhan yang ternyaman mungkin agar Sang istri menikmatinya.


Seperti yang Soleh harapkan, Juriah melepaskan semua benteng pertahanannya. Pasrah menerima k+c+pan lembut nan manis dari sang suami bertubi-tubi naik turun dari wajah ke area l+h+rnya.


D+d+nya turun naik menahan gejolak rasa yang baru pertama kali Ia rasa dalam hidup.


Rasa nikmat berg+lenjar di sekujur tubuh.


Juriah mer+g+ng ketika jemari tangan Soleh perlahan membuka kancing blus pakaian tidurnya. Dan tersingkap pelan belahan d+d+ yang tertutup cup cawan pengaman.


Ditariknya nafas panjang.


Jiwa penasaran Juriah semakin bergelora. Tubuhnya mengg+liat penuh g+irah ketika satu jemari telunjuk Soleh bermanuver menyusup kedalam cup dan menemukan salah satu gundukan kecil imut papilla yang dikelilingi oleh areola.


Juriah kian ter+ngs+ng.


"Sayang...! Perlu kamu tahu, mengh+s+pnya akan membuatmu jadi awet muda," bisik Soleh tepat di daun telinga Juriah yang tersipu malu.


Kini Juriah semakin pasrah. Soleh berhasil membuka pengait cupnya tanpa Juriah sadari hingga kini pelan-pelan bergeser penutupnya memperlihatkan isi cawan yang sedari awal membuat Soleh penasaran.


Prang...


Amelia menoleh pada bingkai foto yang jatuh dari dinding ruangan rumah pakde nya. Ia juga melihat sepintas jam di dinding. Pukul dua belas kurang.


Amelia sedang mengaji yasinan bersama beberapa kerabat dari keluarga Emaknya. Bude-nya wafat pukul sembilan malam, dan kini Keluarga mereka berada di rumah pakde yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja untuk bantu-bantu karena adik dari maknya baru saja meninggal dunia.


"Ada angin kah!?"


Yang lain menggeleng. Mereka tidak abaikan bingkai foto yang jatuh. Karena bingkai itu terbuat dari bahan plastik, jadi tidak pecah berserakan butiran kacanya.


Putri almarhumah bu'de mengambilnya dan menyimpan di atas meja.


"Mak..., semoga Allah memberikan tempat yang layak di surga-Nya bersama orang-orang terbaik."


"Aamiin..."


Amelia pun kembali lanjutkan mengaji.


Entah mengapa, Ia merasakan ada satu ruangan hatinya yang kosong tiba-tiba. Mungkinkah karena kepergian bude yang memang sudah sakit gula sejak setahun yang lalu, Amelia tidak bisa menerka.


Padahal di tempat yang berbeda, suaminya sedang asyik bermasyuk ria bercinta dengan istri mudanya. Dan berhasil menanamkan benih dengan hati mendua.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2